Biografi Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Oleh : Lilis
Rusmiati
1. Biografi Muhammad
Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Sahl ibn `Abdullah
At-Tustari dengan nama Abu Muhammad Sahl ibn Abdullah ibn Yunus ibn Isa ibn
Abdullah ibn Rafi’ Al-Tustari. Ia juga biasa dipanggil dengan nama julukan
kunyah Abu Muhammad atau nama sandarannya (nisbah) At-Tustari. Sahl ibn
`Abdullah At-Tustari merupakan salah satu ulama sufi dan ahli mutakallimin
(teolog) dalam ilmu riyadah (melatih jiwa), ikhlas, dan ahli wira`i. Abu Muhammad
Sahl ibn Abdullah ibn Yunus ibn Isa ibn Abdullah ibn Rafi’ Al-Tustari, ia
dilahirkan di kota Tustar pada tahun 200 H/816 M, dan ada juga yang mengatakan
201 H/817 M,3 dan 203 H/818 M.4 dan meninggal di Basrah pada tahun 282 H./ 896
M.5 Dan ada yang mengatakan pada tahun 293 H.6 Mengenai tahun kelahiran
At-Tustari, masih belum terdapat kepastian, tetapi kebanyakan sumber berpusat
pada tahun antara 200 H/815 M, dan 203 H/ 818 M. Massignon mengatakan tahun 203
H/ 818 M, Arberry mengatakan tahun 200 H/ 815, M. Ibn Hallikan menyatakan bahwa
At-Tustari lahir di Tustar pada tahun 200 H/ 815, M. sesuai dengan keterangan
Ibn Al-Atir, atau pada tahun 201 H/ 816 M. sesuai dengan penulis biografi yang
lain. Penulis lain mengatakan bahwa kelahiran At-Tustari pada tahun 203 H/ 818
M, sesuai dengan hitungan mundur dari tahun kematian At-Tustari yang berusia 80
tahun. Begitu pula terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun meninggalnya, ada
yang mengatakan At-Tustari meninggal pada tahun 293 H. Tetapi pendapat yang lebih
tepat adalah pada tahun 283 H. Ibn Al`Amad Al-Hanbali mengatakan bahwa Abu
Muhammad Sahl ibn `Abdullah AtTustari meninggal pada tahun 283 H ketika berumur
80 tahun.At-Tustari bercerita bahwa ketika berumur tiga tahun sudah terbiasa
bangun malam dan melihat bagaimana pamannya Muhammad ibn Sawwar (w. 161 H/ 778
M) melaksanakan salat malam. Akan tetapi, ketika pamannya mengetahui apa yang
dilakukan At-Tustari, pamannya kemudian berkata, “At-Tustari, kembalilah tidur,
kamu telah membuat hatiku gelisah”. Ketika usianya dirasa sudah tepat, suatu
hari barulah pamannya bermaksud mengenalkan ajaran tasawuf kepada At-Tustari
dengan bertanya, “apakah kamu dapat mengingat Allah yang menciptakanmu?”,
At-Tustari menjawab, “bagaimana caranya agar aku mengingat-Nya?”, pamannya pun
menjawab, “ucapkanlah tiga kali dalam hatimu tanpa menggerakkan lidahmu saat
menjelang tidur, Ketika mendapatkan pengajaran tersebut At-Tustari terus
menerus mengamalkannya.
Pada awalnya diminta
mengamalkannya tiga kali setiap malam selama tiga malam, kemudian tujuh kali
setiap malam dan sebelas kali setiap malam. Sampai akhirnya dengan mengamalkan
zikir tersebut, At-Tustari merasakan manisnya zikir. Atas pengajaran pamannya,
At-Tustari melakukannya hingga satu tahun dan pamannya berkata, “hafalkan terus
apa yang saya ajarkan kepadamu dan berzikirlah dengan istiqamah sampai kamu
masuk ke liang kubur. Sesungguhnya zikir tersebut bermanfaat bagimu di dunia
dan akhirat.” Semenjak itu, At-Tustari senantiasa berzikir dengan kalimat itu
selama bertahun-tahun, sehingga At-Tustari mendapatkan kelezatan dan manisnya
zikir dalam hatinya. Kemudian Pamannya kemudian berkata kepadanya, '”Sahl! Jika
Allah bersama seseorang, dan melihat dia dan mengawasi dia, bisakah dia tidak
menaati Allah? kamu seharusnya tidak pernah melakukannya”, demikianlah
pengajaran tentang mengingat Allah yang telah ditanamkan oleh pamannya untuknya
menjadi pengaruh besar pada At-Tustari, dan menjadi landasan doktrin mistiknya,
seperti kita akan melihat Muḥammad bin Sawwar juga menyampaikan kepada
keponakannya beberapa instruksi dalam tafsir Al-Qur'an, dan hadits. Sedikit
yang diketahui tentang Latar belakang spiritual Muḥammad bin Sawwar selain itu
dia mungkin memiliki hubungan dengan Ma'ruf Al-Karkhi (wafat 200/815), yang
menurut At-Tustari, ia dikatakan sebagai “salah satu guru dan bapak spiritual
yang signifikan”. Bahkan saat masih anak-anak, At-Tustari menunjukkan
kecenderungan yang kuat untuk menjalani kehidupan pertapa. Ia menghadiri
pelajaran dengan seorang guru Al-Qur'an hanya dengan syarat dia harus diijinkan
untuk pulang ke rumah setelah satu jam agar jangan samapi konsentrasi
spiritualnya (himma) hilang. Dikatakan bahwa dia tinggal di roti jelai saja
sampai usia dua belas tahun. Pada usia tiga belas tahun, dia mengalaminya
sebuah krisis spiritual berupa sebuah pertanyaan mendalam yang terus-menerus
mengusiknya. Dia meminta agar dizinkan untuk pergi ke Basra untuk mengetahui
apakah ada orang terpelajar di kota tersebut akan mampu menjawab pertanyaannya.
Akan tetapi At-Tustari Tidak menemukan siapa pun yang bisa membantunya di sana,
dia melakukan perjalanan ke pulau 'Abbadan (di Iran selatan-barat sekarang), di
mana ribat atau spiritual yang terkenal tempat berlindung dan retret dikatakan
telah didirikan oleh pengikut Hasan Al-Basri. Di sinilah At-Tustari bertemu
dengan Abu Habib Hamza bin 'Abdullah Al-'Abbadani, yang akhirnya mampu
memberikannya jawaban atas pertanyaannya. Ia bertanya kepada Abu Habib Hamzah
“Syekh! Apakah hati selalu bersujud?” Abu Habib Hamzah menjawab, “Ya,
selamanya!”. Atas dasar jawaban sederhana inilah At-Tustari kemudian merasakan
bahwa dirinya telah menemukan jawaban yang ia inginkan selama ini. Kemudian ia
memutuskan untuk tinggal bersama Abu Habib untuk beberapa waktu, untuk
mendapatkan keuntungan darinya pengetahuannya dan menjadi terlatih dalam cara
sufi adab, yaitu disposisi dan mode melakukan yang benar ke jalan mistik. Juga
di 'Abbadan, Tustari menceritakan, bahwa pada suatu malam dia melihat kata
Kata, ditulis dengan warna hijau Terang pada satu garis di langit dari Timur ke
Barat. Setelah masa pelatihan di bawah guru spiritual tersebut, At-Tustari
kembali ke kota asalnya Tustar, di mana selama sekitar dua puluh tahun dia
menjalani kehidupan sendirian, sangat menundukkan dirinya disiplin pertapa yang
ketat dengan metode puasa yang terus-menerus dan berat sekali. ia dikutip
berkali-kali dalam sastra Sufi sebagai contoh manfaat dari kelaparan dan puasa.
literatur tersebut diambil dari Risana Qushayri:“Lalu aku kembali ke Tustar.
Pada saat itu, makanan saya telah dikurangi sampai-sampai (murid saya) akan
membeli jelai dengan sebuah dirham, menggilingnya, dan memanggangnya menjadi roti
untukku. Setiap malam fajar, saya akan berbuka puasa hanya dengan satu ons
roti, tanpa garam atau bumbu. Dirham itu bertahan setahun untukku. Setelah itu,
saya memutuskan untuk berbuka puasa setiap tiga hari sekali, lalu setiap tujuh
hari sekali, lalu setiap dua puluh lima hari. Saya terus berlatih ini dua puluh
tahun.”
Setelah beberapa
tahun At-Tustari memang melakukan perjalanan lain jauh dari kota asalnya,
melakukan ziarah ke Mekkah pada tahun 219/834. Menurut beberapa laporan dari
seseorang, di Mekkah At-Tustari pertama kali bertemu dengan Dzun Nun Al-Mishri
Al-Misri (wafat 245/860). At-Tustari tidak diketahui secara umum menjadi murid
Dzun Nun Al-Mishri, ia tinggal bersamanya dan tetap tinggal dalam pelayanan
kepadanya untuk jangka waktu tertentu, tapi ada sedikit keraguan bahwa sebuah
asosiasi spiritual yang kuat didirikan di antara kedua mistikus. Satu laporan
menyatakan bahwa At-Tustari melakukan perjalanan ke Mesir untuk menemui Dzun
Nun Al-Mishri, dimana yang terakhir mengajarkan kepadanya tentang hakikat
kepercayaan sejati kepada Allah atau tawakal kepada Allah, yang mana Sebenarnya
ini adalah salah satu doktrin kunci yang ditunjukkan At-Tustari dalam komentar
Al-Qur'annya. Selain itu, sebuah laporan di Kitab Al-Luma' dari Abu Nasr
Al-Sarraj (wafat 378 H/998 M) menjelaskan bahwa At-Tustari pasti memegang
sebuah penghormatan untuk Dzun Nun Al-Mishri yang mirip dengan apa yang secara
tradisional dipegang oleh seorang murid untuk gurunyanya, ketika ditanya
mengapa di tahun-tahun sebelumnya dia menahan diri untuk mengajar, dia
menjawab: Saya tidak suka untuk terlibat dalam wacana tentang pengetahuan
mistis atau menerima murid selama dia (Dzun Nun Al-Mishri) masih hidup, karena
At-Tustari mempunyai rasa hormat dan menghormati dia (Dzun Nun Al-Mishri). Dzun
Nun Al-Mishri meninggal dunia pada tahun 246 H./ 861 M. Setelah proses
perjalanan yang dilakukan At-Tustari selama beberapa tahun untuk bertemu dengan
para ulama dan para wali sehingga ia mampu menguasai ilmu syariat yang benar
dan mengambil berbagai faedah yang telah diajarkan kepadanya, kemudian ia
kembali lagi ke Tustar dengan membawa cahaya yang penuh dari Allah SWT. Lalu
At-Tustari memulai dakwah dan mengajak manusia kepada hidayah dan kebenaran
sesuai dengan izin dari Allah SWT.
2. Guru dan Murid Muhammad
Sahl bin Abdullah Al-TustariAt-Tustari selama perjalanannya untuk mencari
sebuah ilmu, ia banyak bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal yang ia temui dan
menjadikannya sebagai guru seperti:a. Muhammad ibn Sawwar (w. 161 H/778 M). Ia
merupakan paman dari At-Tustari, yang pertama kali mengajarkan ilmu tasawuf
kepadanya.
b. Hamzah
Al-`Abbadani. Ia adalah orang yang ditanya oleh At-Tustari untuk mencari
jawaban dari pertanyaan yang ia bawa, dan ia menemukan jawaban itu darinya.c.
Muqatil ibn Sulaiman (w. 150 H/ 767 M).d. Hammad ibn Salamah (w. 167 H/ 784
M).e. Waki` ibn Al-Gharrah (w. 197 H/ 812 M).f. Shufis Abu Sulaiman Ad-Darani
(w. 215 H/ 830 M)
g. Bisri Al-Hafi (w.
227 H./ 841 M).
h. Sari As-Saqati (w.
251 H./ 865 M).
i. ‘Abd Ar-Rahim
Al-Istakhri (w. 300 H./ 912 M).Al-Tustari memiliki banyak murid, beberapa di
antaranya tetap dengan dia selama bertahun-tahun, sementara yang lain tinggal
hanya dalam waktu singkat. Di antara murid-murid yang tinggal lama, yang paling
penting adalah:a. Muhammad ibn Salim dan Ahmad ibn Salim (w. 356 H./ 967 M.)
yang keduanya menularkan keilmuannya dan menguraikan berbagai perkataan dan
ajaran At Tustari.
b. Abu Bakr Muhammad
ibn Al-As`at Al-Sijzi yang menerima izin untuk mengajarkan Tafsir At-Tustari
pada tahun 275 H./ 888 M.
c. Abu Al-Hasan Umar
ibn Wasil al-`Anbar, yang meriwayatkan anekdot tentang AtTustari dan
menjelaskan beberapa penafsiran Al-Qur’annya
Sedangkan murid-murid
yang hanya tinggal dalam waktu yang singkat bersama At-Tustari adalah:a. Husain
ibn Mansur Al-Hallaj, yang menjadi muridnya pada usia enam belas tahun dan
tinggal bersamanya hanya dua tahun.
b. Hasan ibn Khalaf
Al-Barbahari (w. 329 H./ 941 M.). Seorang teolog Hanbali yang terkenal dan ahli
hukum dari Bagdad. c. Abu Muhammad ibn Husain Al-Jurayri (w. 312 H./ 924 M.),
ia juga menjadi salah satu murid utama Junaid.d. Abu Al-Hasan ibn Muhammad
Al-Muzayyin Al-Tirmidzi (w. 328 H./ 939 M.), yang juga murid Junayd.e. Isma`il
ibn `Ali Al-Aili yang menjadi murid At-Tustari di Basrah pada tahun 280 H./ 893
M.3. Karya Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Setelah mencapai
puncak ilmu pengetahuan dan kebersihan jiwa, Sahl ibn `Abdullah At-Tustari
memulai untuk berdakwah mengajak manusia kepada kebenaran dan hidayah Allah
SWT. Dakwah yang ia lakukan tidak hanya sebatas seruan kepada pendidikan,
perilaku, ucapan, dan nasihat yang baik saja, akan tetapi At-Tustari juga
mewariskan sejumlah khazanah keilmuan yang berbentuk buku-buku dalam berbagai
macam materi keilmuan. Diantara karya-karya yang ia karang yaitu:a. Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Adzim (Tafsir Al-Tustari).b. Jawabatu Ahlu Al-Yaqin.c. Daqaiq
Al-Muhibbin.d. Risalah fi Al-Huruf.e. Risalah fi Al-Hukmi wa Al-Tashawuf.f.
Salsabil Sahliyah.g. Al-Ghayatu Liahli Al-Nihayah.h. Lathaif Al-Qashash Fi
Qashash Al-Anbiya.i. Kitab Al-Ma`aridah wa Ar-Radda `Ala Ahli Al-Firqa wa Ahli
Ad-Da`awa fi AlAhwal.j. Kitab Al-Mistaq.
k. Kalam Sahl.
l. Maqalah fi
Al-Manhiyat.m. Manaqib Ahlul-Haq wa Manaqib Ahlullah `Azza wa Jalla.n. Mawa’idz
Al-‘Arifin.
BIOGRAFI AHMAD BIN HARD
Oleh : Sri Cahaya Nurwulan
1.
BIOGRAFI AHMAD BIN HARD
Ahmad bin Harb al-Nisaburi adalah seorang
pertapa kondang dari Nishapur, sebuah tradisionis handal dan seorang pejuang
perang suci. Ia mengunjungi Baghdad pada masa Ahmad bin Hanbal dan mengajar di
sana, ia meninggal pada 234H(849)M pada usia 85 tahun. Ia adalah Syaikhul Islam
dan penghulu kaum muslimin pada masanya, al-hafizh, al-hujjah, Imam, Qudwah,
orang yang disepakati keagungan, kedudukannya oleh yang pro maupun kontrak.
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin
Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin
Mazin bin Syaiban bin Zulal bin Ismail bin Ibrahim.
Beliau lahir pada tanggal 20 bulan Rabi’ul
awal tahun 164 H atau November 780 M di kota Maru/Merv –kota kelahiran ibu-
Baghdad. Beliau wafat pada hari jum’at Rabi’ul awal tahun 241 H(855 m) di kota
kelahirannya, Baghdad. Laqabnya adalah al-Syaibany al-Marwazy al- Dzuhly
al-Baghdady. Beliau merupakan keturunan arab dari suku bani Syaiban, sementara
ayahnya adalah Abu Abdillah. Ibunya bernama Syafiyyah binti Maimunah binti
Abdul Malik al-Syaibany.
Ketike beliau baru berumur tiga tahun. Kakek
beliau, Hanbal berpindah ke wilayah Khurasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada
masa pemerintahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung kedalam barisan pendukung
Bani Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah.
Disebutkan bahwa beliau dahulunya adalah seorang panglima. Nasab beliau bertemu
dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma’ad bin Adnan yang berarti bertemu
nasab pula dengan Nabi Ibrahim.
2. Karya
tulis Ahmad bin Hard
Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad
al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab “Musnad” dan sebaik baiknya
karangan dia dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam
kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai kitab Musnad ini berisi lebih dari
25.000 di antara karya imam Ahmad ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh
anaknya dari ceramah (kajian-kajian) kumpulan dari 40ribu hadits juga kitab
ash-Salat dan kitab as-Sunnah.
3. Guru-guru
Ahmad bin Hard
Guru-gurunya adalah Hasyim, Sufyan bin
Uyainah al-Hilaly, Ibrahim bin Sa’d, Jalil bin Abdul Hamid, Yahya al-Qattan dan
Waqi’, Abu Daud al-Tayalisy, Abdurrahman bin al-Mahdy, Husyaim bin Basyir,
Jawwad,’Ubbad bin Ibad al-Mahlaby, Mu’tamar bin Sulaiman al-Taimy, Ayyub bin
Najar, Yahya bin Abu Zaidah, Ali bin Hasyim bin al-Barid, dan lain-lain.
4. Murid-murid
Ahmad bin Hard
Murid-muridnya adalah Muhammad bin Ismail
al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisabury, Abu Daud, Ibn Mahdi,al-Syafi’i,
Abul Walid, Abdur Razaq, Waki’, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madiny, al-Husai
bin Mansyur, Ahmad bin al-Hasan, Ibnu Majah, al-Nasa’I, al-Turmudzi,dua anak
beliau(Shalih dan Abdullah), sepupunya(Hanbal bin Ishaq), Abdul Razaq,
al-Hasan, dan lain-lain.
5. Karya-karya
Ahmad bin Hard
a.
Kitab
an-Nasikh wa al-Mansukh
b.
Kitab
at-Tarikh
c.
Kitab
Hadits Syu’bah
d.
Kitab
al-Muqaddam wa al-Mu’akkhar fi al-Qur’an
e.
Kitab
Jawabah al-Qur’an
f.
Kitab
al-Manasik al-Kabir
g.
Kitab
al-Manasik as-Saghi
6. Sakit
dan wafatnya Ahmad bin Hard
Menjelang wafatnya beliau jatuh sakit selama
Sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin
menjenguknya. Mereka berdesak-desakkan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai
sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan
hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul awwal 241 M dalam usia 77 tahun di kota Baghdad,
beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah di tentukan
kepadanya. Kaum mualimin bersedih dengan kepergian beliau dan ia dimakamkan di
pemakaman al-Harb.
BIOGRAFI JA’FAR BIN ASH SHIDDIQ
Oleh : DIAN NAZRAH
Imam Ja'afar lahir di
Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M).
Ja'far yang juga dikenal dengan julukan Abu Abdillah merupakan
anak sulung dari Muhammad al-Baqir, sedangkan ibunya bernama Fatimah (beberapa
riwayat menyatakan Ummu Farwah) binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Melalui garis ibu, ia dua kali
merupakan keturunan Abu Bakar, karena al-Qasim menikahi putri
pamannya, Abdullah bin Abu Bakar. Ia dilahirkan pada masa pemerintahan
Abdul-Malik bin Marwan, dari Bani Umayyah.
Beliau memiliki
saudara satu ibu yang bernama Abdullah bin Muhammad. Sedangkan saudara lainnya
yang berlainan ibu adalah Ibrahim dan Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti
Asid bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm
Salamah yang beribukan wanita hamba pula.
Ja'far bin Muhammad
bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah dan istri putri beliau Fathimah Radhiyallahu 'anha. Ash
Shadiq merupakan gelar yang selalu menetap tersemat padanya. Kata ash
Shadiq itu, tidaklah disebutkan, kecuali mengarah kepadanya. Karena ia terkenal
dengan kejujuran dalam hadits, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakannya.
Kedustaan tidak dikenal padanya. Gelar ini pun masyhur di kalangan kaum
Muslimin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah acapkali menyematkan gelar ini padanya.
Laqab lainnya, ia
mendapat gelar al Imam dan al Faqih. Gelar ini pun pantas ia
sandang. Meski demikian, ia bukan manusia yang ma'shum seperti yang diyakini
sebagian ahli bid'ah. Ini dibuktikan, ia sendiri telah menepisnya, bahwa al
'Ishmah (ma'shum) hanyalah milik Nabi.
Imam Ja'far ash
Shadiq dikarunia beberapa anak. Mereka adalah: Isma'il (putra tertua,meninggal
pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup), 'Abdullah (dengan namanya, kun-yah
ayahnya dikenal), Musa yang bergelar al Kazhim, Ishaq, Muhammad, 'Ali dan
Fathimah.
Kepribadian
Dia dikenal memiliki
sifat kedermawanan dan kemurahan hatinya yang begitu besar. Seakan merupakan
cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari
keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah orang yang paling murah hati.
Dalam hal
kedermawanan ini, ia seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal 'Abidin,
yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Pada malam hari yang gelap, ia
memanggul sekarung gandum, daging dan membawa uang dirham di atas pundaknya,
dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang
fakir di Madinah, tanpa diketahui jati dirinya. Ketika beliau telah wafat, mereka
merasa kehilangan orang yang selama ini telah memberikan kepada mereka bantuan.
Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.
Kehidupan awal
Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.
Kehidupan awal
Sejak kecil hingga
berusia sembilan belas tahun, ia dididik langsung oleh ayahnya. Setelah
kepergian ayahnya yang syahid pada tahun 114 H, ia menggantikan posisi ayahnya
sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi'ah.
Pada masa remajanya,
Ja'far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti
Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H). Kedua-dua bersaudara inilah yang
terlibat dalam konspirasi untuk meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah.
Saat itu Ja'far ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat
menyaksikan keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja'far ash-Shadiq
menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.
Perjalanan keilmuan
Imam Ja'far ash
Shadiq, menempuh perjalanan ilmiyahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia
sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang,
misalnya Sahl bin Sa'id as Sa'idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhum. Dia
juga berguru kepada Sayyidu Tabi'in 'Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab
az Zuhri, 'Urwah bin az Zubair, Muhammad bin al Munkadir dan 'Abdullah bin Abi
Rafi' serta 'Ikrimah maula Ibnu 'Abbas. Dia pun meriwayatkan dari kakeknya, al
Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.
Mayoritas ulama yang ia ambil ilmunya berasal dari Madinah. Mereka t adalah ulama-ulama kesohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.
Mayoritas ulama yang ia ambil ilmunya berasal dari Madinah. Mereka t adalah ulama-ulama kesohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.
Sedangkan
murid-muridnya yang paling terkenal, yaitu Yahya bin Sa'id al Anshari, Aban bin
Taghlib, Ayyub as Sakhtayani, Ibnu Juraij dan Abu 'Amr bin al 'Ala`. Juga Imam
Darul Hijrah, Malik bin Anas al Ashbahi, Sufyan ats Tsauri, Syu'bah bin al Hajjaj, Sufyan bin 'Uyainah, Muhammad bin Tsabit al
Bunani, Abu Hanifah dan masih banyak lagi.
Para imam hadits -kecuali al Bukhari- meriwayatkan hadits-haditsnya pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al Bukhari meriwayatkan haditsnya di kitab lainnya, bukan di ash Shahih.
Para imam hadits -kecuali al Bukhari- meriwayatkan hadits-haditsnya pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al Bukhari meriwayatkan haditsnya di kitab lainnya, bukan di ash Shahih.
Berkat keilmuan dan
kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepada Imam Ja'far ash Shadiq.
Abu Hanifah berkata,"Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja'far bin Muhammad."
Abu Hatim ar Razi di dalam al Jarh wa at Ta'dil (2/487) berkata,"(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia."
Ibnu Hibban berkomentar: "Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba' Tabi'in dan ulama Madinah".
Abu Hanifah berkata,"Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja'far bin Muhammad."
Abu Hatim ar Razi di dalam al Jarh wa at Ta'dil (2/487) berkata,"(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia."
Ibnu Hibban berkomentar: "Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba' Tabi'in dan ulama Madinah".
Imam Ja'afar as Sadiq
menjauhkan diri dari ketegangan politik pada masanya, dan berfokus pada
mengajar dan mendidik masyarakat. Pilihan ini merupakan keuntungan besar bagi
peradaban Islam. Ada kebijaksanaan dalam strategi ini. Sejarah berhutang budi
kepada Imam Ja'afar as Sadiq atas dedikasi beliau bagi pengetahuan dan
pengajaran yang menghasilkan tokoh-tokoh besar di bidang fikih, tasawuf, sains
dan matematika.
Di bawah penguasa
Umayyah, Ja'far as Sadiq dianggap oleh banyak pengikut Syiah sebagai imam
Syi'ah keenam, dan bagaimanapun, Syiah dianggap bid'ah dan pemberontak oleh
para khalifah Umayyah. Banyak kerabat Ja'far as Shadiq telah tewas di tangan
Umayyah. Tak lama setelah kematian ayahnya, paman Ja'far as Sadiq, Zaid bin Ali
memimpin pemberontakan melawan Bani Umayyah. Ja'far as Sadiq tidak
berpartisipasi, tetapi banyak dari sanak saudaranya, termasuk pamannya tewas,
dan lainnya dihukum oleh Khalifah Umayyah. Ada pemberontakan lain selama
tahun-tahun terakhir dari Bani Umayyah, sebelum Bani Abbasiyah berhasil merebut
kekhalifahan dan mendirikan dinasti Abbasiyah pada tahun 750 Masehi, ketika
Ja'far as Shadiq berusia 48 tahun.
Wafatnya Ja'far ash-Shadiq
Wafatnya Ja'far ash-Shadiq
Ja'far bin Muhammad
bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib meninggal pada tanggal 25
Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M. Beliau dimakamkan di Pekuburan
Baqi'.
BIOGRAFI ABU YAZID AL BUSTAMI
Oleh : KHAIRUNNISA
Abu Yazid al-Bustami
lahir di Bustam, bagian timur laut Persia tahun: 188 H – 261 H/874 – 947 M.
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Adam bin Surusyan. Semasa
kecilnya ia dipanggil Thaifur, kakeknya bernama Surusyan yang menganut ajaran
Zoroaster yang telah memeluk Islam dan ayahnya salah seorang tokoh masyarakat
di Bustam.
Keluarga Abu Yazid
termasuk keluarga yang berada di daerahnya tetapi ia lebih memilih hidup
sederhana. Sejak dalam kandungan Ibunya, konon kabarnya Abu Yazid telah
mempunyai kelainan. Ibunya berkata bahwa ketika dalam perutnya, Abu Yazid akan
memberontak sehingga Ibunya muntah kalau menyantap makanan yang diragukan
kehalalannya.
Sewaktu menginjak
usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang
patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya, suatu kali
gurunya menerangkan suatu ayat dari surat Luqman yang berbunyi : “berterima
kasihlah kepada Aku dan kepada kedua orang tuamu” ayat ini sanagat
menggetarkan hati Abu Yazid. Ia kemudian berhenti belajar dan pulang untuk
menemuia Ibynya, sikapnya ini menggambarkan bahwa ia selalu berusaha memenuhi
setiapo panggilan Allah.
Perjalanan Abu Yazid
untuk menjadi seorang sufi memeakan waktu puluhan tahun, sebelum membuktikan
dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi seorang fakih
dari madzhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali As-Sindi,
ia mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya kepada Abu Yazid.
Hanya saja ajaran sufi Abu Yazid tidak ditemukan dalam bentuk buku
Dalam perjalanan
kehidupan Zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir di
syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.
Abu Yazid hidup dalam
keluarga yang taat beragama, Ibunya seorang yang taat dan zahidah, dua
saudaranya Ali dan Adam termasuk sufi meskipun tidak terkenal sebagaimana Abu
Yazid.
Abu Yazid dibesarkan
dalam keluarga yang taat beragama, sejak kecil kehidupannya sudah dikenal
saleh. Ibunya secara teratur mengirimnya ke masjid untuk belajar ilmu-ilmu
agama. Setelah besar ia melanjutkan pendidikannya ke berbagai daerah. Ia
belajar agama menurut mazhab hanafi. Setelah itu, ia memperoleh pelajaran ilmu
tauhid. Namun pada akhirnya kehidupannya berubah dan memasuki dunia tasawuf.
Abu Yazid adalah
orang yang pertama yang mempopulerkan sebutan al-Fana dan al-Baqa` dalam
tasawuf. Ia adalah syaikh yang paling tinggi maqam dan kemuliannya, ia sangat
istimewa di kalangan kaum sufi. Ia diakui salah satu sufi terbesar. Karena ia
menggabungkan penolakan kesenangan dunia yang ketat dan kepatuhan pada iter
agama dengan gaya intelektual yang luar biasa.
Abu Yazid pernah
berkata: “Kalau kamu lihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat yang
besar-besar, walaupun ia sanggup terbang ke udara, maka janganlah kamu tertipu
sebelum kamu lihat bagaimana ia mengikuti suruhan dan menghentikan dan menjaga
batas-batas syari`at.
Dalam perkataan ini
jelaslah bahwa tasawuf beliau tidak keluar dari pada garis-garis syara` tetapi
selain dari perkataan yang jelas dan terang itu, terdapat pul akata-kata beliau
yang ganjil-ganjil dan mempunyai pengertian yang dalam. Dari mulut beliau seringkali
memberikan ucapan-ucapan yang berisikan kepercayaan bahwa hamba dan tuhan
sewaktu-waktu dapat berpadu dan bersatu. Inilah yang dinamakan Mazhab Hulul
atau Perpaduan.
Abu Yazid meninggal
dunia pada tahun 261 H/947 M, jadi beliau meninggal dunia di usia 73 tahun dan
dimakamkan di Bustam, dan makamnya masih ada sampai sekarang.
BIOGRAFI ABDULLAH BIN
MUBARAK
Oleh : SITI FATIMAH
Nama lengkap beliau
adalah abdullah bin almubarok bin wadhih al handloly at atmimy Faqih khurosan.
Al abbas bin mushab berkata; ibunya adalah orang khuwarzamiyyah dan bapaknya
orang turky.Beliau dilahirkan pada tahun 118 H sebagimana yang telah
diceritakan oleh Ahmad bin Hambal.
Guru-Guru Beliau
Adz dzahabi berkata:
orang yang menjadi guru al mubarak untuk pertama kalinya adalah ar rabi’ bin
anas al khurasani.
Adz dzahabi
menuturkan dari ibrahim bin ishaq dari ibnu al mubarak, ia berkata: aku
mempunyai 4000 guru dan aku meriwayatkan dari 1000 dari mereka
Al abbas bin mush’ab
dalam bukunya tarikhihi mengatakan : aku menemukan guru ibnu al mubarak ada 800
orang. Di antara deretan gurunya hisyam bin urwah, ismail bin abi khalid, al
a’masy, sulaiman at taimi, humaid at thawil, abdullah bin ‘aun, khalid al
hidza, yahya bin said al anshari, musa bin uqbah (tabi’in). al auza’I, said bin
abdul aziz, abu abdurrabi az zahid, hakam al hamdani, ibrahim bin abi ablah,
abu mualla shakhar bin jandal al beiruti, shafwan bin umar, umar bin muhamad
bin zaid al asqalani, al hakam bin abdillah bin abla, yahya bin abi katsir,
ibnu lahi’ah, al laist bin saad, said bin ayyub, harmalah bin imran, abu syuja’
said bin yazid, ismail bin abi khalid, yunus bin abi ishaq, mujalid bin said,
hisyam bin urwah, zaidah bin qudamah, yahya bin said al anshari, yahya bin
ubaidillah bin mauhub, usamah bin zaid al laitsi, ibnu ajlan, Ibnu juriaj,
ma’mar, yunus bin yazid, musa bin uqbah, hisyam bin saad, muhammad bin ishaq,
abdullah bin said bin abu hind, malik bin anas, sufyan ats tsauri, hammad bin
zaid, al mubarak bin fadhalah, sulaiman at tamimi, auf al arabi, syu’bah, hisyam
bin hasan, ‘ashim bin sulaiman al ahwal, abdullah bin aun, khalid al hadza.
Untuk keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada tahdzibul kamal karya al
mizzi juz 6 sampai 16.
Murid-Murid Beliau
Banyak ulama yang
meriwayatkan dari beliau, mereka adalah; ats tsauri, ma’mar bin rasyid, abu
ishaq al fazari, ja’far bin sulaiman ad dhaba’I, baqiyah bin walid dawud bin
abdurrahman al atthar, ibnu uyainah, abu ahwash, fudhail bin iyadh, mu’tamar
bin sulaiman, al walid bin muslim, abu bakar bin iyyas, muslim bin ibrahim, abu
usamah, abu salamah at tabudzki, nu’aim bin hamad, ibnu mahdi, al qahthan,
ishaq bin ruhawih, yahya bin ma’in, ibrahim bin ishaq at thalaqaani, ahmad bin
muhammad marduwiyah, ismail bin aban al waraq, basyar bin muhammad as
sikhtiyani, hibban bin musa, al hakam bin musa, zakariya bin adi , said bin
sulaiman, hay, tholhah bin abi said, abdul malik bin abi sulaiman, umar bin
dzar, umar bin said bin abi husain, muhammad bin umar bin farroukh, amru bin
maimun bin mihron, auf al a’roby, muhammad dan orang yang paling terakhir
meriwayatkan dari ibnu al mubarak adalah al hasan bin dawud al balkhi.
Karya-Karya Beliau
1.
at
tafsir, disebutkan ad dawudi dalam tabaqat al muffasirin 1/250
2.
al
musnad, diriwayatkan al hasan bin sufyan bin amir an nasawi
3.
al
jihad, ditahqiq oleh Dr. naziah hammad
4.
al
birri wa shalah
5.
as
sunan
6.
at
tarikh
7.
arba’in
fil hadist
8.
raqa’
al fatawa
9.
az
zuhud wa yalihi ar raqaiq
Pujian Para Ulama
Kepada Beliau
Abu usamah berkata:
tidaklah aku melihat orang yang lebih haus terhadap ilmu daripada abdullah bin
al mubarok.
Ibnu mahdi berkata:
aimmah itu ada empat, ats tsaury, malik, hammad bin zaid dan ibnul mubarok.
Sufyan berkata:
sesungguhnya aku menginginkan setahun dari seluruh umurku seperti
ibnul mubarok, namun aku tidak kuasa meski hanya tiga hari.
Beliau adalah orang
yang paling utama pada zamannya seorang hafidliul hadits. Sebagaimana dikatakan
ibnu uyainah, kalaulah bukan karena kedekatnya dengan beliau dan kebrsamaan
para sahabat dalam perangniscaya ibnul mubarok bisa menyamai mereka. Beliau
adalh seorang yang faqih,alim, ahli ibadah, zuhud, syakhiyyan, pemberani,
penyair, paling giat dalam menasehati umat, dan imamul muslimin. Mengusai
berbagai bidang disiplin ilmu, fiqih, adab, nahwu, lughoh, syair, fashohah,
zuhud, waro’, bijaksana, qiyamullail, ibadah, haji, perang, ahli berkuda, badan
kuat, meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, ahli dagang, tidak suka
berselish dengan sahabatnya.
Ibnu ma’in berkata:
beliau orang yang cerdas, teguh pendirian, tsiqqoh, alim tentang hadits-hadits shohih,
hadts- hadits yang termuat dalam buku-buku karangannya 20 atau 21 ribu.
Ismail bin ayasy
berkata: seluruh kebaikan yang di ciptakan Allah ada pada beliau.
Beliau seoarng yang
mustajab doanya,. Pernah tatkala beliau berjalan, beliau bertemu ornag buta,
orang itu berkata: berdo’alah untukku! Maka berdo’alah beliau, seketika itu
pula kembalilah pehlihatannya, kisah ini disaksikan dan diceritakan oleh abu
wahb.
Yahya bin yahya
alandalusy berkiasah tentang keutamaan beliau: ketika kami sedang berada di majlis
malik, diberitahukan bahwa ibnul mubarok memohon izin untuk ikut bermajlis, dan
diizinkanlah ia. Kami melihat malik bergeser dari tempatnya mempersilahkannya
untuk duduk di sisinya, dan aku belum pernah melihatnya bergeser menyediakan
tempat duduk bagi seorangpun selainnya. Lalu qori’ membacakan untuk malik,
ketika sampai pada satu permasalahan, malik bertanya apa pendapat kalian
tentang masalah ini? Abdullah segera menjawabnya dengan suara lirih, kemudian
ia berdiri dan pergi, malik kagum atas adabnya lalu berkata kepada kami: ini
adalah ibnul mubarok, faqihnya syam.
ZAINAL ABIDIN
A.
Kelahiran
Berawal dari tokoh agama berjuluk Longko Pati
dari desa Nganguk Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bersama istrinya, mereka pindah
dari kota Pati ke kota Blora, tepatnya di Banjarwaru Kec. Ngawen Kab. Blora,
tanpa diketahui argumennya. Di sinilah lahir seorang putra bungsu bernama
Zainal Abidin yang dalam perkembangannya mempunyai kecakapan ilmu agama. Kemahiran
ilmu agamanya menimbulkan ketertarikan seorang hartawan di desa Talokwohmojo
sampai suatu ketika Zainal Abidin dinikahkan dengan salah seorang putrinya
bernama Haminah. Dari pernikahan inipun membawa ronde baru dalam sejarah Desa
Talokwohmojo.
B. Pendiri
pesantren
Melihat potensi anak menantunya, ayah mertua
Zainal Abidin meberikan sebidang tanah seluas satu hektare di bilangan desa
Talokwohmojo untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu agama. Pada tahun 1900,
di atas tanah pemberian mertuanya, dibangun sebuah langgar kecil untuk salat
berjamaah warga sekitar. Selain berjamaah langgar itu juga menjadi tempat
berusaha bisa Alquran sekaligus kitab-kitab kuning. Itu sebabnya, tempat ini
lebih dikenal menjadi pondok pesantren.
Pada tahun-tahun berikutnya Zainal Abidin
tidak hanya mengajarkan ilmu fikih dan ilmu Alquran saja, sebab pada tahun 1908
dia resmi dibawa ke atas menjadi mursyid tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah.
Berjasa beliau telah mendapatkan izin mengajar dan mebaiat para santri tarekat
di Desa Talokwohmojo pada khususnya dan warga desa sekitar biasanya.
Pelajaran tarekat itu didapatkan dari salah
seorang mursyid Tareqat Naqsabandiyah Khalidiyah bernama K.H Ahmad Rowobayan,
Padangan, Kabupaten Bojonegoro, ujung barat propensi Jawa Timur. Mulai tahun
tersebut terdapat dua corak pendidikan agama; fikih-salaf dan tasawuf-tarekat.
Pesantren itu yaitu pondok pesantren pertama dan tertua, serta satu-satunya
pondok pesantren tarekat di kota Blora.
C. Keturunan
Dari pernikahan
dengan Haminah beliau mendapatkan sembilan anak dengan perincian anak laki-laki
berjumlah enam dan anak perempuan berjumlah tiga. Beliau dinikahkan dengan
murid guru tarekatnya bernama Ruqayyah setelah istri pertamanya meninggal
dunia. Dengan Ruqayah beliau mendapatkan tiga putra dan putri. Pada tahun 1922
K.H Zainal Abidin menghadap Allah Swt.
Periode selanjutnya
pondok salaf dan tarekat di pegang oleh putra pertama dari istri pertama, K.H
Ahmad Hasan. Pada masa ini pondok sempat menemui guncangan saat menghadapi
penjajah, terutama penjajah Jepang. Tingkah laku yang dibuat represif di
alamatkan pada pondok pesantren tersebut, sampai pada kesudahannya K.H Ahmad
Hasan wafat pada tahun 1942.
Sepeninggal K.H Ahmad
Hasan, saudara kandung yang lebih mudanya, K.H Ismail, meneruskan tongkat
estafet kepemimpinan. Beliau yaitu putra putra kedua dari ibu pertama pendiri
pondok tersebut. Beliau murid kesayangan dari K.H Kholil Kasingan Rembang dan
juga sempat berguru kepada Hadratus Syekh K.H Hasyim Asyari di Tebuireng. Di
tangan K.H. Islamil tersebut pondok menemui perkembangan pesat, santri dari
luar kota mulai berdatangan. Selain tempat persinggahan, pondok tersebut juga
digunakan menjadi tempat perlindungan para ulama, pejabat dan warga. Tercatat
dalam sejarah pada tahaun 1948 terjadi pemberontakan PKI pertama. Pondok
tersebut menjadi tempat perlindungan ulama-ulama dan pejabat pemerintahan dari
ancaman PKI. Belakang September pada tahun tersebut Blora dapat dikuasai oleh
PKI Muso dan dalam waktu singkat membentuk pemerintahan baru.
Para pejabat dan
ulama mendapatkan ancaman bahkan gerakan pembantaian. Bupati Blora dan
tokoh-tokoh yang lain di bantai oleh PKI pada saat itu. Demikian pula saat
serangan militer belanda yang kedua pada tahun 1949. Pondok Pesantren tersebut
juga pernah menjadi markas pertahanan para tentara dan sukarelawan sewaktu
melawan Belanda. K.H Ismail wafat tahun 1956.
D. Perkembangan
pesantren
Pada periode ini
kepemimpinan diserahkan kepada putra mantu dari putri dari istri kedua K.H
Zainal Abidin, yakni K.H Nahrowi. Mulai dari periode ini terdapat pemisahan
pengelolaan pondok syariat dan tarekat. K.H Nahrowi mengurus pondok tarekat dan
pondok syariat di serahkan pada putra bungsu K.H Zainal Abidin, yaitu K.H
Abbas. Pada periode tersebut muncul inisiatif untuk memberikan nama pondok
pesantren dengan nama Mambaul Huda. Dalam memegang pondok syariat, K.H. Abbas
dibantu K Rosikhin, Putra dari K.H Nahrowi. Tetapi pada tahun 1976 K.H Abbas
wafat dan sepuluh tahun kesudahan menyusul K.H Nahrowi.
Sepeninggal K.H.
Abbas, pondok syariat dipegang oleh K.H Ali Ridlo, yang juga menantu K.H Abbas,
sedangkan sepeninggal K.H Nahrowi pondok tarekat diserahkan kepada putranya,
K.H Musthofa Nahrowi. Beliau yaitu merupakan mursyid Tarekat Naqsabandiyah
Kholidiyah yang di baiat oleh ayahnya sendiri. Meskipun banyak perkumpulan
pengajian tarekat semisal Syadziliyah dan Qodiriyah, di Blora hanya benar satu
mursyid yaitu muryid yang benar di Pondok Pesantren Mambaul Huda. Sekarang,
corak pendidikan yang benar di sana bukan hanya syariat dan tareqat, tetapi
juga telah menyertai kurikulum negara.
Biografi
Salman al-Farisi
Salman al Farisi adalah salah
seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari
Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya
kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah.
Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di
sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan
sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.
Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan digelari dengan Salman Al-Khair. Ia berasal dari desa Ji di Isfahan, Persia. Ia adalah sosok sahabat yang terkenal memiliki ide-ide brilian, memiliki tubuh yang kuat, dan pandai dalam ilmu-ilmu syariat. Ia pernah menjadi penjaga api di kuil tempat pemujaan orang-orang Persia.
Masuk Islamnya Salman
Sebelum Islam datang, Salman memeluk
agama Nasrani, karena ia terpikat dengan model sembahyang mereka. Suatu ketika,
atas saran seorang pendeta yang
ditemuinya di Mosul, Salman pergi menemui Rasul yang saat itu sudah hijrah ke
Madinah. Sang pendeta mengabarkan bahwa
seorang Nabi akan diutus pada zaman itu. Ia berpesan agar Salman mengikuti Nabi
tersebut dan Nabi itu akan hijrah ke sebuah daerah yang banyak ditumbuhi pohon
kurma dan daerahnya diapit dua bidang tanah yang berbatu hitam.
Setibanya di Madinah, pada malam harinya, ia pergi menemui Rasulullah sambil membawa makanan sembari berkata, ''Makanan ini adalah sedekah.'' Nabi tidak memakan makanan tersebut dan mempersilahkan para sahabatnya untuk menyantapnya. Kemudian Salman datang lagi dan membawa makanan sambil mengatakan, ''Makanan ini adalah hadiah.'' Kali ini Nabi memakan sebagiannya dan sebagiannya Beliau berikan kepada para sahabatnya.
Suatu hari, Salman melihat ciri
kenabian di pundak Nabi. Takala ia melihat
tanda-tanda kenabian pada diri Nabi, di mana Beliau tidak makan sedekah,
menerima hadiah, dan di pundaknya ada cap kenabian, Salman pun langsung mengikrarkan diri masuk Islam dan
menceritakan liku-liku perjalanannya kepada Beliau.
Ikut perang Khandaq
(parit)
Perang Khandaq merupakan perang
pertama kali yang diikuti oleh sahabat mulia ini. Karena sebelumnya ia masih
terkungkung oleh perbudakan. Sampai akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi
para sahabat agar membantu Salman, yaitu untuk menebusnya. Setelah itu, Salman
al Farisi tidak pernah absen menyertai Rasulullah dalam peperangan
selanjutnya. Dalam perang Khandaq, Salmanlah orang yang mengusulkan untuk
menggali parit berdasarkan pengalamannya dalam peperangan di Persia.
Orang-orang Arab takjub dengan usulan Salman untuk menggali parit tersebut.
Menjadi Gubernur
Kufah
Tatkala masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Salman diangkat untuk
menjadi Gubernur Kufah. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk
Kufah lantas memadati jalan raya untuk menyambut kedatangannya. Mereka
menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Namun
ternyata mereka salah, Salman al Farisi
datang ke kota itu sendirian dan hanya menunggang seekor
keledai. Dia duduk di atasnya sambil memegang tulang berdaging yang
digigitnya sedikit demi sedikit.
Saat menjabat sebagai gubernur, Salman bertemu dengan seorang saudagar yang baru pulang berniaga dari Syam membawa kurma dan buah tin. Saudagar itu menyuruh Salman untuk mengangkut barang dagangannya karena ia mengira Salman seorang kuli angkut barang. Salman pun membawa barang dagangan saudagar tersebut. Ketika si saudagar mengetahui bahwa Salman adalah gubernur Al-Madain, ia meminta maaf atas kelancangannya. Akan tetapi Salman tetap membawa barang dagangan tersebut sampai ke tempat tujuan.
Saat menjabat sebagai gubernur, Salman bertemu dengan seorang saudagar yang baru pulang berniaga dari Syam membawa kurma dan buah tin. Saudagar itu menyuruh Salman untuk mengangkut barang dagangannya karena ia mengira Salman seorang kuli angkut barang. Salman pun membawa barang dagangan saudagar tersebut. Ketika si saudagar mengetahui bahwa Salman adalah gubernur Al-Madain, ia meminta maaf atas kelancangannya. Akan tetapi Salman tetap membawa barang dagangan tersebut sampai ke tempat tujuan.
Kisah anak sholeh
yang mengendong ibunya
Suatu hari ada seorang anak sholeh
(Salman al farisi) yang mengendong ibunya
yang tercinta. Dikisahkan ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk
berjalan sendiri. Saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam
rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari
ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di
pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada ibunya, ingin membahagiakan
ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan
menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya. Ketika akhirnya mereka
sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta
ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.
Terjadilah percakapan yang kurang
lebih seperti ini Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah
berbakti kepada orang tua saya? Saya
menggendong ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota
Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”. Seketika itu pula Rasul menangis,
Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu, “Wahai
Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh,
tapi maaf (sambil tetap menangis) apapun
yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu apapun usaha
kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu tidak akan pernah bisa membalas jasa
orang tuamu yang telah membesarkanmu”.
Kisah cinta Salman al
Farisi
Pada suatu waktu, Salman berkeinginan
untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai
seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Namun ia tak berani melamarnya.
Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah.
Salman pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli
Madinah, Abu Darda’. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya
saat mengkhitbah wanita impiannya.
Setiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah. Singkat cerita Abu Darda’ mengutarakan maksud kedatangannaya kepada tuan rumah tentang lamaran Salman kepada putri sang tuan rumah. Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut.
Setiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah. Singkat cerita Abu Darda’ mengutarakan maksud kedatangannaya kepada tuan rumah tentang lamaran Salman kepada putri sang tuan rumah. Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut.
Mewakili sang putri, ibunya pun
mengatakan bahwa putrinya menolak lamaran Salman. Kemudian sang ibu menjelaskan
bahwa putrinya akan menjawab iya bila
Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman. Jika seperti
pria pada umumnya, maka hati Salman pasti hancur berkeping-keeping. Ia akan
merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun Salman merupakan pria shaleh,
seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar
biasa, ia justru menerima keputusan sang wanita dengan lapang dada. Tak hanya
itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan
hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda untuk persiapan pernikahan.
Salman juga akan menjadi saksi pernikahan mereka berdua.
Hasan Al – Basri
Oleh : Irma Melati
1.
Biografi Hasan Al – Basri
Nama asli dari Hasan
Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin
Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama
Khoiroh, dan beliau adalah anak dari
Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun !" H di
kota madinah setahun setelah perang shiffin, ada sumber lain yang
menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa
pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab. Khoiroh adalah bekas pembantu dari
Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rasulullah Saw.
Sejak kecil Hasan
Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan
masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama
Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal
dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya.
Para ahli sejarah menguraikan bahwa Ummu Salamah paling luas
pengetahuannya diantara para istri-istri Rasulullah Saw lainnya.
Dan ketika menginjak
14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian
beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basrah terkenal dengan kota
ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in yang
singgah di kota ini. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepada
beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang
pendengar.
Hasan Al Bashri
berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman
bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali
bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas
bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah
bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah,
(Iraq)
dan mendirikan madrasah di sana. Di antara para pengikutnya
yang terkenal adalah Amr ibn Ubaid dan Wasil
ibn Atha. Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan
menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar
diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu
Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawiyah,
Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun
tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan
kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At
Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al
Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.
Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab
110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.
Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud,
kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan
untuk mengendalikan nafsu. dia merupakan tokoh sufi dalam islam .
Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.
2. Pujian Ulama kepada Hasan Al – Basri
Setelah al-Hasan
tumbuh menjadi seorang pemuda. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan
kecerdasan kepadanya, maka beliau menimba ilmu kepada para sahabat kibar
(senior) seperti Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, Abu
Hurairah, dan sejumlah sahabat kibar lainnya radhiallahu ‘anhum. Dengan
kemapanan ilmu dan kesungguhan dalam ibadah hal itu semakin menambah keutamaan
bagi al-Hasan. Sehingga tidak heran bila Qotadah mengatakan, “Al-Hasan adalah
orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram.”
Abu Burdah berkata,
“Tidaklah aku melihat seorang yang lebih serupa dengan para sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dibanding beliau.”
Humaid bin Hilal
berkata, “Suatu hari Abu Qotadah berwasiat kepada kami, “Tekunilah Syaikh ini,
karena aku tidak melihat seorang yang pendapat-pendapatnya lebih mirip dengan
pendapatnya Umar selain beliau.”
Anas bin Malik
berkata, “Bertanyalah kalian kepada al-Hasan, karena beliau selalu ingat
tatkala kami lupa.”
a)
Potret
ibadah beliau
Ibrahim bin Isa
al-Yaskuri berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang selalu berada dalam
kesedihan (takut akhirat ed.) kecuali al-Hasan. Aku tidak melihatnya
melainkan seperti seorang yang baru terkena musibah.”
As-Surri bin Yahya
berkata, “Adalah al-Hasan selalu berpuasa bidh, puasa pada bulan-bulan haram
(mulia), demikian juga puasa Senin dan Kamis.”
Dari Syu’aib ia
berkata, “Aku pernah melihat al-Hasan tengah membaca Alquran sedang ia menangis
sampai mengalir air matanya membasahi jenggotnya.”
b) Sikap
beliau terhadap Fitnah
Di kala itu,
kepemimpinan kaum muslimin jatuh ke tangan seorang pemimpin zalim, al-Hajjaj
bin Yusuf ats-Tsaqofi. Karena kezalimannya banyak kaum muslimin yang dibunuh
secara zalim. Sebagian orang tidak sabar melihat kekejaman dan kezaliman
pemimpin mereka itu di saat mereka seharusnya memberikan ketaatannya kepada
kholifah kaum muslimin. Di antara mereka adalah sebagian kelompok yang dipimpin
oeh Ibnu Asy’ats yang tengah merekrut dan menyusun kekuatan untuk mengkudeta
pemimpin mereka al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Di tengah gejolak fitnah besar
yang merata semacam itu, seorang muslim akan diuji siapakah di antara mereka
yang tetap berada dalam jalan selamat yang ditunjukkan oleh syariat dan
tampaklah orang-orang yang tidak sabar lalu meninggalkan syariat. Oleh karena
itu, mari kita menimba ilmu dari seorang alim tabi’in tentang bagaimana sikap
seorang muslim dalam menghadapi fitnah.
Dari Sulaiman bin Ali
ar-Rab’i ia berkata, “Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats yang hendak meemrangi
al-Hajjaj, pergilah Uqbah bin Abdil Ghafir, Abul Jauza, dan Abdullah bin
Ghlalib untuk menemui al-Hasan dan meminta fatwa kepada beliau. Mereka
memerangi seorang thaghut ini (al-Hajjaj bin Yusuf, pen.) yang telah
menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan merampas harta yang haram
untuk dirampas, telah meninggalkan shalat, dan telah melakukan ini dan itu…’
(Mereka menyebutkan semua tindak-tanduk dari al-Hajjaj bin Yusuf). Lalu
al-Hasan berkata, ‘Namun, aku berpendapat kalian jangan memeranginya. Karena
kalaulah ia adalah suatu hukuman untuk kalian, maka sekali-kali kalian tidak
akan mampu menolak hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
pedang-pedang kalian, namun bila ia adalah musibah dan ujian untuk kalian, maka
bersabarlah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum kepada
kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik yang memutuskan
hukum.’ Namun, mereka tidak menggubris perkataan al-Hasan bahkan mengatakan,
‘Apakah kita akan menaati perkataan keledai liar itu..!? (Hajaj)’ Mereka pun
tetap nekad keluar bersama Ibnu Asy’ats hingga akhirnya mereka terbunuh semua.”
Beliau juga
mengatakan, “Seandainya manusia tatkala diuji dari sisi pemimpinnya mereka mau
bersabar, tentu mereka akan mendapat jalan keluarnya. Namun, mereka begitu
tergesa-gesa menghunus pedang-pedang mereka. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
tidaklah mereka datang dengan membawa kebaikan.”
3. Beberapa
perkataan Mutiara Hasan Al – Basri
Dari Imran bin Khalid
bahwa al-Hasan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mukmin yang
sesungguhnya adalah yang selalu merasa sedih baik di kala pagi maupun sore,
karena dia akan selalu di antara dua rasa takut, antara dosa yang sebelumya
telah ia perbuat sedang ia tidak atahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan perbuat kepadanya dan ajal yang akan menjemputnya yang juga ia tidak tahu
apa yang akan menimpanya dari kebinasaan.”
Dari Hazm bin Abi
Hazm ia mengatakan, “Aku pernah mendengar al-Hasan berkata, ‘Sungguh jelek dua
sahabat ini yaitu dinar dan dirham, karena keduanya tidak akan memberi manfaat
kepadamu sampai keduanya berpisah darimu’.”
Beliau juga
mengatakan, “Tidaklah seorang yang memuliakan dirham kecuali Allah Subhanahu
wa Ta’ala akan menghinakannya.”
Dari Zuraik bin Abi
Zuraik ia berkata bahwa al-Hasan pernah mengatakan, “Sesungguhnya fitnah
apabila datang maka akan diketahui oleh setiap yang alim dan apabila ia lenyap
baru diketahui oleh setiap yang jahil.”
4. Mutiara
Teladan
Beberapa teladan yang
dapat kita petik dari imam besar ini di antaranya.
Kegagahan dan
ketampanan serta nasab bukanlah tolok ukur keutamaan seseorang. Ketakwaan,
ilmu, dan amal seseorang itulah yang menjadi landasan penilaian keutamaan.
Kewajiban rakyat
adalah tetap wajib menaati pemimpinnya, sekalipun mereka berbuat zalim kepada
kita, selama mereka tetap muslim dan melaksanakan shalat, karena hal itu
membawa maslahat yang lebih umum, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang
nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada
umatnya dalam mengahdapi pemimpin yang zalim: “Hendaklah kalian tetap
mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia menzalimimu dan mengambil
hartamu, maka tetaplah kalian wajib mendengar dan menaatinya,” (HR. Muslim)
Sikap seorang mukmin
tatkala terjadi fitnah adalah bersikap wara’ dan menjauhkan diri dari
fitnah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat
kepada kita tentang hal ini dalam sabdanya,
“Sesungguhnya akan
terjadi fitnah, orang yang duduk lebih utama dari orang yang berdiri, dan orang
yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan orang yang berjalan masih lebih
baik dari yang memiliki andi di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi: 4/486)
Maka jalan yang
selamat tatkala terjadi fitnah adalah berusaha menjauhkan diri dari fitnah
sejauh-jauhnya dan jangan sekali-kali menceburkan diri dalam fitnah tersebut
karena hal itu berarti kebinasaan.
5. Pemikiran
tasawufnya
dalam
pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman,
sehinggan ajaran itu melekat pada dirinya sikap maupun perilaku pada kehidupan
sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud.
dengan gigih dan
gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan
kemudian muncullah kehidupan sufistik
prinsip kedua ajaran
Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada
siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. #erasa
kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan
takut, khawatir mendapat murka dari Allah. dengan adanya rasa takut itu pula
menjadi motifasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan
kadar pengabdian kepada Allah dan sikap da)a’ ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-NYA
6. Corak Pemikiran Tasawufnya
Hasan Al Basri adalah
seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada
kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakat
khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu
masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental
ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu beliau
termasuk golongan Tasawuf Sunni.
7. Ajaran-Ajaran Tasawufnya
Ajaran-ajaran
Hasan Al-Bashri adalah an)uran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih
hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan
menjauhi larangan-larangan-Nya . Sikap tasawuf Hasan Al-Bashri senada
dengan sabda Nabi yang berbunyi : “Orang
yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana yang
orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut
gunung itu akan menimpa dirinya”
8. Karya-karyanya
Banyak dari buku atau
kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kesuhudan serta
berbagai hal yang mengarah kepada kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang mana berkat perjuangan beliau
berdampak kepada perubahan masyarakat islam kepada suatu hal yang lebih
baik.Dan juga menjadi tongkat estafet bagi ulama-ulama setelah beliau dalam
menerapkan mendefinisikan sehingga sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.
Dan jarang dari buku atau kitab para ulam-ulam yang membahas tentang
karya-karya beliau. Karena keterbatasan kemampuan, penulis belum bisa
memaparkan karya-karya beliau tapi ada ajaran beliau yang menjadi pembicaraan
kaum sufi adalah :
“Anak
Adam!
Dirimu,
diriku!
Dirimu
hanya
satu,
Kalau
ia binasa,
binasalah engkau.
Dan orang yang telah
selamat tak dapat menolongmu.
Tiap-tiap nikmat yang
bukan surga, adalah hina.
Dan tiap-tiap bencana
yang bukan neraka adalah mudah”.
MALIK BIN DINAR
Oleh : RAHMA FADILLAH BRSIMATUPANG
Syekh Malik bin Dinar
Syekh Malik bin dinar disebutkan sebagai tokoh tradisionis handal,
transmisi dari pemerintah seperti Anas bin malik dan Ibnu sirin. Ia meninggal pada usia 90 tahun di basra. Malik bin Dinar As
Sami’ adalah putera seorang budak berkebangsaan Persia dari Sijistan (Kabul)
dan menjadi murid Hasan Al Bashri. Beliau tercatat sebagai seorang ahli Hadis
Shahih dan merawikan Hadis dari tokoh-tokoh kepercayaan di masa lampau seperti
Anas bin Malik dan Ibnu Sirin.
Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka.
Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka.
Saat masa
remaja dikehidupan Malik bin Dinar ia selalu melakukan perbuatan dosa,
mabuk-mabukan, berbuat maksiat, berbuat onar, memakan hak orang lain, dan
memakan riba, tidak ada satu maksiat pun yang tidak dilakukannya. Ia sungguh
sangatlah jahat hingga manusia lain pun tidak menghargai nya karena
kejahatannya. Pada suatu waktu Malik Bin Dinar menginginkan untuk menikah dan
memiliki keluarga, maka ia menikahlah dan di karuniakan seorang anak yang
cantik bernama Fatimah. Dia sangat mencintai putrinya, Suatu ketika anak yang
di cintainya melihat Malik Bin Dinar sedang mabuk dan memegang segelas minuman
keras, Fathimah pun mendekat dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah
mengenai baju Malik Bin Dinar. Fatimah tidak tega melihat ayahnya melakukan hal
seperti itu karena dia sangat mencintai ayahnya, saat usianya genap tiga tahun
fatimah meninggal dunia. Malik Bin Dinar semakin menjadi setelah kehilangan
anak yang di cintainya, dan dia selalu mabuk sepanjang malam hingga tak
sadarkan diri dan bermimpi. Didalam mimpi tersebut dia melihat hari kiamat.
Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah
bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat, kemudian Malik Bin Dinar
melihat seekor ulat besar yang ganas merayap mengejarnya dengan membuka mulut,
dia pun lari ketakutan lalu dia melihat di atas gunung terdapat anak kecil “
Wahai fathimah tolonglah ayahmu !” maka fatimah pun memegang Malik Bin Dinar
dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara Malik
Bin Dinar sangat ketakutan lalu fatimah duduk di pangkuan Malik Bin Dinar
sebagaimana dulu dia di pangku ayahnya saat di dunia. Malik Bin Dinar berkata :
“ Wahai putriku, beritahu kepada ku tentang ular itu. Fatimah berkata : “Itu
adalah amal keburukan engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir
memakan mu. Tidak kah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan
dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat ? Seandainya saja
engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja aku tidak mati saat masih kecil,
tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepada mu.” Malik Bin Dinar pun
terbangun dari tidurnya, kemudian ia mandi dan keluar untuk shalat subuh dan
ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. “Ya Allah, jadikanlah aku
termasuk penghuni surga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.
B. Syekh Malik bin
Dinar.
Malik
bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu
berdiri di pintu masjid “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada
penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada penolong-mu!
Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada penolong-mu!
penolong-mu senantiasa menyeru memanggil mu di malam dan siang hari. Dia
berfirman kepadamu : “Barang siapa mendekatkan dirinya kepadaku satu jengkal,
maka aku akan mendekat kan diriku kepadanya satu hasta, jika dia
mendekatkan dirinya kepadaku satu hasta, maka aku akan mendekatkan diriku
kepadanya satu depa, siapa yang mendatangi ku dengan berjalan, aku akan
mendatanginya dengan berlari kecil.” Kita memohon kepada Allah
SubhanahuwaTa’ala aga memberikan rizki taubat kepada kita, tidak ada sesembahan
yang hak selain engkau, maha suci engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang zhalim. Malik bin Dinar Rahimahullah wafat pada tahun 130 H.
Al Muhasibi
Oleh : Laili
Muqarramah
A.
Biografi
Al Muhasibi
Al muhasibi (w. 243 H/875 H) di lahirkan di basrah dan
menghabiskan sebagian besar usianya di Baghdad, nama lengkapnya adalah abu
abdilah al-harist al-muhasibi. Ia mengembangkan psilokologi moral yang paling
ketat dan paling berpengaaruh di tradisi ahlak tasawuf. Pengaaruh al muhasibi
bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung , terutama melali\ui
muridnya, sari al-saqathi (paman dari al junaid). Psikologi al muhasibi bias di
temukan dalam karya-karya abu tholib al makki mempengaruhi pemikiran abu hamid
al ghozali (w. 111 M) yang karya –karya tasawufnya terkenal di dunia islam.
Hingga saat ini.
Karya utama dari al muhasibi adalah kitab al-ar’ayat lihukukillah yang berisi tentang analisis yang bagus dan emndalam tetang berbagai bentuk idioleisme yan mendalam tentang berbagai bentuk egoinisme manusia, metode unutk mengujinya, periangatan untuk bersikap waspada terhadap egoisme itu,dan peringatan agar kita tidak terikat dan di sibukka olehnya, demikian komentar micheal A.sells.
Karya utama dari al muhasibi adalah kitab al-ar’ayat lihukukillah yang berisi tentang analisis yang bagus dan emndalam tetang berbagai bentuk idioleisme yan mendalam tentang berbagai bentuk egoinisme manusia, metode unutk mengujinya, periangatan untuk bersikap waspada terhadap egoisme itu,dan peringatan agar kita tidak terikat dan di sibukka olehnya, demikian komentar micheal A.sells.
Bentuk-brntuk
utama egoisme yang di bahas oleh al muhasibi dalam karyanya itu meliputi:
1.
Kesombongan
dan keinginan untuk menampilkan kebaikan diri (riya’)
2.
Cinta
kepada diri sendiri (narsisme¬)
3.
Membanggakan
diri (kibr)¬
4.
Angkuh
(ujub) dan
5.
Berhayal
bahwa diri sendiri merupakan orang yang tepat (ghrah)
setiap bentuk egoisme itu saling berhubungan satu sama lain, misalnya sikap selalu ingin bersaing, bermusuhan, serakah, dan membanggakan diri sendiri,dan obat penangkal egoisme dan turunnannya adalah sikap iklas yang di dasarkan atas perenungan terhadap tuhan tan maha esa, nilai-nilai al quran, serta akal manusia yang selalu bekerja dalam kerangka wahyu Tuhan.
B. Pemikiran
Al Muhasibi Terhadap Tasawuf
Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan
tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati
madzhab-madzhab yang dianut umat islam. Al-muhasibi menemukan kelompok
didalamnya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang
keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka
adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan.
Diantara mereka terdapat pula orang-orang terkesan sedang melakukan ibadah
karenaAllah,tetapi sesunguhnya tidak demikian.
Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.
Al muhasibi juga dikenal sebagai ulama yang cukup lama berkecimpung dalam ilmu hadist dan fikih maka tasawufnya yang dikembangkan adalah tasawuf yang berlandasan al quran dan hadist dan tidak melanggar batas-batas syariat . dan juga ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu kalam, maka tasawufnya sangat menghargai akal. Ia sangat menyakini peranan hadist ”Allah tidak akan menerima sholat, puasa, haji, umroh, sedekah, jihad, dan berbagai kebaikan yang di ucapkan dari seseorang yang tidak memahami hadits.
Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.
Al muhasibi juga dikenal sebagai ulama yang cukup lama berkecimpung dalam ilmu hadist dan fikih maka tasawufnya yang dikembangkan adalah tasawuf yang berlandasan al quran dan hadist dan tidak melanggar batas-batas syariat . dan juga ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu kalam, maka tasawufnya sangat menghargai akal. Ia sangat menyakini peranan hadist ”Allah tidak akan menerima sholat, puasa, haji, umroh, sedekah, jihad, dan berbagai kebaikan yang di ucapkan dari seseorang yang tidak memahami hadits.
C. Ajaran-Ajaran
Tasawuf Al-Muhasibi
Sebagaimana diterangkan diatas, al Musahibi
melanjutkan dan memperluas pandangan tasawuf makruf al-karhi. Kalau makruf
al-karkhi menyatakan bahwa puncak cinta itu apabila yang mencintai kenal
(makrifah) kepada yang di cintai. Inilah puncak cinta yang mencapai ke titik
ketenangan. Al muhasibi menjelaskan lagi cinta cinta hamba kepada Allah adalah
semata karunia Allah, yang ditempatkan didalam hati yang di cintainya .kalau
cinta telah bersemayam dan tumbuh serta berkembang dalam jiwa, belum sampai
kepada yang dituju sebelum ia merasakan bersatu (ittihad) denga yang di cintai
. inilah ajaran tasawuf al muhasibi yang nantinya di kembangkan lagi oleh para
shufi dibelakangnya. Berikut ini beberapa ajaran-ajarannya;
1. Pandangan Al-Muhasibi tentang ma’rifat Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun, dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasa-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami pengertian batin agama. Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hasits Nabi yang berbunyi, “Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Berdasarkan hadits diatas dan hadis-hadis senada, Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah. Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:
a. Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud kongkrit ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan samat. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
b. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.
c. ada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
d. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dan fana’ yang menyebabkan baqa’.
2. Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Raja’ Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya.yakni, ketika disifati dengan khauf dan raja’, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal wara’ , menurutnya, adalah ketakwaan pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat al-nafs) ; pangkal introspeksi diri adalah khauf dan raja’, pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentanga janji dan ancaman Allah; pangakal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.
Khauf dan raja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dikaitkan dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah.Untuk itu, ia menganggap apa yang diungkapkan ibnu Sina dan Rabi’ah al-‘adawiyyah sebagai jenis fana atau kecintaan kepada Allah yang berlebih lebihan dan keluar dari garis yang telah di jelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dari kalangan ahlusunnah, Al-muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan.Ajakan ajakan Al-quran pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (suggesti) dan tarhib (ancaman). Al-quran jelas pula berbicara tentang surga dan neraka.
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,
16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.
18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Raja’, dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi
3.Wejangan-Wejangan Al-Muhasibi Apabila motivasi dalam mengajari dan membantu orang adalah ridha Allah semata, pahala pasti didapat. Tetapi jika motivasinya adalah hasrat untuk dihormati, dikagumi, dipuji dan diberi keuntungan duniawi, jangan lakukan kebaikan itu hingga motivasi anda berubah, sebab apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. (Q.s. Al Qoshosh : 60).
Kalau hati kacau karena kedua motivacsi silih berganti mengisi relung hati, jangan memaksakan diri hingga motivasi anda benar-benar mengharapkan ridha Allah Swt.
Kalau anda melakukan ibadah ritual atau ibadah sosial dengan ikhlas, lalu ada orang yang melihat hingga timbul semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah, ada dua kemungkinan
1.Kalau motivasi peningkatan kualitas adalah ria.
2. Kalau motivasinya ikhlas, anda pengikhlas sejati.Apabila anda ragu dan tidak tahu sedang ria atau masih ikhlas, perbaharuilah niat anda dengan keikhlasan! Meskipun tidak memperbaharui niat, ibadah tetap sah, karena anda yakin akan ikhlas dan ragu akan ria.
Ikhlas dan ria pada hakikatnya adalah hasrat yang membonceng keinginan beribadah. Keinginan beribadah adalah hasrat melaksanakan perintah. Ikhlas adalah mendambakan pahala Allah Swt semata dan tidak peduli dengan keadaan duniawi. Ria adalah ambisi mendapatkan pujian, kehormatan dan tujuan-tujuan lain dalam beribadah.
Ada orang yang tidak tenang karena dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya. Jalan keluarnya adalah mencermati jiwa. Kalau jiwanya tidak suka dan hatinya gelisah ketika dicela, dihina dan dilecehkan masyarakat, jelas ia telah ria. Sebaliknya, jika sikap masyarakat tidak mempengaruhi kalbunya, ia ikhlas. Mungkin pada awalnya ia ria dan senang dipuji, tetapi kemudian terlintas kesadaran untuk mengabaikan pujian, masih bisa dikategorikan ikhlas.
D. Karya-karya
Al Muhasbi
Al muhasibi menulis karya tulis sebanyak 200 buah, yang berbentuk risalah. Dalam risalah itulah ia mengemukakan pandangannya, baik dala bidanag fikih, dan ilmu kalam dan banyak risalah tentang tasawuf, namun dari sekian banyak karya tulisnya . hanya sedikit yang di temukakannya di antaranya:
1. Ar-riayat lihukukillah(memelihara hak-hak Allah )
2. Al washiyah an-nasaih (wasiat atau petunjuk)
3. Risalah al-mutarsidin (orang-orang yang memperoleh peunjuk)
4. Al masa’ilfi amal al qulub wa al-jawarih wa al-aql(tentang aktifitas hati,anggota tubuh, dan akal)
5. Al fahmi al quran (memahami al quran)
Al muhasibi menulis karya tulis sebanyak 200 buah, yang berbentuk risalah. Dalam risalah itulah ia mengemukakan pandangannya, baik dala bidanag fikih, dan ilmu kalam dan banyak risalah tentang tasawuf, namun dari sekian banyak karya tulisnya . hanya sedikit yang di temukakannya di antaranya:
1. Ar-riayat lihukukillah(memelihara hak-hak Allah )
2. Al washiyah an-nasaih (wasiat atau petunjuk)
3. Risalah al-mutarsidin (orang-orang yang memperoleh peunjuk)
4. Al masa’ilfi amal al qulub wa al-jawarih wa al-aql(tentang aktifitas hati,anggota tubuh, dan akal)
5. Al fahmi al quran (memahami al quran)
Syekh Abdul Qadir Al
Jailani
Oleh : Muhammad
Tahiri
1.
Biografi Syekh Abdul Qadir Al Jailani
a)
Nama dan Gelar
Nama Abdul Qadir Jaelani juga dilafalkan Abdul Qadir
Gaylani, Abdel kader, Abdul Qadir, Abdul Khadir - Jilani, Jeelani, Gailani,
Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany, Abdel Qader Gilany.
Ibnul Imad menyebutkan
bahwa nama lengkap syekh ini adalah Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky
Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin
Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin
Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailany.
Silsilah Syekh Abdul
Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha, melalui ayahnya sepanjang
14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami memberikan komentar
mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham sebagi berikut: "Ia adalah seorang
Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar
sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari
sang ibu".
Silsilah Keluarganya
adalah Sebagai berikut: Dari Ayahnya(Hasani):
Syeh Abdul Qodir bin Abu
Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad Al Akbar bin Dawud bin Musa At-tsani bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdullah Mahdhi bin Hasan
al-Mutsanna bin Hasan
as-Sibthi bin Ali
bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah
Shallallahu 'alaihi Wassalam
Dari ibunya(Husaini):
Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah 'Atha bin Mahmud bin
Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami' Az-Zahid bin Abu Ala'uddin
(ﻋﻼﺀﺍﻟﺪﻳﻦﺍﻟﺠﻭﺍﺩ) bin Ali Ridha bin Musa
al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad
al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah
Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam
Abdul Qadir lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470
H, 1077 M.[6] selatan Laut
Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.
Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh
Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan
470
H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan
470
H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama.
b) Pendidikan
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju
Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu
dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan
saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia belajar
kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu
pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan
pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang
membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan
sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola
sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat
kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat
setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati kepada dia, lalu
datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak mampu menampung
lagi.
2. Dakwah, Ketokohan, Dan pengaruh
a)
Awal kemahsyuran
Al-Jaba'i berkata bahwa
Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah
diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk
berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan
ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau
tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang
aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid
Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota
dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam
hari dengan membawa lilin dan obor
hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan
ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang
kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta
bahkan keledai
dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali
radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip
didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata
kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan
ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para
penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi
mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut,
"Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa
hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku.
"Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan
keselamatan agamamu" jawab suara itu.
Aku pun membuat 70
perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang
menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan
bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
b) Murid
Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal,
seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami
Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al
Mughni.
c) Karya
Tulis
Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al
Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid,
sifat-sifat Allah, takdir,
dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."
Karya
karyanya :
1.
Tafsir Al Jilani
2.
al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
3.
Futuhul Ghaib.
4.
Al-Fath ar-Rabbani
5.
Jala' al-Khawathir
6.
Sirr al-Asrar
7.
Asror Al Asror
8.
Malfuzhat
9.
Khamsata "Asyara Maktuban
10.
Ar Rasael
11.
Ad Diwaan
12.
Sholawat wal Aurod
13.
Yawaqitul Hikam
14.
Jalaa al khotir
15.
Amrul muhkam
16.
Usul as Sabaa
17.
Mukhtasar ulumuddin
Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang
berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis dia. Dalam masalah-masalah sifat,
takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras
terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.
d) Perkataan
ulama tentangnya
Syeikh Ibnu
Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan
sembilan hari.
Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani
sampai dia meninggal dunia.
Syeikh Ibnu Qudamah
ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa
dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia
sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama
Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam
dalam salat
fardhu."
e) Perkataan
Guru dan Murid
Syeikh Abdul Qadir
berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual
kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya. 2)
Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup
aib) dan ghaffar (pemaaf). 3) Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut. 4) Dua karakter dari Abu
Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya. 5) Dua karakter dari Umar
yaitu amar ma'ruf nahi munkar. 6) Dua karakter dari Utsman bin Affan Utsman
yaitu dermawan dan bangun tahajjud pada waktu orang lain sedang tidur. 7) Dua
karakter dari Ali yaitu alim cerdas intelek dan pemberani.
Masih berkenaan dengan
pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan:
Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah
Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
Dia harus sangat
mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah
kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia
selalu merasa diawasi oleh Allah.
Syeikh Abdul Qadir juga
menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar Al
Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila
ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas
untuk diikuti.
Syeikh Abdul Qadir
berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum
di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya
saat menghadapi sakaratul maut".
Karena itulah Syeikh
Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang
dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan
(maut).
Pada tahun 521 H/1127
M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal
masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya
sebagai pengembara sufi di Padang
Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai
tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan
ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah
itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M),
diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh
Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad
pada tahun 656 H/1258 M.
3. Kontroversi
Al-Muqri' Abul Hasan
asy-Syathnufi
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang
yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli
zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. al-Muqri' Abul Hasan
asy-Syathnufi al-Mishri (nama lengkapnya adalah Ali bin Yusuf bin Jarir al
Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan
Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Judul asli Kiab itu cukup
panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib
Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.
Imam Adz-Dzahabi
Al-Sam'ani berkata,
"Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang
Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar
madzhab ini pada masa hidup dia." Imam
Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam
Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,
"Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari
seratus ribu orang telah bertaubat."
Imam Adz Dzahabi
menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang
aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan dia mengetahui hal-hal yang
ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki
kedudukan yang agung, tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian
perkataannya dan Allah ta'ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan
orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas
namanya." Imam Adz Dzahabi juga berkata, " Tidak ada seorangpun para
kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain
Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang
tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi".
Ibnu Rajab Al-Hambali
Dalam mengomentari kitab
kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan: "Cukuplah seorang
itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam
Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak
tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada
di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain
kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak
dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama
dan akal,
kesesatan-kesesatan,
dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh
Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua
itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al
Jailani rahimahullah."[11]
Kemudian didapatkan pula
bahwa al Kamal Ja'far al Adfwi (nama lengkapnya Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far
bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab
Syafi'i.
Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya'ban
tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi dia dimuat oleh al Hafidz
di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal
menyebutkan bahwa asy-Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang
diriwayatkannya dalam kitab ini. Subhanallah
4. Wafat
Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah
magrib, pada tanggal 11 Rabiul akhir di daerah Babul Azaj wafat di Baghdad
pada 561 H/1166
M.
Al Ghazali
Oleh : Mulyadi
Saputra
1.
Biografi
al ghazali
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar
A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191). Para ulama
nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali. Sebagian mengatakan,
bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran
beliau. Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Mishbah Al-Munir. Penisbatan
pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al-Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad
bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl
bin Ubaidillah anak dari Situ Al-Mana bintu Abu Hamid Al-Ghazali yang
mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut
dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama
beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga
nisbatnya ditasydid (Al-Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan
dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan
Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya
telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al-Ghazalah, dan mereka
mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al-Ghazali adalah penyandaran
nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al-Akhbar, ini pendapat Al-Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab
mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama
kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan
pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya, 6/192-192).
Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama
Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:326 dan As-Subki, Thabaqat
Asy-Syafi’iyah, 6:193 dan 194)
2. Kehidupan
dan perjalanannya menuntut ilmu
Ayah
beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan
menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua
anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh
saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin
memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon
engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut
mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit
tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya
dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian
berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang
fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua
untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan
yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut.
Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah
diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan
karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah
ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang
fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan
membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis
dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan
mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih.
Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada
Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau
tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad)
menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat
Asy-Syafi’iyah, 6:194)
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih
kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota
Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al
Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah
selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru
kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil
menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu
perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan
para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun
tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz-Dzahabi,
Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191)
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah
Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul
para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan
mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di
madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada
tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah
dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi
terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
3. Pengaruh
Filsafat Dalam Diri Al-Ghazali
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu
kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti
kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau
menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja
kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam
hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar
meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat
dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah
Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa, 6:54)
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’
Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya
Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak,
berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.”
(Majmu’ Fatawa, 6:54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan
dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit
pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau
menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah
karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan
terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali)
menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar
kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan
prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu
tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang
membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit
berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang
jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala,
19:328)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu
Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan
ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin
membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi
mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar
dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa, 4:164)
4. Masa akhir kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan
kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Imam Adz-Dzahabi
berkata, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan
berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim).
Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu
singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan
kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah
meninggalnya beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘indal Mamat, menukil cerita Ahmad
(saudaranya), “Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat,
lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan saya.’ Lalu beliau mengambil dan
menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan
taat untuk menemui Malaikat Maut.’ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan
menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi
hari).” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34). Beliau wafat
di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan
dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:201)
5. Karya-karyanya
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya
ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan akidah:
1. Arba’in fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
2.
Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid
pertama.
3.
Al Iqtishad fil I’tiqad.
4.
Tahafut Al-Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran
para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5.
Faishal At-Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat,
manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas
dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
1. Al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fikih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar ….” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 17 dan 18)
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah
manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan
mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa
pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif
Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 19)
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah.
beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka
berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali
tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).
Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal
pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
2.
Mahakun Nadzar.
3.
Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
4.
Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
5.
Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
6.
Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
7.
Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
8.
Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan
keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al-Ghazali. Yang menolak penisbatan
ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab
Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat
transkipnya dengan khat Al-Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri
yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al-Ghazali. Beliau sendiri
telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala,
19:329)
Banyak pula ulama yang menetapkan
keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai
kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan
ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui
bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala
19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
9.
Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
10.
Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
11.
Qanun At-Ta’wil.
12.
Fadhaih Al-Bathiniyah dan Al-Qisthas Al-Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan
bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
13.
Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan
tahqiq Muhammad Al-Mu’tashim Billah Al-Baghdadi.
14.
Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad
Bahit.
15. Ar-Risalah Alladuniyah.
15. Ar-Risalah Alladuniyah.
16.
Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan
sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar
banyak tentang kitab ini, di antaranya:
– Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:334).
– Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al-Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al-Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:339-340)
– Imam Subuki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah (Lihat 6:287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al-Mughni An-Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al-Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
17.
Al-Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi
biografinya
18.Al-Wasith.
19.Al-Basith.
20.Al-Wajiz.
21. Al-Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As-Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:224-227.
18.Al-Wasith.
19.Al-Basith.
20.Al-Wajiz.
21. Al-Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As-Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:224-227.
6. Aqidah dan mazhab beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab
Syafi’i. Nampak dari karyanya Al-Wasith, Al-Basith, dan Al-Wajiz. Bahkan kitab
beliau Al-Wajiz termasuk buku induk dalam Mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian
khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih
beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz Zaman,
Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi
Asy-Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan
masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah
dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi
mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena
itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al-Iqtishad Fil
I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya,
hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau
(pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah.
Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah.
Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan
kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya
Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang
agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah
sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat
dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai
seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan
seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh
karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang
teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi
Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.”
(Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti
Misykatul Anwar, Al-Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin,
Al-Maqshad Al-Asna, Jawahirul Qur’an dan Al-Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan
mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh
Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al-Ghazali dengan
menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki
tiga akidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang
difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang
dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman
yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al-Ghazali menyembunyikan sisi
khusus dan rahasia dalam akidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau
yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya
dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat
Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah
Minal Asyariyah, 2:628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud)
menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al-Ghazali,
bahwa tasawuf Al-Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam
filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama
kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme.
Lihat Al-Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al-Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab
Al-Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al-Juhani, 2:928-929). Sebenarnya
inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan
Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad
dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al-Ghazali
didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte
Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan
mereka, seperti dalam kitab Al-Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul
Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan
filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada
Al-Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi
yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok
ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).”
Biografi Abu Thalib
al Makki
Oleh : Muhammad putra
Adinata
Nama lengkap Abu
Thalib Hadalah Muhammad bin Ali bin Athiyah Abu thalib al-Makki al-Harits al-
Maliki. Dia merupakan tokoh sufi dan penulis spiritual muslim awal abad
pertengahan yang cukup berpengaruh. Bahkan kitabnya menjadi rujukan banyak sufi
yang datang setelahnya. Sebagaimana sufi-sufi lain, lahir dan wafat Abu Thalib
tidak diketahui secara pasti. Bahkan makamnya pun masih belum jelas
keberadaanya. Hanya saja dalam beberapa buku dijelaskan bahwa dia wafat di
Baghdad pada tahun 386 H/996 M.[1] Dia tumbuh
besar di Makkah sekitar abad ke-10, sebagian yang lain mengatakan dia
dilahirkan di Jabal yaitu daerah antara Baghdad dan Wasith. Kehidupan dan
pendidikan yang dijalani oleh Abu Thalib al-Makki tidaklah banyak disebutkan di
dalam sejarahnya para tokoh Sufi.
Abu Thalib merupakan
tokoh sufi yang sangat tekun dalam mengkaji ilmu agama. Penguasaannya dalam
bidang agama sudah tidak diragukan lagi. Dalam menimba ilmu beliau banyak
berguru kepada orang-orang alim. Seperti; Syekh Ali bin Ahmad bin al-Mashri,
Abu Bakar Muhammad bin Ahmad al-jarajarini al-Mufid dan kepada Abul Hasan Ahmad
bin Muhammad Ibnu Ahmad bin Salim al-Shaghir, di mana beliau memperdalam ilmu
tasawufnya.
Ajaran tasawuf yang
dipelajarinya ialah Taswuf Salafiyah yang didalaminya dengan berguru kepada Abu
al-Hasan di Iraq. Kemudian setelah belajar tasawuf yang dibawanya banyak diikuti
oleh oleh masyarakat Basrah dan umat islam saat itu. Karena tasawuf beliau
bersumber dari Tasawuf Sahab bin Abdullah al-Tistari.
Sebagai seorang Sufi,
Abu Thalib memiliki dasar-dasar pemikiran yang telah dikembangkannya.
Pemikiranya banyak tertulis dalam karya monumentalnya yaitu; Qut al-quluub fi
mu`allamatil mahbub wa washf thariq al-muriid ila maqaam al-tauhiid yang banyak
dibaca secara luas dan dianjurkan selama beberapa abad. Kitab ini menjadi
rujukan para sufi, bahkan al Ghazali sebelum menulis Ihya Ulumuddin. Dan
sebagai sufi yang mengembangkan tasawuf amali, Abu Thalib memiliki jasa besar
dalam dunia Thariqah.Tasawuf Amali Abu Thalib al Makki
Sebagaimana para sufi
amali lainnya, Abu Thalib al Makki dalam tasawufnya juga menekankan pada aspek
amaliyah. Tasawuf amali yang oleh beberapa kalangan disebut juga sebagai
tasawuf syar’i, memaksimalkan perintah syari’at sebagaimana digariskan Syari’
(Allah) lewat Nabi Muhammad. Karena kedekatan pada Allah dan cinta-Nya hanya
dapat diupayakan dengan pengamalan syari’at itu sendiri dengan sesungguhnya.
Syari’at tidak dijadikan sekedar dijadikan hal instrumental belaka, tetapi
diikuti dengan kemantapan hati. Shalat, puasa, haji, zakat dan lainnya yang
dibarengi dengan keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam melaksanakan, tidak
sekedar menunaikan kewajiban atau sekedar symbol keislaman.
Begitu pula dalam hal
keyakinan. Tasawuf yang berangkat dari tauhid, harus benar-benar mentauhidkan
Tuhan baik dalam ucapan, hati dan tindakan. Ketika seseorang bersaksi akan Allah
sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, maka dia harus siap
dengan konsekuensi-konsekuensi logis keimanan dan keislamannya.
Menurut Abu Thalib al
Makki, Tasawuf hanya dapat ditegakkan di atas dasar-dasar yang kuat. Tanpanya,
dia tidak berarti apa-apa. Dan untuk mencapai dasar-dasar tersebut, maka
seseorang harus melalui tujuh tahap sebagai berikut:
1. Kehendak yang benar dan konsekuen
2. Membina hidup takwa dan menolak
keburukan atau maksiat
3. Memiliki pengetahuan keadaan diri,
mengetahui kelemaahan diri
4. Selalu makrifat dan dzikir
5. Banyak tobat nasuha
6. Makan makanan halal dan tahu hukumnya
sebagaimana penjelasan syara’
7. Selalu bergaul dengan orang yang shaleh
dan menegakkan takwa yang sejati.[4]
Selanjutnya Abu
Thalib al Makki menuliskan bahwa dalam penguatan tasawufnya ada empat penyangga
untuk memprkuat kehidupan para sufi yaitu: pertama, membiasakan diri dengan
keadaan yang lapar, karena pada saat itulah ia bisa bertaqaruf kepada tuhannya
dan bisa mendapat hidayahnya. Kedua, dengan cara solat malam. Karena dengan
cara itu kita bisa mendekatkan diri terhadap tuhannya tanpa ada gangguan dari
siapaun. Ketiga, banyak berdiam diri dan menyebut namanya ,karena jalan itu
bisa mendekatkan diri kepada tuhannya. Keempat, menyendiri dan banyak berzikir.
karena dengan berzikir dapat mendekatkan diri kita kepadanya.
Melihat berbagai
konsep dan ajaran Abu Thalib al Makki di atas, jika dibandingkan dengan
tokoh-tokoh lain tasawuf amali atau syar’i berupa maqam-maqam atau tingkatan
jalan sufistik seseorang meliputi:
a. Taubah: pembersihan diri dari dosa
b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c. Sabr: pengendalian diri
d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya
kepada Allah
e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan
rela
f. Mahabah: cinta kepada Allah
g. Ma'rifah: mengenal keesaan Tuhan
Dalam tasawufnya yang menekankan
pada amal, Abu Thalib banyak menekankan pada hakekat amal yang tampak di mata
sebagai manifestasi dari Iman yang
tersimpan di dada. Dalam buku Tafsir Sufistik Rukun Islam yang diterjemahkan
dari Quthu al Qulub karya Abu Thalib, Dia menuliskan bahwa perumpamaan iman dan
amal itu tak ubahnya seperti hati dan tubuh, keduanya tidak terpisah. Tubuh
tanpa hati tidak bisa hidup, begitu pula sebaliknya. Di sini dia mau
menunjukkan hubungan iman yang ada di hati dan Islam yang tampak dalam berbagai
ibadah. Hal ini merupakan penolakan terhadap mereka yang mengatakan Islam dan
iman yang tak sejalan sekaligus menunjukkan bahwa tasawuf dan fiqih itu
sejalan.[5] Hal ini jauh berbeda dengan para sufi falsafi dan mereka yang lebih
melihat tasawuf sebagai kesatuan eksistensial dengan Tuhan.
Biografi Suhrawardi
Oleh : Muhammad Riski
putra suhaimi
Suhrawardi yang
memiliki nama lengkap Syihab al-Din Yahya bin Habasybi bin Amirak Suhrawardi,
lahir di Suhrawardi, sebuah desa dekat kota Zinjan di Iran Selatan pada 549
H/1155 M dan meninggal di Aleppo pada 587 H/1197 M. Ia dijuluki al-Maqtul (yang
terbunuh) atau al-syahid, sebab ia meninggal karena dibunuh atas suruhan
al-Malik al-Zahir (raja Aleppo dan Siria Utama). Keputusan pembunuhan atas
dirinya diambil karena ajaran tasawufnya dipandang telah menyeleweng dari rel
Islam. Julukan lain yang sering dinisbatkan kepadanya adalah Syaikh al-Isyraq
(Guru Illuminasi). Suhrawardi menjalani masa studinya pada beberapa guru di
beberapa tempat. Majd al-Din al-Jili adalah gurunya yang pertama, yang
mengajarinya filsafat dan teologi di Maragha. Selain itu, ia diajar pula Fakhr
al-Din al-Mardini (w. 594/1198), yang juga mengajar di Isfahan atau Mardin.
Orang inilah yang diduga sebagai gurunya yang terpenting. Al-Mardini berada di
wilayah Aleppo, sesaat Suhrawardi dieksekusi peristiwa yang telah ia
prediksikan sebelumnya tetapi sejauh ini tidak diketahui apakah ia punya peran,
positif atau negatif, dalam intrik yang membawa ke pengadilan dan selanjutnya
pembunuhan atas Suhrawardi. Al-Mardini merupakan orang sezaman dengan Abu
al-Barakat al-Bahgdadi (w. 560/1164), seorang pengikut aliran anti Aristoteles
yang terkenal. Ia juga murid dari Baghdadi yang lain dan menjadi rivalnya di
Baghdad. Karena hal ini dan sekian alasan lain, al-Baghdadi termasuk salah
seorang dari sedikit filsuf sezaman yang disebut-sebut Suhrawardi. Baik
Suhrawardi maupun al-Baghdadi dalam persoalan filsafat yang mendasar sama-sama
memberi peran penting kepada intuisi dalam bangunan filsafat. Menurut Hossein
Ziai, struktur karya filosofis al-Baghdadi, Evidential (al-Mu’tabar), juga
terefleksi dalam karya-karya filosofis Suhrawardi. Bagi Ziai, ini membuktikan
al-Baghdadi semestinya dipandang sebagai satu sumber langsung yang penting bagi
banyak pendekatan non-peripatetik Suhrawardi terhadap persoalan filsafat.
Al-Baghdadi,
sebagaimana Suhrawardi, mengklaim bahwa magnum opus-nya, al-Mu’tabar, merupakan
gubahan tentang dasar refleksi pribadi. Keduanya mengakui bahwa kepastian
intuisi punya validitas yang sama dengan kepastian penalaran dan persepsi
inderalah yang diterima oleh kaum Peripatetik. Guru Suhrawardi yang lain adalah
Zahir al-Farsi (Nasr menyebutnya Zahiruddin al-Qari), dari tokoh ini ia belajar
tentang pengamatan (al-Basha’ir). Juga belajar dari seorang ahli logika
ternama, ‘Umar ibn Sahla al-Sawi (w. 540/1145), salah seorang dari filsuf yang
namanya disebut-sebut oleh Suhrawardi, khususnya dalam kaitan dengan
permasalahan-permasalahan tertentu logika yang rumit. Setelah menyelesaikan
studinya, Suhrawardi melakukan perjalanannya ke Iran. Di sana ia menemui
sejumlah syekh sufi dan sangat tertarik sebagian dari mereka. Pada
kenyataannya, ia memasuki lingkaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup
lama berkhalwat dalam mempelajari dan menekuninya.
Perjalanannya secara
bertahap meluas hingga mencapai Anathole dan Suriah yang pemandangan alamnya
memukau. Pernah dalam perjalanannya, ia pergi dari Damaskus ke Aleppo untuk
menemui Malik Zahir, putera Salah al-Din al-Ayyubi yang terkenal. Malik yang
punya kecintaan khusus kepada para sufi dan sarjana, menjadi tertarik kepada
pemikir muda Suhrawardi, lalu mengundangnya untuk tinggal di istana. Suhrawardi
yang sudah sangat menyukai daerah ini, dengan senang hati menerima undangan
tersebut dan tinggal di istana. Akan tetapi karena caranya yang oensif dan
kekurang hati-hatiannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin esoterik dihadapan
semua jenis audiens; intelegensinya yang tajam yang memungkinkannya untuk
mengalahkan lawan-lawannya dalam berdebat dan kepiawaiannya baik dalam filsafat
diskursif maupun sufisme, membuatnya banyak dimusuhi orang, terutama di kalangan
para ulama hukum (fuqaha). Belakangan, ulama-ulama tersebut menuntut kepada
Malik Zahir, agar menjatuhi hukum mati terhadap Suhrawardi karena terbukti
menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan agama.
Malik awalnya
menolak. Maka mereka melanjutkan tuntutannya kepada Salah al-Din al-Ayyubi
secara langsung. Pada saat itu Suriah telah terbebas dari tentara Salib,
sementara dukungan ulama merupakan satu hal penting bagi kekuatan Sultan Salah
al-Din. Karena desakan mereka terus menerus, akibatnya Sultan mengabulkan
tuntutan mereka itu. Malik dipaksa untuk melaksanakannya. Lalu kekuasaan
eksekutif keagamaan mengakhiri hidup pemikir muda yang cemerlang itu dengan
memenjarakannya. Dan ketika ia meninggalkan penjara, ia wafat tanpa sebab yang
dapat diterangkan sebagai penyebab langsung kematiannya pada 587/1191.
Demikianlah Syaikh al-Isyraq menerima nasibnya pada usia 38 tahun, sebagaimana
yang diterima pendahulunya, al-Hallaj, yang cukup menarik baginya ketika masa
hidupnya, dan ia sendiri banyak mengutip ucapan-ucapan al-Hallaj dalam
buku-bukunya.
Karya-Karya
Suhrawardi :
Suhrawardi adalah
sosok pemuda yang cerdas, kreatif, dan dinamis. Ia termasuk dalam jajaran para
filosof sekaligus sufi yang sangat produktif sehingga dalam usianya yang
relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya kurang lebih 50 karya. Hal
ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang
ia tekuni.
Sayyed Hussein Nasr
mengklasifikasikan karya-karyanya menjadi lima kategori:
Memberi interpretasi
dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik serta hikmah isyraqinya, dalam kelompok ini antara lain
kitab : At-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Mutharahat, Hikmahal- Ishraq.
Membahas tentang
filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami baik yang
berbahasa arab ataupun yang berbhasa persi: Al-Lamhat, Hayakil al-Nur, Risalah
fi al-Ishraq.
Karya yang bermuatan
sufistik dan menggunakan lambang-lambang yang sulit dipahami, dalam hal ini
menggunakan bahasa persi walaupun ada sebagian yang berbahasa arab: al-Aql
al-Ahmar, al-Gharb al-Gharbiyah, yaumun ma’a jama’at as-sufiyyin dan lain-lain.
Karya yang merupakan
ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik: Risalah al-Thair, dan risalah fi
haqiqah al-ishq, ini semua karya Ibn sina yang kemudaian di terjemahkan oleh
Suhrawardi kedalam bahasa Persia.
Karya yang berupa
serangkaian doa-doa, yang dikenal dengan kitab al-Waridat wa al-Taqdisat.
Sayyid Ahmad Rifa’i
Oleh : Nur Khaliza Putri
A. Lahir dan Masa
Belajar
Suatu ketika datang
seorang pemuda ke negeri Iraq dan menetap di daerah bernama Batha’ih, tepatnya
di desa Ummi Abidah. Kemudian pemuda yang biasa disebut Ali itu menyunting
salah satu saudari Syaikh Manshur, -salah satu ulama terkemuka dan zuhud-
Fatima. Dari jalinan kasih keduanya, mereka dikarunai beberapa putra. Di
antaranya adalah Sayid Ahmad ar-Rifai al-Kabir.
Menurut sebagian
riwayat, Sayid Ahmad ar-Rifa’i (selanjutnya ditulis; ar-Rifa’i) lahir pada awal
bulan Muharam tahun 500 H. di Iraq. Sebelum lahir, ar-Rifai sudah
dibanggakan oleh sejumlah ulama terkemuka kala itu, di antaranya Syaikh
al-Kabir Tâjul Arifîn Abul Wafâ, Syaikh Mansur, Syakih Ahmad Khumais dan
lainnya.
1. Nasab ar-Rifai
Garis keturunan
ar-Rifai bersambung kepada Nabi Muhammad e dari jalur Sayidina Husain, cucu
Rasulullah SAW. Lengkapnya sebagai berikut, ar-Rifai bin Ali bin Yahya bin
Sayid Tsabit bin Hazim Ali bin Sayid Ahmad bin Ali bin Hasan bin Rifa’ah
al-Hasyimi al-Makki bin Sayid Mahdi bin Abil-Qasim Muhammad bin Hasan bin Sayid
Husain ar-Radli bin Sayid Ahmad al-Akbar bin Musa ast-Tsani bin Ibrahim
al-Murtadla bin Sayid Musa al-Kadzim bin Sayidina Jakfar Shadiq bin Sayid
Muhammad Baqir bin Sayid Zainal Abidin Ali As-Sujjad bin Sayid Husain bin
Sayidina Ali Amirul Mu’minin dengan Sayidah Fatimah bintu Rasulullah e.
Sedangkan dari jalur
ibu, nasab ar-Rifa’I bersambung kepada salah satu sahabat nabi yang
bernama Abu Ayyub al-Anshari.
2. Masa Belajar
Ar-Rifa’i
kecil lahir sebagai anak yatim. Beliau tidak pernah merasakan indahnya bercanda
dengan sang ayah, tidak pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang
dari ayah tercinta. Beliau juga tidak pernah menerima petuah dan ilmu agam
darinya. Sebab, sang ayah telah dipanggil ilahi Rabbi ketika ar-Rifa’i masih
berada dalam kandungan. Hanya saja, hal itu tidak membuatnya kecil hati. Beliau
tetap semangat dalam mencari ilmu. Sejak kecil ar-Rifa’i diasuh oleh pamanya,
Syaikh Mansur. Ar-Rifa’i belajar kepada pamannya, tentang tarekat Sufiyah, ilmu
Tasawuf, ilmu Syariah dan Hakikat. Bahkan ar-Rifa’i mendapat ijazah dari sang
paman. Sedangkan dalam ilmu Fiqih, ar-Rifa’i belajar kepada
Abul-Fadhl al-Wasithi yang dikenal dengan Ibnul-Qari. Selain itu beliau juga
belajar kepada beberapa ulama dengan rajin dan giat sampai berumur 27 tahun. di
antara gurunya adalah Syaikh Abu Bakar al-Wasthi.
3. Mendapat Ilmu Laduni
Semenjak kecil
ar-Rifa’i tekun menuntut berbagai disiplin ilmu. Setiap ada majlis taklim,
ar-Rifa’i tidak pernah absen untuk mengikutinya. Sebab ketekunan dan
istikamahnya, Allah SWT menganugerahinya ilmu rohbani, yaitu ilmu ladunni,
ilmu yang langsung diberi oleh Allah. Tak pelak jika saat ar-Rifa’i tumbuh
dewasa beliau tampil sebagai rujukan masyarakat. Semua persoalan yang terjadi
langsung dijawab oleh ar-Rifa’i secara detail lengkap dengan referensinya.
Pernah suatu ketika,
di sebuah desa bernama Ummu Ubaidah, para pejabat, pembesar ulama, masyayikh
dan masyarakat umum berlebur mengikuti pengajian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i.
Pengajian yang saat itu diikuti sekitar 100.000 orang. semua berbondong-bondong
mendengarkan nasihat dan mauizahnya. Setelah pengajian, pembesar ulama Irak dan
ulama lainnya mendatangi ar-Rifa’i guna menanyakan tentang problema agama.
Aneka ragam pertanyaan tentang Tafsir, Hadis, Fiqih, Usul Fiqih dan lainnya
segera dilontarkan kepadanya. Pertanyaan itu mencapai 200 soal seputar problema
aktual masyarakat. Semua itu dijawab oleh ar-Rifa’i tanpa merubah tempat
duduknya. Lalu ada hadirin yang berdiri seraya berkata, “Apakah kalian sudah
cukup dengan ini?, demi Allah SWT, seandainya kalian bertanya pada ar-Rifa’i
segala bidang ilmu, maka dengan izin Allah SWT ar-Rifa’i menjawab semua
pertanyaan itu tanpa paksaan.” Lalu ar-Rifa’i tersenyum dan berkata, “Ajaklah
mereka, untuk bertanya padaku sebelum aku tiada dari dunia ini. Karena
sesungguhnya dunia sirna, sedangkan Allah SWT berada dimana-mana.”
Syahdan, di
ruangan masjid terdengar suara menggemuruh, suara tangis menghiasi suasan
majlis. Pengajian itu dibanjiri dengan tetesan air mata dari para jamaah, semua
menagis mendengarkan perkataa ar-Rifa’i. Bahkan, 5 orang sampai meninggal.
Lebih jauh, sebanyak 80.000 jamaah langsung memeluk Islam, sementara 40.000
jamaah menyatakan bertaubat.
B. Mutiara di tengah masyarakat
1. Ayomi Anak Yatim dan
Orang Miskin
Ar-Rifa’i tumbuh
sebagai pribadi yang disegani olah masyarakat. Baik dari kalangan atas ataupun
kalangan bawah. Ini bisa dilihat dari kebiasaan beliau bermasyarakat. Selain
ibadah dan zikir kepada Allah SWT, beliau tidak serta merta melupakan
masyarakat sekitarnya. Terlihat ar-Rifa’i suka berkumpul bersama anak yatim
dan fakir-miskin. Setiap hari ar-Rifa’i mendidiki dan mengajar anak yatim
tentang Syariat Islam. Ar-rifa’i juga sering memberi makan dan bingkisan
kebutuhan sehari kepada mereka. Rasa sayang ar-Rifa’i kepada anak yatim tak
ubanhnya ia menyayangi keluarganya sendiri, sehingg terkadang ar-Rifa’i merasa
iba dan terharu saat melihat anak yatim menangis. Ar-Rifa’i berkata, “Ketika
saya melihat anak yatim menangis, maka seluruh badanku bergoncang keras.” Dan
tampa terasa deraian air mata membasahi pipi ar-Rifa’i.
Selain sangat cinta
kepada anak yatim, ar-Rifa’i juga hobi bercengkrama dengan masyarakat yang
kurang mampu. Hampir setiap hari beliau bersama mereka. Bahkan, beliau sering
memenuhi kebutuhan mereka serta memberinya uang tanpa meminta imbalan dan
banyak pertanyaan. Pada suatu hari ar-Rifa’i mengumpulkan kayu bakar. Setelah
kayu bakar terkumpul ar-Rifa’i lalu membagi-bagi kayu itu kepada para orang
miskin, anak nyatim, orang sakit, tokoh masyarakat dan kepada teman-temanya.
Ar-Rifa’i juga sering berkumpul makan dengan mereka, bahkan beliau juga pernah
mencucikan baju temanya tanpa ada rasa malu. Semua itu beliau lakukan sebagai
perantara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ar-Rifa’i berkata, “Syafaqah
(kasih sayang) kepada saudara kita termasuk media yang dapat mendekatkan diri
kepada Allah SWT.”
Sebab kasih sayang
ar-Rifa’i pada mereka, ar-Rifa’i mendapat gelar Abal-Aytâ dan Abal-Miskîn
(ayah anak yatim dan orang miskin). Berkat kemuliaan akhlak dan kasih
sayingnya, banyak masyarakat yang memeluk ajaran Islam. Selain kepada anak
yatim dan golongan miskin, kasih saying ar-Rifa’i juga kentara kepada para
ulama, tokoh masyarakat, tetangga, guru, orang buta, orang sakit dan orang
pincang.
2. Pujian
Dari Para Ulama
Perangai seorang
ulama besar memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat umum. Terutama
dari para ulama baik dari para Muhaddistin, para Fuqoha’. Semua mengakui atas
kewalian dan ibadah yang beliau tekuni. Salah satunya adalah dari ulama fiqh
yang pepoler di kalangan ulama, ia adalah Imam Ar-Râfi’i. Imam Ar-Rofi’i
berkata dalam salah satu naskanya “ Bercerita padaku as-Syekh Abu Syujâ’
as-Syafi’i, beliau bercerita ‘ As-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i adalah sesosok ulama
yang tenggelam dalam keilmuan, ilmu yang di dapat menacap didadanya,
muhaddist dan faqih (faham dalam masalah fiqih), mufassir yang mempunyai sanad
yang lengkap’”.
Imam ad-Dzahaby r.a
berkata tentang biografi Imam Ahmad ar-Rifa’i “ Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabîr
adalah termasuk imâm (pemimpin), ahli ibadah, zuhud (tidak senang dengan
dunia), dan Syaikhul-ârifîn (guru para ma’rifatullah).
Dan masih banyak
ulama baik dari bidang hadist, fiqh dan sejarah mengakui atas kewalian dan
perangai sebagai hamba yang selalu ingat pada Allah. Dan juga banyak yang
tertarik untuk menceritakan biografi Imam Ahmad Ar-Rifa’i, di antaranya Imam
as-Suyûty, Imam ar-Rofi’i, Imam ad-Dzahaby dalam kitab sejarahny, dan
lain-lainya.
3. Zuhud
Dan Tawadu’
Al-Imam Al-Ghost
Al-Qothbu Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i setiap hari selalu di hiasi dengan sesosok
hamba yang tidak senang dunia. Beliau pasrahkan segala sesuatau pada Allah.
Sifat zuhud inilah yang membuat beliau di angkat menjadi Auliyaul-llah. Beliau
juga selalu merendahkan diri di hadapan manusia. Sifat kewalian yang beliau
miliki tidak membuat beliau angkat kepala di hadapan para manuisa, bahkan
beliau di anggat derajatnya krna sifat zuhud dan tawadu’ beliau.
Imam ar-Rifa’i perna
berkata “ Selama aku menempuh suluk kepada Allah swt, aku tidak perna melihat
sesuatu yang lebih deket (kepada Allah), lebih gampang, dan lebih baik dari
kefaqiran dan hina “. Beliau lalu di tanya “ Bagaimana bisa itu terjadi, Wahai
Sayyid ku “. Beliau menjawab “ mulyakanlah perintah Allah swt, berbelas
kasihlah pada hamba Allah, dan ikutilah sunnah Rasulullah saw “.
C. Mencium
Asta Rasulullah
1.
Mendengar Suara Ghoib.
Imam ar-Rifa’i
termasuk pembesar ulama yang sangat mashur di zamanya. Beliau sempat terkenal
sebab kejadian yang menggegerkan jamaah haji yang menyertainya. Keajaiban
sebuah karomah tampak kepada para jamaah haji yaitu beliau mencium dan
mendengar jawaban Rasulullah saw.
Di ceritakan, sebelum
berangkat haji salah satu jamaah imam ar-Rifa’i, as-Syekh al-Jalil al-Fadhil
abu hafidh umar al-Fârûmy, berada di majlis imam ar-rifa’i. Semua para ulama,
masyarat di tempat dan pejabat berkumpul di majlis guna mengikuti pengajian
imam ar-Rifa’i. Saat itu semua para jamaah saling berdiskusi
tentang masalah agama dan ada juga yang bercerita tentang keajaiban dan
karomah seorang wali. Semua permasalah langsung di tanyakan pada imam ahamd
ar-Rifa’i. Pada saat ar-Rifa’i di tanya tentang asrârul ghoribah
(kejadian yang asing ) dan asrârul ajibah (di balik rahasia
keajaiban), Imam Ahmad ar-rifa’i tiba-tiba berdiri sambil melihat keatas,
seraya berkata “ Telah nampak perkara yang benar dan telah jelas kebenaran. Aku
mendengar suara sedang memanggilku ‘ Wahai Ahmad, berdirilah dan pergilah ke baitullah,
dan berziarohlah kemakam datuk mu saw. Karna sesungguh di sana engkau akan
mendapat pesan berupa dakwah dari Rasulullah saw’. Setelah kejadian aneh
itu Imam ar-rifa’i berangkat bersama para rombongan jamaah haji.
2. Mencium
Asta Rasulullah saw.
Pada tahun 555 H saat
itu imam ar-Rifa’i berumur 43, beliau berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan
haji. Setelah dimekkah beliau pergi ke Madinah untuk beziarah ke makam datuknya
Rasulullah saw. Setelah sampai di Madinah, ar-Rifa’i dan para jamaahnya menuju
masjid makam Rasulullah saw di masjid Nabawi. Saat itu nampak pada para jamaah
karomah Imam ar-rifa’i, para jamaah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa
Rasulullah saw menjawab salam dari Imam ar-Rifa’i. Ar-rifa’i berkata
“Assalamualikum Wahai datuk ku..”. lalu datang dari dalam Hujroh Rasulullah
suara, “ Waalaikum salam Wahai anak ku..”. ar-Rifai lalu masuk ke dalamnya
dalam keadaaan gemeter dan menggigil sehingga warna kulitnya menjadi
kekunig-kuningan dan ar-Rifai berlutut sambil menangis seraya berkata “ Dari
kejahuan aku kiramkan ruhku untuk selalu mengingatmu sebagai perwakilanku, maka
dalam kesempatan ini aku bisa melihat dengan seluruh jasad ku pada mu secara
kasat mata. Maka aku mohon ulurkanlah tangan mu agar aku bisa mencium tangan mu
“.
Sahdan, asta Rasulullah saw
keluar dari maqbarohnya, ar-Rifai’ pun langsung menciumnya, sebagai mana
yang di minta oleh ar-Rifa’i. Semua jamaah haji yang ikut serta melihat dan
mendengar langsung karomah Imam as-Syekh al-Mursyid al-Ghoist as-Zahid al-Arif
imamul-Akbar Sayyid Abul Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir. Kejadian ini 23 tahun
sebelum imam ar-Rifa’i di panggil di pangkuan Allah.
3. Di
Baiat Oleh Rasulullah Saw
Pada waktu
imam ahmad ar-rifa’i mencium asta Rasulullah saw, beliau di baiat langsung oleh
Nabi Muhammad saw. Rasulullah berkata pada Imam ar-rifa’i “ Wahai Anak ku.
Pakailah selendang hitam dan naiklah ke atas mimbar lalu berkhutbahlah di depan
para manusia. Baiat ini aku serahkan pada mu dan kepada keturunan mu hingga
hari kiamat “. Lalu ar-Rifa’i keluar dan melaksanakan perintah dari Rasulullah
saw. Semua jamaah haji yang hadir saat itu mencapai 90.000 orang, semua
menyaksikan langsung karomah dan pembaiatan imam ar-rifa’i.
4. Di
Lihat Oleh Sulthonul Auliya’
Di antara jamaah yang
yang melihat lansgung kejadian itu mulai dari para ulama, tokoh masyaraka,
pejabat, dan masyarakat umum dari menengah ke atas hingah menengah kebawah. Di
antara ulama adalah Sulthonul Auliya’ as-Syekh Abdul Qodir al-Jilani, Sayyid
adiy bin musafir as-Syâmy, as-Syekh Ali bin Khomis, as-Syekh Hayat bin Qois
al-Harâny.
D. Wali
para wali
1.
Wali al-Ghauts al-Qutb
ar-Rifa’I tumbuh
sebagai peribadi yang alim, zuhud, waro’, seorang ahli ibadah, ahli
tasawuf, dan ahli fiqih yang bermadzhab Syafi’i. “ imam ar-Rifai adalah seorang
panutan, zuhud dan gurunya orang yang ma’rifat” kata imam adz-dzahabi.
Beliau termasuk salah
satu wali al-Qutb al-Ghaust. Beliau memiliki banyak pengikut dan santri.
Mayoritas mereka dari kalangan orang faqir. Mereka diberi nama ar-rifa’iyah
, Ahmadiya dan Batha’ihiyah. Jika malam nisfu sya’ban tiba, orang-orang
yang datang mengikuti majlis beliau kurang lebih 100.000 jiwa. Konon,
sanri-santri beliau memiliki kehebatan memukau. Mereka mampu menunggangi
hewan liar, bermain ular bahkan mereka tidak segan-segan melompat dari pohon
kurma yang begitu tinggi. Anehnya, mereka baik-baik saja dan tidak merasakan
sakkit sedikitpun.
2. Di
Angkat Menjadi Pemimpin Para Wali
Sebagaimana sudah di
ketahui di antara para jumhurul-ulama’ bahwa imam ar-Rifa’I termasuk
dari para kekasih Allah. Bahkan beliau termasuk juga dari king of the king
para kekasih Allah saat itu. Ini bisa di lihat dari salah satu mimpi yang di lihat
oleh khola-nya (paman dari ibu) imam ar-Rifa’I, ia adalah Sayyid
as-Syekh Mansur al-Anshori. Beliau –paman Imam ar-Rifa’i- berkata “ Saya
bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, 40 hari sebelum anak dari saudara
perempuan saya di lahirkan, lalu Beliau SAW berkata kepada ku ‘ Wahai Manshur!,
saya membawa berita gembira kepadamu bahwa Allah memberi karunia seorang anak
setelah 40 hari, dia bernama Ahmad ar-Rifa’I, dia juga sama seperti halnya aku,
bila aku adalah pemimpin para anbiya’, maka keponakanmu (Imam ar-Rifa’i)
adalah pemimpin para auliyaullah’ “.
Setelah imam
ar-Rifa’i lahir ke alam dunia, beliau menjadi sesosok bocah yang ahli ibadah.
Meski umur yang masih belita, beliau sudah beribadah seperti halnya seorang
dewasa. ketika beliau masih kecil beliau sudah berpuasa satu hari full. Di
katakan dari saudara rodo’ (sesuson) imam ar-Rifa’i pada bulan Ramadhon “
Sesungguhnya ahmad tidak mau meminum susu pada waktu siang hari, maka saya
menyangka bahwa ada sesuatu yang tidak membuat dia suka. Tapi ketika matahari
terbenam, ahmad menerima murdi’ dan mau meminum susunya “.
3. Di
Tunjuk Oleh Rasulullah SAW.
Beliua tumbuh menjadi
seorang pemimpin thoriqoh Ar-Rifa’iyah dan menjadi Wali yang zahud (tidak mau
dunia), Arif (ma’rifatullah), alim, dan dermawan. Jamaah yang mengikuti
Thoriqoh Ar-Rifaiyah semakin menjadi pesat. Satu persatu orang datang untuk
mengikuti thoriqoh dan suluk imam ar-Rifa’i ,untuk sampai kepada allah, mulai
dari tingkatan atas sampai ketingkatan bawah. Beliau juga menjadi rujukan para
pengikutnya dalam masalah wusul dan suluk kepada Allah. Sebagaimana di
alami oleh Imam Muhammad Mahdi ar-Rowwas yang mendapat taujihat dari
Rasulullah saw dalam mimpinya. Imam Mahdi ar-Rowwas berkata dalam mimpinya “
saya memimta petunjuk pada Rasulullah ‘berilah saya jalan menuju kebenaran
Wahai.. Rasulullah’. Beliau menjawab ‘‘Al-Qur’anul Karim adalah jalan yang kamu
cari’’. saya mengaduh lagi ‘berilah saya jalan (suluk) menuju Allah,
Wahai..Rasulullah’. Beliau menjawab “Berpegang teguhlah pada anakku yaitu Amhad
Ar-Rifa’i dan kamu akan sampai kepada Allah. Sedangkan dia adalah sayyidnya
para auliya’ (kekasih) umat ku. Setelah auliya’ abad
ketiga. Dan dia juga mempunyai derajat yang tinggi dari pada auliya’ di masanya
”.
E. Karomah
1.
Sabar Pada Perlakuan Istri
Seorang istri yang
begitu durhaka. Lidahnya tajam bak pedang yang siap menebas leher siapapun.
Kata-katanya sangat pedih dan sering menmbus hati ar-Rifa’I. perempuan itu
sangat gemar menyakiti suami shaleh ini. Dia memukul ar-Rifai hingga bajunya menghitam,
namun ar-rifai tetap sabar mendpat perlakuan yang sedemikian ruapa. Tanpa
diduga salah satu santri masuk ingin sowan kepada beliau. Tanpak di wajah
santri itu kegelisahan yang mendalam, karna tidak enak hati melihat ar-Riafa’i
diperlakukan seperti itu. Dia langsung keluar menemui teman-temanya.
“Teman-teman, Syaikh diperlakukan tidak baik oleh perempuan jahat, kenapa
kalian diam saja?” ujar santri. Mendengar pernyataan itu, salah satu mereka
menyahut “Maharnya limaratus dinar, sedangkan Syaikh tidak bisa bayar.” Santri
itupun pergi. Dia ingin mencari uang untuk diberikan kepada gurunya. Dia tidak
tahan jika harus melihat sang guru disiksa habis-habisan. Dia berusaha keras
memeras keringat agar secepatnya mendapatkan uang. Akhirnya usahanya tidak sia-sia.
Uang limaratus dinar kini berada ditangannya. Lalu santri itu pergi ke rumah
ar-Rifai membawa uang itu. Dia letakkan di sebuah wadah dan diberikan kepada
beliau. Melihat pemberian itu, ar-Rifai berkata “ Apa ini?” “ Uang lima ratus
dinar untuk mahar istri jennnengan.” Jawab si santri. Ar-Rifa’I tanpak
tersenyum dan berkata . “Andaikan bukan karna ketabahanku atas penyiksaan dan
perkataan pedih istriku, nescaya engkau tidak akan bermimimpi aku berada
di surga.” Santri itu tertegun keheranan. Dia tidak mengira gurunya bisa tahu
apa yang telah menimpanya, padahal dia tidak pernah bilang kepada siapapun
kalau dia sering bermimpi ar-Rifa’i berada di dalam surga. Akhirnya, Santri itu
sadar bahwa kejadian ini adalah karamah ar-Rifa’i; mengatahui yang ghaib.
F. Sifat
Bijak Imam Ar-Rifa’i
1.
Mencitai Orang Tak Berdaya
Kelembutan dan kasih
sayang ar-Rifa’I memang sudah menjadi karakter. Menolong orang yang lemah dan
tak berdaya sudah menjadi detak nadi hidup cicit Nabi ini. Jika suatu saat
pulang dari sebuah perjalanan dan hampir tiba di kampung halaman, beliau
menyiapkan tali untuk mencari kayu bakar. Hasil carian itu beliau bawa ke desa
tempat tinggalnya. Lalu dibagi-bagikan kepada janda-janda, faqir miskin,
orang-orang lumpuh, sakit, buta dan para masyaikh. ar-Rifa’I juga berkunjung ke
rumah orang-orang lumpuh. Mencuci baju-bajunya, membawakan makanan untuknya,
makan bersamanya, dan meminta doanya. Beliau berkata “Ziyaroh kepada orang
seperti mereka wajib bukan sunat.”
Ketika mendengar ada
orang sakit, ar-Rifa’I pasti menyambanginya meski jauh, dan beliau akan datang
lagi setelah dua hari atau satu hari. ar-Rifa’I juga berdiri di jalan-jalan
menunggu ada orang buta lewat. Jika orang buta itu datang, beliau
menghampirinya dan menuntunnya. Beliau juga tidak pernah membalas kejelekan
dengan kejelekan. Syafaqoh dalam hati beliau begitu kuat, bahkan beliau
berpandangan bahaw kasih sayang termasuk sesuatu yang dapat mendekatkan diri
kepada Allah. “ Syafaqoh termasuk sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Kata beliau suatu ketika.
2. Kucing
Tidur
Ar-rifai sangat
menyayangi hewan. Rasa kasih sayang telah menyatu dengan hatinya laksana jiwa
dan raga. Syafaqah yang telah mendarah daging sungguh teraplikasikan dalam
hidup beliau. Suatu ketika, ada seekor kucing tidur pulas di lengan baju
ar-Rifa’i. Padahal waktu salat telah berkumandang. Tidak boleh tidak
ar-Rifa’i harus menunaikan panggilan tuhan itu. Namun ar-Rifa’i juga tidak
ingin menggangu tidur hewan kesayangan Abu huroiroh itu. Maka beliau
menggunting lengan bajunya agar kucing itu tidak terganggu. Seusai salat,
ternyata kucing itu telah bangun dan pergi. Barulah ar-Rifa’i mengambil
potongan lengan baju itu dan menjahit seperti semula.
3. Nyamuk
Mengais Rizki
Pada suatu malam yang
mencekam, hawa dinginya meresap ke sumsum tulang, tampak ar-Rifa’i selesai
mengambil air wudlu’. Tiba-tiba beliau mematung tak bergerak. Tangannya lurus
memanjang sekian lamanya. Ya’qub yang melihat kejadian itu, langsung
menghampiri ar-Rifa’i dan menciyum tangannya. Meliahat kelakuan ya’qub,
ar-Rifa’i berkata ” Ya’qub, engkau telah menggagngu makhluk Allah yang lemah
ini” “gerangan, siapakah dia?” tanya Ya’qub. “nyamuk yang sedang mengambil
bagian rizqinya di tanganku, ia lari karna ulahmu.” Ujar ar-Rifa’i.
4. Sayang
Belalang
Suatu saat,
ar-Rifa’I terlihat aneh. Beliau berkomonikasi sendirian. “
Wahai mubarakah, aku tidak mengetahuimu, aku telah membuatmu jauh dari
tanah airmu.” Ucap ar-Rifa’i. setelah damati, ternyata beliau
menyapa belalang yang tersangkut dibajunya. Beliau mencoba mejelaskan kepada
belalang itu, bahwa beliau tidak tahu keberadaannya. Anadaikan saja beliau
tahu, maka semua ini tidak akan terjadi.
5. Anjing
& Kutu
suatu ketika,
ar-Rifa’I berjalan melewati sebuah rumah makan. Syahdan, beliau melihat ada
segerombolan Anjing memakan kurama yang berada di sebuah wadah. Beliau langsung
berdiri di pintu agar tidak seorang pun yang masuk dan mengganggu
Ainjing-anjing. Lalu beliau berkata, “ Wahai yang diberkahi, makanlah dengan
tenang, tidak usah rebutan. Jika tidak, maka kalian nanti ketahuan dan tidak
akan bisa menikmati kurma itu lagi.”
Di lain waktu
ar-Rifa’I mlihat seorang faqir membunuh Kutu. Beliau marah bukan kepalang. “
Jangan,- semuga Allah menyiksamu,- sudahkah sembuh marahmu?” Pekik ar-Rifa’i.
G. Kenangan
yang tak terlupakan
1.
Di Panggil Sang Khaliq swt.
Ketika imam ar-rifa’i
menginjak umur 66, beliau terserang penyakit sakit perut. Penyikt itu kian hari
bertambah semakin parah. Meski penyakit yang di derita oleh beliau cukup parah
tapi beliau tetap melaksanakan ibadahnya dan bertambah keimananya tampa
merasa sakit dan mengeluh. Setelah satu bulan lebih beliau di serang penyakit,
penyakit beliau bertambah semakin parah. Sehingga beliau tidak bisa bangun dari
tempat tidurnya.
Dan keesokan harinya,
Tetap ketika matahari menampakkan sinarnya ke bumi, dan embun senantiasa
menghiasi dedaunan, yaitu pada hari Kamis, bulan Jumadil Ula, tahun 578 H,
suasa menjadi terharu dan di banjiri dengan tangisan belasungkawa. Semua
berbondong-bondong pergi ke dalem imam ar-rifa’i, untuk memberikan
sambutan yang terakhir kepada beliau. Saat itu semua orang merasa kehilangan
sesosok pemimpin umat dan pemimpin para wali itu.
Al-Imam al-Ghoust
al-Qathbu as-zâhid al-Arif billah Sayyid Abul Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifa’I al-Kabir.
Lalu beliau di di makamkan di Qubbah kakek dari ibu, Sayyid Yahya
al-Bukhori, di negaranya (Bukhâra). Setelah beliau di makamkan dan disholati,
semua orang dari penjuru dunia berta’ziah ke makam beliau, untuk mengharap
berkah dari beliau.
2. Murid-murid
Imam ar-Rifa’i
Imam ar-rifa’i
tergolong ulama yang kaya dengan disiplin ilmu. Semua ilmu beliau dapat dengan
jirih payah sendiri. Selain terkenal dengan kealimannya, imam ar-Rifa’i juga
terkenal dengan kezuhudannya, Wara’, Rajib beribadah, dan selalu taqwa kepada
allah. Dengan sifat-sifat itulah banyak ulama dan masyarakt menunjukdan memilih
seorang guru sebagai muryid menuju ke jalan Allah swt dan mengetahui syariat
agama islam, memilih Imam ahmad ar-rifa’i.
Imam ar-rifa’i di
masanya termsuk dari salah saru dari ulama dan guru besar saat itu, banyak dari
murid-murid beliau yang menjadi menjadi ulama dan menjadi wali semasa hidupnya
dan setalah wafatnya. Imam ar-Rifa’i mendapat beberapa julukan di antara
julukan beliau adalah Syaikhul-Tharâriq, Syaikhul-Kabîr, dan Ustadzul-Jamâ’ah.
Sewaktu beliau Hidup banyak dari kalangan ulama, tokoh masyarakt, dan orang
umum belajar kepada beliau mulai dari maslah fiqh, Tauhid, dan meminta ijazah
Thariqoh ar-Rifa’iyah, sehingga sebab banyaknya murid imam ar-rifa’i yang ingin
belajar kepada beliau, imam ar-rifa’i di juluki dengan Syaikhul-Tharâriq,
Syaikhul Kabîr, Dan Ustadzul-Jamâ’ah.
Di antara para ulama
itu adalah Al-Arif Billâh al-Ghaust Sayyid Abul Hasan asy-syadzili (pendiri
thariqoh Syadziliyah), al-imam al-Hafidz abdurrahman jalauddin as-suyûtiy
(salah satu ulama fiqh), Syaikh Najmuddin (salah satu guru imam ad-dasuqi),
syaikh aqîl al-munbijiy, dan syaikh ali al-Khowwas. Dan masih banyak ulama dan
para waliullah yang perna menimba ilmu kepada imam ahmad ar-rifa’i.
3. Karya-Karya
Imam Ar-Rifa’i
Sebelum beliau di
panggil di pangkuan sang Kholiq swt. Beliau banyak meninggalakan karya tulisnya
mulai dari Kitab, Hizib, dan beberapa Aurâd. Karangan imam ar-rifa’i yang
berupa kitab mencakup beberapa tema mulai dari Fiqh, Tafsir, Tauhid, dan
Thoriqoh as-sufiyah. Di antarak kitab Fiqih yang beliau karang adalah kitab “Syarhu
al-Kitab at-tanbîh lisy-syîraziy”, kitab fiqh madzhab As-Syafi’i. Sedangkan
kitab tafsir adalah “ ma’âniy bismillâhirrahmânirahîm” dan “tafsiru
surati al-Qodr”. Sedangkan kitab Tauhid adalah “al-burhanu al-muayyid”. Dan
kitab yang menerangkan tentang tahoriqoh as-sufiyah ialah “hâlatu
ahli-haqiqah, at-thariqah ila-Allah “. Dan masih banyak karna beliau yang
lain.
Beliau juga menarang
tentang dan hizib-hizib, di antara karya hizib beliau Hizbn Hason, Hizb
Hirâsah, Hizb Satru, Hizb Tuhfa as-sanîyah.
Jalaludin Ar-Rumi
Oleh : Pisa Aulia
1.
Lahir dan Silsilah Keluarga
Maulana Jalaluddin
Rumi memiliki nama lengkap Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi
al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah
seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6
Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya
masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari
keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, ia mampu
berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3
tahun karena adanyaterancam oleh serbuan Mogol, keluarganya meninggalkan Balkh
melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Propinsi Rum di Anatolia tengah, yang
merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota propinsi
Rum. Dalam pengembaraan dan pengungsiannya tersbut, keluarganya sempat singgah
di kota Nishapur yang merupakan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika
Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah
pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Tahun 1244 M, Rumi
bertemu dengan syekh spiritual lain, Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya
menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddi wafat, Rumi kemudian
bertemu dengan pada Husamuddin Ghalabi, dan mengilhaminya untuk menulisakan
pengalaman spiritualnya dalam karyanya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi. Ia
mendiktekan karyanya tersebut kepada Husamuddin sampai ahir hanyatnya pada
tahun 1273 M.
2. Pengaruh
Tabriz
Fariduddin Attar,
yang juga seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Jalaluddin Rumi yang
baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi
tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak
meleset. Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207
Jalaluddin Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad
al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Jalaluddin Rumi karena sebagian besar
hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah
Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin
Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan
karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul
Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian
ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke
penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus
meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Jalaluddin Rumi baru
beruisa lima tahun. [2]
Sejak itu Bahauddin
bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain.
Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke
Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap
di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Jalaluddin Rumi
sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan
agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Jalaluddin Rumi
wafat ketika Jalaluddin Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada
ayahnya, Jalaluddin Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi,
sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Jalaluddin Rumi juga menimba
ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634
H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin
wafat, Jalaluddin Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan
pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i
dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran
jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari
berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan
kepenyairan Jalaluddin Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48
tahun. Sebelumnya, Jalaluddin Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah
madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia
juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu.
Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa
dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti
biasanya Jalaluddin Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang
menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi
Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar
pertanyaan seperti itu Jalaluddin Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu
dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Jalaluddin Rumi
berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada
Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang
berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga
berhari-hari.
Sultan Salad, putera
Jalaluddin Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru
besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus
menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi
itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu
yang tiada taranya.”
Jalaluddin Rumi
benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar
sempurna. Cuma celakanya, Jalaluddin Rumi kemudian lalai dengan tugas
mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing
itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan
dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Ibarat seorang remaja
ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz
itu menjadikan Jalaluddin Rumi dirundung duka. Jalaluddin Rumi benar-benar
berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia
mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur
Jalaluddin Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Jalaluddin
Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat
kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus.
Lewat putranya tadi, Jalaluddin Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan
permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan
gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan
permintaan Jalaluddin Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah
Jalaluddin Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para
muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan
tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam
meninggalkan Jalaluddin Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Jalaluddin
Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Jalaluddin Rumi telah
menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan
kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan
mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna
mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya
kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula
wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams
Tabriz.
Jalaluddin Rumi
kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin
Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir
masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang
diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait
syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang
disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya
tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600
bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya
tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau
pengikutnya).
Bersama Syekh
Hisamuddin pula, Jalaluddin Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau
Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes
(Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut
tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan
suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
3. Karya
– karya Rumi yang populer
Ada banyak karya yang
dihasilkan oleh Jalaluddin Rumi. Karya -karya yang dihasilkannya pun bukan
karya yang bisa dianggap sebelah mata. Beberapa koleksi karya besar yang
merupakan buah pikirnya meliputi :
a)
Diwan e syam e tabrizi
Diwan-e Shams-e
Tabrizi atau Diwan-e-Kabir adalah salah satu karya andalan dari Rumi. Karya ini
merupakan kumpulan dari Ghazal yang secara khusus dipersembahkan untuk
sahabatnya Shamsuddin. Shamsuddin menjadi kawan baiknya sekaligus sosok yang
begitu menginspirasi karyanya ini. Di dalam karya besar ini, Rumi juga
mengisinya dengan sajak -sajak. Diwan-e-Kabir ditulis dalam dialek ‘Dari’.
Selama ini, Diwan-e-Kabir diakui sebagai sastra Persia terbesar sepanjang
sejarah.
b) Mathnawi
Mathnawi atau disebut juga sebagai Masnawi atau Masnavi ini merupakan
kompilasi yang terdiri dari enam volume puisi, yang ditulis dalam gaya
didaktis. Syair -syair yang dituliskannya dalam karya ini dibuat dengan tujuan
untuk berdakwah, mengajar, dan sekaligus menghibur para pembacanya. Kabarnya,
selama menulis karya ini, Rumi ditemani oleh Husam al-Din Chalabin yang juga
banyak mempengaruhi pemikirannya tentang kehidupan spiritual.
Masnawi disebut -sebut sabagai karya sastra terbesar dan paling murni yang
dimiliki oleh bangsa Persia.
Popularitas dari Jalaluddin Rumi pun tak hanaya melingkupi negaranya
sendiri, maupun negaraa di sekitarnya saja. Hampir seluruh dunia, mengenal
siapa namanya dan apa saja karya -karyanya. Karenanya, Rumi pun diakui sebagai
salah seorang penyair klasik Persia terbesar sepanjang sejarah.
Selama bertahun -tahun, ia banyak mempengaruhi kesusastraan Turki. Karya
Rumi juga banyak menginspirasi banyak seniman lain, termasuk Mohammad Reza
Shajarian (Iran), Davood Azad (Iran), Shahram Nazeri (Iran) dan juga Ustad
Mohammad Hashem Cheshti (Afghanistan).
Para seniman ini mempelajari karya Rumi dan mendapatkan banyak pencerahan
tentang interpretasi klasik dalam hal syair dan sastra. Selain itu, karya
-karya Rumi ini juga telah diterjemahkan di berbagai belahan dunia dalam
berbagai bahasa, termasuk bahasa Rusia, Italia, Jerman, Turki, Urdu, Perancis,
Spanyol, dan tentu saja juga di Indonesia.
Bahkan, pada tahun 2007 silam, Rumi telah dinobatkan sebagai “the most
popular poet in America” atau penyair paling populer di Amerika. Hal ini
menunjukkan bahwa nama Rumi semakin populer di dunia, meski setelah ia tiada.
4. Wafat
Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada tanggal 17 bulan Desember tahun 1273.
Ia meninggal di Konya ketika Konya berada di bawah pemerintahan kerajaan
Seljuk. Jasadnya dikuburkan di samping makam ayahnya di Konya.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap Sang Sufi Rumi ini, maka di Konya
dibangunlah sebuah makam mausoleum bernama Mevlana.
Di dalam mausoleum ini, terdapat sebuah masjid, aula untuk menari dan ruang
lainnya. Tempat ini pun sering dikunjungi oleh para penggemarnya dari berbagai
belahan dunia. Makam Jalaluddin Rumi ini pun menjadi salah satu tujuan ziarah
yang cukup populer di dunia.
5. Tulisan
di batu nisan Jalaludin Ar – Rum
”Ketika kita mati,
jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.”
Salah satu Syair
Jalalludin Rum :
Mana yang lebih
berharga
Kerumunan beribu
orang atau kesendirian sejatimu?
Kebebasan atau kuasa
atas seluruh negeri?
Sejenak, sendiri
dalam bilikmu akan terbukti lebih berharga daripada segala hal lain yang
mungkin kau terima
Oh Tuhan
Telah kutemukan
cinta!
Betapa menakjubkan,
betapa hebat, betapa indahnya!...
Kuhaturkan puja-puji
Bagi gairah yang
bangkit
Dan menghiasi alam
semesta ini
Maupun segala yang
ada di dalamnya!
Ketika engkau merasa
bergairah
Cari tahu
sebabnya
Itulah tamu yang tak
kan pernah kau salami dua kali
Adakalanya dengan
tujuan menolong
Dia membuat kita sengsara
Tapi kepiluan
hati
demi Dia
Membawa kebahagiaan
Senyum akan datang,
Sesudah air mata
Siapapun yang
meramalkan ini adalah hamba yang diberkati Tuhan
Dimana pun air
mengalir, hidup akan makmur
Dimana pun air mata
berderai, Rahmat Ilahi diperlihatkan
Pilihlah cinta.
Ya, cinta!
Tanpa manisnya cinta,
Hidup ini adalah
beban
Tentu engkau telah
merasakannya
Hati yang kacau
Tak dapatkan
kesenangan hidup
Dalam kebohongan.
Air dan minyak
Tak dapat menyalakan
cahaya.
Hanya perkataan yang
benar membawa kesenangan hidup
Kebenaran adalah
umpan yang sangat memikat hati
Pergilah ke pangkuan
Tuhan,
Dan Tuhan akan
memelukmu dan menciummu, dan menunjukkan
Bahwa Ia tidak akan
membiarkanmu lari dari Nya
Ia akan menyimpan
hatimu dalam hati Nya
Siang dan malam
Kesabaranku mati pada
malam ketika Cinta lahir!
Dari anggur cinta,
Tuhan menciptaku!
Barang siapa menjadi
mangsa cinta, mana mungkin dia menjadi mangsa Sang Maut?
Hari perpisahan lebih
panjang daripada Hari kebangkitan
Dan maut lebih cantik
daripada derita perpisahan
Aku boleh mati,
tetapi gairahku kepada Mu tak kan pernah mati
Telah kupalingkan
hatiku dari dunia dan segala kesenangannya
Kau dan hatiku
bukanlah dua wujud yang berpisah
Dan tak pernah
kelopak mataku menutup di dalam lelap
Kecuali kutemukan Kau
antara mata dan bulu mataku
Mereka tahu pasti
bahwa aku sedang jatuh cinta
Tetapi mereka tak
tahu siapa yang kucintai
Hatiku mencintaimu
sepanjang hidupku, dan ketika aku mati
Maka tulang-tulangku,
kendati hancur, mencintai Mu dalam debu
Hari ini aku lupa
sembahyang karena cintaku yang meluap-luap
Dan aku tak tahu lagi
pagi atau malamkah sekarang
Karena ingatan pada
Mu , wahai Tuhan, adalah makanan dan minumanku
Dan wajah Mu, saat
aku melihat Nya, adalah obat penderitaanku
Aku adalah Dia yang
kucintai dan
Dia yang kucintai
adalah aku
BIOGRAFI IMAM SUFYAN
ATS-TSAURI
Oleh : Juwanda Pranata Wijaya
Sufyan Ats-Tsauri
adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurunya. Sufyan rahimahullah adalah
seorang yang mempunyai kemuliaan, sehingga dia tidak butuh dengan pujian.
Selain itu Ats-Tsauri juga seorang yang bisa dipercaya, mempunyai hafalan yang
kuat, berilmu luas, wara’ dan zuhud”, demikian kata Al-Hafidz Abu Bakar
Al-Khatib rahimahullah.
Nama, Kelahiran dan
Tempatnya
Nama lengkapnya
adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi
Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan
bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas.
Kelahirannya: Para
ahli sejarah sepakat bahwa beliau lahir pada tahun 77 H. ayahnya adalah seorang
ahli hadits ternama, yaitu Said bin Masruq Ats-Tsauri. Ayahnya adalah teman
Asy-Sya’bi dan Khaitsamah bin Abdirrahman. Keduanya termasuk para perawi Kufah
yang dapat dipercaya. Mereka adalah termasuk generasi Tabi’in.
Tempat kelahirannya:
beliau rahimahullah dilahirkan di Kufah pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul
Malik. Dan beliau keluar dari Kufah tahun 155 H dan tidak pernah kembali lagi
Keteguhan Beliau
Dalam Mengikuti Sunnah
Dari Syu’aib bin Harb
rahimahullah, dia berkata, “Aku berkata kepada Sufyan, “Ceritakanlah sebuah
hadits yang karena hadits itu Allah akan memberikan karunia kepadaku, dan jika
aku berada di sisi-Nya dan Dia menanyaiku, maka aku akan katakan, “Wahai
Tuhanku, Sufyan telah menceritakan hadits ini kepadaku, maka menjadi selamatlah
diriku.”
Maka Sufyan berkata,
“Tulislah, ‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk(ciptaan-Nya). Dari-Nya segala sesuatu
ada dan hanya kepda-Nya semua akan kembali, dan barang siapa tidak mengakuinya
maka dia telah menjadi kafir. Iman adalah perwujudan dari ucapan, perbuatan dan
niat, kadar keimanan bisa bertambah dan bisa berkurang.”
Setelah aku
menulisnya, kemudian aku tunjukkan tulisan itu kepadanya, dia berkata, “Wahai
Syu’aib, apa yang telah kamu tulis tidak akan bermanfaat kepadamu hingga kamu
membasuh khuffain (muzzah) dan menganggap bahwa melirihkan basmalah lebih utama
dari mengeraskannya. Dan hendaknya kamu beriman kepada ketentuan atau qadar
Allah, melakukan shalat berjamaah brsama imam, baik imam shaleh ataupun tidak
shaleh.”
Kemudian Sufyan
berkata, “Jihad hukumnya wajib, mulai zaman dahulu sampai Hari Kiamat,
bersabarlah di bawah pemerinyahan seorang penguasa, baik penguasa yang adil
maupun penguasa yang lalim.”
Aku bertanya, “Wahai
Abu Abdillah, apakah aku harus berjamaah dalam setiap shalat?” dia menjawab,
“Tidak, namun shalat Jum’at, shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha.
Berjamaahlah di belakang imam yang kamu dapatkan dalam shalat-shalat tersebut.
sedangkan untuk shalat-shalat yang lain hendaknya kamu memilih imam, janganlah
kamu shalat berjamaah kecuali bersama imam yang telah kamu percaya, yaitu imam
yang memegang teguh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kamu berada
dihadapan Allah dan ditanya tentang hal-hal yang telah aku pesankan kepadamu
tersebut, maka katakan, “Wahai Tuhanku, sufyan bin Said telah memberitakan
komentar seperti ini, lalu biarkan masalahmu menjadi tanggungan antara aku dan
Tuhanku.”
Adz-Dzahabi
memberikan komentar tentang keterangan diatas, dia berkata, “Keterangan ini
benar-benar dari Sufyan.”
Beberapa Mutiara
Perkataannya
Dari Abdullah bin
Saqi, dia berkata, “Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, melihat kepada wajah
orang yang berbuat zhalim adalah suatu kesalahan.”
Dari Yahya bin Yaman,
dia berkata, “Sufyan menceritakan sebuah hadits kepada kami, ‘Isa bin Maryam
‘Alaihis Salam telah berkata: mendekatlah kalian kepada Allah dengan membenci
orang-orang yang berbuat maksiat dan dapatkanlah ridha-Nya dengan menjauhi
mereka.”
Orang-orang bertanya,
“Dengan siapa kami harus bergaul, wahai Sufyan?” Sufyan menjawab, “Dengan
orang-orang yang mengingatkan kamumuntuk berdzikir kepada Allah, dengan
orang-orang yang membuat kamu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan
orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”
Wafat Beliau
Adz-Dzahabi berkata,
“Menurut pendapat yang benar, Sufyan meninggal pada bulan Sya’ban tahun161 H,
Al-Waqidi juga mengatakan demikian, sedangkan Khalifah meragukannya dan dia
berkata bahwa meninggalnya Sufyan adalah pada tahun 162 H.
Sufyan rahimahullah
memberikan wasiat kepada Abdurrahman bin Abdul Malik, agar menyalatinya. Dan
ketika beliau meninggal Abdurrahman pun memenuhi wasiatnya tersebut dengan menyalatinya
bersama penduduk Bashrah. Mereka telah menjadi saksi meninggalnya Sufyan.
Abdurrahman bin Abdul
Malik bersama Khalid bin Al-Haritsah dan dibantu penduduk Bashrah menguburkan
Sufyan. Setelah acara pemakaman selesai, dia bergegas ke Kufah dan memberitahu
keluarga Sufyan perihal meninggalnya Sufyan.
Syekh Abul Hasan Ali
Asy Syadzili
Oleh : NOVIA SRI RAHAYU
Sayyidina Syeikh Abul
Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy Syadzili Al Maghribi Al-Hasani Al
Idrisi lahir di Ghamarah, desa dekat Sabtah, Maroko, Afrika Utara pada tahun
591 H / 1195 M. Sebutan Asy Syadzili itu sendiri, menurut sebagian ulama adalah
daerah tempat dimana beliau banyak menimba ilmu saat mudanya.
Beliau secara nasab bersambung hingga Rasulullah SAW melalui puterinya Sayyidatuna Fatimah Az-Zahrah. Keistimewaan nasab ini tampak dalam budi pekerti beliau yang indah lagi terpuji dan mengagumkan banyak orang, sehingga mereka banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari beliau.
Pada masa kecilnya, beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar ajaran agama, kemudian berguru kepada ulama dan sufi besar pada masa itu, yakni Syeikh Abdul Salam bin Masyisyi. Dari gurunya ini pula, kemudian beliau dikirim kepada ulama besar yang tinggal di Syazilia, Tunisia.
Keberangkatan beliau ke Syazilia ini merupakan awal dari pengembaraan sufistiknya. Hingga setelah mendapatkan banyak ilmu dari gurunya di Syazilia, beliau ditugaskan gurunya untuk mengembangkan ilmunya di Iskandaria, Mesir.
Sebelum pindah untuk berguru ke Syazilia, nama Syekh Abul hasan Asy Syazili sudah demikian harumnya; karena itu berita kedatangan beliau telah mengundang perhatian masyarakat, sehingga mereka menantikan kedatangan beliau. Demi mendengar hal itu, maka dengan ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah, beliau memilih jalur lain dab mengasingkan diri di Pegunungan Zagwan untuk bisa berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan gurunya di Syazilia.
Begitulah setelah lama berkhalwat di Zagwan; pada akhirnya beliau diperintahkan gurunya agar turun gunung dan berdakwah di masyarakat. Sudah barang tentu masyarakat yang ingin melihat dan berguru kepadanya datang berduyun-duyun, bahkan diantara mereka banyak para pejabat Negara yang hadir. Setelah itu beliau diutus gurunya ke Iskandaria. Dan rupanya kota ini menjadi akhir dari pengembaraan beliau, sebab disitu pula; setelah lama membimbing masyarakat, beliau akhirnya wafat dan dimakamkan disana.
Selama berada di Tunisia, beliau bersahabat dan banyak berdiskusi dengan para Ulama dan kaum Sufi besar disana. Di antara mereka terdapat :
• Syekh Abul Hasan Ali bin Makhluf As Syazili
• Abu Abdullah Al Shabuni
• Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Paituni
• Abu Abdillah Al Binai Al Hayah
• Abu Abdillah Al-Jarihi
Beliau secara nasab bersambung hingga Rasulullah SAW melalui puterinya Sayyidatuna Fatimah Az-Zahrah. Keistimewaan nasab ini tampak dalam budi pekerti beliau yang indah lagi terpuji dan mengagumkan banyak orang, sehingga mereka banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari beliau.
Pada masa kecilnya, beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar ajaran agama, kemudian berguru kepada ulama dan sufi besar pada masa itu, yakni Syeikh Abdul Salam bin Masyisyi. Dari gurunya ini pula, kemudian beliau dikirim kepada ulama besar yang tinggal di Syazilia, Tunisia.
Keberangkatan beliau ke Syazilia ini merupakan awal dari pengembaraan sufistiknya. Hingga setelah mendapatkan banyak ilmu dari gurunya di Syazilia, beliau ditugaskan gurunya untuk mengembangkan ilmunya di Iskandaria, Mesir.
Sebelum pindah untuk berguru ke Syazilia, nama Syekh Abul hasan Asy Syazili sudah demikian harumnya; karena itu berita kedatangan beliau telah mengundang perhatian masyarakat, sehingga mereka menantikan kedatangan beliau. Demi mendengar hal itu, maka dengan ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah, beliau memilih jalur lain dab mengasingkan diri di Pegunungan Zagwan untuk bisa berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan gurunya di Syazilia.
Begitulah setelah lama berkhalwat di Zagwan; pada akhirnya beliau diperintahkan gurunya agar turun gunung dan berdakwah di masyarakat. Sudah barang tentu masyarakat yang ingin melihat dan berguru kepadanya datang berduyun-duyun, bahkan diantara mereka banyak para pejabat Negara yang hadir. Setelah itu beliau diutus gurunya ke Iskandaria. Dan rupanya kota ini menjadi akhir dari pengembaraan beliau, sebab disitu pula; setelah lama membimbing masyarakat, beliau akhirnya wafat dan dimakamkan disana.
Selama berada di Tunisia, beliau bersahabat dan banyak berdiskusi dengan para Ulama dan kaum Sufi besar disana. Di antara mereka terdapat :
• Syekh Abul Hasan Ali bin Makhluf As Syazili
• Abu Abdullah Al Shabuni
• Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Paituni
• Abu Abdillah Al Binai Al Hayah
• Abu Abdillah Al-Jarihi
Sedangkan diantara
murud-murid beliau di Tunisia, dimana sebagian mereka adalah para Ulama
kenamaan’ yaitu :
• Izzudin bin Abdul Salam
• Taqiyudin bin Daqiqi’id
• Abul Adhim Al-Munziri
• Ibnu Shaleh
• Ibnu Hajib
• Jamaluddin Usfur
• Nabiuddin bin Auf
• Muhyiddin bin Suraqah
• Ibnu Yasin
Diantara kemuliaan beliau, sebagaimana kesaksian sahabat seperjalanannya, bahwa diutusnya Syekh Abul Hasan Ali As Syazili oleh gurunya agar berangkat menuju Iskandaria, karena di kota itu telah menunggu 40 Waliyullah untuk meneruskan pelajaran kepada beliau.
Dasar-dasar Pemikiran Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
• Seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf, maka terlebih dahulu harus mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
• Beliau mengajarkan ajaran Tasawuf kepada murid-muridnya dengan menggunakan 7 kitab; yaitu :
1. Khatam Al Auliyah karya Al Hakim At Tirmidzi ( menguraikan tentang masalah kewalian dan Kenabian )
2. Al Mawaqif wa Al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbar An Nifari ( menguraikan tentang kerinduan Tokoh sufi kepada Allah swt )
3. Qutub Qulub karya Abu Tholib Al Makki ( menguraikan pandangan tokoh sufi yang menjelaskan Syari’at dan hakikat bersatu )
4. Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali ( Paduan antara Syari’at dan Tasawuf )
5. Al Syifa’ karya Qadhi Iyadh ( dipergunakan untuk mengambil sumber Syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang Ahli Fiqih )
6. Ar Risalah Qusyairiyah karya Imam Qusyairi ( dipergunakan beliau untuk permulaan dalam pengajaran Tasawuf )
7. Ar Muhararul Wajiz dan Al Hikam karya Ibnu Aththa’illah ( melengkapi pengetahuan dalam pengajian )
Wafatnya Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
Beliau wafat pada tahun 656 H / 1258 M di Homaithira, Mesir. Hingga kini makamnya masih selalu diziarahi, baik oleh pengikut tarekat Syaziliyah atau bukan; yang menganggapnya sebagai waliyullah.
• Izzudin bin Abdul Salam
• Taqiyudin bin Daqiqi’id
• Abul Adhim Al-Munziri
• Ibnu Shaleh
• Ibnu Hajib
• Jamaluddin Usfur
• Nabiuddin bin Auf
• Muhyiddin bin Suraqah
• Ibnu Yasin
Diantara kemuliaan beliau, sebagaimana kesaksian sahabat seperjalanannya, bahwa diutusnya Syekh Abul Hasan Ali As Syazili oleh gurunya agar berangkat menuju Iskandaria, karena di kota itu telah menunggu 40 Waliyullah untuk meneruskan pelajaran kepada beliau.
Dasar-dasar Pemikiran Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
• Seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf, maka terlebih dahulu harus mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
• Beliau mengajarkan ajaran Tasawuf kepada murid-muridnya dengan menggunakan 7 kitab; yaitu :
1. Khatam Al Auliyah karya Al Hakim At Tirmidzi ( menguraikan tentang masalah kewalian dan Kenabian )
2. Al Mawaqif wa Al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbar An Nifari ( menguraikan tentang kerinduan Tokoh sufi kepada Allah swt )
3. Qutub Qulub karya Abu Tholib Al Makki ( menguraikan pandangan tokoh sufi yang menjelaskan Syari’at dan hakikat bersatu )
4. Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali ( Paduan antara Syari’at dan Tasawuf )
5. Al Syifa’ karya Qadhi Iyadh ( dipergunakan untuk mengambil sumber Syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang Ahli Fiqih )
6. Ar Risalah Qusyairiyah karya Imam Qusyairi ( dipergunakan beliau untuk permulaan dalam pengajaran Tasawuf )
7. Ar Muhararul Wajiz dan Al Hikam karya Ibnu Aththa’illah ( melengkapi pengetahuan dalam pengajian )
Wafatnya Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
Beliau wafat pada tahun 656 H / 1258 M di Homaithira, Mesir. Hingga kini makamnya masih selalu diziarahi, baik oleh pengikut tarekat Syaziliyah atau bukan; yang menganggapnya sebagai waliyullah.
Karya Syekh Abul
Hasan Ali Asy Syadzili
• Majmu’atul Ahzab ( Kumpulan Hizib-wirid )
• Mafakhirul ‘Aliyah
• Al Amin
• As Sirrul Jalil fi Khawashi Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil
• Hizbus Syadzili ( partai terkenal di Afrika )
• Majmu’atul Ahzab ( Kumpulan Hizib-wirid )
• Mafakhirul ‘Aliyah
• Al Amin
• As Sirrul Jalil fi Khawashi Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil
• Hizbus Syadzili ( partai terkenal di Afrika )
Biografi Singkat
Al-Hallaj (Husein bin Mansur al-Hallaj)
Oleh : MAZLIA ULFA
Al-Hallaj
ini memiliki nama lengkap Husein bin Mansur
al-Hallaj. Lahir pada tahun 244 H atau 858 M di salah satu kota kecil Persia,
yakni kota Baidha. Masa kecilnya ia habiskan di kota Wasiṭ dekat dengan
Bagdadsampai usia 16 tahun. Diusia 16 ini ia mulai meninggalkan kota Wasith
untuk menuntut ilmu kepada seorang Sufi besar dan terkenal, yakni Sahl bin
Abdullah al-Tustur di negri Ahwaz. Kemudian setelah belajar di negri Ahwaz ia
pergi ke Bashrah dan belajar kepada Amr al-Makki. pada tahun 264 H. ia
melanjutkan belajarnya kepada al-Junaid di kota Baghdad yang merupakan seorang
sufi besar pula. Selain besar keinginannya mempelajari ilmu kepada tokoh-tokoh
sufi besar dan terkenal, ia juga telah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga
kali. Dari sini jelas tidak diragukan bahwa pengetahuan tentang ajaran-ajaran
tasawuf tidak diragukan.
Ketika tiba di makkah pada tahun 897 M, ia
memutuskan mencari jalan sendiri untuk bersatu dengan Tuhan, pada tahun ini
bisa dikatakan al-Hallaj tealah memulai pemikiran-pemikirannya tentang bagaiman
menyatu dengan Tuhan. Namun setelah ia menemukan cara bersatu dengan Tuhan dan
menyampaikan ajaranya kepada orang lain, ia justru dianggap sebagai orang gila,
bahkan diancam oleh pengusa Mekah untuk dibunuh, yang akhirnya ancaman tersebut
membawanya untuk kembali ke Baghdad. Dalam perjalanan hidupnya yang dihiasi
buah hasil pemikiranpemikirannya di bidang tasawuf, ia sering keluar masuk
penjaran akibat konflik dengan ulama fikih, konflik tersebut dipicu oleh
pikiran-pikiran al Hallaj yang dianggap ganjil. Ulama fikih yang sangat besar
pengaruhnya karena fatwanya untuk memberantas dan membantah ajaran-ajaran al
Hallaj. sehingga ia ditangkap dan dipenjara adalah Ibn Daud al-Isfahani. Tetapi
setelah satu tahun dalam pejara, ia dapat meloloskan diri atas bantuan seorang
sipir penjara.
Untuk mencari pengamanan atas dirinya, dari
bagdad ia melarikan diri ke Sus, suatu wilayah yang terletak di Ahwaz. Kurang
lebih empat tahun bersembunyi di kota tersebut, dan tetap tidak mengubah
pendiriannya tentang ajaran-ajarannya, akhirnya ia ditangkap kembali dan
dipenjarakan selama delapan tahun. Meskipun telah lama hidup dalam penjara,
tidak sedikitpun terkurangi pendiriannya atas ajaran-ajarannya tersebut.
Sehingga pada tahun 309 H/921 M mengharuskan para ulama di bawah pengawasan
kerajaan Bani Abbas, masa Khalifah Mu’tashim Billah, untuk mengadakan
persidangan yang menghasilkan hukumam mati pada al-Hallaj pada tanggal 18 Ẓulhijjah
di tahun yang sama.
Ajaran al-Hallaj. Pokok dari ajaran al-ḥulul adalah pertama, diri manusia
tidak hancur, kedua ada dua wujud, tetapi bersatu dalam satu tubuh. Helbert W.
Mason berpendapat al-hulul adalah penyatuan sifat ketuhanan dengan sifat
kemanusiaan. Akan tetapi, dalam kesimpulannya, konsep hulul al-Hallaj bersifat
majazi, tidak dalam pengertian yang sebanarnya. Menurutt Nashiruddin at-Thusiy,
al-hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia
tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan
yang ada di dalam tubuh itu dilenyapkan. Sesungguhnya Allah Swt, memilih
jasad-jasad (tertentu) dan menempatkannya dengan makna ketuhanan setelah
menghilangkan sifat sifat kemanusiaan. Menurut filsafat al-Hallaj, Allah Swt.,
mempunyai dua alam atau sifat dasar, yaitu al-lahut (ketuhanan) dan an-nasut
(kemanusiaan). Demikian pula manusia, disamping memiliki sifat kemanusiaan, ia
juga mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya. Selanjutnya, dalam menguraikan
kesatuan al-lahut dan an-nasut atau antara roh ilahiyah dan roh insaniyah,
al-Hallaj menggunakan istilah alhulul dalam pengertian Islam.
Dalam menafsirkan ayat tentang penciptaan
Adam, menurut al Hallaj, manusia juga memiliki sifat ketuhanan. Pendapat
al-Hallaj ini juga dipertegas dengan ayat al-Qur’an :
Artinya: “Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir”.(QS. Al-Baqarah :34)
Menurutnya, ayat
tersebut menjelaskan bahwa Allah telah memerintahkan kepada para Malaikat untuk
bersujud kepada Adam, karena pada diri Adam Allah telah bersemayam. Keyakinan
bahwa Allah telah bersemayam dalam diri Adam ini juga didasari dari sebuah
hadis yang sangat berpengaruh di kaLangan Sufi, yakni :
“Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”. Dari ayat dan hadist
tersebut, al-Hallaj berkesimpulan bahwa dalam diri manusia memiliki sifat
ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusian (nasut). Jika sifat ketuhanan yang ada
pada diri manusia dapat bersatu dengan sifat kemanusian pada diri Tuhan, maka
terjadilah Hulul, numun untuk mencapai pada tingkatan tersebut, manusia harus
terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaanya melalui proses al-fana.
Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang biografi singkat Al-Hallaj
(Husein bin Mansur al-Hallaj).
Habib Al ‘Ajami
Oleh : Raidata Mardiyah
1.
Biografi
Habib Al ‘Ajami
Habib bin Muhammad
al-‘Ajami al-Bashri, adalah seorang tokoh sufi keturunan Persia yang menetap di
Bashrah. Ia dikenal juga sebagai seorang ahli Hadits terkenal yang banyak
merawikan hadits-hadits dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin dan tokoh-tokoh
terpercaya lainnya. Ia hidup pada akhir abad
ke 2 H dan awal abad ke-3 H.
Semula Habib adalah
seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. Setiap hari dia berkeliling
kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperolerh angsuran dari
langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya
menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib dapat menutupi
biaya hidupnya sehari-hari. Namun apa yang dilakukan ini kemudian berakhir,
setelah mendapat hidayah dari Allah dan ditaqdirkan menjadi salah seorang ahli
ibadah. Semua harta benda yang ada pada dirinya dishodakohkan kepada siapa saja
yang ditemui. Kemudian dia pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggiran
sungai Eufrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah.
Siang dan malam dia habiskan waktunya untuk belajar di bawah bimbingan Hasan
Al-Bashri. Meskipun demikian, dia tidak dapat menghapal al-Qur’an, dan karena
itulah ia dijuluki ‘ajami atau si orang
asing bukan Arab.
Salah satu dari
keistimewaan Habib al-‘Ajami adalah, bahwa dia suka bersedekah kepada siapa
saja, terutama mereka yang sangat membutuhkannya. Bahwa peristiwa ini di saksikan sendiri oleh
Hasan Bashri, Gurunya yang banyak memberi pelajaran tentang keagamaan, ketika
beliau sedang berkunjung ke rumahnya.
Rumah Habib terletak
di sebuah persimpangan jalan di kota Bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu
yang selalu dipakainya baik di musim panas maupun di musim dingin. Sekali
peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan
seenaknya dilemparkannya di atas tanah. Tidak lama kemudian Hasan al-Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel
Habib terletak di atas jalan, ia bergumam, “Dasar Habib seorang Barbar, tak
peduli berapa harga mantel bulu ini! Mantel yang seperti ini tak boleh di
biarkan saja di tempat ini, bisa-bisa hilang nanti”. Hasan berdiri di tempat
itu untuk menjaga mantel tersebut. tidak lama kemudian Habib pun kembali.
‘’Wahai, imam kaum Muslimin’’, Habib menegur Hasan setelah memberi salam
padanya, “Mengapa engkau berdiri di sini?, tahukah engkau bahwa mantel seperti
ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakan,
kepada siapakah engkau menitipkan mantel ini ?, Kutitipkan kepada Dia, yang
selanjutnya menitipkannya kepadamu’’, jawab Habib dengan enteng.
Hasan Bashri hanya diam
sambil mengangguk-angguk. Beliau semakin mengagumi muridnya yang hampir
mendekati kepada tindakan orang-orang shaleh dari kalangan Shahabi., seperti
Abu Bakar dan sahabat lainnya. Kepada Gurunya Habib bertanya, kenapa berada di
tempat itu ?, Jawabnya, beliau sengaja datang untuk berkunjung k erumahnya.
Lantas Gurunya di ajak ke rumahnya. Kepadanya, Habib menyuguhkan dua potong
roti gandum dan sedikit garam. Hasan bersiap-siap hendak menyantap hidangan
itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti
beserta garam itu kepada sang pengemis.
Hasan terheran-heran
lalu berkata : ’’Habib, engkau memang seorang yang budiman, tetapi alangkah
baiknya seandainya engkau mengetahui sedikit pengetahuan dan kesopanan. Engkau
mengambil roti yang telah engkau suguhan di depan hidung tamu lalu memberikan
semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya memberikan sebagian kepada si
pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu’’. Habib tidak memberikan jawaban.
Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. di
atas nampan tersebut ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis dan
uang lima ratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan tersebut kehadapan
Habib. Kemudian Habib membagi-bagikan
uang tersebut kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan tersebut di
samping Hasan.
Ketika Hasan sedang mengenyam daging
panggang itu, Habib berkata kepadanya: ‘’Guru, engkau adalah seorang manusia
budiman, tetapi alangkah baiknya engkau memiliki sedikit keyakinan. pengetahuan
harus di sertai keyakinan’’, berbuat baik kepada kaum miakin, daripada hanya
untuk keinginan dirinya.
2.
Kisah terpopuler
Banyak kisah dari
Habib Al ‘Ajami namun salah satu kisah populer dikalangan masyarakat salah
satunya ialah :
Kisah Habib Si Orang
Parsi
Semula Habib adalah
seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. la tinggal di kota Bashrah,
dan setiap hari berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak
memperoleh angsuran dari langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi
dengan dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti
inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.
Pada suatu hari Habib
pergi ke rumah seorang yang berhutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya
sedang tak ada di rumah. Maka Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang
tersebut.
“Suamiku tak ada di
rumah”, isteri sedang yang berhutang itu berkata kepadanya, “Aku tak mempunyai
sesuatupun untuk diberikan kepadamu tetapi kami ada menyembelih seekor domba
dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepadamu”.
“Bolehlah!” si lintah
darat menjawab. Ia berfikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba
tersebut dan membawanya
pulang. “Masaklah! “.
“Aku tak mempunyai
roti dan minyak”, si wanita menjawab.
“Baiklah”, si lintah
darat menjawab, “aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu
engkau harus membayar ganti rugi pula”. Lalu ia pun pergi mengambil minyak dan
roti.
Kemudian si wanita
segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke
dalam mangkuk, seorang pengemis datang mengetuk pintu.
“Jika yang kami
miliki kami berikan kepadamu”, Habib mendamprat si pengemis, “Engkau tidak akan
menjadi kaya, tetapi kami sendiri akan menjadi miskin”.
Si pengemis yang
kecewa memohon kepada si wanita agar ia sudi memberikan sekedar makanan
kepadanya. Si wanita segera
membuka tutup
belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini,
wajahnya menjadi pucat pasi. Segera ia
mendapatkan Habib dan
menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.
“Saksikanlah apa yang
telah menimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si
pengemis!”. Si wanita menangis, “Apakah yang akan terjadi atas diri kita di
atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti”.
Melihat kejadian ini
dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah
mereda seumur hidupnya.
“Wahai wanita! Aku
menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan!”.
Keesokan harinya
Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berhutang kepadanya.
Kebetulan sekali hari itu adalah hari Jum’at dan anak-anak bermain di jalanan.
Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak: “Lihat, Habib lintah darat
sedang menuju ke sini, ayo kita lari, kalau tidak niscaya debu-debu tubuhnya
akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”
Seruan-seruan ini
sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana
terdengarlah olehnya ucapan-ucapan yang bagaikan menusuk-nusuk jantungnya
sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.
Habib bertaubat
kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari
apa sebenarnya yang terjadi, Syaikh Hasan al-Bashri datang memapahnya dan
menghibur hatinya. Ketika Habib meninggalkan tempat pertemuan itu seseorang
yang berhutang kepadanya melihatnya, dan mencoba untuk menghindari dirinya.
“Jangan lari” Habib
berkata, “Di waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindari diriku, tetapi
sejak saat ini akulah yang harus menghindari dirimu”.
Habib meneruskan
perjalanannya, anak-anak tadi masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib,
mereka segera berteriak:
“Lihat Habib yang
telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! jika tidak, niscaya
debu-debu di tubuh kita akan menempel
di tubuhnya sedang
kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah”.
“Ya Allah ya
Tuhanku”, seru Habib. “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, maka Engkau
telah menabuh genderang-genderang di dalam hati manusia untuk diriku dan telah
mengumandangkan namaku di dalam keharuman”.
Kemudian Habib
membuat sebuah pengumuman yang berbunyi: “Kepada siapa saja yang menginginkan
harta benda milik Habib, datanglah dan ambillah!”
Orang-orang datang
berbondong-bondong, Habib memberikan segala harta kekayaannya kepada mereka
dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu pun juga. Namun masih ada seseorang yang
datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar
isterinya sendiri. Kemudian datang pula seorang lagi dan kepadanya
Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga
tubuhnya terbuka. Dan ia lalu pergi menyepi ke sebuah tempat di
pinggir sungai Euphrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk
beribadah kepada Allah. Siang malam ia belajar di bawah bimbingan Imam
Hasan Al-Bashri namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal al-Qur’an,
dan karena itulah ia dijuluki ’ajami atau si orang Barbar. ‘
Waktu berlalu, Habib
sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap
menuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan
rumahnya menuju tempat uzlahnya untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah
dan apabila malam tiba barulah ia pulang.
”Di mana sebenarnya
engkau bekerja sehingga tak ada sesuatupun yang engkau bawa pulang?” isterinya
mendesak.
”Aku bekerja pada
seseorang yang sangat Pemurah”, jawab Habib.
“Sedemikian
Pemurahnya Ia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-Nya, apabila
saatnya nanti pasti ia akan memberi,
karena seperti
katanya sendiri: ’Sepuluh hari sekali aku akan membayar upahmu’ “.
Demikianlah setiap
hari Habib pergi ke tempat uzlahnya untuk beribadah kepada Allah. Pada
waktu shalat Zhuhur di hari yang kesepuluh, sebuah pikiran mengusik
batinnya. “Apakah yang akan kubawa pulang malam nanti? Apakah yang harus
kukatakan kepada isteriku?”.
Lama ia termenung di
dalam perenungannya itu. Tanpa sepengetahuannya Allah Yang Maha Besar telah
mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawakan
gandum sepemikulan keledai, yang iain membawa seekor domba yang
telah dikuliti, dan yang terakhir membawa minyak, madu,
rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang
pemuda gagah yang membawa sebuah kantong berisi 300 dirham perak.
Sesampainya di rumah
Habib, si pemuda mengetuk pintu.
“Apakah maksud kalian
datang kemari?”, tanya istri Habib setelah membukakan pintu.
“Majikan kami telah
menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini”, pemuda gagah itu
menjawab, “sampaikanlah kepada Habib: ’Biia engkau melipatgandakan
jerihpayahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu’ “’. Setelah berkata
demikian merekapun berlalu.
Setelah matahari
terbenam Habib berjalan pulang. Ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir
sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau roti dan masakan-masakan. Dengan
berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan
bersikap lembut kepadanya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya di waktu
yang sudah-sudah.
“Wahai suamiku”, si
isteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih.
Lihatlah segala sesuatu yang telah dikirimkannya kemari melalui seorang
pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan: ’Bila Habib pulang,
katakanlah kepadanya, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka
Kami akan melipatgandakan upahmu` ”.
Habib terheran-heran.
“Sungguh menakjubkan!
Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedemikian banyak imbalan yang
dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti?”
Sejak saat itu Habib
memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya
untuk Allah semata-mata.
AL-FUZAIL BIN IYAZ
Oleh Ridha Armaya Putri
Al-fuzail bin iyaz, nama lengkap nya
Abu ali al-fuzail bin iyaz at-Taqalani. Tempat lahir di Khurasan, diriwayatkan
bahwa sewaktu masih remaja fuzail adalah seorang penyamun. Ia dikenal dengan
julukan “ sang pembegal yang bertaubat “. Setelah bertaubat , fuzail
pergi ke kufah kemudian ke makkah, dimana ia tinggal beberapa tahun lamanya
hingga wafatnya pada tahun 187H/803M. Nama Fuzail cukup terkenal sebagai
seorang ahli hadits, dan keberaniannya mengkhotbahi khalifah Harun ar-rasyid
sering diperbincangkan orang.
Sebagai seorang remaja, fuzail
mendirikan kemah ditengah padang pasir
antara Merv dan Bawrd.Fuzail memiliki teman yang semuanya penjudi dan
pencuri. Dan teman fuzail membawa hasil rempasan/rampok mereka ke fuzail karena
atasan kepala mereka.Pada awal pertualangan nya Fuzail tergila-gila kepada
seorang wanita . Fuzail selalu mengadiahkan hasil rampasannya kepada wanita
kekasihnya itu. Karena mabuk asmara fuzail sering memanjat dinding rumah sang
wanita tanpa peduli keadasan cuaca bagaimanapun. Harta benda orang miskin tidak
akan dirampas Fuzail. Untuk setiap korbannya, ia selalu meninggalkan sebagian
dari harta bendanya yang dirampas, sebenarnya semua kecendrungan Fuzail tertuju
kepada perbuatan baik.
Ibrahim Bin Adham
Oleh Rizky Ananda Putri
1.
Biografi Ibrahim Bin Adham
Nama lengkapnya
adalah Ibrahim bin Adham bin al-Manshur al-‘Ijli. Ia lahir di Balakh,
sebelah Timur Khurasan. Karena itu ia dikenal pula dengan nama Abu
Ishaq al-Balakhi. Menurut Imam al-Bukhari (wafat 870 M), Ibrahim bin
Adham adalah keturunan kedua dari Umar
bin al-Khaththab ra. Ibrahim bin Adham adalah seorang penguasa di
Balakh yang kaya-raya dengan istananya yang megah. Namun, meski hidup
bergelimang harta dan kekuasaan, hatinya tidak menjadi lalai.
Lama-lama,
gemerlapnya dunia tak membuat dirinya bahagia, juga tak bisa menghadirkan
ketenangan jiwa. Akhirnya, ia meninggalkan istana dan semua kemewahan duniawi.
Ia pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama.
Pencariannya ditopang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Ia hidup sebagai
seorang yang amat zuhud dan wara’. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan sangat
penyantun terhadap sesama, terlebih lagi kepada orang-orang miskin
Tentang keutamaan
Ibrahim bin Adham, Imam an-Nasa’i berkata, “Ibrahim bin
Adham tsiqah (terpercaya). Ia salah seorang yang amat zuhud.” (Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh
Baghdâd, 3/219).
Karena keilmuan,
keikhlasan, kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah
seorang Sulthân al-Awliyâ’. Bahkan menisbatkan Sulthân al-Awliyâ’
kepada Ibrahim bin Adham (wafat 206 H) telah amat populer
Terkait keikhlasannya,
Ibrahim bin Adham, jika ikut terlibat dalam peperangan (jihad), misalnya, usai
perang ia tidak mengambil ghanîmah
(rampasan perang) yang menjadi haknya. Hal itu ia lakukan demi
meraih kesempurnaan pahala jihad
Terkait kewaraan dan
kezuhudannya, Ibrahim bin Adham rela meninggalkan istanannya yang megah dan
segala kemewahan duniawi. Ia pergi menuju Syam untuk mencari rezeki yang halal
dengan tangannya sendiri. Ia bekerja di kebun milik orang lain dengan tekun
Sikap zuhudnya juga tampak saat Ibrahim bin Adham pergi safar ke Baitullah
(Makkah). Saat itu ia berpapasan dengan seorang Arab dusun yang mengendarai
seekor unta. Orang itu berkata, “Syaikh, mau kemana?” Ibrahim bin Adham
menjawab, “Ke Baitullah.” Orang itu bertanya lagi, “Anda ini seperti
tak waras. Saya tidak melihat Anda membawa kendaraan, juga bekal, sementara
perjalanan sangat jauh.” Ibrahim kembali berkata, “Sebetulnya saya
memiliki beberapa kendaraan. Hanya saja, engkau tidak melihatnya.” Orang
itu bertanya, “Kendaraan apa gerangan?” Ibrahim bin Adham berkata, “Jika
di perjalanan aku tertimpa musibah, aku menaiki ‘kendaraan sabar’. Jika di
perjalanan aku mendapatkan nikmat, aku menaiki ‘kendaraan syukur’. Jika di
perjalanan Allah SWT menetapkan suatu qadhâ’ untukku, aku menaiki ‘kendaraan
ridha’.” Orang Arab dusun itu lalu berkata, “Jika demikian, dengan izin
Allah, teruskan perjalanan Anda, Syaikh. Anda benar-benar berkendaraan. Sayalah
yang tidak berkendaraan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 1/234).
Dalam kisah lain, Sahl bin Ibrahim menuturkan, “Aku berteman dengan Ibrahim
bin Adham. Saat aku sakit ia membiayai semua pengobatanku dan memenuhi semua
keinginanku. Setelah agak sembuh dari sakitku, aku bertanya, “Ibrahim, di
manakah keledaimu?” Ibrahim bin Adham menjawab enteng, “Telah kujual untuk
memenuhi keperluanmu.” Aku bertanya kembali, “Lalu kita naik apa?” Ibrahim bin
Adham berkata, “Saudaraku, naiklah ke atas punggungku.” Kemudian ia membawa aku
ketiga tempat." (Al-Qusairi, Risâlah al-Qusyairiyyah).
Ibrahim bin Adham amat terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang dalam dan
amat menyentuh kalbu. Ia, antara lain, berkata, “Ada tiga perkara yang paling
mulia di akhir zaman: (1) teman dekat di jalan Allah; (2) mengusahakan harta
yang halal; (3) menyatakan kebenaran di hadapan penguasa.” (Abu al-Hajjaj
al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 2/35).
Suatu saat Ibrahim bin Adham berjalan melewati sebuah pasar di Bashrah,
Irak. Tiba-tiba ia dikelilingi oleh banyak orang. Ia ditanya oleh mereka
tentang firman Allah SWT yang artinya, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku
akan mengabulkan do’a kalian.” (TQS Ghafir [40]: 60). Mereka
mengatakan, “Kami telah berdoa kepada Allah, namun mengapa belum juga
dikabulkan?” Lalu beliau menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh
sepuluh perkara: (1) Kalian mengklaim mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan
hak-hak-Nya; (2) Kalian membaca Kitab-Nya, tetapi tidak mengamalkan isinya; (3)
Kalian mengaku memusuhi setan, tetapi mengikuti ajakannya; (4) Kalian mengaku
mencintai Rasulullah saw., tetapi meninggalkan sunnah-sunnahnya; (5) Kalian mengklaim
merindukan surga, tetapi tidak melakukan amalan-amalan penduduk surga; (6)
Kalian mengaku takut neraka, tetapi justru banyak melakukan perbuatan penduduk
neraka; (7) Kalian mengatakan kematian itu pasti, tetapi tidak menyiapkan bekal
untuk menghadapi kematian itu; (8) Kalian sibuk mencari aib orang lain,
sedangkan aib kalian sendiri tidak kalian perhatikan; (9) Kalian makan dari
rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya; (10) Kalian sering
menguburkan orang mati, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian
mereka.”
Mendengar nasihat itu, orang-orang itu pun menangis (Ibn
Rajab al-Hanbali, Rawa’i’ at-Tafsîr, 2/230; Jâmi’ Bayân al-’Ilmi wa Fadhlihi, 12/2).
Ibrahim bin Basyar ash-Shufi al-Khurasani, pembantu Ibrahim bin Adham,
menuturkan kisah lain: Pernah seorang sufi datang kepada Ibrahim bin Adham dan
bertanya, “Abu Ishaq, mengapa hatiku seperti terhijab dari Allah ‘Azza wa
Jalla?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Karena hatimu mencintai apa yang
Allah benci. Kamu lebih mencintai dunia dan cenderung pada kehidupan yang penuh
tipuan, senda-gurau dan permainan.” (Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi,
Târîkh Baghdâd, 6/47).
Ibrahim bin Adham juga berkata, “Amal terberat di mizan (timbangan amal
di akhirat) adalah yang paling memberatkan badan (dilakukan dengan
susah-payah).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’,
8/16).
Menurut Ibnu
Asakir, Ibrahim bin Adham wafat sebagai syuhada pada 162 H dalam
sebuah peperangan (jihad). Ia dimakamkan di Jabala,
Suriah.
2. MUTIARA
HIKMAH IBRAHIM IBN ADHAM
a)
Nasihat Ibrahim bin Adham
Suatu ketika ibeahim
bin adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang
ramai. Selang beberapa saat beliaupun di kerumuni banyak orang yang ingin minta
nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya,:” wahai guru! Allah telah
berjanji dalam kitab-Nya bahwa dia akan mengabulkan doa hambaNya. Kami telah
berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami
tidak di kabulkan?”
Ibrahim bin Adham
diam sejenak lalu berkata,: “saudara sekalian, ada sepuluh hal yang menyebabkan
doa kalian tidak dijawab oleh Allah.
1.
Kalian
mengenal allah, namun tidak menunaikan hak-hakNya
2.
Kalian
membaca al-quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya
3.
Kalian
mengakui bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian
mengikuti jejak dan perintahnya.
4.
Kalian
mengaku mencintai rasulullah, tapi kalian suka meninggalkan ajaran dan
sunnahnya
5.
Kalian
sangat menginginkan surga, tapi kalian tidak pernah melakukan amalan ahli surga
6.
Kalian
takut di masukkan kedalam neraka tapi kalian dengan senangnya sibuk dengan
perbuatan ahli neraka.
7.
Kalian
mengaku bahwa kematian pasti datang tapi kalian tidak pernah mempersiapkan
bekal untuk menghadapinya.
8.
Kalian
sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri
9.
Kalian
setap hari memakan rejeki allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
10.
Kalian
sering mengantar jenazah ke kubur tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan
mengalami hal yang serupa.
Setelah mendengar
nasehat itu, orang-orang itu menangis. Dalam kesempatan lain ibrahim kelihatan
murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seorang bertanya padanya.
Ibrahim menjawab: “ saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat
mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat
perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal
apa-apa. Serta saya melihat allah mengadili semua makhluk di padang masyar,
sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan
segala amal perbuatan saya selama hidup didunia.”
b) Mutiara
Hikmah
1)
Ketika
berthawaf, ia berkata kepada seorang lelaki, ketahuilah bahwa kamu tidak kan
mencapai tingkatan orang saleh sebelum kamu melalui 6 jalan atau 6 pos
penjagaan, yaitu: Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesenangan dan membuka
pintu gerbang kesengsaraan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesombongan
dan membuka pintu gerbang kerendahan, hendaklah kamu menutup gerbang hidup
santai dan membuka pintu gerbang perjuangan/kerja keras, tutuplah pintu tidur
dan buka lah pintu bangun malam, tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu
kemiskinan, tutuplah pintu harapan dan bukalah pintu persiapan kematian
2)
Pernah
Ibrahim bin Adham menjaga kebun anggur, lalu lewat seorang prajurit dan
berkata,:“berilah kami anggur!”. “pemiliknya tidak menyuruhku begitu.”
Jawabnya. Prajurit itu memukulnya dengan cambuk, sementara ibrahim hanya
mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata “pukullah kepala ini selama ia durhaka
kepada Allah!” akan tetapi prajurit itu tidak sanggup memukulnya lalu pergi.
3)
Sahal
bin Ibrahim menuturkan, “ saya pernah bersahabat dengan Ibrahim bin Adham.
Ketika saya sakit, ia membiayai pengobatanku. Ketika saya menginginkan sesuatu,
ia menjual keledainya lalu uangnya di habiskan untukku. Ketika saya
dihadapannya, saya mengatakan, “ wahai ibrahim dimanakah keledai itu?” dia
menjawab ringan, “saya jual.” Saya bertanya lagi, “lalu saya naik apa?” dia
menjawab “wahai saudaraku naiklah diatas punggungku.” Kemudian ia membawaku
ketiga tempat.
Suatu hari ketika
tawaf Ibrahim ibn Adham bertemu dengan seorang laki-laki. Ia pun berkata kepada
laki-laki tersebut, “Ketauhilah bahwa engkau tidak akan memperoleh derajat
orang-orang shalih sampai engkau dapat melewati 6 rintangan.
1)
Pertama,
tutuplah pintu kesenangan dan bukalah pintu kesengsaraan
2)
Kedua,
tutuplah pintu kemuliaan dan bukalah pintu kehinaan
3)
Ketiga,
tutuplah pintu istirahat bukalah pintu perjuangan
4)
Keempat,
tutuplah pintu tidur bukalah pintu terjaga di malam hari
5)
Kelima,
tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kefakiran
6)
Keenam,
tutuplah pintu angan-angan dan bukalah pintu persiapan untuk kematian.”
Sahl ibn Ibrahim
menuturkan “Aku berteman dengan Ibrahim ibn Adham. Ketika aku sakit ia
membiayai semua pengobatanku, ketika aku menginginkan sesuatu ia memenuhi
keinginanku dengan menjual keledainya. Setelah sembuh dari sakit, aku bertanya,
“Wahai Ibrahim, dimanakah keledai itu?” Ibrahim ibn Adham menjawab dengan
ringan “Telah aku jual”, lalu aku pun bertanya kembali kepadanya “lalu aku naik
apa?” Ibrahim ibn Adham pun berkata “wahai saudaraku naiklah diatas
punggungku.” Kemudian ia membawaku ketiga tempat.”(Mochamad Bukhori Zainun)
3. Gerakan
dan Ajaran Ibrahim bin Adham
Ibrahim Bin Adam
beriman setelah mendengan bisikan Tuhan ketika sedang berburu di hutan.
Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan aksetisme (zuhud) hidup dari hasil
kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarannya terutama berkisar
tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebiih menyuntukan terutama dengan
kontrol diri (muroqobah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran ibrahim dapat dilihat
dari ujaran-ujarannya.
Yang di maksud dengan
aksetisme adalah khusus, aksetisme bukanlah kependekatan atau terputusnya
kehidupan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para
penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana
mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak
menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari
Tuhannya. Karena itu dalam islam aksetisme tidak bersyaratkan miskin.
Asketisisme dalam
islam ada 4 faktor yang mengembangkan asketisisme dalam islam yaitu :
a)
Ajaran-ajaran
islam itu sendiri. Kitab suci al-quran sendiri telah mendorong manusia agar
hidup shaleh, takwa kepada allah, menghindari dunia beserta hiasannya,
memandang rendah hal-hal duniawi, dan memandang tinggi kehidupan diakhirat.
b)
Revolusi
rohaniyah kaum muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
c)
Dampak
asketisisme masehi. Dampaknya itu terhadap para asketis muslim. Setelah
timbulnya islampun langsung bergabung. Namun dampak asketisisme masehi itu
lebih banyak terhadap aspek organisasionalnya timbang terhadap aspek
prinsip-prinsip umumnya. Sehingga diriwayatkan adanya perkunjungan para sufi
kepada para pendeta, ketempat-tempat peribadatannya, yang kemudian meminta
sebagian dari ajaran mereka.
d)
Penentang
terhadap fiqih dan kalam.
4. Dasar-Dasar
Pemikiran Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham
memiliki beberapa dasar-dasar pemikiran yang beliau kembangkan, antara lain
ialah:
a)
Tasawuf
adalah keindahan dan kebesaran menuju kebebasan sejati. Tasawuf artinya
kekerasan pikiran dan kekakuan, juga bukan menahan diri dari perasaan, bukan
pula mengajak manusia kepada suatu kehidupan yang melarat atau susah juga bukan
untuk meninggalkan fitrah. Akan tetapi dengan memahami tasawuf seseorang dapat
menuju kepada pilihan yang benar, hidup zuhud, berlaku adil dengan keutamaan
yang dapat menuju kepada kesucian.
b)
Kita
harus dapat memperoleh hikmah dri hidup ini untuk itu kita harus taqwa kepada
Allah SWT. Sebab ketaqwaan dapat mendatangkan dan memunculkan keikhlasan hati
untuk dapat berbakti kepada Allah SWT. Supaya kita mendapatkan hikmah yang
memancar dari kesucian hati dan ketaqwaan.
Bisyr Bin Harits
Oleh : Salsalbila
Bisyr bin Harits
dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota
Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup
berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan
pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan
dan bertelanjang kaki. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia
sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Ma’mun.
1.
Biografi
Bishr lahir di Merv
dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin
al-Attar di dalam buku Tadzkirat al-Aulia. Attar meriwayatkan sewaktu muda, ia
adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan
terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu membeli minyak mawar
untuk memerciki kertas tersebut kemudian me-nyimpannya dengan hati-hati di
rumahnya.
Malam harinya seorang
manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan
kepada Bisyr: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah
mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah
memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah
mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia
maupun di akhirat nanti”.
“Bisyr adalah seorang
pemuda berandal”, si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi
salah”.
Oleh karena itu ia
pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja
mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya,
ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia
mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: “Bisyr
sedang mengunjungi pesta minum anggur”.
Maka pergilah ia ke
rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya
tersebut kepada Bisyr.
Kemudian Bisyr
berkata kepada teman-temann minumnya, “Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh
karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak
akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!”
Attar selanjutnya
meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian
salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak
pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki ‘si
manusia berkaki telanjang’.
2. Dari
sumber lain
Dia disebut Al Hafi
(yang tidak memakai sandal) karena dia mendatangi tukang sol sandal meminta
sebuah tali untuk salah satu sandalnya yang putus. Tukang sandal itu berkata:
“Betapa sering kalian (maksudnya sufiyah) merepotkan orang lain”. Maka Bisyr
melemparkan kedua sandalnya dan bersumpah tidak akan memakai sandal setelah
itu. Hal tersebut menjadi ciri khas baginya dan menjadi pembeda yang
membedakannya dari sufi lain.
Sedangkan menurut
Fariduddin Aththar dalam bukunya Tadzkiratul Auliya, diceritakan bahwa Bisyr
bin Harits ditanya mengapa beliau tidak memakai alas kaki lagi? Beliau menjawab
bahwa ketika beliau bertaubat pertama kali dulu dalam keadaan tidak beralas
kaki. Dan beliau menghargai hal itu adalah saat-saat di mana hidayah Allah
turun kepada beliau.
Pada asal mulanya,
Bisyr seorang pencuri (Catt: Dalam riwayat lain adalah seorang pemabuk), lalu
bertaubat dan memohon ampun. Penyebab taubatnya adalah dia menemukan sebuah
kertas yang bertuliskan nama Allah di sebuah kamar mandi umum, lalu dia
mengangkat tulisan itu ke langit dan berkata: “Tuanku (maksudnya Allah),
nama-Mu terbuang di sini dan diinjak-injak”. Kemudian dia membawa tulisan itu
ke penjual minyak wangi dan membeli wewangian ghaliyah untuk mengharumkan nama
Allah tersebut dan meletakkannya sampai tidak bisa diraih orang. Karena itu,
Allah menghidupkan hatinya dan memberinya ilham serta menjadikannya ahli ibadah
dan zuhud. Sampai konon, seseorang berkata kepadanya dalam mimpi: “Hai Bisyr,
kamu harumkan nama-Ku, pastu Aku harumkan namamu di dunia dan akhirat”.
Tingginya derajat
Bisyr membuat Al Makmun meminta tolong kepada Ahmad bin Hanbal untuk menghadap
Bisyr, namun Bisyr menolak. Al Makmun berkata: “Di distrik ini tidak seorangpun
yang berwibawa, selain kiyai Bisyr”. Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai wirai
dan menjawab: “Astaghfirullah, tidak halal aku berbicara mengenai wirai,
sementara aku mau memakan hasil bumi Bagdad. Seandainya ada Bisyr, tentu dia
berhak menjawab kamu, sebab dia tidak mau memakan hasil bumi Bagdad maupun
makanan Sawad Irak. Dia layak berbicara mengenai wirai”.
Kedudukan Bisyr di
antara ahli fikih dan sufiyah adalah sama. Hal itu jelas dari ucapan Ibrahim Al
Harbi, bahwa dia melihat ulama di seluruh dunia, namun tidak pernah melihat
seperti tiga orang: Ahmad bin Hanbal yang kaum wanita tidak mampu melahirkan
orang seperti dia, Bisyr bin Al Harits yang mulai ujung rambut sampai ujung
kaki penuh dengan ilmu, Abu Ubaid Al Qasim bin Salam bagaikan gunung diberi
ilmu”.
3. Riwayat
haditsnya
Jika kita
membandingkan metodhe Bisyr dalam menetapkan sahihnya hadits, maka kita harus
membandingkan antara dia dengan Ahmad bin Hanbal. Metodhe Ahmad dalam jarh wa
ta’dil adalah melihat pada figur muhadits, sedangkan metodhe Bisyr bergantung
pada hubungan antara para ulama hadits. Abbas bin Abdul Adhim Al Anbari
berkata: “Seseorang mendiskusikan sebuah hadits kepada Ahmad yang diriwayatkan
oleh Isa bin Yunus, lalu Ahmad berkata: “Isa tidak meriwayatkan hadits ini dan
hadits ini hanya ada pada Bisyr bin Al Harits”. Abbas berkata: “Aku tidak bisa
menghadap Bisyr, kecuali dengan perantara hadits ini. Aku mengucapkan salam
kepadanya, lalu menceritakan apa yang dikatakan Ahmad tersebut, lalu Bisyr
berkata: “Berilah aku keselamatan, berilah aku keselamatan, ini sungguh ujian
dan cobaan. Sebuah hadits disebut, lalu dikatakan bahwa hadits ini tidak sahih,
kecuali pada seseorang (maksudnya Bisyr sendiri)”.
Riwayat hadits menurut Bisyr sangat berkaitan dengan jalan keselamatan seseorang, faedahnya ia hafal hadits dan menulis hadits untuk ketenaran. Diriwayatkan bahwa dia berkata kepada ulama hadits: “Tunaikanlah zakat hadits”. Mereka bertanya: “Apa zakat hadits?” Bisyr berkata: “Dari 200 hadits amalkanlah 5 hadits”. Yakni dari 200 hadits yang kalian tulis dan hafal, amalkanlah 5 buah hadits, sebagaimana seseorang wajib menzakatkan 5 dirham jika mempunyai 200 dirham.
Riwayat hadits menurut Bisyr sangat berkaitan dengan jalan keselamatan seseorang, faedahnya ia hafal hadits dan menulis hadits untuk ketenaran. Diriwayatkan bahwa dia berkata kepada ulama hadits: “Tunaikanlah zakat hadits”. Mereka bertanya: “Apa zakat hadits?” Bisyr berkata: “Dari 200 hadits amalkanlah 5 hadits”. Yakni dari 200 hadits yang kalian tulis dan hafal, amalkanlah 5 buah hadits, sebagaimana seseorang wajib menzakatkan 5 dirham jika mempunyai 200 dirham.
4. Tasawuf
menurut Bisyr
Sufiyah disebut
sufiyah karena kejernihan hatinya dan kesucian batinnya. Bisyr berkata: “Sufi
adalah orang yang hatinya dijernihkan oleh Allah”. Dengan demikian, maka inilah
puncak ciri khas bagi tasawuf menurut Bisyr secara khusus dan sufiyah muslimin
secara umum.
Dulu kami sudah
mencantumkan devinisi tasawuf menurut Ma’ruf Al Karkhi dan devinisi ini
menguatkan teori Bisyr di atas. Metodhe Bisyr mengenai thariqah tampak dalam
ucapannya: “Barangsiapa ingin agung di dunia dan selamat di akhirat, maka
janganlah meriwayatkan hadits, jangan bersaksi, jangan menjadi imam dan jangan
memakan makanan milik orang lain”. Asas tasawuf menurut Bisyr adalah anti
terhadap segala sesuatu yang tidak berguna di akhirat, termasuk hadits dan
meriwayatkan hadits.
Asas zuhud menurut
Bisyr adalah wirai yang menurut As Siraj Ath Thusi merupakan maqam yang mulia.
Pernah suatu ketika Bisyr diundang untuk menghadiri sebuah jamuan makan, lalu
makanan dihidangkan di hadapannya. Bisyr berusaha mengulurkan tangannya, namun
ternyata tidak bisa. Bisyr berusaha sekali lagi, namun tidak berhasil juga
sampai tiga kali. Seseorang yang mengenalnya berkata: “Tangan Bisyr tidak bisa
diulurkan kepada makanan yang haram atau syubhat. Mestinya tuan rumah tidak
perlu mengundang beliau ke perjamuan makan ini”.
Bisyr bekerja sebagai
penenun kain dan itulah sumber kehidupannya sampai meninggal dunia. Dia tidak
mau menerima pemberian siapapun, kecuali seorang muridnya, yaitu Sirri As
Saqathi. Sikap tersebut sangat berbeda dengan sikap Ma’ruf Al Karkhi yang
menerima makanan halal yang diberikan kepadanya. Ketika ditanya, bahwa
saudaranya Bisyr tidak mau menerima pemberian, Ma’ruf menjawab: “Bisyr dikuasai
wirai, sedangkan aku dibentangkan oleh makrifat. Aku hanya seorang tamu di
rumah Tuhanku. Jika Dia memberi makan aku makan, jika Dia melaparkan aku, aku
sabar”.
Masih ada poin
penting yang berkaitan erat dengan tasawuf Bisyr dan tasawuf Islam secara
keseluruhan, yaitu itikad sufiyah, bahwa Khidhir masih hidup dan belum
meninggal. Melihat Khadhir termasuk keramat wali dan Al Qusyairi mengatakan,
bahwa Bisyr berkata: “Aku masuk rumah, tiba-tiba ada seorang lelaki, sehingga
aku bertanya: “Siapakah anda?” Dia menjawab: “Saudaramu Khadhir”. Aku berkata:
“Doakanlah aku kepada Allah”. Khadhir berkata: “Semoga Allah meringankan ibadah
bagimu”. Aku berkata: “Doakan lagi”. Khadhir berkata: “Dan semoga Allah
menutupi ibadahmu”.
5. Saudari-Saudari
Bisyr
Hal lain yang
menguatkan kedudukan Bisyr dalam sejarah tasawuf Islam adalah mempunyai
beberapa saudari yang wirai dan menambah keagungan Bisyr. Bisyr mempunyai tiga
orang saudari, yaitu Mudlghah, Mukhah, Zubdah. Mereka ahli zuhud, ahli ibadah
dan wirai. Mudhghah mati sebelum Bisyr. Mukhah menemui Ahmad bin Hanbal dan menanyakan
wirai dan Ahmad mengagumi pertanyaan-pertanyaannya. Zubdah berkata: “Sesuatu
yang paling berat bagi hamba adalah dosa dan sesuatu yang paling ringan bagi
hamba adalah taubat. Kenapa dia tidak menolak sesuatu yang paling berat dengan
sesuatu yang paling ringan?”
6. Mencari Aib Bisyr bin Harits
Ketika hari Jumat tiba, Bisyr pun datang dari Baghdad dengan membawa
makanan untuk si Di Baghad, ada seorang pedagang yang membenci kaum sufi,
hingga ia ingin membuntuti Bisyr Al Hafi waktu selesai shalat Jumat, untuk
mencari aibnya. Saat Bisyr Al Hafi keluar dari masjid dengan segera, laki-laki
itu berkata dalam hatinya,”Inikah yang disebut orang zuhud? Ia tidak tinggal
lama di masjid?”
Kemudian si laki-laki terus mengikuti Bisyr Al Hafi yang sedang berlalu
menuju pasar, dimana beliau membeli roti serta kue-kue. Si laki-laki semakin
curiga, ia pun ingin melihat bagaimana Bisyr menyantap makanan itu. Setelah itu
Bisyr Al Hafi pergi menuju padang pasir, saat itu si laki-laki itu berkata
dalam hati,”Ia mencari sayuran dan air rupanya”.
Ternyata Bisyr yang terus berjalan menyusuri padang pasir hingga waktu
ashar tiba dan memasuki sebuah desa, sedangan si pedagang terus mengikutinya.
Di desa itu Bisyr mendatangi sebuah masjid dan di sana ada seorang laki-laki
yang sakit. Kemudian Bisyr menyuapi si sakit dengan makanan yang ia bawa
sebalumnya dari Baghdad. Sedangkan si laki-laki penguntit setelah mengetahui
hal itu ingin melihat-lihat suasana kampung tersebut.
Setelah si penguntit kembali ke tempat laki-laki yang sakit Bisyr sudah
tidak ada di tempat. Laki-laki yang sakit itu menyampaikan bahwa Bisyr
telah kembali ke Baghdad. Dan dari laki-laki itu si pedagang pun sadar bahwa
jarak desa itu dengan Baghdad cukup jauh, sedangkan ia tidak memiliki uang
untuk menyewa kendaraan dan tidak kuat lagi untuk berjalan. Si sakit pun
menyarankan agar pedagang itu tinggal sementara di desa tersebut dan menunggu
kedatangan Bisyr pada Jumat yang akan datang.
sakit. Si sakit pun menyampaikan kepada Bisyr,”Ini ada yang mengikutimu
dari Baghdad, ia tidak bisa pulang. Hantarkan ia ke rumahnya”.
Akhirnya Bisyr pun mengantarkan si penguntit hingga sampai Baghdad dan
melarangnya untuk melakukan hal itu kembali.
Setelah peristiwa itu terjadi, si pedagang memutuskan untuk bersahabat
dengan orang-orang sufi dan membelanjakan seluruh hartanya untuk mereka.
7. Wafatnya Sang Waliyullah
Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya pada
tahuan 277 H/ 841`M, tiba-datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya.
Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang
tadi. Dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang
sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut
menghadap Tuhannya.
Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”
Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.
“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi.
Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”
Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.
“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi.
Biografi
ma'ruf al kharkhi
Oleh : Tri Widya wati
Pada
perkembangan Tasawuf, ada seorang sufi yang sangat terkenal pada masanya.
Ketenarannya tidak hanya dikalangan umat Muslim saja akan tetapi pada umat
non-Muslim juga sering diakui sebagai bagian dari mereka. Sufi itu adalah
Ma’ruf al-Karkhi, nama lengkapnya adalah Abu Mahfudh Ma’ruf bin Fairuz
al-Kurkhi / al-Karkhi (w. 200H./815M.). Perihal nisbah beliau al-Kurkhi atau
al-Karkhi tidak diketahui alasan yang pasti. Akan tetapi diyakini bahwa
al-Kurkhi atau al-Karkhi adalah : (1) nama sebuah kawasan di Irak Timur, (2)
nama sebuah pemukiman di Kota Baghdad. Di tempat inilah sufi itu menetap hingga
wafat.
Ma’ruf al-Karkhi
dilahirkan dari keluarga Nashrani. Sejak kecil Ma’ruf dididik di lingkungan
Romo dan dibekali dengan kepercayaan Nashrani. Ada sebuah kejadian yang menarik
dari Ma’ruf al-Karkhi ini, yaitu ketika ada seorang Romo yang sedang
mengajarkan tentang Tuhan dan menyatakan bahwa “Allah itu satu dari Trinitas”.
Pada saat itu juga Ma’ruf menolak terhadap pernyataan tersebut, dan dia
menyatakan bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak dalam Trinitas. Karena
pernyataannya itu melawan kepercayaan Gereja dan Romo tersebut, maka Ma’ruf
diusir dari lingkungan Gereja, kemudian dia memutuskan untuk mengembara dan
mencari sebuah kebenaran. Pada pengembaraannya itu bertemu dengan seorang Imam
dari sekte Syi’ah Imamiyyah, yaitu Imam Ali bin Musa al-Ridha. Pada Imam Ali
Musa ar-Ridha inilah dia belajar tentang banyak hal, dan pada akhirnya beliau
menyatakan masuk Islam di hadapan Imam Ali bin Musa tersebut.
Perlu diketahui
bahwasanya Imam Ali bin Musa al-Ridha ini adalah keturunan Ahlulbait, dan
beliau dipercayai sebagai Imam kedelapan dari sekte Syi’ah Imamiyyah. Dan para
Imam yang ada pada sekte Imamiyyah ini adalah : (1) Ali bin Abi Thalib, (2)
Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Ali Zainal Abidin, (5) Muhammad
al-Baqir, (6) Ja’far as-Shadiq, (7) Musa al-Khadim, (8) Ali ar-Rdha, (9) M.
al-Jawwad, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-‘Askari, (12) dan M. al-Mahdi. Imam
Ali ar-Ridha memberikan pengajaran terpenting kepada Ma’ruf al-Karkhi, yaitu
sebuah tradisi Intelektual dan tradisi Spiritual atau Ibadah.
Ketika sekian lama
beliau belajar bersama dengan Imam Ali bin Musa al-Ridha, maka semakin kuatlah
keimanan dan keyakinan beliau tehadap Islam. Maka beliau sudah mulai dipandang
sebagai seorang yang mempunyai intelektual yang cerdas dan menjadi seorang
sufi. Pada suatu ketika kedua orang tua Ma’ruf al-Karkhi sangat merindukannya,
dan menginginkan beliau untuk kembali kepada mereka. Karena kerinduan kedua
orangtuanya itu, maka terjadilah kontak batin antara beliau dengan Ibunya.
Dengan perasaan itu maka beliau kembali kepada keluarganya dan bertemu dengan
orang tua beliau. Setelah itu beliau ditanya oleh orang tuanya, Engkau beragama
apa? Maka beliau menjawab : “Aku memeluk Agama yang suci”. Karena orang tuanya
berjanji akan mengikuti Agama yang dipeluk oleh anaknya sebelum beliau merantau
dan mencari kebenaran, maka ketika beliau mendapatkan Agama yang lurus menurut
beliau maka orang tuanya ikut masuk kepada Agama tersebut. Setelah mendengar
itu kedua orangtuanya berpindah Agama dari agama Kristiani kepada Agama Islam.
Biografi Syekh Ahmad
Bin Ali Bin Yahya Al-Badawi
Oleh : Nurul Khalisah
Seyekh Ahmad Bin Ali
Bin Yahya Al-Badawi, Lhir dikota Fes, Maroko pada tahun 596 H/ 1199 M Adalah
seorang imam Syufi, wali kutub dan pendiri tariqah Al-Badawiyah. Beliau
dijuluki AL-Badawi selalu menutup wajahnya seperti kebiasaan arab Badwi. Kakek
beliau sebelumnya bermukim di jazirah Arab. Kakek beliau datang di fes maroko
akibat semangkin berutalnya aksi Al Hajjaj Bin Yusuf Ats-Tsaqafi terhadap
kalangan Alawiyah.
Nasab Al-Badawi dari
jalur ayah sampai kepada syaidinah husain bin Ali, bin fatimah azzahra binti
Rasulullah SAW. berdasarkan kesepakatan ulama nasab, dan alih sejrah secara
lengkap nasab beliau adalah Ahmad Bin Ali Bin Yahya Bin Isa Bin Abu bakar Bin Ismail Bin Umar Bin Ali Bin
Usman Bin Husain Bin Muhammad Bin Musa Bin Yahya Bin Isa Bin Muhammad Bin Musa
Bin Hasan Bin Ja’far azzaki Bin Ali Alhadi Bin Muhammad Aljawad Bin Ali Ridho
Bin Musa Alkadhim Bin Ja’far Asyadiq Bin Muhammad Albaqir Bin Ali ZainalAbidin
Bin Alhasan Bin Ali Bin Abi Tholib.
Sebagai alih nasab
dan sejarah meragukan sampainya rantai nasab beliau kepada Rasulullah SAW.
diantara mereka adlah Imam Faquruddin Arazi yang mengatakan bahwa hasan bin ja’far
bin Ali alhadi adalah orang yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah
ia mempunya anak atau tidak sedangkan kalangan syiah membenarkan nasab
Albadawi. Mereka menisbatkannya kepada Ali bin ja’far azzaki bukan kepada
Alhasan bin ja’far azzaki, kepada alhasan tidak mempunyai keturunan.
Beliau hijrah kemekah
saat umur 7 tahun ( tahun 603 H. /1206 M), dimana perjalanan disana membutuhkan
waktu 4 tahun, 3 tahun diantaranya beliau bermukim dimesir. Dimekah berdasarkan
sumber-sumber dari kalangan dari syufiah, beliau selalu beristiqomah melakukan
tawaf semenjak kecil setelah itu beliau masuk ke sebuah gunung di abil qubais
untuk melakukan ibadah. Amalan ini beliau lakukan hingga beliau berumur 38
tahun, saat beliau melakukan syafar ke irak bersama kakak kandungnya hasan.
Di irak beliau
menjiarahi berbagai kota tempat bermukim atau bersemayamnya para ulama, di
antaranya kota syaik ahmad bin ali arrifai, pusat tariqah rifaiyah. Juga
kemakam syaik abdul qadir alzailani.
Dalam kitab-kitab
tasawuf, disebutkan karanah-karamah yang dinisbatkan kepada syekh ahmad
albadawih di antaranya yang paling masyur adalah beliau mampu membebaskan para
tawanan mesir di eropa saat terjadi perang sejarah mesir yang terkenal sebuah
ucapan Allah Allah ya badawi jamil yusroh yang berarti badawi telah datang
membawa tahanan.
Sayyidina syekh ahmad Albadawi wafat di tahanta pada hari selasa rabiul awwal 675
H/ 24 Agustus 1276 M. Saat berusia 79 tahun dari tangnnya banyak muncul-muncul
wali abdhal dan kutu-kutub.
BIOGRAFI SYAQIQ BIN IBRAHIM ( Al-Balkh )
Oleh : Siti Nurhasanah
Syaqrq Bin Ibrahim,
nama kunyahnya Abu Ali, adalah seorang guru dan ulama sufi yang tinggal di kota
Balkh, termasuk wilayah khurasan, sehingga lebih dikenal dengan nama Syaqiq
Al-Balkh. Ia berasal dari keluarga saudagar yang kaya raya, dan akhirnya
mewarisi pekerjaan menjadi pedaagang yang sukses. Ia wafat pada tahun 194
Hijriyah atau 810 Masehi. Hidupnya selalu bergelimang kekayaan dan kemewahan
dunia.Syaqiq adalah salah seorang diantara tokoh-tokoh besar khurasan, ia
adalah guru dari Hatim Al-Asham.
Dikisahkan, tentang
penyebab zuhudnya, suatu ketika ia melakukan lawatan ke turki untuk suatu
kepentingan perniagaan, dan kepergiannya itu merupakan yang pertama kali
baginya. Suatu saat ia masuk ke pura patung, penjaga pura patung itu rambut dan
janggutnya dicukur, pakaiannya dari jenis sutera arjuwaniyah. Syaqiq berkata
kepada sipenjaga, “bukankah anda mempunyai pencipta yang maha hidup, maha tahu,
dan maha kuasa, ? maka sembahlah dia. Jangan menyembah patung-patung yang tidak
membahayakan atau memberi manfaat kepada diri anda!!” penjaga itu menjawab
“Bila dia sebagaimana anda ucapkan, tentu dia dapat memberi rezeky kepada diri
anda di Negara anda sana, mengapa anda bersusah payah datang kemari untuk
berniaga?” Seketika Syaqiq pun menjadi sadar, dan sejak saat itu ia mengambil
jalan zuhud.
Dikisahkan, diantara
penyebab zuhudnya, bahwa ia melihat seorang budak yang sedang bermain-main
dengan penuh suka ria di musim kemarau dan kering. Orang-orang sangat prihatin
kala itu, Syaqiq bertanya,” apa yang membuatmu bersuka cita seperti itu ?
bukankah engkau melihat kesengsaraan manusia dimusim kemarau dan kering ini ?
Budak itu menjawab, “ bagiku kesengsaraan itu tidak ada, tuanku berada disuatu
desa yang bersih, siapa saja masuk disana dan apapun yang kami inginkan
ducukupi,” sejenak Syaqiq sadar, dan berkata pada dirinya sendiri, “ kalau
tuannya berada disuatu desa, dan ia tergolong makhluk yang fakir, sementara
dirinya tidak peduli terhadap rezeky, lalu layakkah seorang Muslim mementingkan
rezekynya, sedangkan Tuannya Maha Kaya?”
Hatim Al- Asham
berkata, “ Syaqiq Al-Balkh tergolong raya kaya, ia menghidupi para pemuda pada
masanya, sedangkan gubernur Balkh kala itu adalah Ali Bin Isa Bin Mahan. Sang
gubernur ini sangat menyayangi anjing pemburu miliknya, suatu saat salah satu
anjingnya hilang, lantas anjing itu ditemukan berada ditempat seseorang
laki-laki yang menjadi tetangga Syaqiq, laki –laki itu pun dicari, namun ia
lari dan bersembunyi di rumah Syaqiq. Lantas Syaqiq pergi pergi kerumah
gubernur, dan berkata “ tolong beri jalan, soal anjing itu ada dirumahku,
kukembalikan tiga hari lgi,” para pengawal gubernur menyilakan Syaqiq, dan
setelah itu Syaqiq kembali pulang.
Pada hari ketiga,
seorang sahabat Syaqiq yang sudah lama menghilang dari Balkh datang. Sahabat
itu menemukan anjing yang lehernya berkalung dijalan, lantas anjing itu pun
dibawanya. Lebih baik, anjing ini kuberikan saja kepada Syaqiq, sebab ia sibuk
dengan kaum muda, kata si sahabat tersebut.” Ketika Syaqiq melihatnya, ternyata
anjing tersebut anjing gubernur. Syaqiq amat girang dan anjing itu tepat pada
hari ketiga dibawah kepada gubernur dan ia bebas dari beban. Allah SWT,
kemudian melimpahkan rezeky kesadaran, dan Syaqiq bertobat dari prilaku sebelumya
kkemudian menempuh jalan zuhud.
Diantara ucapan
Syaqiq, “ Bila Anda ingin mengenal seseorang, maka kenalilah apakah ia memilih
janji Allah SWT, atau memilih janji manusia. Lebih condong kemana orang
tersebut, maka akan kelihatan pribadinya.”
Katanya pula” Takwa
seseorang diketahui atas tiga hal: Mengambil, Mencegah dan Berbicaranya.” Wallahu‘Alam.
Kata-kata bijak
Syaqiq Al-Balkhi
Syekh Hatim
Al-‘Asham, mengungkapkan bahwa gurunya, Syaqiq Al-Balkhi, pernah berujar:
“Laksanakanlah lima perkara ini: (1) Beribadahlah kepada Allah sebanyak apa
yang kamu perlukan dari-Nya. (2) Carilah bekal di dunia sebanyak usiamu di
dunia. (3) Berdosalah kepada Allah sejauh kamu mampu memikul siksa-Nya. (4)
Himpunlah harta di dunia sebanyak kesanggupanmu membawanya di kuburmu. (5) Dan
beramallah (berbuatlah) demi surga, seukur kedudukan surga mana yang kamu
kehendaki.”
Sari As Sawathi
Oleh : Siti Nurhasanah
1.
Biografi
Al-Imam Sari As-Saqathi, nama lengkapnya, Abul Hasan Sari
bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’ruf al-Karkhi dan paman Imam Junaid
al-Baghdadi. Beliau adalah seorang tokoh sufi terkemuka di Baghdad, beliau
hidup sekurun dengan imam Ahmad ibn Hanbal, meninggal pada tahun 253 H/867 M
dalam usia 98 tahun.Sarri as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan
kebenaran mistik dan ”peleburan” (fana) sufi di kota Baghdad. Kebanyakan
syeikh-syeikh sufi di negeri Iraq adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Beliau
pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.
Pada mulanya Sari tinggal di kota Baghdad di mana ia
mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkannya
sebuah tirai di depan pintu tokonya. Pada suatu hari datanglah seseorang dari
gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam
kepada Sari dan berkata: “Syeikh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu”.
Sari menyahut; “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu
segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di
tengah keramaian dan mengkhusyukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak
pernah lupa kepada-Nya walau sesaat pun”.
Diriwayatkan, terakhir kali beliau meninggalkan kebiasaan
berdagang, yaitu ketika beliau menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari
pasar kota Baghdad terbakar. “Pasar terbakar!”, orang-orang bertariak.
Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari: “Bebaslah aku sudah!” Setelah
api reda ternyata toko Sari tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan
ini Sari menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian
ia mengambil jalan kesufian. Selama berdagang beliau tidak pernah menarik
keuntungan melebihi lima persen.
Diriwayatkan, ada seseorang yang bertanya sehubungan
beliau berhenti berdagang dan mengambil jalan sufi. “Apakah yang menyebabkan
engkau menjalani kehidupan spiritual ini”, Sari menjawab: “Pada suatu hari
Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Lalu kuberi Habib ar-Ra’i sesuatu agar
disampaikan kepada orang-orang miskin. Lantas Habib ar-Ra`i mendoakan diriku
’Semoga Allah memberkahi engkau`,. Setelah itu dunia ini tidak menarik hatiku
lagi”.
Dan pada keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta
seorang anak yatim. ’Berikanlah pakaian untuk anak ini’, pinta Syaikh Ma’ruf
kepadaku. Maka anak itu pun kuberi pakaian. Kemudian syaikh Ma’ruf berkata;
’Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari
pekerjaan ini’. Karena doa Syaikh Ma’ruf al-Karkhi itulah aku dapat
meninggalkan semua harta kekayaanku di dunia ini”.
Imam Junaid meriwayatkan. Sari mempunyai seorang saudara
perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya.
“Hidupku tidak patut diperlakukan seperti itu”, Sari berkata kepada saudara
perempuannya itu.
Pada suatu hari ia memasuki kamar Sari dan terlihatlah
olehnya seorang wanita tua sedang menyapu. “Sari, dulu engkau tidak mengizinkan
aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan
sanak familimu”.
Sari menjawab: “Janganlah engkau salah sangka. Dia adalah
penduduk alam kubur, Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia
meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya
Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku”.
2. Imam
Sari As-Saqothi dan Seorang Seorang Jurutulis Istana
Pada suatu hari ketika Sari sedang memberikan ceramah.
Ahmad Yazid si jurutulis Kholifah lewat dengan pakaian kebesaran yang megah
diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya. “Tunggulah sebentar, aku
hendak mendengarkan kata-katanya”, kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita
telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak
perlu kita datangi”. Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari.
Sari dalam ceramahnya berkata: “Di antara kedelapan belas
ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua
makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia.
Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaikat-malaikat sendiri iri
kepadanya. Jika ia jahat maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu
untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian
lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa!”
Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikkan Sari ke
jantung Ahmad Yazid, sehingga Ahmad Yazid menangis dan tak sadarkan diri.
Setelah sadar ia masih menangis Ahmad Yazid bangkit dan pulang ke rumahnya.
Malam itu tak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang
diucapkannya.
Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula
ke tempat Sari berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai
ia pun pulang. Di hari yang ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah
selesai ia menghampiri Sari.
“Guru, kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat
hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan
mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang
ditempuh para khalifah”. Kata Ahmad Yazid.
“Jalan manakah yang engkau inginkan”, tanya Sari. “Jalan
para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang
ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?”
“Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku”, Yazid meminta
kepada Sari.
Maka berkatalah Sari: “Inilah jalan yang ditempuh orang
banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belakang seorang imam, dan
keluarkanlah zakat – jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari
setiap dua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh
manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau
terperesok ke dalam perangkap-perangkapnya. Demikianlah kedua jalan tersebut”.
Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara.
Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang
berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari dan
berkata: “Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih
remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan
khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian
pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa han ini ia tidak
pulang dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari
dia, Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku”,
Permohonan wanita tua itu menggugah hati Sari. Maka
berkatalah ia: “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali,
niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia
ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya”.
Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad
Yazid kembali kepada Sari. Sari memerintahkan kepada pelayannya, “Kabarkanlah
kepada ibunya”. Kemudian ia memandang Ahmad Yazid. Wajahnya pucat, tubuhnya
lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah
bungkuk.
“Wahai guru yang budiman”, Ahmad berkata kepada Sari,
“Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku
dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan
menganugerahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan di akhirat”.
Mereka sedang asyik berbincang-bincang, ibu dan isteri
Ahmad Yazid masuk dengan membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si ibu
melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya ia pun menubruk dada Ahmad
Yazid. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis
tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari sendiri
pun tidak dapat menahan air matanya.
“Wahai Imam kaum MusIimin”, Ahmad Yazid berseru kepada
Sari, “mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada mereka? Mereka
inilah yang akan meruntuhkan diriku”. Sari menjawab: “Ibumu terus menerus
bermohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila
engkau datang”.
Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir
isterinya meratap: “Belum lagi, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu
jadi yatim, Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan kulakukan?
Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu”. “Baiklah”, jawab Ahmad Yazid.
Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu
dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah
kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anaknya itu:
“Sekarang, pergilah engkau seorang diri”. Melihat hal ini si isterinya
menjerit: “Aku tidak sampai hati membiarkannya”, dan anak itu ditariknya ke
dalam dekapannya.
“Aku memberikan kuasa kepadamu”, kata Ahmad Yazid kepada
isterinya, ’Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian”. Setelah
berkata itu, Ahmad Yazid pergi lagi ke padang belantara.
Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam,
pada waktu shalat Isya, seseorang mendatangi Sari di tempat kediamannya. Orang
itu berkata kepada Sari: “Ahmad Yazid mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia
berpesan: ’Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku”.
Sari pergi ke tempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang
sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan
saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Sari mendengar bahwa
Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi: “Untuk yang seperti ini bekerjalah
wahai para pekerja”.
Sari mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan
dan mendekapkan ke dadanya, Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang
syeikh, dan berkatalah ia: “Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku
akan berakhir sesaat lagi”.
Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir.
Sambil menangis Sari kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan- urusan Ahmad.
Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan
ke arah luar kota. “Hendak ke manakah kalian?” Sari bertanya kepada mereka.
“Tidak tahukah engkau?”, jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan
dari atas langit: ’Barangsiapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan
Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!’ “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar