BIOGRAFI
Hasan Al – Basri
Oleh : Irma Melati
1. Biografi Hasan Al – Basri
Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun !" H di kota madinah setahun setelah perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab. Khoiroh adalah bekas pembantu dari Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rasulullah Saw.
Sejak kecil Hasan Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya. Para ahli sejarah menguraikan bahwa Ummu Salamah paling luas pengetahuannya diantara para istri-istri Rasulullah Saw lainnya.
Dan ketika menginjak 14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basrah terkenal dengan kota ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in yang singgah di kota ini. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang pendengar.
Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq) dan mendirikan madrasah di sana. Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr ibn Ubaid dan Wasil ibn Atha. Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.
Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.
Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. dia merupakan tokoh sufi dalam islam . Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.
2. Pujian Ulama kepada Hasan Al – Basri
Setelah al-Hasan tumbuh menjadi seorang pemuda. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kecerdasan kepadanya, maka beliau menimba ilmu kepada para sahabat kibar (senior) seperti Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan sejumlah sahabat kibar lainnya radhiallahu ‘anhum. Dengan kemapanan ilmu dan kesungguhan dalam ibadah hal itu semakin menambah keutamaan bagi al-Hasan. Sehingga tidak heran bila Qotadah mengatakan, “Al-Hasan adalah orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram.”
Abu Burdah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih serupa dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding beliau.”
Humaid bin Hilal berkata, “Suatu hari Abu Qotadah berwasiat kepada kami, “Tekunilah Syaikh ini, karena aku tidak melihat seorang yang pendapat-pendapatnya lebih mirip dengan pendapatnya Umar selain beliau.”
Anas bin Malik berkata, “Bertanyalah kalian kepada al-Hasan, karena beliau selalu ingat tatkala kami lupa.”
a) Potret ibadah beliau
Ibrahim bin Isa al-Yaskuri berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang selalu berada dalam kesedihan (takut akhirat ed.) kecuali al-Hasan. Aku tidak melihatnya melainkan seperti seorang yang baru terkena musibah.”
As-Surri bin Yahya berkata, “Adalah al-Hasan selalu berpuasa bidh, puasa pada bulan-bulan haram (mulia), demikian juga puasa Senin dan Kamis.”
Dari Syu’aib ia berkata, “Aku pernah melihat al-Hasan tengah membaca Alquran sedang ia menangis sampai mengalir air matanya membasahi jenggotnya.”
b) Sikap beliau terhadap Fitnah
Di kala itu, kepemimpinan kaum muslimin jatuh ke tangan seorang pemimpin zalim, al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Karena kezalimannya banyak kaum muslimin yang dibunuh secara zalim. Sebagian orang tidak sabar melihat kekejaman dan kezaliman pemimpin mereka itu di saat mereka seharusnya memberikan ketaatannya kepada kholifah kaum muslimin. Di antara mereka adalah sebagian kelompok yang dipimpin oeh Ibnu Asy’ats yang tengah merekrut dan menyusun kekuatan untuk mengkudeta pemimpin mereka al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Di tengah gejolak fitnah besar yang merata semacam itu, seorang muslim akan diuji siapakah di antara mereka yang tetap berada dalam jalan selamat yang ditunjukkan oleh syariat dan tampaklah orang-orang yang tidak sabar lalu meninggalkan syariat. Oleh karena itu, mari kita menimba ilmu dari seorang alim tabi’in tentang bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah.
Dari Sulaiman bin Ali ar-Rab’i ia berkata, “Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats yang hendak meemrangi al-Hajjaj, pergilah Uqbah bin Abdil Ghafir, Abul Jauza, dan Abdullah bin Ghlalib untuk menemui al-Hasan dan meminta fatwa kepada beliau. Mereka memerangi seorang thaghut ini (al-Hajjaj bin Yusuf, pen.) yang telah menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan merampas harta yang haram untuk dirampas, telah meninggalkan shalat, dan telah melakukan ini dan itu…’ (Mereka menyebutkan semua tindak-tanduk dari al-Hajjaj bin Yusuf). Lalu al-Hasan berkata, ‘Namun, aku berpendapat kalian jangan memeranginya. Karena kalaulah ia adalah suatu hukuman untuk kalian, maka sekali-kali kalian tidak akan mampu menolak hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pedang-pedang kalian, namun bila ia adalah musibah dan ujian untuk kalian, maka bersabarlah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum kepada kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik yang memutuskan hukum.’ Namun, mereka tidak menggubris perkataan al-Hasan bahkan mengatakan, ‘Apakah kita akan menaati perkataan keledai liar itu..!? (Hajaj)’ Mereka pun tetap nekad keluar bersama Ibnu Asy’ats hingga akhirnya mereka terbunuh semua.”
Beliau juga mengatakan, “Seandainya manusia tatkala diuji dari sisi pemimpinnya mereka mau bersabar, tentu mereka akan mendapat jalan keluarnya. Namun, mereka begitu tergesa-gesa menghunus pedang-pedang mereka. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah mereka datang dengan membawa kebaikan.”
3. Beberapa perkataan Mutiara Hasan Al – Basri
Dari Imran bin Khalid bahwa al-Hasan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mukmin yang sesungguhnya adalah yang selalu merasa sedih baik di kala pagi maupun sore, karena dia akan selalu di antara dua rasa takut, antara dosa yang sebelumya telah ia perbuat sedang ia tidak atahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan perbuat kepadanya dan ajal yang akan menjemputnya yang juga ia tidak tahu apa yang akan menimpanya dari kebinasaan.”
Dari Hazm bin Abi Hazm ia mengatakan, “Aku pernah mendengar al-Hasan berkata, ‘Sungguh jelek dua sahabat ini yaitu dinar dan dirham, karena keduanya tidak akan memberi manfaat kepadamu sampai keduanya berpisah darimu’.”
Beliau juga mengatakan, “Tidaklah seorang yang memuliakan dirham kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.”
Dari Zuraik bin Abi Zuraik ia berkata bahwa al-Hasan pernah mengatakan, “Sesungguhnya fitnah apabila datang maka akan diketahui oleh setiap yang alim dan apabila ia lenyap baru diketahui oleh setiap yang jahil.”
4. Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang dapat kita petik dari imam besar ini di antaranya.
Kegagahan dan ketampanan serta nasab bukanlah tolok ukur keutamaan seseorang. Ketakwaan, ilmu, dan amal seseorang itulah yang menjadi landasan penilaian keutamaan.
Kewajiban rakyat adalah tetap wajib menaati pemimpinnya, sekalipun mereka berbuat zalim kepada kita, selama mereka tetap muslim dan melaksanakan shalat, karena hal itu membawa maslahat yang lebih umum, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada umatnya dalam mengahdapi pemimpin yang zalim: “Hendaklah kalian tetap mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia menzalimimu dan mengambil hartamu, maka tetaplah kalian wajib mendengar dan menaatinya,” (HR. Muslim)
Sikap seorang mukmin tatkala terjadi fitnah adalah bersikap wara’ dan menjauhkan diri dari fitnah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada kita tentang hal ini dalam sabdanya,
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih utama dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan orang yang berjalan masih lebih baik dari yang memiliki andi di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi: 4/486)
Maka jalan yang selamat tatkala terjadi fitnah adalah berusaha menjauhkan diri dari fitnah sejauh-jauhnya dan jangan sekali-kali menceburkan diri dalam fitnah tersebut karena hal itu berarti kebinasaan.
5. Pemikiran tasawufnya
dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman, sehinggan ajaran itu melekat pada dirinya sikap maupun perilaku pada kehidupan sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud.
dengan gigih dan gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan kemudian muncullah kehidupan sufistik
prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. #erasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah. dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motifasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar pengabdian kepada Allah dan sikap da)a’ ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-NYA.
6. Corak Pemikiran Tasawufnya
Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakat khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni
7. Ajaran-Ajaran Tasawufnya
Ajaran-ajaran Hasan Al-Bashri adalah an)uran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya . Sikap tasawuf Hasan Al-Bashri senada dengan sabda Nabi yang berbunyi : “Orang yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana yang orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya”
8. Karya-karyanya
Banyak dari buku atau kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kesuhudan serta berbagai hal yang mengarah kepada kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang mana berkat perjuangan beliau berdampak kepada perubahan masyarakat islam kepada suatu hal yang lebih baik.Dan juga menjadi tongkat estafet bagi ulama-ulama setelah beliau dalam menerapkan mendefinisikan sehingga sebagai pembuka jalan generasi berikutnya. Dan jarang dari buku atau kitab para ulam-ulam yang membahas tentang karya-karya beliau. Karena keterbatasan kemampuan, penulis belum bisa memaparkan karya-karya beliau tapi ada ajaran beliau yang menjadi pembicaraan kaum sufi adalah :
“Anak Adam!
Dirimu, diriku!
Dirimu hanya satu,
Kalau ia binasa,
binasalah engkau.
Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu.
Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.
Dan tiap-tiap bencana yang bukan neraka adalah mudah”.
BIOGRAFI
Al Muhasibi
Oleh : Laili Muqarramah
A. Biografi Al Muhasibi
Al muhasibi (w. 243 H/875 H) di lahirkan di basrah dan menghabiskan sebagian besar usianya di Baghdad, nama lengkapnya adalah abu abdilah al-harist al-muhasibi. Ia mengembangkan psilokologi moral yang paling ketat dan paling berpengaaruh di tradisi ahlak tasawuf. Pengaaruh al muhasibi bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung , terutama melali\ui muridnya, sari al-saqathi (paman dari al junaid). Psikologi al muhasibi bias di temukan dalam karya-karya abu tholib al makki mempengaruhi pemikiran abu hamid al ghozali (w. 111 M) yang karya –karya tasawufnya terkenal di dunia islam. Hingga saat ini.
Karya utama dari al muhasibi adalah kitab al-ar’ayat lihukukillah yang berisi tentang analisis yang bagus dan emndalam tetang berbagai bentuk idioleisme yan mendalam tentang berbagai bentuk egoinisme manusia, metode unutk mengujinya, periangatan untuk bersikap waspada terhadap egoisme itu,dan peringatan agar kita tidak terikat dan di sibukka olehnya, demikian komentar micheal A.sells.
Bentuk-brntuk utama egoisme yang di bahas oleh al muhasibi dalam karyanya itu meliputi:
1. Kesombongan dan keinginan untuk menampilkan kebaikan diri (riya’)
2. Cinta kepada diri sendiri (narsisme¬)
3. Membanggakan diri (kibr)¬
4. Angkuh (ujub) dan
5. Berhayal bahwa diri sendiri merupakan orang yang tepat (ghrah)
setiap bentuk egoisme itu saling berhubungan satu sama lain, misalnya sikap selalu ingin bersaing, bermusuhan, serakah, dan membanggakan diri sendiri,dan obat penangkal egoisme dan turunnannya adalah sikap iklas yang di dasarkan atas perenungan terhadap tuhan tan maha esa, nilai-nilai al quran, serta akal manusia yang selalu bekerja dalam kerangka wahyu Tuhan.
B. Pemikiran Al Muhasibi Terhadap Tasawuf
Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat islam. Al-muhasibi menemukan kelompok didalamnya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Diantara mereka terdapat pula orang-orang terkesan sedang melakukan ibadah karenaAllah,tetapi sesunguhnya tidak demikian.
Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.
Al muhasibi juga dikenal sebagai ulama yang cukup lama berkecimpung dalam ilmu hadist dan fikih maka tasawufnya yang dikembangkan adalah tasawuf yang berlandasan al quran dan hadist dan tidak melanggar batas-batas syariat . dan juga ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu kalam, maka tasawufnya sangat menghargai akal. Ia sangat menyakini peranan hadist ”Allah tidak akan menerima sholat, puasa, haji, umroh, sedekah, jihad, dan berbagai kebaikan yang di ucapkan dari seseorang yang tidak memahami hadits.
C. Ajaran-Ajaran Tasawuf Al-Muhasibi
Sebagaimana diterangkan diatas, al Musahibi melanjutkan dan memperluas pandangan tasawuf makruf al-karhi. Kalau makruf al-karkhi menyatakan bahwa puncak cinta itu apabila yang mencintai kenal (makrifah) kepada yang di cintai. Inilah puncak cinta yang mencapai ke titik ketenangan. Al muhasibi menjelaskan lagi cinta cinta hamba kepada Allah adalah semata karunia Allah, yang ditempatkan didalam hati yang di cintainya .kalau cinta telah bersemayam dan tumbuh serta berkembang dalam jiwa, belum sampai kepada yang dituju sebelum ia merasakan bersatu (ittihad) denga yang di cintai . inilah ajaran tasawuf al muhasibi yang nantinya di kembangkan lagi oleh para shufi dibelakangnya. Berikut ini beberapa ajaran-ajarannya;
1. Pandangan Al-Muhasibi tentang ma’rifat Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun, dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasa-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami pengertian batin agama. Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hasits Nabi yang berbunyi, “Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Berdasarkan hadits diatas dan hadis-hadis senada, Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah. Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:
a. Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud kongkrit ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan samat. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
b. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.
c. ada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
d. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dan fana’ yang menyebabkan baqa’.
2. Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Raja’ Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya.yakni, ketika disifati dengan khauf dan raja’, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal wara’ , menurutnya, adalah ketakwaan pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat al-nafs) ; pangkal introspeksi diri adalah khauf dan raja’, pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentanga janji dan ancaman Allah; pangakal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.
Khauf dan raja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dikaitkan dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah.Untuk itu, ia menganggap apa yang diungkapkan ibnu Sina dan Rabi’ah al-‘adawiyyah sebagai jenis fana atau kecintaan kepada Allah yang berlebih lebihan dan keluar dari garis yang telah di jelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dari kalangan ahlusunnah, Al-muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan.Ajakan ajakan Al-quran pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (suggesti) dan tarhib (ancaman). Al-quran jelas pula berbicara tentang surga dan neraka.
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Raja’, dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi
3.Wejangan-Wejangan Al-Muhasibi Apabila motivasi dalam mengajari dan membantu orang adalah ridha Allah semata, pahala pasti didapat. Tetapi jika motivasinya adalah hasrat untuk dihormati, dikagumi, dipuji dan diberi keuntungan duniawi, jangan lakukan kebaikan itu hingga motivasi anda berubah, sebab apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. (Q.s. Al Qoshosh : 60).
Kalau hati kacau karena kedua motivacsi silih berganti mengisi relung hati, jangan memaksakan diri hingga motivasi anda benar-benar mengharapkan ridha Allah Swt.
Kalau anda melakukan ibadah ritual atau ibadah sosial dengan ikhlas, lalu ada orang yang melihat hingga timbul semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah, ada dua kemungkinan
1.Kalau motivasi peningkatan kualitas adalah ria.
2. Kalau motivasinya ikhlas, anda pengikhlas sejati.Apabila anda ragu dan tidak tahu sedang ria atau masih ikhlas, perbaharuilah niat anda dengan keikhlasan! Meskipun tidak memperbaharui niat, ibadah tetap sah, karena anda yakin akan ikhlas dan ragu akan ria.
Ikhlas dan ria pada hakikatnya adalah hasrat yang membonceng keinginan beribadah. Keinginan beribadah adalah hasrat melaksanakan perintah. Ikhlas adalah mendambakan pahala Allah Swt semata dan tidak peduli dengan keadaan duniawi. Ria adalah ambisi mendapatkan pujian, kehormatan dan tujuan-tujuan lain dalam beribadah.
Ada orang yang tidak tenang karena dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya. Jalan keluarnya adalah mencermati jiwa. Kalau jiwanya tidak suka dan hatinya gelisah ketika dicela, dihina dan dilecehkan masyarakat, jelas ia telah ria. Sebaliknya, jika sikap masyarakat tidak mempengaruhi kalbunya, ia ikhlas. Mungkin pada awalnya ia ria dan senang dipuji, tetapi kemudian terlintas kesadaran untuk mengabaikan pujian, masih bisa dikategorikan ikhlas.
D. Karya-karya Al Muhasbi
Al muhasibi menulis karya tulis sebanyak 200 buah, yang berbentuk risalah. Dalam risalah itulah ia mengemukakan pandangannya, baik dala bidanag fikih, dan ilmu kalam dan banyak risalah tentang tasawuf, namun dari sekian banyak karya tulisnya . hanya sedikit yang di temukakannya di antaranya:
1. Ar-riayat lihukukillah(memelihara hak-hak Allah )
2. Al washiyah an-nasaih (wasiat atau petunjuk)
3. Risalah al-mutarsidin (orang-orang yang memperoleh peunjuk)
4. Al masa’ilfi amal al qulub wa al-jawarih wa al-aql(tentang aktifitas hati,anggota tubuh, dan akal)
5. Al fahmi al quran (memahami al quran)
BIOGRAFI
Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Oleh : Muhammad Tahiri
1. Biografi Syekh Abdul Qadir Al Jailani
a) Nama dan Gelar
Nama Abdul Qadir Jaelani juga dilafalkan Abdul Qadir Gaylani, Abdel kader, Abdul Qadir, Abdul Khadir - Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany, Abdel Qader Gilany.
Ibnul Imad menyebutkan bahwa nama lengkap syekh ini adalah Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailany.
Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha, melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham sebagi berikut: "Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu".
Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut: Dari Ayahnya(Hasani):
Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad Al Akbar bin Dawud bin Musa At-tsani bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdullah Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam
Dari ibunya(Husaini): Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah 'Atha bin Mahmud bin Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami' Az-Zahid bin Abu Ala'uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam
Abdul Qadir lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M.[6] selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran. Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama.
b) Pendidikan
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.
2. Dakwah, Ketokohan, Dan pengaruh
a) Awal kemahsyuran
Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
b) Murid
Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.
c) Karya Tulis
Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."
Karya karyanya :
1. Tafsir Al Jilani
2. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
3. Futuhul Ghaib.
4. Al-Fath ar-Rabbani
5. Jala' al-Khawathir
6. Sirr al-Asrar
7. Asror Al Asror
8. Malfuzhat
9. Khamsata "Asyara Maktuban
10. Ar Rasael
11. Ad Diwaan
12. Sholawat wal Aurod
13. Yawaqitul Hikam
14. Jalaa al khotir
15. Amrul muhkam
16. Usul as Sabaa
17. Mukhtasar ulumuddin
Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis dia. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.
d) Perkataan ulama tentangnya
Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai dia meninggal dunia.
Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu."
e) Perkataan Guru dan Murid
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya. 2) Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf). 3) Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut. 4) Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya. 5) Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar. 6) Dua karakter dari Utsman bin Affan Utsman yaitu dermawan dan bangun tahajjud pada waktu orang lain sedang tidur. 7) Dua karakter dari Ali yaitu alim cerdas intelek dan pemberani.
Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan: Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar Al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut".
Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
3. Kontroversi
Al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi al-Mishri (nama lengkapnya adalah Ali bin Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Judul asli Kiab itu cukup panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.
Imam Adz-Dzahabi
Al-Sam'ani berkata, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup dia." Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, "Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."
Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan dia mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung, tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah ta'ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas namanya." Imam Adz Dzahabi juga berkata, " Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi".
Ibnu Rajab Al-Hambali
Dalam mengomentari kitab kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan: "Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."[11]
Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja'far al Adfwi (nama lengkapnya Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi'i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya'ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi dia dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy-Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini. Subhanallah
4. Wafat
Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 11 Rabiul akhir di daerah Babul Azaj wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
BIOGRAFI
Al Ghazali
Oleh : Mulyadi Saputra
1. Biografi al ghazali
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Mishbah Al-Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al-Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anak dari Situ Al-Mana bintu Abu Hamid Al-Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al-Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al-Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al-Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al-Akhbar, ini pendapat Al-Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya, 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:326 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193 dan 194)
2. Kehidupan dan perjalanannya menuntut ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:194)
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191)
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
3. Pengaruh Filsafat Dalam Diri Al-Ghazali
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa, 6:54)
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa, 6:54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala, 19:328)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa, 4:164)
4. Masa akhir kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya), “Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan saya.’ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.’ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari).” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:201)
5. Karya-karyanya
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan akidah:
1. Arba’in fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
3. Al Iqtishad fil I’tiqad.
4. Tahafut Al-Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5. Faishal At-Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
1. Al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fikih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar ….” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 17 dan 18)
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 19)
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
2. Mahakun Nadzar.
3. Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
4. Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
5. Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
6. Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
7. Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al-Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al-Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al-Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:329)
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
10. Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
11. Qanun At-Ta’wil.
12. Fadhaih Al-Bathiniyah dan Al-Qisthas Al-Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
13. Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al-Mu’tashim Billah Al-Baghdadi.
14. Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
15. Ar-Risalah Alladuniyah.
16. Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
– Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:334).
– Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al-Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al-Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:339-340)
– Imam Subuki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah (Lihat 6:287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al-Mughni An-Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al-Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
17. Al-Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya
18.Al-Wasith.
19.Al-Basith.
20.Al-Wajiz.
21. Al-Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As-Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:224-227.
6. Aqidah dan mazhab beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al-Wasith, Al-Basith, dan Al-Wajiz. Bahkan kitab beliau Al-Wajiz termasuk buku induk dalam Mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz Zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi Asy-Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al-Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al-Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al-Maqshad Al-Asna, Jawahirul Qur’an dan Al-Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al-Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga akidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al-Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam akidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah, 2:628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al-Ghazali, bahwa tasawuf Al-Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al-Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al-Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al-Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al-Juhani, 2:928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al-Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al-Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al-Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 111)
BIOGRAFI
Sayyid Ahmad Rifa’i
Oleh : Nur Khaliza Putri
Lahir dan Masa Belajar Sayid Husain bin Sayidina Ali Amirul Mu’minin dengan Sayidah Fatimah bintu Rasulullah. Sedangkan dari jalur ibu, nasab ar-Rifa’I bersambung kepada salah satu sahabat nabi yang bernama Abu Ayyub al-Anshari.
1. Masa Belajar
A. Ar-Rifa’i kecil lahir sebagai anak yatim. Beliau tidak pernah merasakan indahnya bercanda dengan sang ayah, tidak pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang dari ayah tercinta. Beliau juga tidak pernah menerima petuah dan ilmu agam darinya. Sebab, sang ayah telah dipanggil ilahi Rabbi ketika ar-Rifa’i masih berada dalam kandungan. Hanya
Suatu ketika datang seorang pemuda ke negeri Iraq dan menetap di daerah bernama Batha’ih, tepatnya di desa Ummi Abidah. Kemudian pemuda yang biasa disebut Ali itu menyunting salah satu saudari Syaikh Manshur, -salah satu ulama terkemuka dan zuhud- Fatima. Dari jalinan kasih keduanya, mereka dikarunai beberapa putra. Di antaranya adalah Sayid Ahmad ar-Rifai al-Kabir.
Menurut sebagian riwayat, Sayid Ahmad ar-Rifa’i (selanjutnya ditulis; ar-Rifa’i) lahir pada awal bulan Muharam tahun 500 H. di Iraq. Sebelum lahir, ar-Rifai sudah dibanggakan oleh sejumlah ulama terkemuka kala itu, di antaranya Syaikh al-Kabir Tâjul Arifîn Abul Wafâ, Syaikh Mansur, Syakih Ahmad Khumais dan lainnya.
2. Nasab ar-Rifai
Garis keturunan ar-Rifai bersambung kepada Nabi Muhammad e dari jalur Sayidina Husain, cucu Rasulullah SAW. Lengkapnya sebagai berikut, ar-Rifai bin Ali bin Yahya bin Sayid Tsabit bin Hazim Ali bin Sayid Ahmad bin Ali bin Hasan bin Rifa’ah al-Hasyimi al-Makki bin Sayid Mahdi bin Abil-Qasim Muhammad bin Hasan bin Sayid Husain ar-Radli bin Sayid Ahmad al-Akbar bin Musa ast-Tsani bin Ibrahim al-Murtadla bin Sayid Musa al-Kadzim bin Sayidina Jakfar Shadiq bin Sayid Muhammad Baqir bin Sayid Zainal Abidin Ali As-Sujjad. Sejak kecil ar-Rifa’i diasuh oleh pamanya, Syaikh Mansur. Ar-Rifa’i belajar kepada pamannya, tentang tarekat Sufiyah, ilmu Tasawuf, ilmu Syariah dan Hakikat. Bahkan ar-Rifa’i mendapat ijazah dari sang paman. Sedangkan dalam ilmu Fiqih, ar-Rifa’i belajar kepada Abul-Fadhl al-Wasithi yang dikenal dengan Ibnul-Qari. Selain itu beliau juga belajar kepada beberapa ulama dengan rajin dan giat sampai berumur 27 tahun. di antara gurunya adalah Syaikh Abu Bakar al-Wasthi.
3. Mendapat Ilmu Laduni
Semenjak kecil ar-Rifa’i tekun menuntut berbagai disiplin ilmu. Setiap ada majlis taklim, ar-Rifa’i tidak pernah absen untuk mengikutinya. Sebab ketekunan dan istikamahnya, Allah SWT menganugerahinya ilmu rohbani, yaitu ilmu ladunni, ilmu yang langsung diberi oleh Allah. Tak pelak jika saat ar-Rifa’i tumbuh dewasa beliau tampil sebagai rujukan masyarakat. Semua persoalan yang terjadi langsung dijawab oleh ar-Rifa’i secara detail lengkap dengan referensinya.
Pernah suatu ketika, di sebuah desa bernama Ummu Ubaidah, para pejabat, pembesar ulama, masyayikh dan masyarakat umum berlebur mengikuti pengajian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i. Pengajian yang saat itu diikuti sekitar 100.000 orang. semua berbondong-bondong mendengarkan nasihat dan mauizahnya. Setelah pengajian, pembesar ulama Irak dan ulama lainnya mendatangi ar-Rifa’i guna menanyakan tentang problema agama. Aneka ragam pertanyaan tentang Tafsir, Hadis, Fiqih, Usul Fiqih dan lainnya segera dilontarkan kepadanya. Pertanyaan itu mencapai 200 soal seputar problema aktual masyarakat. Semua itu dijawab oleh ar-Rifa’i tanpa merubah tempat duduknya. Lalu ada hadirin yang berdiri seraya berkata, “Apakah kalian sudah cukup dengan ini?, demi Allah SWT, seandainya kalian bertanya pada ar-Rifa’i segala bidang ilmu, maka dengan izin Allah SWT ar-Rifa’i menjawab semua pertanyaan itu tanpa paksaan.” Lalu ar-Rifa’i tersenyum dan berkata, “Ajaklah mereka, untuk bertanya padaku sebelum aku tiada dari dunia ini. Karena sesungguhnya dunia sirna, sedangkan Allah SWT berada dimana-mana.”
Syahdan, di ruangan masjid terdengar suara menggemuruh, suara tangis menghiasi suasan majlis. Pengajian itu dibanjiri dengan tetesan air mata dari para jamaah, semua menagis mendengarkan perkataa ar-Rifa’i. Bahkan, 5 orang sampai meninggal. Lebih jauh, sebanyak 80.000 jamaah langsung memeluk Islam, sementara 40.000 jamaah menyatakan bertaubat.
B. Mutiara di tengah masyarakat
1. Ayomi Anak Yatim dan Orang Miskin
Ar-Rifa’i tumbuh sebagai pribadi yang disegani olah masyarakat. Baik dari kalangan atas ataupun kalangan bawah. Ini bisa dilihat dari kebiasaan beliau bermasyarakat. Selain ibadah dan zikir kepada Allah SWT, beliau tidak serta merta melupakan masyarakat sekitarnya. Terlihat ar-Rifa’i suka berkumpul bersama anak yatim dan fakir-miskin. Setiap hari ar-Rifa’i mendidiki dan mengajar anak yatim tentang Syariat Islam. Ar-rifa’i juga sering memberi makan dan bingkisan kebutuhan sehari kepada mereka. Rasa sayang ar-Rifa’i kepada anak yatim tak ubanhnya ia menyayangi keluarganya sendiri, sehingg terkadang ar-Rifa’i merasa iba dan terharu saat melihat anak yatim menangis. Ar-Rifa’i berkata, “Ketika saya melihat anak yatim menangis, maka seluruh badanku bergoncang keras.” Dan tampa terasa deraian air mata membasahi pipi ar-Rifa’i.
Selain sangat cinta kepada anak yatim, ar-Rifa’i juga hobi bercengkrama dengan masyarakat yang kurang mampu. Hampir setiap hari beliau bersama mereka. Bahkan, beliau sering memenuhi kebutuhan mereka serta memberinya uang tanpa meminta imbalan dan banyak pertanyaan. Pada suatu hari ar-Rifa’i mengumpulkan kayu bakar. Setelah kayu bakar terkumpul ar-Rifa’i lalu membagi-bagi kayu itu kepada para orang miskin, anak nyatim, orang sakit, tokoh masyarakat dan kepada teman-temanya. Ar-Rifa’i juga sering berkumpul makan dengan mereka, bahkan beliau juga pernah mencucikan baju temanya tanpa ada rasa malu. Semua itu beliau lakukan sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ar-Rifa’i berkata, “Syafaqah (kasih sayang) kepada saudara kita termasuk media yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.”
Sebab kasih sayang ar-Rifa’i pada mereka, ar-Rifa’i mendapat gelar Abal-Aytâ dan Abal-Miskîn (ayah anak yatim dan orang miskin). Berkat kemuliaan akhlak dan kasih sayingnya, banyak masyarakat yang memeluk ajaran Islam. Selain kepada anak yatim dan golongan miskin, kasih saying ar-Rifa’i juga kentara kepada para ulama, tokoh masyarakat, tetangga, guru, orang buta, orang sakit dan orang pincang.
2. Pujian Dari Para Ulama
Perangai seorang ulama besar memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat umum. Terutama dari para ulama baik dari para Muhaddistin, para Fuqoha’. Semua mengakui atas kewalian dan ibadah yang beliau tekuni. Salah satunya adalah dari ulama fiqh yang pepoler di kalangan ulama, ia adalah Imam Ar-Râfi’i. Imam Ar-Rofi’i berkata dalam salah satu naskanya “ Bercerita padaku as-Syekh Abu Syujâ’ as-Syafi’i, beliau bercerita ‘ As-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i adalah sesosok ulama yang tenggelam dalam keilmuan, ilmu yang di dapat menacap didadanya, muhaddist dan faqih (faham dalam masalah fiqih), mufassir yang mempunyai sanad yang lengkap’”.
Imam ad-Dzahaby r.a berkata tentang biografi Imam Ahmad ar-Rifa’i “ Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabîr adalah termasuk imâm (pemimpin), ahli ibadah, zuhud (tidak senang dengan dunia), dan Syaikhul-ârifîn (guru para ma’rifatullah).
Dan masih banyak ulama baik dari bidang hadist, fiqh dan sejarah mengakui atas kewalian dan perangai sebagai hamba yang selalu ingat pada Allah. Dan juga banyak yang tertarik untuk menceritakan biografi Imam Ahmad Ar-Rifa’i, di antaranya Imam as-Suyûty, Imam ar-Rofi’i, Imam ad-Dzahaby dalam kitab sejarahny, dan lain-lainya.
3. Zuhud Dan Tawadu’
Al-Imam Al-Ghost Al-Qothbu Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i setiap hari selalu di hiasi dengan sesosok hamba yang tidak senang dunia. Beliau pasrahkan segala sesuatau pada Allah. Sifat zuhud inilah yang membuat beliau di angkat menjadi Auliyaul-llah. Beliau juga selalu merendahkan diri di hadapan manusia. Sifat kewalian yang beliau miliki tidak membuat beliau angkat kepala di hadapan para manuisa, bahkan beliau di anggat derajatnya krna sifat zuhud dan tawadu’ beliau.
Imam ar-Rifa’i perna berkata “ Selama aku menempuh suluk kepada Allah swt, aku tidak perna melihat sesuatu yang lebih deket (kepada Allah), lebih gampang, dan lebih baik dari kefaqiran dan hina “. Beliau lalu di tanya “ Bagaimana bisa itu terjadi, Wahai Sayyid ku “. Beliau menjawab “ mulyakanlah perintah Allah swt, berbelas kasihlah pada hamba Allah, dan ikutilah sunnah Rasulullah saw “.
C. Mencium Asta Rasulullah
1. Mendengar Suara Ghoib.
Imam ar-Rifa’i termasuk pembesar ulama yang sangat mashur di zamanya. Beliau sempat terkenal sebab kejadian yang menggegerkan jamaah haji yang menyertainya. Keajaiban sebuah karomah tampak kepada para jamaah haji yaitu beliau mencium dan mendengar jawaban Rasulullah saw.
Di ceritakan, sebelum berangkat haji salah satu jamaah imam ar-Rifa’i, as-Syekh al-Jalil al-Fadhil abu hafidh umar al-Fârûmy, berada di majlis imam ar-rifa’i. Semua para ulama, masyarat di tempat dan pejabat berkumpul di majlis guna mengikuti pengajian imam ar-Rifa’i. Saat itu semua para jamaah saling berdiskusi tentang masalah agama dan ada juga yang bercerita tentang keajaiban dan karomah seorang wali. Semua permasalah langsung di tanyakan pada imam ahamd ar-Rifa’i. Pada saat ar-Rifa’i di tanya tentang asrârul ghoribah (kejadian yang asing ) dan asrârul ajibah (di balik rahasia keajaiban), Imam Ahmad ar-rifa’i tiba-tiba berdiri sambil melihat keatas, seraya berkata “ Telah nampak perkara yang benar dan telah jelas kebenaran. Aku mendengar suara sedang memanggilku ‘ Wahai Ahmad, berdirilah dan pergilah ke baitullah, dan berziarohlah kemakam datuk mu saw. Karna sesungguh di sana engkau akan mendapat pesan berupa dakwah dari Rasulullah saw’. Setelah kejadian aneh itu Imam ar-rifa’i berangkat bersama para rombongan jamaah haji.
2. Mencium Asta Rasulullah saw.
Pada tahun 555 H saat itu imam ar-Rifa’i berumur 43, beliau berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Setelah dimekkah beliau pergi ke Madinah untuk beziarah ke makam datuknya Rasulullah saw. Setelah sampai di Madinah, ar-Rifa’i dan para jamaahnya menuju masjid makam Rasulullah saw di masjid Nabawi. Saat itu nampak pada para jamaah karomah Imam ar-rifa’i, para jamaah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rasulullah saw menjawab salam dari Imam ar-Rifa’i. Ar-rifa’i berkata “Assalamualikum Wahai datuk ku..”. lalu datang dari dalam Hujroh Rasulullah suara, “ Waalaikum salam Wahai anak ku..”. ar-Rifai lalu masuk ke dalamnya dalam keadaaan gemeter dan menggigil sehingga warna kulitnya menjadi kekunig-kuningan dan ar-Rifai berlutut sambil menangis seraya berkata “ Dari kejahuan aku kiramkan ruhku untuk selalu mengingatmu sebagai perwakilanku, maka dalam kesempatan ini aku bisa melihat dengan seluruh jasad ku pada mu secara kasat mata. Maka aku mohon ulurkanlah tangan mu agar aku bisa mencium tangan mu “.
Sahdan, asta Rasulullah saw keluar dari maqbarohnya, ar-Rifai’ pun langsung menciumnya, sebagai mana yang di minta oleh ar-Rifa’i. Semua jamaah haji yang ikut serta melihat dan mendengar langsung karomah Imam as-Syekh al-Mursyid al-Ghoist as-Zahid al-Arif imamul-Akbar Sayyid Abul Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir. Kejadian ini 23 tahun sebelum imam ar-Rifa’i di panggil di pangkuan Allah.
3. Di Baiat Oleh Rasulullah Saw
Pada waktu imam ahmad ar-rifa’i mencium asta Rasulullah saw, beliau di baiat langsung oleh Nabi Muhammad saw. Rasulullah berkata pada Imam ar-rifa’i “ Wahai Anak ku. Pakailah selendang hitam dan naiklah ke atas mimbar lalu berkhutbahlah di depan para manusia. Baiat ini aku serahkan pada mu dan kepada keturunan mu hingga hari kiamat “. Lalu ar-Rifa’i keluar dan melaksanakan perintah dari Rasulullah saw. Semua jamaah haji yang hadir saat itu mencapai 90.000 orang, semua menyaksikan langsung karomah dan pembaiatan imam ar-rifa’i.
4. Di Lihat Oleh Sulthonul Auliya’
Di antara jamaah yang yang melihat lansgung kejadian itu mulai dari para ulama, tokoh masyaraka, pejabat, dan masyarakat umum dari menengah ke atas hingah menengah kebawah. Di antara ulama adalah Sulthonul Auliya’ as-Syekh Abdul Qodir al-Jilani, Sayyid adiy bin musafir as-Syâmy, as-Syekh Ali bin Khomis, as-Syekh Hayat bin Qois al-Harâny.
D. Wali para wali
1. Wali al-Ghauts al-Qutb
ar-Rifa’I tumbuh sebagai peribadi yang alim, zuhud, waro’, seorang ahli ibadah, ahli tasawuf, dan ahli fiqih yang bermadzhab Syafi’i. “ imam ar-Rifai adalah seorang panutan, zuhud dan gurunya orang yang ma’rifat” kata imam adz-dzahabi.
Beliau termasuk salah satu wali al-Qutb al-Ghaust. Beliau memiliki banyak pengikut dan santri. Mayoritas mereka dari kalangan orang faqir. Mereka diberi nama ar-rifa’iyah , Ahmadiya dan Batha’ihiyah. Jika malam nisfu sya’ban tiba, orang-orang yang datang mengikuti majlis beliau kurang lebih 100.000 jiwa. Konon, sanri-santri beliau memiliki kehebatan memukau. Mereka mampu menunggangi hewan liar, bermain ular bahkan mereka tidak segan-segan melompat dari pohon kurma yang begitu tinggi. Anehnya, mereka baik-baik saja dan tidak merasakan sakkit sedikitpun.
2. Di Angkat Menjadi Pemimpin Para Wali
Sebagaimana sudah di ketahui di antara para jumhurul-ulama’ bahwa imam ar-Rifa’I termasuk dari para kekasih Allah. Bahkan beliau termasuk juga dari king of the king para kekasih Allah saat itu. Ini bisa di lihat dari salah satu mimpi yang di lihat oleh khola-nya (paman dari ibu) imam ar-Rifa’I, ia adalah Sayyid as-Syekh Mansur al-Anshori. Beliau –paman Imam ar-Rifa’i- berkata “ Saya bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, 40 hari sebelum anak dari saudara perempuan saya di lahirkan, lalu Beliau SAW berkata kepada ku ‘ Wahai Manshur!, saya membawa berita gembira kepadamu bahwa Allah memberi karunia seorang anak setelah 40 hari, dia bernama Ahmad ar-Rifa’I, dia juga sama seperti halnya aku, bila aku adalah pemimpin para anbiya’, maka keponakanmu (Imam ar-Rifa’i) adalah pemimpin para auliyaullah’ “.
Setelah imam ar-Rifa’i lahir ke alam dunia, beliau menjadi sesosok bocah yang ahli ibadah. Meski umur yang masih belita, beliau sudah beribadah seperti halnya seorang dewasa. ketika beliau masih kecil beliau sudah berpuasa satu hari full. Di katakan dari saudara rodo’ (sesuson) imam ar-Rifa’i pada bulan Ramadhon “ Sesungguhnya ahmad tidak mau meminum susu pada waktu siang hari, maka saya menyangka bahwa ada sesuatu yang tidak membuat dia suka. Tapi ketika matahari terbenam, ahmad menerima murdi’ dan mau meminum susunya “.
3. Di Tunjuk Oleh Rasulullah SAW.
Beliua tumbuh menjadi seorang pemimpin thoriqoh Ar-Rifa’iyah dan menjadi Wali yang zahud (tidak mau dunia), Arif (ma’rifatullah), alim, dan dermawan. Jamaah yang mengikuti Thoriqoh Ar-Rifaiyah semakin menjadi pesat. Satu persatu orang datang untuk mengikuti thoriqoh dan suluk imam ar-Rifa’i ,untuk sampai kepada allah, mulai dari tingkatan atas sampai ketingkatan bawah. Beliau juga menjadi rujukan para pengikutnya dalam masalah wusul dan suluk kepada Allah. Sebagaimana di alami oleh Imam Muhammad Mahdi ar-Rowwas yang mendapat taujihat dari Rasulullah saw dalam mimpinya. Imam Mahdi ar-Rowwas berkata dalam mimpinya “ saya memimta petunjuk pada Rasulullah ‘berilah saya jalan menuju kebenaran Wahai.. Rasulullah’. Beliau menjawab ‘‘Al-Qur’anul Karim adalah jalan yang kamu cari’’. saya mengaduh lagi ‘berilah saya jalan (suluk) menuju Allah, Wahai..Rasulullah’. Beliau menjawab “Berpegang teguhlah pada anakku yaitu Amhad Ar-Rifa’i dan kamu akan sampai kepada Allah. Sedangkan dia adalah sayyidnya para auliya’ (kekasih) umat ku. Setelah auliya’ abad ketiga. Dan dia juga mempunyai derajat yang tinggi dari pada auliya’ di masanya ”.
E. Karomah
1. Sabar Pada Perlakuan Istri
Seorang istri yang begitu durhaka. Lidahnya tajam bak pedang yang siap menebas leher siapapun. Kata-katanya sangat pedih dan sering menmbus hati ar-Rifa’I. perempuan itu sangat gemar menyakiti suami shaleh ini. Dia memukul ar-Rifai hingga bajunya menghitam, namun ar-rifai tetap sabar mendpat perlakuan yang sedemikian ruapa. Tanpa diduga salah satu santri masuk ingin sowan kepada beliau. Tanpak di wajah santri itu kegelisahan yang mendalam, karna tidak enak hati melihat ar-Riafa’i diperlakukan seperti itu. Dia langsung keluar menemui teman-temanya. “Teman-teman, Syaikh diperlakukan tidak baik oleh perempuan jahat, kenapa kalian diam saja?” ujar santri. Mendengar pernyataan itu, salah satu mereka menyahut “Maharnya limaratus dinar, sedangkan Syaikh tidak bisa bayar.” Santri itupun pergi. Dia ingin mencari uang untuk diberikan kepada gurunya. Dia tidak tahan jika harus melihat sang guru disiksa habis-habisan. Dia berusaha keras memeras keringat agar secepatnya mendapatkan uang. Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Uang limaratus dinar kini berada ditangannya. Lalu santri itu pergi ke rumah ar-Rifai membawa uang itu. Dia letakkan di sebuah wadah dan diberikan kepada beliau. Melihat pemberian itu, ar-Rifai berkata “ Apa ini?” “ Uang lima ratus dinar untuk mahar istri jennnengan.” Jawab si santri. Ar-Rifa’I tanpak tersenyum dan berkata . “Andaikan bukan karna ketabahanku atas penyiksaan dan perkataan pedih istriku, nescaya engkau tidak akan bermimimpi aku berada di surga.” Santri itu tertegun keheranan. Dia tidak mengira gurunya bisa tahu apa yang telah menimpanya, padahal dia tidak pernah bilang kepada siapapun kalau dia sering bermimpi ar-Rifa’i berada di dalam surga. Akhirnya, Santri itu sadar bahwa kejadian ini adalah karamah ar-Rifa’i; mengatahui yang ghaib.
F. Sifat Bijak Imam Ar-Rifa’i
1. Mencitai Orang Tak Berdaya
Kelembutan dan kasih sayang ar-Rifa’I memang sudah menjadi karakter. Menolong orang yang lemah dan tak berdaya sudah menjadi detak nadi hidup cicit Nabi ini. Jika suatu saat pulang dari sebuah perjalanan dan hampir tiba di kampung halaman, beliau menyiapkan tali untuk mencari kayu bakar. Hasil carian itu beliau bawa ke desa tempat tinggalnya. Lalu dibagi-bagikan kepada janda-janda, faqir miskin, orang-orang lumpuh, sakit, buta dan para masyaikh. ar-Rifa’I juga berkunjung ke rumah orang-orang lumpuh. Mencuci baju-bajunya, membawakan makanan untuknya, makan bersamanya, dan meminta doanya. Beliau berkata “Ziyaroh kepada orang seperti mereka wajib bukan sunat.”
Ketika mendengar ada orang sakit, ar-Rifa’I pasti menyambanginya meski jauh, dan beliau akan datang lagi setelah dua hari atau satu hari. ar-Rifa’I juga berdiri di jalan-jalan menunggu ada orang buta lewat. Jika orang buta itu datang, beliau menghampirinya dan menuntunnya. Beliau juga tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan. Syafaqoh dalam hati beliau begitu kuat, bahkan beliau berpandangan bahaw kasih sayang termasuk sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. “ Syafaqoh termasuk sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah.” Kata beliau suatu ketika.
2. Kucing Tidur
Ar-rifai sangat menyayangi hewan. Rasa kasih sayang telah menyatu dengan hatinya laksana jiwa dan raga. Syafaqah yang telah mendarah daging sungguh teraplikasikan dalam hidup beliau. Suatu ketika, ada seekor kucing tidur pulas di lengan baju ar-Rifa’i. Padahal waktu salat telah berkumandang. Tidak boleh tidak ar-Rifa’i harus menunaikan panggilan tuhan itu. Namun ar-Rifa’i juga tidak ingin menggangu tidur hewan kesayangan Abu huroiroh itu. Maka beliau menggunting lengan bajunya agar kucing itu tidak terganggu. Seusai salat, ternyata kucing itu telah bangun dan pergi. Barulah ar-Rifa’i mengambil potongan lengan baju itu dan menjahit seperti semula.
3. Nyamuk Mengais Rizki
Pada suatu malam yang mencekam, hawa dinginya meresap ke sumsum tulang, tampak ar-Rifa’i selesai mengambil air wudlu’. Tiba-tiba beliau mematung tak bergerak. Tangannya lurus memanjang sekian lamanya. Ya’qub yang melihat kejadian itu, langsung menghampiri ar-Rifa’i dan menciyum tangannya. Meliahat kelakuan ya’qub, ar-Rifa’i berkata ” Ya’qub, engkau telah menggagngu makhluk Allah yang lemah ini” “gerangan, siapakah dia?” tanya Ya’qub. “nyamuk yang sedang mengambil bagian rizqinya di tanganku, ia lari karna ulahmu.” Ujar ar-Rifa’i.
4. Sayang Belalang
Suatu saat, ar-Rifa’I terlihat aneh. Beliau berkomonikasi sendirian. “ Wahai mubarakah, aku tidak mengetahuimu, aku telah membuatmu jauh dari tanah airmu.” Ucap ar-Rifa’i. setelah damati, ternyata beliau menyapa belalang yang tersangkut dibajunya. Beliau mencoba mejelaskan kepada belalang itu, bahwa beliau tidak tahu keberadaannya. Anadaikan saja beliau tahu, maka semua ini tidak akan terjadi.
5. Anjing & Kutu
suatu ketika, ar-Rifa’I berjalan melewati sebuah rumah makan. Syahdan, beliau melihat ada segerombolan Anjing memakan kurama yang berada di sebuah wadah. Beliau langsung berdiri di pintu agar tidak seorang pun yang masuk dan mengganggu Ainjing-anjing. Lalu beliau berkata, “ Wahai yang diberkahi, makanlah dengan tenang, tidak usah rebutan. Jika tidak, maka kalian nanti ketahuan dan tidak akan bisa menikmati kurma itu lagi.”
Di lain waktu ar-Rifa’I mlihat seorang faqir membunuh Kutu. Beliau marah bukan kepalang. “ Jangan,- semuga Allah menyiksamu,- sudahkah sembuh marahmu?” Pekik ar-Rifa’i.
G. Kenangan yang tak terlupakan
1. Di Panggil Sang Khaliq swt.
Ketika imam ar-rifa’i menginjak umur 66, beliau terserang penyakit sakit perut. Penyikt itu kian hari bertambah semakin parah. Meski penyakit yang di derita oleh beliau cukup parah tapi beliau tetap melaksanakan ibadahnya dan bertambah keimananya tampa merasa sakit dan mengeluh. Setelah satu bulan lebih beliau di serang penyakit, penyakit beliau bertambah semakin parah. Sehingga beliau tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
Dan keesokan harinya, Tetap ketika matahari menampakkan sinarnya ke bumi, dan embun senantiasa menghiasi dedaunan, yaitu pada hari Kamis, bulan Jumadil Ula, tahun 578 H, suasa menjadi terharu dan di banjiri dengan tangisan belasungkawa. Semua berbondong-bondong pergi ke dalem imam ar-rifa’i, untuk memberikan sambutan yang terakhir kepada beliau. Saat itu semua orang merasa kehilangan sesosok pemimpin umat dan pemimpin para wali itu.
Al-Imam al-Ghoust al-Qathbu as-zâhid al-Arif billah Sayyid Abul Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifa’I al-Kabir. Lalu beliau di di makamkan di Qubbah kakek dari ibu, Sayyid Yahya al-Bukhori, di negaranya (Bukhâra). Setelah beliau di makamkan dan disholati, semua orang dari penjuru dunia berta’ziah ke makam beliau, untuk mengharap berkah dari beliau.
2. Murid-murid Imam ar-Rifa’i
Imam ar-rifa’i tergolong ulama yang kaya dengan disiplin ilmu. Semua ilmu beliau dapat dengan jirih payah sendiri. Selain terkenal dengan kealimannya, imam ar-Rifa’i juga terkenal dengan kezuhudannya, Wara’, Rajib beribadah, dan selalu taqwa kepada allah. Dengan sifat-sifat itulah banyak ulama dan masyarakt menunjukdan memilih seorang guru sebagai muryid menuju ke jalan Allah swt dan mengetahui syariat agama islam, memilih Imam ahmad ar-rifa’i.
Imam ar-rifa’i di masanya termsuk dari salah saru dari ulama dan guru besar saat itu, banyak dari murid-murid beliau yang menjadi menjadi ulama dan menjadi wali semasa hidupnya dan setalah wafatnya. Imam ar-Rifa’i mendapat beberapa julukan di antara julukan beliau adalah Syaikhul-Tharâriq, Syaikhul-Kabîr, dan Ustadzul-Jamâ’ah. Sewaktu beliau Hidup banyak dari kalangan ulama, tokoh masyarakt, dan orang umum belajar kepada beliau mulai dari maslah fiqh, Tauhid, dan meminta ijazah Thariqoh ar-Rifa’iyah, sehingga sebab banyaknya murid imam ar-rifa’i yang ingin belajar kepada beliau, imam ar-rifa’i di juluki dengan Syaikhul-Tharâriq, Syaikhul Kabîr, Dan Ustadzul-Jamâ’ah.
Di antara para ulama itu adalah Al-Arif Billâh al-Ghaust Sayyid Abul Hasan asy-syadzili (pendiri thariqoh Syadziliyah), al-imam al-Hafidz abdurrahman jalauddin as-suyûtiy (salah satu ulama fiqh), Syaikh Najmuddin (salah satu guru imam ad-dasuqi), syaikh aqîl al-munbijiy, dan syaikh ali al-Khowwas. Dan masih banyak ulama dan para waliullah yang perna menimba ilmu kepada imam ahmad ar-rifa’i.
3. Karya-Karya Imam Ar-Rifa’i
Sebelum beliau di panggil di pangkuan sang Kholiq swt. Beliau banyak meninggalakan karya tulisnya mulai dari Kitab, Hizib, dan beberapa Aurâd. Karangan imam ar-rifa’i yang berupa kitab mencakup beberapa tema mulai dari Fiqh, Tafsir, Tauhid, dan Thoriqoh as-sufiyah. Di antarak kitab Fiqih yang beliau karang adalah kitab “Syarhu al-Kitab at-tanbîh lisy-syîraziy”, kitab fiqh madzhab As-Syafi’i. Sedangkan kitab tafsir adalah “ ma’âniy bismillâhirrahmânirahîm” dan “tafsiru surati al-Qodr”. Sedangkan kitab Tauhid adalah “al-burhanu al-muayyid”. Dan kitab yang menerangkan tentang tahoriqoh as-sufiyah ialah “hâlatu ahli-haqiqah, at-thariqah ila-Allah “. Dan masih banyak karna beliau yang lain.
Beliau juga menarang tentang dan hizib-hizib, di antara karya hizib beliau Hizbn Hason, Hizb Hirâsah, Hizb Satru, Hizb Tuhfa as-sanîyah.
BIOGRAFI
Jalaludin Ar-Rumi
Oleh : Pisa Aulia
1. Lahir dan Silsilah Keluarga
Maulana Jalaluddin Rumi memiliki nama lengkap Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, ia mampu berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanyaterancam oleh serbuan Mogol, keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Propinsi Rum di Anatolia tengah, yang merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota propinsi Rum. Dalam pengembaraan dan pengungsiannya tersbut, keluarganya sempat singgah di kota Nishapur yang merupakan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Tahun 1244 M, Rumi bertemu dengan syekh spiritual lain, Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddi wafat, Rumi kemudian bertemu dengan pada Husamuddin Ghalabi, dan mengilhaminya untuk menulisakan pengalaman spiritualnya dalam karyanya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi. Ia mendiktekan karyanya tersebut kepada Husamuddin sampai ahir hanyatnya pada tahun 1273 M.
2. Pengaruh Tabriz
Fariduddin Attar, yang juga seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Jalaluddin Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset. Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Jalaluddin Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Jalaluddin Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Jalaluddin Rumi baru beruisa lima tahun. [2]
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Jalaluddin Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Jalaluddin Rumi wafat ketika Jalaluddin Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Jalaluddin Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Jalaluddin Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Jalaluddin Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Jalaluddin Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Jalaluddin Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Jalaluddin Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Jalaluddin Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Jalaluddin Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Jalaluddin Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Jalaluddin Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Jalaluddin Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya. [2]
Ibarat seorang remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Jalaluddin Rumi dirundung duka. Jalaluddin Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Jalaluddin Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Jalaluddin Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Jalaluddin Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Jalaluddin Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Jalaluddin Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Jalaluddin Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Jalaluddin Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Jalaluddin Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Jalaluddin Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Jalaluddin Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
3. Karya – karya Rumi yang populer
Ada banyak karya yang dihasilkan oleh Jalaluddin Rumi. Karya -karya yang dihasilkannya pun bukan karya yang bisa dianggap sebelah mata. Beberapa koleksi karya besar yang merupakan buah pikirnya meliputi :
a) Diwan e syam e tabrizi
Diwan-e Shams-e Tabrizi atau Diwan-e-Kabir adalah salah satu karya andalan dari Rumi. Karya ini merupakan kumpulan dari Ghazal yang secara khusus dipersembahkan untuk sahabatnya Shamsuddin. Shamsuddin menjadi kawan baiknya sekaligus sosok yang begitu menginspirasi karyanya ini. Di dalam karya besar ini, Rumi juga mengisinya dengan sajak -sajak. Diwan-e-Kabir ditulis dalam dialek ‘Dari’. Selama ini, Diwan-e-Kabir diakui sebagai sastra Persia terbesar sepanjang sejarah.
b) Mathnawi
Mathnawi atau disebut juga sebagai Masnawi atau Masnavi ini merupakan kompilasi yang terdiri dari enam volume puisi, yang ditulis dalam gaya didaktis. Syair -syair yang dituliskannya dalam karya ini dibuat dengan tujuan untuk berdakwah, mengajar, dan sekaligus menghibur para pembacanya. Kabarnya, selama menulis karya ini, Rumi ditemani oleh Husam al-Din Chalabin yang juga banyak mempengaruhi pemikirannya tentang kehidupan spiritual.
Masnawi disebut -sebut sabagai karya sastra terbesar dan paling murni yang dimiliki oleh bangsa Persia.
Popularitas dari Jalaluddin Rumi pun tak hanaya melingkupi negaranya sendiri, maupun negaraa di sekitarnya saja. Hampir seluruh dunia, mengenal siapa namanya dan apa saja karya -karyanya. Karenanya, Rumi pun diakui sebagai salah seorang penyair klasik Persia terbesar sepanjang sejarah.
Selama bertahun -tahun, ia banyak mempengaruhi kesusastraan Turki. Karya Rumi juga banyak menginspirasi banyak seniman lain, termasuk Mohammad Reza Shajarian (Iran), Davood Azad (Iran), Shahram Nazeri (Iran) dan juga Ustad Mohammad Hashem Cheshti (Afghanistan).
Para seniman ini mempelajari karya Rumi dan mendapatkan banyak pencerahan tentang interpretasi klasik dalam hal syair dan sastra. Selain itu, karya -karya Rumi ini juga telah diterjemahkan di berbagai belahan dunia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Rusia, Italia, Jerman, Turki, Urdu, Perancis, Spanyol, dan tentu saja juga di Indonesia.
Bahkan, pada tahun 2007 silam, Rumi telah dinobatkan sebagai “the most popular poet in America” atau penyair paling populer di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa nama Rumi semakin populer di dunia, meski setelah ia tiada.
4. Wafat
Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada tanggal 17 bulan Desember tahun 1273. Ia meninggal di Konya ketika Konya berada di bawah pemerintahan kerajaan Seljuk. Jasadnya dikuburkan di samping makam ayahnya di Konya.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap Sang Sufi Rumi ini, maka di Konya dibangunlah sebuah makam mausoleum bernama Mevlana.
Di dalam mausoleum ini, terdapat sebuah masjid, aula untuk menari dan ruang lainnya. Tempat ini pun sering dikunjungi oleh para penggemarnya dari berbagai belahan dunia. Makam Jalaluddin Rumi ini pun menjadi salah satu tujuan ziarah yang cukup populer di dunia.
5. Tulisan di batu nisan Jalaludin Ar – Rum
”Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.”
Salah satu Syair Jalalludin Rum :
Mana yang lebih berharga
Kerumunan beribu orang atau kesendirian sejatimu?
Kebebasan atau kuasa atas seluruh negeri?
Sejenak, sendiri dalam bilikmu akan terbukti lebih berharga daripada segala hal lain yang mungkin kau terima
Oh Tuhan
Telah kutemukan cinta!
Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya!...
Kuhaturkan puja-puji
Bagi gairah yang bangkit
Dan menghiasi alam semesta ini
Maupun segala yang ada di dalamnya!
Ketika engkau merasa bergairah
Cari tahu sebabnya
Itulah tamu yang tak kan pernah kau salami dua kali
Adakalanya dengan tujuan menolong
Dia membuat kita sengsara
Tapi kepiluan hati
demi Dia
Membawa kebahagiaan
Senyum akan datang,
Sesudah air mata
Siapapun yang meramalkan ini adalah hamba yang diberkati Tuhan
Dimana pun air mengalir, hidup akan makmur
Dimana pun air mata berderai, Rahmat Ilahi diperlihatkan
Pilihlah cinta.
Ya, cinta!
Tanpa manisnya cinta,
Hidup ini adalah beban
Tentu engkau telah merasakannya
Hati yang kacau
Tak dapatkan kesenangan hidup
Dalam kebohongan.
Air dan minyak
Tak dapat menyalakan cahaya.
Hanya perkataan yang benar membawa kesenangan hidup
Kebenaran adalah umpan yang sangat memikat hati
Pergilah ke pangkuan Tuhan,
Dan Tuhan akan memelukmu dan menciummu, dan menunjukkan
Bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari Nya
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati Nya
Siang dan malam
Kesabaranku mati pada malam ketika Cinta lahir!
Dari anggur cinta, Tuhan menciptaku!
Barang siapa menjadi mangsa cinta, mana mungkin dia menjadi mangsa Sang Maut?
Hari perpisahan lebih panjang daripada Hari kebangkitan
Dan maut lebih cantik daripada derita perpisahan
Aku boleh mati, tetapi gairahku kepada Mu tak kan pernah mati
Telah kupalingkan hatiku dari dunia dan segala kesenangannya
Kau dan hatiku bukanlah dua wujud yang berpisah
Dan tak pernah kelopak mataku menutup di dalam lelap
Kecuali kutemukan Kau antara mata dan bulu mataku
Mereka tahu pasti bahwa aku sedang jatuh cinta
Tetapi mereka tak tahu siapa yang kucintai
Hatiku mencintaimu sepanjang hidupku, dan ketika aku mati
Maka tulang-tulangku, kendati hancur, mencintai Mu dalam debu
Hari ini aku lupa sembahyang karena cintaku yang meluap-luap
Dan aku tak tahu lagi pagi atau malamkah sekarang
Karena ingatan pada Mu , wahai Tuhan, adalah makanan dan minumanku
Dan wajah Mu, saat aku melihat Nya, adalah obat penderitaanku
Aku adalah Dia yang kucintai dan
Dia yang kucintai adalah aku
BIOGRAFI
Habib Al ‘Ajami
Oleh : Raidata Mardiyah
1. Biografi Habib Al ‘Ajami
Habib bin Muhammad al-‘Ajami al-Bashri, adalah seorang tokoh sufi keturunan Persia yang menetap di Bashrah. Ia dikenal juga sebagai seorang ahli Hadits terkenal yang banyak merawikan hadits-hadits dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin dan tokoh-tokoh terpercaya lainnya. Ia hidup pada akhir abad ke 2 H dan awal abad ke-3 H.
Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. Setiap hari dia berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperolerh angsuran dari langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib dapat menutupi biaya hidupnya sehari-hari. Namun apa yang dilakukan ini kemudian berakhir, setelah mendapat hidayah dari Allah dan ditaqdirkan menjadi salah seorang ahli ibadah. Semua harta benda yang ada pada dirinya dishodakohkan kepada siapa saja yang ditemui. Kemudian dia pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggiran sungai Eufrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang dan malam dia habiskan waktunya untuk belajar di bawah bimbingan Hasan Al-Bashri. Meskipun demikian, dia tidak dapat menghapal al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki ‘ajami atau si orang asing bukan Arab.
Salah satu dari keistimewaan Habib al-‘Ajami adalah, bahwa dia suka bersedekah kepada siapa saja, terutama mereka yang sangat membutuhkannya. Bahwa peristiwa ini di saksikan sendiri oleh Hasan Bashri, Gurunya yang banyak memberi pelajaran tentang keagamaan, ketika beliau sedang berkunjung ke rumahnya.
Rumah Habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota Bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim panas maupun di musim dingin. Sekali peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya dilemparkannya di atas tanah. Tidak lama kemudian Hasan al-Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel Habib terletak di atas jalan, ia bergumam, “Dasar Habib seorang Barbar, tak peduli berapa harga mantel bulu ini! Mantel yang seperti ini tak boleh di biarkan saja di tempat ini, bisa-bisa hilang nanti”. Hasan berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut. tidak lama kemudian Habib pun kembali. ‘’Wahai, imam kaum Muslimin’’, Habib menegur Hasan setelah memberi salam padanya, “Mengapa engkau berdiri di sini?, tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakan, kepada siapakah engkau menitipkan mantel ini ?, Kutitipkan kepada Dia, yang selanjutnya menitipkannya kepadamu’’, jawab Habib dengan enteng.
Hasan Bashri hanya diam sambil mengangguk-angguk. Beliau semakin mengagumi muridnya yang hampir mendekati kepada tindakan orang-orang shaleh dari kalangan Shahabi., seperti Abu Bakar dan sahabat lainnya. Kepada Gurunya Habib bertanya, kenapa berada di tempat itu ?, Jawabnya, beliau sengaja datang untuk berkunjung k erumahnya. Lantas Gurunya di ajak ke rumahnya. Kepadanya, Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu kepada sang pengemis.
Hasan terheran-heran lalu berkata : ’’Habib, engkau memang seorang yang budiman, tetapi alangkah baiknya seandainya engkau mengetahui sedikit pengetahuan dan kesopanan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhan di depan hidung tamu lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu’’. Habib tidak memberikan jawaban. Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. di atas nampan tersebut ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis dan uang lima ratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan tersebut kehadapan Habib. Kemudian Habib membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan tersebut di samping Hasan.
Ketika Hasan sedang mengenyam daging panggang itu, Habib berkata kepadanya: ‘’Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah baiknya engkau memiliki sedikit keyakinan. pengetahuan harus di sertai keyakinan’’, berbuat baik kepada kaum miakin, daripada hanya untuk keinginan dirinya.
2. Kisah terpopuler
Banyak kisah dari Habib Al ‘Ajami namun salah satu kisah populer dikalangan masyarakat salah satunya ialah :
Kisah Habib Si Orang Parsi
Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. la tinggal di kota Bashrah, dan setiap hari berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperoleh angsuran dari langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.
Pada suatu hari Habib pergi ke rumah seorang yang berhutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya sedang tak ada di rumah. Maka Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang tersebut.
“Suamiku tak ada di rumah”, isteri sedang yang berhutang itu berkata kepadanya, “Aku tak mempunyai sesuatupun untuk diberikan kepadamu tetapi kami ada menyembelih seekor domba dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepadamu”.
“Bolehlah!” si lintah darat menjawab. Ia berfikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba tersebut dan membawanya
pulang. “Masaklah! “.
“Aku tak mempunyai roti dan minyak”, si wanita menjawab.
“Baiklah”, si lintah darat menjawab, “aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu engkau harus membayar ganti rugi pula”. Lalu ia pun pergi mengambil minyak dan roti.
Kemudian si wanita segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke dalam mangkuk, seorang pengemis datang mengetuk pintu.
“Jika yang kami miliki kami berikan kepadamu”, Habib mendamprat si pengemis, “Engkau tidak akan menjadi kaya, tetapi kami sendiri akan menjadi miskin”.
Si pengemis yang kecewa memohon kepada si wanita agar ia sudi memberikan sekedar makanan kepadanya. Si wanita segera
membuka tutup belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini, wajahnya menjadi pucat pasi. Segera ia
mendapatkan Habib dan menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.
“Saksikanlah apa yang telah menimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si pengemis!”. Si wanita menangis, “Apakah yang akan terjadi atas diri kita di atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti”.
Melihat kejadian ini dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah mereda seumur hidupnya.
“Wahai wanita! Aku menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan!”.
Keesokan harinya Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berhutang kepadanya. Kebetulan sekali hari itu adalah hari Jum’at dan anak-anak bermain di jalanan. Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak: “Lihat, Habib lintah darat sedang menuju ke sini, ayo kita lari, kalau tidak niscaya debu-debu tubuhnya akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”
Seruan-seruan ini sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana terdengarlah olehnya ucapan-ucapan yang bagaikan menusuk-nusuk jantungnya sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.
Habib bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari apa sebenarnya yang terjadi, Syaikh Hasan al-Bashri datang memapahnya dan menghibur hatinya. Ketika Habib meninggalkan tempat pertemuan itu seseorang yang berhutang kepadanya melihatnya, dan mencoba untuk menghindari dirinya.
“Jangan lari” Habib berkata, “Di waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindari diriku, tetapi sejak saat ini akulah yang harus menghindari dirimu”.
Habib meneruskan perjalanannya, anak-anak tadi masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib, mereka segera berteriak:
“Lihat Habib yang telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! jika tidak, niscaya debu-debu di tubuh kita akan menempel
di tubuhnya sedang kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah”.
“Ya Allah ya Tuhanku”, seru Habib. “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, maka Engkau telah menabuh genderang-genderang di dalam hati manusia untuk diriku dan telah mengumandangkan namaku di dalam keharuman”.
Kemudian Habib membuat sebuah pengumuman yang berbunyi: “Kepada siapa saja yang menginginkan harta benda milik Habib, datanglah dan ambillah!”
Orang-orang datang berbondong-bondong, Habib memberikan segala harta kekayaannya kepada mereka dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu pun juga. Namun masih ada seseorang yang datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar isterinya sendiri. Kemudian datang pula seorang lagi dan kepadanya Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga tubuhnya terbuka. Dan ia lalu pergi menyepi ke sebuah tempat di pinggir sungai Euphrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang malam ia belajar di bawah bimbingan Imam Hasan Al-Bashri namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki ’ajami atau si orang Barbar. ‘
Waktu berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan rumahnya menuju tempat uzlahnya untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah dan apabila malam tiba barulah ia pulang.
”Di mana sebenarnya engkau bekerja sehingga tak ada sesuatupun yang engkau bawa pulang?” isterinya mendesak.
”Aku bekerja pada seseorang yang sangat Pemurah”, jawab Habib.
“Sedemikian Pemurahnya Ia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-Nya, apabila saatnya nanti pasti ia akan memberi,
karena seperti katanya sendiri: ’Sepuluh hari sekali aku akan membayar upahmu’ “.
Demikianlah setiap hari Habib pergi ke tempat uzlahnya untuk beribadah kepada Allah. Pada waktu shalat Zhuhur di hari yang kesepuluh, sebuah pikiran mengusik batinnya. “Apakah yang akan kubawa pulang malam nanti? Apakah yang harus kukatakan kepada isteriku?”.
Lama ia termenung di dalam perenungannya itu. Tanpa sepengetahuannya Allah Yang Maha Besar telah mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawakan gandum sepemikulan keledai, yang iain membawa seekor domba yang telah dikuliti, dan yang terakhir membawa minyak, madu, rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantong berisi 300 dirham perak.
Sesampainya di rumah Habib, si pemuda mengetuk pintu.
“Apakah maksud kalian datang kemari?”, tanya istri Habib setelah membukakan pintu.
“Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini”, pemuda gagah itu menjawab, “sampaikanlah kepada Habib: ’Biia engkau melipatgandakan jerihpayahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu’ “’. Setelah berkata demikian merekapun berlalu.
Setelah matahari terbenam Habib berjalan pulang. Ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau roti dan masakan-masakan. Dengan berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan bersikap lembut kepadanya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya di waktu yang sudah-sudah.
“Wahai suamiku”, si isteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih. Lihatlah segala sesuatu yang telah dikirimkannya kemari melalui seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan: ’Bila Habib pulang, katakanlah kepadanya, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu` ”.
Habib terheran-heran.
“Sungguh menakjubkan! Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedemikian banyak imbalan yang dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti?”
Sejak saat itu Habib memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk Allah semata-mata.
BIOGRAFI
Ibrahim Bin Adham
Oleh : Rizky Ananda Putri
1. Biografi Ibrahim Bin Adham
Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin al-Manshur al-‘Ijli. Ia lahir di Balakh, sebelah Timur Khurasan. Karena itu ia dikenal pula dengan nama Abu Ishaq al-Balakhi. Menurut Imam al-Bukhari (wafat 870 M), Ibrahim bin Adham adalah keturunan kedua dari Umar bin al-Khaththab ra. Ibrahim bin Adham adalah seorang penguasa di Balakh yang kaya-raya dengan istananya yang megah. Namun, meski hidup bergelimang harta dan kekuasaan, hatinya tidak menjadi lalai.
Lama-lama, gemerlapnya dunia tak membuat dirinya bahagia, juga tak bisa menghadirkan ketenangan jiwa. Akhirnya, ia meninggalkan istana dan semua kemewahan duniawi. Ia pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama. Pencariannya ditopang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Ia hidup sebagai seorang yang amat zuhud dan wara’. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan sangat penyantun terhadap sesama, terlebih lagi kepada orang-orang miskin
Tentang keutamaan Ibrahim bin Adham, Imam an-Nasa’i berkata, “Ibrahim bin Adham tsiqah (terpercaya). Ia salah seorang yang amat zuhud.” (Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 3/219).
Karena keilmuan, keikhlasan, kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah seorang Sulthân al-Awliyâ’. Bahkan menisbatkan Sulthân al-Awliyâ’ kepada Ibrahim bin Adham (wafat 206 H) telah amat populer
Terkait keikhlasannya, Ibrahim bin Adham, jika ikut terlibat dalam peperangan (jihad), misalnya, usai perang ia tidak mengambil ghanîmah (rampasan perang) yang menjadi haknya. Hal itu ia lakukan demi meraih kesempurnaan pahala jihad
Terkait kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham rela meninggalkan istanannya yang megah dan segala kemewahan duniawi. Ia pergi menuju Syam untuk mencari rezeki yang halal dengan tangannya sendiri. Ia bekerja di kebun milik orang lain dengan tekun
Sikap zuhudnya juga tampak saat Ibrahim bin Adham pergi safar ke Baitullah (Makkah). Saat itu ia berpapasan dengan seorang Arab dusun yang mengendarai seekor unta. Orang itu berkata, “Syaikh, mau kemana?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Ke Baitullah.” Orang itu bertanya lagi, “Anda ini seperti tak waras. Saya tidak melihat Anda membawa kendaraan, juga bekal, sementara perjalanan sangat jauh.” Ibrahim kembali berkata, “Sebetulnya saya memiliki beberapa kendaraan. Hanya saja, engkau tidak melihatnya.” Orang itu bertanya, “Kendaraan apa gerangan?” Ibrahim bin Adham berkata, “Jika di perjalanan aku tertimpa musibah, aku menaiki ‘kendaraan sabar’. Jika di perjalanan aku mendapatkan nikmat, aku menaiki ‘kendaraan syukur’. Jika di perjalanan Allah SWT menetapkan suatu qadhâ’ untukku, aku menaiki ‘kendaraan ridha’.” Orang Arab dusun itu lalu berkata, “Jika demikian, dengan izin Allah, teruskan perjalanan Anda, Syaikh. Anda benar-benar berkendaraan. Sayalah yang tidak berkendaraan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 1/234).
Dalam kisah lain, Sahl bin Ibrahim menuturkan, “Aku berteman dengan Ibrahim bin Adham. Saat aku sakit ia membiayai semua pengobatanku dan memenuhi semua keinginanku. Setelah agak sembuh dari sakitku, aku bertanya, “Ibrahim, di manakah keledaimu?” Ibrahim bin Adham menjawab enteng, “Telah kujual untuk memenuhi keperluanmu.” Aku bertanya kembali, “Lalu kita naik apa?” Ibrahim bin Adham berkata, “Saudaraku, naiklah ke atas punggungku.” Kemudian ia membawa aku ketiga tempat." (Al-Qusairi, Risâlah al-Qusyairiyyah).
Ibrahim bin Adham amat terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang dalam dan amat menyentuh kalbu. Ia, antara lain, berkata, “Ada tiga perkara yang paling mulia di akhir zaman: (1) teman dekat di jalan Allah; (2) mengusahakan harta yang halal; (3) menyatakan kebenaran di hadapan penguasa.” (Abu al-Hajjaj al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 2/35).
Suatu saat Ibrahim bin Adham berjalan melewati sebuah pasar di Bashrah, Irak. Tiba-tiba ia dikelilingi oleh banyak orang. Ia ditanya oleh mereka tentang firman Allah SWT yang artinya, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (TQS Ghafir [40]: 60). Mereka mengatakan, “Kami telah berdoa kepada Allah, namun mengapa belum juga dikabulkan?” Lalu beliau menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh sepuluh perkara: (1) Kalian mengklaim mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya; (2) Kalian membaca Kitab-Nya, tetapi tidak mengamalkan isinya; (3) Kalian mengaku memusuhi setan, tetapi mengikuti ajakannya; (4) Kalian mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi meninggalkan sunnah-sunnahnya; (5) Kalian mengklaim merindukan surga, tetapi tidak melakukan amalan-amalan penduduk surga; (6) Kalian mengaku takut neraka, tetapi justru banyak melakukan perbuatan penduduk neraka; (7) Kalian mengatakan kematian itu pasti, tetapi tidak menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu; (8) Kalian sibuk mencari aib orang lain, sedangkan aib kalian sendiri tidak kalian perhatikan; (9) Kalian makan dari rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya; (10) Kalian sering menguburkan orang mati, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian mereka.”
Mendengar nasihat itu, orang-orang itu pun menangis (Ibn Rajab al-Hanbali, Rawa’i’ at-Tafsîr, 2/230; Jâmi’ Bayân al-’Ilmi wa Fadhlihi, 12/2).
Ibrahim bin Basyar ash-Shufi al-Khurasani, pembantu Ibrahim bin Adham, menuturkan kisah lain: Pernah seorang sufi datang kepada Ibrahim bin Adham dan bertanya, “Abu Ishaq, mengapa hatiku seperti terhijab dari Allah ‘Azza wa Jalla?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Karena hatimu mencintai apa yang Allah benci. Kamu lebih mencintai dunia dan cenderung pada kehidupan yang penuh tipuan, senda-gurau dan permainan.” (Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 6/47).
Ibrahim bin Adham juga berkata, “Amal terberat di mizan (timbangan amal di akhirat) adalah yang paling memberatkan badan (dilakukan dengan susah-payah).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, 8/16).
Menurut Ibnu Asakir, Ibrahim bin Adham wafat sebagai syuhada pada 162 H dalam sebuah peperangan (jihad). Ia dimakamkan di Jabala, Suriah.
2. MUTIARA HIKMAH IBRAHIM IBN ADHAM
a) Nasihat Ibrahim bin Adham
Suatu ketika ibeahim bin adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliaupun di kerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya,:” wahai guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa dia akan mengabulkan doa hambaNya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak di kabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata,: “saudara sekalian, ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.
1. Kalian mengenal allah, namun tidak menunaikan hak-hakNya
2. Kalian membaca al-quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya
3. Kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
4. Kalian mengaku mencintai rasulullah, tapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya
5. Kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tidak pernah melakukan amalan ahli surga
6. Kalian takut di masukkan kedalam neraka tapi kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka.
7. Kalian mengaku bahwa kematian pasti datang tapi kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
8. Kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri
9. Kalian setap hari memakan rejeki allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
10. Kalian sering mengantar jenazah ke kubur tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.
Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis. Dalam kesempatan lain ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seorang bertanya padanya. Ibrahim menjawab: “ saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat allah mengadili semua makhluk di padang masyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup didunia.”
b) Mutiara Hikmah
1) Ketika berthawaf, ia berkata kepada seorang lelaki, ketahuilah bahwa kamu tidak kan mencapai tingkatan orang saleh sebelum kamu melalui 6 jalan atau 6 pos penjagaan, yaitu: Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesenangan dan membuka pintu gerbang kesengsaraan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesombongan dan membuka pintu gerbang kerendahan, hendaklah kamu menutup gerbang hidup santai dan membuka pintu gerbang perjuangan/kerja keras, tutuplah pintu tidur dan buka lah pintu bangun malam, tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kemiskinan, tutuplah pintu harapan dan bukalah pintu persiapan kematian
2) Pernah Ibrahim bin Adham menjaga kebun anggur, lalu lewat seorang prajurit dan berkata,:“berilah kami anggur!”. “pemiliknya tidak menyuruhku begitu.” Jawabnya. Prajurit itu memukulnya dengan cambuk, sementara ibrahim hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata “pukullah kepala ini selama ia durhaka kepada Allah!” akan tetapi prajurit itu tidak sanggup memukulnya lalu pergi.
3) Sahal bin Ibrahim menuturkan, “ saya pernah bersahabat dengan Ibrahim bin Adham. Ketika saya sakit, ia membiayai pengobatanku. Ketika saya menginginkan sesuatu, ia menjual keledainya lalu uangnya di habiskan untukku. Ketika saya dihadapannya, saya mengatakan, “ wahai ibrahim dimanakah keledai itu?” dia menjawab ringan, “saya jual.” Saya bertanya lagi, “lalu saya naik apa?” dia menjawab “wahai saudaraku naiklah diatas punggungku.” Kemudian ia membawaku ketiga tempat.
Suatu hari ketika tawaf Ibrahim ibn Adham bertemu dengan seorang laki-laki. Ia pun berkata kepada laki-laki tersebut, “Ketauhilah bahwa engkau tidak akan memperoleh derajat orang-orang shalih sampai engkau dapat melewati 6 rintangan.
1) Pertama, tutuplah pintu kesenangan dan bukalah pintu kesengsaraan
2) Kedua, tutuplah pintu kemuliaan dan bukalah pintu kehinaan
3) Ketiga, tutuplah pintu istirahat bukalah pintu perjuangan
4) Keempat, tutuplah pintu tidur bukalah pintu terjaga di malam hari
5) Kelima, tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kefakiran
6) Keenam, tutuplah pintu angan-angan dan bukalah pintu persiapan untuk kematian.”
Sahl ibn Ibrahim menuturkan “Aku berteman dengan Ibrahim ibn Adham. Ketika aku sakit ia membiayai semua pengobatanku, ketika aku menginginkan sesuatu ia memenuhi keinginanku dengan menjual keledainya. Setelah sembuh dari sakit, aku bertanya, “Wahai Ibrahim, dimanakah keledai itu?” Ibrahim ibn Adham menjawab dengan ringan “Telah aku jual”, lalu aku pun bertanya kembali kepadanya “lalu aku naik apa?” Ibrahim ibn Adham pun berkata “wahai saudaraku naiklah diatas punggungku.” Kemudian ia membawaku ketiga tempat.”(Mochamad Bukhori Zainun)
3. Gerakan dan Ajaran Ibrahim bin Adham
Ibrahim Bin Adam beriman setelah mendengan bisikan Tuhan ketika sedang berburu di hutan. Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan aksetisme (zuhud) hidup dari hasil kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarannya terutama berkisar tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebiih menyuntukan terutama dengan kontrol diri (muroqobah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran ibrahim dapat dilihat dari ujaran-ujarannya.
Yang di maksud dengan aksetisme adalah khusus, aksetisme bukanlah kependekatan atau terputusnya kehidupan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Karena itu dalam islam aksetisme tidak bersyaratkan miskin.
Asketisisme dalam islam ada 4 faktor yang mengembangkan asketisisme dalam islam yaitu:
a) Ajaran-ajaran islam itu sendiri. Kitab suci al-quran sendiri telah mendorong manusia agar hidup shaleh, takwa kepada allah, menghindari dunia beserta hiasannya, memandang rendah hal-hal duniawi, dan memandang tinggi kehidupan diakhirat.
b) Revolusi rohaniyah kaum muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
c) Dampak asketisisme masehi. Dampaknya itu terhadap para asketis muslim. Setelah timbulnya islampun langsung bergabung. Namun dampak asketisisme masehi itu lebih banyak terhadap aspek organisasionalnya timbang terhadap aspek prinsip-prinsip umumnya. Sehingga diriwayatkan adanya perkunjungan para sufi kepada para pendeta, ketempat-tempat peribadatannya, yang kemudian meminta sebagian dari ajaran mereka.
d) Penentang terhadap fiqih dan kalam.
4. Dasar-Dasar Pemikiran Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham memiliki beberapa dasar-dasar pemikiran yang beliau kembangkan, antara lain ialah:
a) Tasawuf adalah keindahan dan kebesaran menuju kebebasan sejati. Tasawuf artinya kekerasan pikiran dan kekakuan, juga bukan menahan diri dari perasaan, bukan pula mengajak manusia kepada suatu kehidupan yang melarat atau susah juga bukan untuk meninggalkan fitrah. Akan tetapi dengan memahami tasawuf seseorang dapat menuju kepada pilihan yang benar, hidup zuhud, berlaku adil dengan keutamaan yang dapat menuju kepada kesucian.
b) Kita harus dapat memperoleh hikmah dri hidup ini untuk itu kita harus taqwa kepada Allah SWT. Sebab ketaqwaan dapat mendatangkan dan memunculkan keikhlasan hati untuk dapat berbakti kepada Allah SWT. Supaya kita mendapatkan hikmah yang memancar dari kesucian hati dan ketaqwaan.
BIOGRAFI
Sari As Sawathi
Oleh : Udriansyah
1. Biografi
Al-Imam Sari As-Saqathi, nama lengkapnya, Abul Hasan Sari bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’ruf al-Karkhi dan paman Imam Junaid al-Baghdadi. Beliau adalah seorang tokoh sufi terkemuka di Baghdad, beliau hidup sekurun dengan imam Ahmad ibn Hanbal, meninggal pada tahun 253 H/867 M dalam usia 98 tahun.Sarri as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan ”peleburan” (fana) sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Iraq adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Beliau pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.
Pada mulanya Sari tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya. Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari dan berkata: “Syeikh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu”. Sari menyahut; “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan mengkhusyukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walau sesaat pun”.
Diriwayatkan, terakhir kali beliau meninggalkan kebiasaan berdagang, yaitu ketika beliau menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar. “Pasar terbakar!”, orang-orang bertariak. Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari: “Bebaslah aku sudah!” Setelah api reda ternyata toko Sari tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Sari menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian. Selama berdagang beliau tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen.
Diriwayatkan, ada seseorang yang bertanya sehubungan beliau berhenti berdagang dan mengambil jalan sufi. “Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini”, Sari menjawab: “Pada suatu hari Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Lalu kuberi Habib ar-Ra’i sesuatu agar disampaikan kepada orang-orang miskin. Lantas Habib ar-Ra`i mendoakan diriku ’Semoga Allah memberkahi engkau`,. Setelah itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi”.
Dan pada keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta seorang anak yatim. ’Berikanlah pakaian untuk anak ini’, pinta Syaikh Ma’ruf kepadaku. Maka anak itu pun kuberi pakaian. Kemudian syaikh Ma’ruf berkata; ’Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini’. Karena doa Syaikh Ma’ruf al-Karkhi itulah aku dapat meninggalkan semua harta kekayaanku di dunia ini”.
Imam Junaid meriwayatkan. Sari mempunyai seorang saudara perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya. “Hidupku tidak patut diperlakukan seperti itu”, Sari berkata kepada saudara perempuannya itu.
Pada suatu hari ia memasuki kamar Sari dan terlihatlah olehnya seorang wanita tua sedang menyapu. “Sari, dulu engkau tidak mengizinkan aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan sanak familimu”.
Sari menjawab: “Janganlah engkau salah sangka. Dia adalah penduduk alam kubur, Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku”.
2. Imam Sari As-Saqothi dan Seorang Seorang Jurutulis Istana
Pada suatu hari ketika Sari sedang memberikan ceramah. Ahmad Yazid si jurutulis Kholifah lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya. “Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya”, kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi”. Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari.
Sari dalam ceramahnya berkata: “Di antara kedelapan belas ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaikat-malaikat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa!”
Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikkan Sari ke jantung Ahmad Yazid, sehingga Ahmad Yazid menangis dan tak sadarkan diri. Setelah sadar ia masih menangis Ahmad Yazid bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu tak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang diucapkannya.
Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Sari berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang. Di hari yang ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah selesai ia menghampiri Sari.
“Guru, kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah”. Kata Ahmad Yazid.
“Jalan manakah yang engkau inginkan”, tanya Sari. “Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?”
“Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku”, Yazid meminta kepada Sari.
Maka berkatalah Sari: “Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belakang seorang imam, dan keluarkanlah zakat – jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terperesok ke dalam perangkap-perangkapnya. Demikianlah kedua jalan tersebut”. Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara.
Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari dan berkata: “Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa han ini ia tidak pulang dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia, Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku”,
Permohonan wanita tua itu menggugah hati Sari. Maka berkatalah ia: “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya”.
Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad Yazid kembali kepada Sari. Sari memerintahkan kepada pelayannya, “Kabarkanlah kepada ibunya”. Kemudian ia memandang Ahmad Yazid. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk.
“Wahai guru yang budiman”, Ahmad berkata kepada Sari, “Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugerahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan di akhirat”.
Mereka sedang asyik berbincang-bincang, ibu dan isteri Ahmad Yazid masuk dengan membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si ibu melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya ia pun menubruk dada Ahmad Yazid. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari sendiri pun tidak dapat menahan air matanya.
“Wahai Imam kaum MusIimin”, Ahmad Yazid berseru kepada Sari, “mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada mereka? Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku”. Sari menjawab: “Ibumu terus menerus bermohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang”.
Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir isterinya meratap: “Belum lagi, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu jadi yatim, Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan kulakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu”. “Baiklah”, jawab Ahmad Yazid.
Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anaknya itu: “Sekarang, pergilah engkau seorang diri”. Melihat hal ini si isterinya menjerit: “Aku tidak sampai hati membiarkannya”, dan anak itu ditariknya ke dalam dekapannya.
“Aku memberikan kuasa kepadamu”, kata Ahmad Yazid kepada isterinya, ’Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian”. Setelah berkata itu, Ahmad Yazid pergi lagi ke padang belantara.
Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat Isya, seseorang mendatangi Sari di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Sari: “Ahmad Yazid mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia berpesan: ’Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku”.
Sari pergi ke tempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Sari mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi: “Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai para pekerja”.
Sari mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan ke dadanya, Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang syeikh, dan berkatalah ia: “Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi”.
Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Sambil menangis Sari kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan- urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota. “Hendak ke manakah kalian?” Sari bertanya kepada mereka. “Tidak tahukah engkau?”, jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari atas langit: ’Barangsiapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!’ “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar