Jumat, 28 Juni 2019

BIOGRAFI TOKOH SHUFI


Biografi Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Oleh :  Lilis Rusmiati

1. Biografi Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Sahl ibn `Abdullah At-Tustari dengan nama Abu Muhammad Sahl ibn Abdullah ibn Yunus ibn Isa ibn Abdullah ibn Rafi’ Al-Tustari. Ia juga biasa dipanggil dengan nama julukan kunyah Abu Muhammad atau nama sandarannya (nisbah) At-Tustari. Sahl ibn `Abdullah At-Tustari merupakan salah satu ulama sufi dan ahli mutakallimin (teolog) dalam ilmu riyadah (melatih jiwa), ikhlas, dan ahli wira`i. Abu Muhammad Sahl ibn Abdullah ibn Yunus ibn Isa ibn Abdullah ibn Rafi’ Al-Tustari, ia dilahirkan di kota Tustar pada tahun 200 H/816 M, dan ada juga yang mengatakan 201 H/817 M,3 dan 203 H/818 M.4 dan meninggal di Basrah pada tahun 282 H./ 896 M.5 Dan ada yang mengatakan pada tahun 293 H.6 Mengenai tahun kelahiran At-Tustari, masih belum terdapat kepastian, tetapi kebanyakan sumber berpusat pada tahun antara 200 H/815 M, dan 203 H/ 818 M. Massignon mengatakan tahun 203 H/ 818 M, Arberry mengatakan tahun 200 H/ 815, M. Ibn Hallikan menyatakan bahwa At-Tustari lahir di Tustar pada tahun 200 H/ 815, M. sesuai dengan keterangan Ibn Al-Atir, atau pada tahun 201 H/ 816 M. sesuai dengan penulis biografi yang lain. Penulis lain mengatakan bahwa kelahiran At-Tustari pada tahun 203 H/ 818 M, sesuai dengan hitungan mundur dari tahun kematian At-Tustari yang berusia 80 tahun. Begitu pula terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun meninggalnya, ada yang mengatakan At-Tustari meninggal pada tahun 293 H. Tetapi pendapat yang lebih tepat adalah pada tahun 283 H. Ibn Al`Amad Al-Hanbali mengatakan bahwa Abu Muhammad Sahl ibn `Abdullah AtTustari meninggal pada tahun 283 H ketika berumur 80 tahun.At-Tustari bercerita bahwa ketika berumur tiga tahun sudah terbiasa bangun malam dan melihat bagaimana pamannya Muhammad ibn Sawwar (w. 161 H/ 778 M) melaksanakan salat malam. Akan tetapi, ketika pamannya mengetahui apa yang dilakukan At-Tustari, pamannya kemudian berkata, “At-Tustari, kembalilah tidur, kamu telah membuat hatiku gelisah”. Ketika usianya dirasa sudah tepat, suatu hari barulah pamannya bermaksud mengenalkan ajaran tasawuf kepada At-Tustari dengan bertanya, “apakah kamu dapat mengingat Allah yang menciptakanmu?”, At-Tustari menjawab, “bagaimana caranya agar aku mengingat-Nya?”, pamannya pun menjawab, “ucapkanlah tiga kali dalam hatimu tanpa menggerakkan lidahmu saat menjelang tidur, Ketika mendapatkan pengajaran tersebut At-Tustari terus menerus mengamalkannya.
Pada awalnya diminta mengamalkannya tiga kali setiap malam selama tiga malam, kemudian tujuh kali setiap malam dan sebelas kali setiap malam. Sampai akhirnya dengan mengamalkan zikir tersebut, At-Tustari merasakan manisnya zikir. Atas pengajaran pamannya, At-Tustari melakukannya hingga satu tahun dan pamannya berkata, “hafalkan terus apa yang saya ajarkan kepadamu dan berzikirlah dengan istiqamah sampai kamu masuk ke liang kubur. Sesungguhnya zikir tersebut bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.” Semenjak itu, At-Tustari senantiasa berzikir dengan kalimat itu selama bertahun-tahun, sehingga At-Tustari mendapatkan kelezatan dan manisnya zikir dalam hatinya. Kemudian Pamannya kemudian berkata kepadanya, '”Sahl! Jika Allah bersama seseorang, dan melihat dia dan mengawasi dia, bisakah dia tidak menaati Allah? kamu seharusnya tidak pernah melakukannya”, demikianlah pengajaran tentang mengingat Allah yang telah ditanamkan oleh pamannya untuknya menjadi pengaruh besar pada At-Tustari, dan menjadi landasan doktrin mistiknya, seperti kita akan melihat Muḥammad bin Sawwar juga menyampaikan kepada keponakannya beberapa instruksi dalam tafsir Al-Qur'an, dan hadits. Sedikit yang diketahui tentang Latar belakang spiritual Muḥammad bin Sawwar selain itu dia mungkin memiliki hubungan dengan Ma'ruf Al-Karkhi (wafat 200/815), yang menurut At-Tustari, ia dikatakan sebagai “salah satu guru dan bapak spiritual yang signifikan”. Bahkan saat masih anak-anak, At-Tustari menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menjalani kehidupan pertapa. Ia menghadiri pelajaran dengan seorang guru Al-Qur'an hanya dengan syarat dia harus diijinkan untuk pulang ke rumah setelah satu jam agar jangan samapi konsentrasi spiritualnya (himma) hilang. Dikatakan bahwa dia tinggal di roti jelai saja sampai usia dua belas tahun. Pada usia tiga belas tahun, dia mengalaminya sebuah krisis spiritual berupa sebuah pertanyaan mendalam yang terus-menerus mengusiknya. Dia meminta agar dizinkan untuk pergi ke Basra untuk mengetahui apakah ada orang terpelajar di kota tersebut akan mampu menjawab pertanyaannya. Akan tetapi At-Tustari Tidak menemukan siapa pun yang bisa membantunya di sana, dia melakukan perjalanan ke pulau 'Abbadan (di Iran selatan-barat sekarang), di mana ribat atau spiritual yang terkenal tempat berlindung dan retret dikatakan telah didirikan oleh pengikut Hasan Al-Basri. Di sinilah At-Tustari bertemu dengan Abu Habib Hamza bin 'Abdullah Al-'Abbadani, yang akhirnya mampu memberikannya jawaban atas pertanyaannya. Ia bertanya kepada Abu Habib Hamzah “Syekh! Apakah hati selalu bersujud?” Abu Habib Hamzah menjawab, “Ya, selamanya!”. Atas dasar jawaban sederhana inilah At-Tustari kemudian merasakan bahwa dirinya telah menemukan jawaban yang ia inginkan selama ini. Kemudian ia memutuskan untuk tinggal bersama Abu Habib untuk beberapa waktu, untuk mendapatkan keuntungan darinya pengetahuannya dan menjadi terlatih dalam cara sufi adab, yaitu disposisi dan mode melakukan yang benar ke jalan mistik. Juga di 'Abbadan, Tustari menceritakan, bahwa pada suatu malam dia melihat kata Kata, ditulis dengan warna hijau Terang pada satu garis di langit dari Timur ke Barat. Setelah masa pelatihan di bawah guru spiritual tersebut, At-Tustari kembali ke kota asalnya Tustar, di mana selama sekitar dua puluh tahun dia menjalani kehidupan sendirian, sangat menundukkan dirinya disiplin pertapa yang ketat dengan metode puasa yang terus-menerus dan berat sekali. ia dikutip berkali-kali dalam sastra Sufi sebagai contoh manfaat dari kelaparan dan puasa. literatur tersebut diambil dari Risana Qushayri:“Lalu aku kembali ke Tustar. Pada saat itu, makanan saya telah dikurangi sampai-sampai (murid saya) akan membeli jelai dengan sebuah dirham, menggilingnya, dan memanggangnya menjadi roti untukku. Setiap malam fajar, saya akan berbuka puasa hanya dengan satu ons roti, tanpa garam atau bumbu. Dirham itu bertahan setahun untukku. Setelah itu, saya memutuskan untuk berbuka puasa setiap tiga hari sekali, lalu setiap tujuh hari sekali, lalu setiap dua puluh lima hari. Saya terus berlatih ini dua puluh tahun.”
Setelah beberapa tahun At-Tustari memang melakukan perjalanan lain jauh dari kota asalnya, melakukan ziarah ke Mekkah pada tahun 219/834. Menurut beberapa laporan dari seseorang, di Mekkah At-Tustari pertama kali bertemu dengan Dzun Nun Al-Mishri Al-Misri (wafat 245/860). At-Tustari tidak diketahui secara umum menjadi murid Dzun Nun Al-Mishri, ia tinggal bersamanya dan tetap tinggal dalam pelayanan kepadanya untuk jangka waktu tertentu, tapi ada sedikit keraguan bahwa sebuah asosiasi spiritual yang kuat didirikan di antara kedua mistikus. Satu laporan menyatakan bahwa At-Tustari melakukan perjalanan ke Mesir untuk menemui Dzun Nun Al-Mishri, dimana yang terakhir mengajarkan kepadanya tentang hakikat kepercayaan sejati kepada Allah atau tawakal kepada Allah, yang mana Sebenarnya ini adalah salah satu doktrin kunci yang ditunjukkan At-Tustari dalam komentar Al-Qur'annya. Selain itu, sebuah laporan di Kitab Al-Luma' dari Abu Nasr Al-Sarraj (wafat 378 H/998 M) menjelaskan bahwa At-Tustari pasti memegang sebuah penghormatan untuk Dzun Nun Al-Mishri yang mirip dengan apa yang secara tradisional dipegang oleh seorang murid untuk gurunyanya, ketika ditanya mengapa di tahun-tahun sebelumnya dia menahan diri untuk mengajar, dia menjawab: Saya tidak suka untuk terlibat dalam wacana tentang pengetahuan mistis atau menerima murid selama dia (Dzun Nun Al-Mishri) masih hidup, karena At-Tustari mempunyai rasa hormat dan menghormati dia (Dzun Nun Al-Mishri). Dzun Nun Al-Mishri meninggal dunia pada tahun 246 H./ 861 M. Setelah proses perjalanan yang dilakukan At-Tustari selama beberapa tahun untuk bertemu dengan para ulama dan para wali sehingga ia mampu menguasai ilmu syariat yang benar dan mengambil berbagai faedah yang telah diajarkan kepadanya, kemudian ia kembali lagi ke Tustar dengan membawa cahaya yang penuh dari Allah SWT. Lalu At-Tustari memulai dakwah dan mengajak manusia kepada hidayah dan kebenaran sesuai dengan izin dari Allah SWT.

2. Guru dan Murid Muhammad Sahl bin Abdullah Al-TustariAt-Tustari selama perjalanannya untuk mencari sebuah ilmu, ia banyak bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal yang ia temui dan menjadikannya sebagai guru seperti:a. Muhammad ibn Sawwar (w. 161 H/778 M). Ia merupakan paman dari At-Tustari, yang pertama kali mengajarkan ilmu tasawuf kepadanya.
b. Hamzah Al-`Abbadani. Ia adalah orang yang ditanya oleh At-Tustari untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang ia bawa, dan ia menemukan jawaban itu darinya.c. Muqatil ibn Sulaiman (w. 150 H/ 767 M).d. Hammad ibn Salamah (w. 167 H/ 784 M).e. Waki` ibn Al-Gharrah (w. 197 H/ 812 M).f. Shufis Abu Sulaiman Ad-Darani (w. 215 H/ 830 M)
g. Bisri Al-Hafi (w. 227 H./ 841 M).
h. Sari As-Saqati (w. 251 H./ 865 M).
i. ‘Abd Ar-Rahim Al-Istakhri (w. 300 H./ 912 M).Al-Tustari memiliki banyak murid, beberapa di antaranya tetap dengan dia selama bertahun-tahun, sementara yang lain tinggal hanya dalam waktu singkat. Di antara murid-murid yang tinggal lama, yang paling penting adalah:a. Muhammad ibn Salim dan Ahmad ibn Salim (w. 356 H./ 967 M.) yang keduanya menularkan keilmuannya dan menguraikan berbagai perkataan dan ajaran At Tustari.
b. Abu Bakr Muhammad ibn Al-As`at Al-Sijzi yang menerima izin untuk mengajarkan Tafsir At-Tustari pada tahun 275 H./ 888 M.
c. Abu Al-Hasan Umar ibn Wasil al-`Anbar, yang meriwayatkan anekdot tentang AtTustari dan menjelaskan beberapa penafsiran Al-Qur’annya
Sedangkan murid-murid yang hanya tinggal dalam waktu yang singkat bersama At-Tustari adalah:a. Husain ibn Mansur Al-Hallaj, yang menjadi muridnya pada usia enam belas tahun dan tinggal bersamanya hanya dua tahun.
b. Hasan ibn Khalaf Al-Barbahari (w. 329 H./ 941 M.). Seorang teolog Hanbali yang terkenal dan ahli hukum dari Bagdad. c. Abu Muhammad ibn Husain Al-Jurayri (w. 312 H./ 924 M.), ia juga menjadi salah satu murid utama Junaid.d. Abu Al-Hasan ibn Muhammad Al-Muzayyin Al-Tirmidzi (w. 328 H./ 939 M.), yang juga murid Junayd.e. Isma`il ibn `Ali Al-Aili yang menjadi murid At-Tustari di Basrah pada tahun 280 H./ 893 M.3. Karya Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari
Setelah mencapai puncak ilmu pengetahuan dan kebersihan jiwa, Sahl ibn `Abdullah At-Tustari memulai untuk berdakwah mengajak manusia kepada kebenaran dan hidayah Allah SWT. Dakwah yang ia lakukan tidak hanya sebatas seruan kepada pendidikan, perilaku, ucapan, dan nasihat yang baik saja, akan tetapi At-Tustari juga mewariskan sejumlah khazanah keilmuan yang berbentuk buku-buku dalam berbagai macam materi keilmuan. Diantara karya-karya yang ia karang yaitu:a. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim (Tafsir Al-Tustari).b. Jawabatu Ahlu Al-Yaqin.c. Daqaiq Al-Muhibbin.d. Risalah fi Al-Huruf.e. Risalah fi Al-Hukmi wa Al-Tashawuf.f. Salsabil Sahliyah.g. Al-Ghayatu Liahli Al-Nihayah.h. Lathaif Al-Qashash Fi Qashash Al-Anbiya.i. Kitab Al-Ma`aridah wa Ar-Radda `Ala Ahli Al-Firqa wa Ahli Ad-Da`awa fi AlAhwal.j. Kitab Al-Mistaq.
k. Kalam Sahl.
l. Maqalah fi Al-Manhiyat.m. Manaqib Ahlul-Haq wa Manaqib Ahlullah `Azza wa Jalla.n. Mawa’idz Al-‘Arifin.

BIOGRAFI AHMAD BIN HARD
Oleh : Sri Cahaya Nurwulan

1.    BIOGRAFI AHMAD BIN HARD
Ahmad bin Harb al-Nisaburi adalah seorang pertapa kondang dari Nishapur, sebuah tradisionis handal dan seorang pejuang perang suci. Ia mengunjungi Baghdad pada masa Ahmad bin Hanbal dan mengajar di sana, ia meninggal pada 234H(849)M pada usia 85 tahun. Ia adalah Syaikhul Islam dan penghulu kaum muslimin pada masanya, al-hafizh, al-hujjah, Imam, Qudwah, orang yang disepakati keagungan, kedudukannya oleh yang pro maupun kontrak. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Zulal bin Ismail bin Ibrahim.
Beliau lahir pada tanggal 20 bulan Rabi’ul awal tahun 164 H atau November 780 M di kota Maru/Merv –kota kelahiran ibu- Baghdad. Beliau wafat pada hari jum’at Rabi’ul awal tahun 241 H(855 m) di kota kelahirannya, Baghdad. Laqabnya adalah al-Syaibany al-Marwazy al- Dzuhly al-Baghdady. Beliau merupakan keturunan arab dari suku bani Syaiban, sementara ayahnya adalah Abu Abdillah. Ibunya bernama Syafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibany.
Ketike beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal berpindah ke wilayah Khurasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemerintahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung kedalam barisan pendukung Bani Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa beliau dahulunya adalah seorang panglima. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma’ad bin Adnan yang berarti bertemu nasab pula dengan Nabi Ibrahim.


2.   Karya tulis Ahmad bin Hard
Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab “Musnad” dan sebaik baiknya karangan dia dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai kitab Musnad ini berisi lebih dari 25.000 di antara karya imam Ahmad ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) kumpulan dari 40ribu hadits juga kitab ash-Salat dan kitab as-Sunnah.

3.   Guru-guru Ahmad bin Hard
Guru-gurunya adalah Hasyim, Sufyan bin Uyainah al-Hilaly, Ibrahim bin Sa’d, Jalil bin Abdul Hamid, Yahya al-Qattan dan Waqi’, Abu Daud al-Tayalisy, Abdurrahman bin al-Mahdy, Husyaim bin Basyir, Jawwad,’Ubbad bin Ibad al-Mahlaby, Mu’tamar bin Sulaiman al-Taimy, Ayyub bin Najar, Yahya bin Abu Zaidah, Ali bin Hasyim bin al-Barid, dan lain-lain.

4.   Murid-murid Ahmad bin Hard
Murid-muridnya adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisabury, Abu Daud, Ibn Mahdi,al-Syafi’i, Abul Walid, Abdur Razaq, Waki’, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madiny, al-Husai bin Mansyur, Ahmad bin al-Hasan, Ibnu Majah, al-Nasa’I, al-Turmudzi,dua anak beliau(Shalih dan Abdullah), sepupunya(Hanbal bin Ishaq), Abdul Razaq, al-Hasan, dan lain-lain.

5.   Karya-karya Ahmad bin Hard
a.    Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
b.    Kitab at-Tarikh
c.    Kitab Hadits Syu’bah
d.    Kitab al-Muqaddam wa al-Mu’akkhar fi al-Qur’an
e.    Kitab Jawabah al-Qur’an
f.     Kitab al-Manasik al-Kabir
g.    Kitab al-Manasik as-Saghi

6.   Sakit dan wafatnya Ahmad bin Hard
Menjelang wafatnya beliau jatuh sakit selama Sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakkan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul awwal 241 M dalam usia 77 tahun di kota Baghdad, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah di tentukan kepadanya. Kaum mualimin bersedih dengan kepergian beliau dan ia dimakamkan di pemakaman al-Harb.


BIOGRAFI JA’FAR BIN ASH SHIDDIQ
Oleh : DIAN NAZRAH

Imam Ja'afar lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M). Ja'far yang juga dikenal dengan julukan Abu Abdillah merupakan anak sulung dari Muhammad al-Baqir, sedangkan ibunya bernama Fatimah (beberapa riwayat menyatakan Ummu Farwah) binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Melalui garis ibu, ia dua kali merupakan keturunan Abu Bakar, karena al-Qasim menikahi putri pamannya, Abdullah bin Abu Bakar. Ia dilahirkan pada masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan, dari Bani Umayyah.
Beliau memiliki saudara satu ibu yang bernama Abdullah bin Muhammad. Sedangkan saudara lainnya yang berlainan ibu adalah Ibrahim dan Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti Asid bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm Salamah yang beribukan wanita hamba pula.
Ja'far bin Muhammad bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah dan istri putri beliau Fathimah Radhiyallahu 'anha. Ash Shadiq merupakan gelar yang selalu menetap tersemat padanya. Kata ash Shadiq itu, tidaklah disebutkan, kecuali mengarah kepadanya. Karena ia terkenal dengan kejujuran dalam hadits, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakannya. Kedustaan tidak dikenal padanya. Gelar ini pun masyhur di kalangan kaum Muslimin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah acapkali menyematkan gelar ini padanya.
Laqab lainnya, ia mendapat gelar al Imam dan al Faqih. Gelar ini pun pantas ia sandang. Meski demikian, ia bukan manusia yang ma'shum seperti yang diyakini sebagian ahli bid'ah. Ini dibuktikan, ia sendiri telah menepisnya, bahwa al 'Ishmah (ma'shum) hanyalah milik Nabi.
Imam Ja'far ash Shadiq dikarunia beberapa anak. Mereka adalah: Isma'il (putra tertua,meninggal pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup), 'Abdullah (dengan namanya, kun-yah ayahnya dikenal), Musa yang bergelar al Kazhim, Ishaq, Muhammad, 'Ali dan Fathimah.
Kepribadian
Dia dikenal memiliki sifat kedermawanan dan kemurahan hatinya yang begitu besar. Seakan merupakan cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling murah hati.
Dalam hal kedermawanan ini, ia seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal 'Abidin, yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging dan membawa uang dirham di atas pundaknya, dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang fakir di Madinah, tanpa diketahui jati dirinya. Ketika beliau telah wafat, mereka merasa kehilangan orang yang selama ini telah memberikan kepada mereka bantuan.

Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.

Kehidupan awal
Sejak kecil hingga berusia sembilan belas tahun, ia dididik langsung oleh ayahnya. Setelah kepergian ayahnya yang syahid pada tahun 114 H, ia menggantikan posisi ayahnya sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi'ah.
Pada masa remajanya, Ja'far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H). Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja'far ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja'far ash-Shadiq menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.

Perjalanan keilmuan
Imam Ja'far ash Shadiq, menempuh perjalanan ilmiyahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, misalnya Sahl bin Sa'id as Sa'idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhum. Dia juga berguru kepada Sayyidu Tabi'in 'Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az Zuhri, 'Urwah bin az Zubair, Muhammad bin al Munkadir dan 'Abdullah bin Abi Rafi' serta 'Ikrimah maula Ibnu 'Abbas. Dia pun meriwayatkan dari kakeknya, al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.
Mayoritas ulama yang ia ambil ilmunya berasal dari Madinah. Mereka t adalah ulama-ulama kesohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.
Sedangkan murid-muridnya yang paling terkenal, yaitu Yahya bin Sa'id al Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as Sakhtayani, Ibnu Juraij dan Abu 'Amr bin al 'Ala`. Juga Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas al Ashbahi, Sufyan ats Tsauri, Syu'bah bin al Hajjaj, Sufyan bin 'Uyainah, Muhammad bin Tsabit al Bunani, Abu Hanifah dan masih banyak lagi.
Para imam hadits -kecuali al Bukhari- meriwayatkan hadits-haditsnya pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al Bukhari meriwayatkan haditsnya di kitab lainnya, bukan di ash Shahih.
Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepada Imam Ja'far ash Shadiq.
Abu Hanifah berkata,"Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja'far bin Muhammad."
Abu Hatim ar Razi di dalam al Jarh wa at Ta'dil (2/487) berkata,"(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia."
Ibnu Hibban berkomentar: "Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba' Tabi'in dan ulama Madinah".
Imam Ja'afar as Sadiq menjauhkan diri dari ketegangan politik pada masanya, dan berfokus pada mengajar dan mendidik masyarakat. Pilihan ini merupakan keuntungan besar bagi peradaban Islam. Ada kebijaksanaan dalam strategi ini. Sejarah berhutang budi kepada Imam   Ja'afar as Sadiq atas dedikasi beliau bagi pengetahuan dan pengajaran yang menghasilkan tokoh-tokoh besar di bidang fikih, tasawuf, sains dan matematika.
Di bawah penguasa Umayyah, Ja'far as Sadiq dianggap oleh banyak pengikut Syiah sebagai imam Syi'ah keenam, dan bagaimanapun, Syiah dianggap bid'ah dan pemberontak oleh para khalifah Umayyah. Banyak kerabat Ja'far as Shadiq telah tewas di tangan Umayyah. Tak lama setelah kematian ayahnya, paman Ja'far as Sadiq, Zaid bin Ali memimpin pemberontakan melawan Bani Umayyah. Ja'far as Sadiq tidak berpartisipasi, tetapi banyak dari sanak saudaranya, termasuk pamannya tewas, dan lainnya dihukum oleh Khalifah Umayyah. Ada pemberontakan lain selama tahun-tahun terakhir dari Bani Umayyah, sebelum Bani Abbasiyah berhasil merebut kekhalifahan dan mendirikan dinasti Abbasiyah pada tahun 750 Masehi, ketika Ja'far as Shadiq berusia 48 tahun.

Wafatnya Ja'far ash-Shadiq
Ja'far bin Muhammad bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M.  Beliau dimakamkan di Pekuburan Baqi'.



BIOGRAFI ABU YAZID AL BUSTAMI
Oleh : KHAIRUNNISA

Abu Yazid al-Bustami lahir di Bustam, bagian timur laut Persia tahun: 188 H – 261 H/874 – 947 M. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Adam bin Surusyan. Semasa kecilnya ia dipanggil Thaifur, kakeknya bernama Surusyan yang menganut ajaran Zoroaster yang telah memeluk Islam dan ayahnya salah seorang tokoh masyarakat di Bustam.
Keluarga Abu Yazid termasuk keluarga yang berada di daerahnya tetapi ia lebih memilih hidup sederhana. Sejak dalam kandungan Ibunya, konon kabarnya Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata bahwa ketika dalam perutnya, Abu Yazid akan memberontak sehingga Ibunya muntah kalau menyantap makanan yang diragukan kehalalannya.
Sewaktu menginjak usia remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan seorang anak yang patuh mengikuti perintah agama dan berbakti kepada orang tuanya, suatu kali gurunya menerangkan suatu ayat dari surat Luqman yang berbunyi : “berterima kasihlah kepada Aku dan kepada kedua orang tuamu” ayat ini sanagat menggetarkan hati Abu Yazid. Ia kemudian berhenti belajar dan pulang untuk menemuia Ibynya, sikapnya ini menggambarkan bahwa ia selalu berusaha memenuhi setiapo panggilan Allah.
Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memeakan waktu puluhan tahun, sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi seorang fakih dari madzhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali As-Sindi, ia mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Hanya saja ajaran sufi Abu Yazid tidak ditemukan dalam bentuk buku
Dalam perjalanan kehidupan Zuhud, selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di gurun-gurun pasir di syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali.
Abu Yazid hidup dalam keluarga yang taat beragama, Ibunya seorang yang taat dan zahidah, dua saudaranya Ali dan Adam termasuk sufi meskipun tidak terkenal sebagaimana Abu Yazid.
Abu Yazid dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, sejak kecil kehidupannya sudah dikenal saleh. Ibunya secara teratur mengirimnya ke masjid untuk belajar ilmu-ilmu agama. Setelah besar ia melanjutkan pendidikannya ke berbagai daerah. Ia belajar agama menurut mazhab hanafi. Setelah itu, ia memperoleh pelajaran ilmu tauhid. Namun pada akhirnya kehidupannya berubah dan memasuki dunia tasawuf.
Abu Yazid adalah orang yang pertama yang mempopulerkan sebutan al-Fana dan al-Baqa` dalam tasawuf. Ia adalah syaikh yang paling tinggi maqam dan kemuliannya, ia sangat istimewa di kalangan kaum sufi. Ia diakui salah satu sufi terbesar. Karena ia menggabungkan penolakan kesenangan dunia yang ketat dan kepatuhan pada iter agama dengan gaya intelektual yang luar biasa.
Abu Yazid pernah berkata: “Kalau kamu lihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat yang besar-besar, walaupun ia sanggup terbang ke udara, maka janganlah kamu tertipu sebelum kamu lihat bagaimana ia mengikuti suruhan dan menghentikan dan menjaga batas-batas syari`at.
Dalam perkataan ini jelaslah bahwa tasawuf beliau tidak keluar dari pada garis-garis syara` tetapi selain dari perkataan yang jelas dan terang itu, terdapat pul akata-kata beliau yang ganjil-ganjil dan mempunyai pengertian yang dalam. Dari mulut beliau seringkali memberikan ucapan-ucapan yang berisikan kepercayaan bahwa hamba dan tuhan sewaktu-waktu dapat berpadu dan bersatu. Inilah yang dinamakan Mazhab Hulul atau Perpaduan.
Abu Yazid meninggal dunia pada tahun 261 H/947 M, jadi beliau meninggal dunia di usia 73 tahun dan dimakamkan di Bustam, dan makamnya masih ada sampai sekarang.


BIOGRAFI ABDULLAH BIN MUBARAK
Oleh :  SITI FATIMAH

Nama lengkap beliau adalah abdullah bin almubarok bin wadhih al handloly at atmimy Faqih khurosan. Al abbas bin mushab berkata; ibunya adalah orang khuwarzamiyyah dan bapaknya orang turky.Beliau dilahirkan pada tahun 118 H sebagimana yang telah diceritakan oleh Ahmad bin Hambal.
Guru-Guru Beliau
Adz dzahabi berkata: orang yang menjadi guru al mubarak untuk pertama kalinya adalah ar rabi’ bin anas al khurasani.
Adz dzahabi menuturkan dari ibrahim bin ishaq dari ibnu al mubarak, ia berkata: aku mempunyai 4000 guru dan aku meriwayatkan dari 1000 dari mereka
Al abbas bin mush’ab dalam bukunya tarikhihi mengatakan : aku menemukan guru ibnu al mubarak ada 800 orang. Di antara deretan gurunya hisyam bin urwah, ismail bin abi khalid, al a’masy, sulaiman at taimi, humaid at thawil, abdullah bin ‘aun, khalid al hidza, yahya bin said al anshari, musa bin uqbah (tabi’in). al auza’I, said bin abdul aziz, abu abdurrabi az zahid, hakam al hamdani, ibrahim bin abi ablah, abu mualla shakhar bin jandal al beiruti, shafwan bin umar, umar bin muhamad bin zaid al asqalani, al hakam bin abdillah bin abla, yahya bin abi katsir, ibnu lahi’ah, al laist bin saad, said bin ayyub, harmalah bin imran, abu syuja’ said bin yazid, ismail bin abi khalid, yunus bin abi ishaq, mujalid bin said, hisyam bin urwah, zaidah bin qudamah, yahya bin said al anshari, yahya bin ubaidillah bin mauhub, usamah bin zaid al laitsi, ibnu ajlan, Ibnu juriaj, ma’mar, yunus bin yazid, musa bin uqbah, hisyam bin saad, muhammad bin ishaq, abdullah bin said bin abu hind, malik bin anas, sufyan ats tsauri, hammad bin zaid, al mubarak bin fadhalah, sulaiman at tamimi, auf al arabi, syu’bah, hisyam bin hasan, ‘ashim bin sulaiman al ahwal, abdullah bin aun, khalid al hadza. Untuk keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada tahdzibul kamal karya al mizzi juz 6 sampai 16.
Murid-Murid Beliau
Banyak ulama yang meriwayatkan dari beliau, mereka adalah; ats tsauri, ma’mar bin rasyid, abu ishaq al fazari, ja’far bin sulaiman ad dhaba’I, baqiyah bin walid dawud bin abdurrahman al atthar, ibnu uyainah, abu ahwash, fudhail bin iyadh, mu’tamar bin sulaiman, al walid bin muslim, abu bakar bin iyyas, muslim bin ibrahim, abu usamah, abu salamah at tabudzki, nu’aim bin hamad, ibnu mahdi, al qahthan, ishaq bin ruhawih, yahya bin ma’in, ibrahim bin ishaq at thalaqaani, ahmad bin muhammad marduwiyah, ismail bin aban al waraq, basyar bin muhammad as sikhtiyani, hibban bin musa, al hakam bin musa, zakariya bin adi , said bin sulaiman, hay, tholhah bin abi said, abdul malik bin abi sulaiman, umar bin dzar, umar bin said bin abi husain, muhammad bin umar bin farroukh, amru bin maimun bin mihron, auf al a’roby, muhammad dan orang yang paling terakhir meriwayatkan dari ibnu al mubarak adalah al hasan bin dawud al balkhi.
Karya-Karya Beliau
1.    at tafsir, disebutkan ad dawudi dalam tabaqat al muffasirin 1/250
2.    al musnad, diriwayatkan al hasan bin sufyan bin amir an nasawi
3.    al jihad, ditahqiq oleh Dr. naziah hammad
4.    al birri wa shalah
5.    as sunan
6.    at tarikh
7.    arba’in fil hadist
8.    raqa’ al fatawa
9.    az zuhud wa yalihi ar raqaiq

Pujian Para Ulama Kepada Beliau
Abu usamah berkata: tidaklah aku melihat orang yang lebih haus terhadap ilmu daripada abdullah bin al mubarok.
Ibnu mahdi berkata: aimmah itu ada empat, ats tsaury, malik, hammad bin zaid dan ibnul mubarok.
Sufyan berkata: sesungguhnya aku menginginkan setahun dari seluruh umurku seperti ibnul   mubarok, namun aku tidak kuasa meski hanya tiga hari.
Beliau adalah orang yang paling utama pada zamannya seorang hafidliul hadits. Sebagaimana dikatakan ibnu uyainah, kalaulah bukan karena kedekatnya dengan beliau dan kebrsamaan para sahabat dalam perangniscaya ibnul mubarok bisa menyamai mereka. Beliau adalh seorang yang faqih,alim, ahli ibadah, zuhud, syakhiyyan, pemberani, penyair, paling giat dalam menasehati umat, dan imamul muslimin. Mengusai berbagai bidang disiplin ilmu, fiqih, adab, nahwu, lughoh, syair, fashohah, zuhud, waro’, bijaksana, qiyamullail, ibadah, haji, perang, ahli berkuda, badan kuat, meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, ahli dagang, tidak suka berselish dengan sahabatnya.
Ibnu ma’in berkata: beliau orang yang cerdas, teguh pendirian, tsiqqoh, alim tentang hadits-hadits shohih, hadts- hadits yang termuat dalam buku-buku karangannya 20 atau 21 ribu.
Ismail bin ayasy berkata: seluruh kebaikan yang di ciptakan Allah ada pada beliau.
Beliau seoarng yang mustajab doanya,. Pernah tatkala beliau berjalan, beliau bertemu ornag buta, orang itu berkata: berdo’alah untukku! Maka berdo’alah beliau, seketika itu pula kembalilah pehlihatannya, kisah ini disaksikan dan diceritakan oleh abu wahb.
Yahya bin yahya alandalusy berkiasah tentang keutamaan beliau: ketika kami sedang berada di majlis malik, diberitahukan bahwa ibnul mubarok memohon izin untuk ikut bermajlis, dan diizinkanlah ia. Kami melihat malik bergeser dari tempatnya mempersilahkannya untuk duduk di sisinya, dan aku belum pernah melihatnya bergeser menyediakan tempat duduk bagi seorangpun selainnya. Lalu qori’ membacakan untuk malik, ketika sampai pada satu permasalahan, malik bertanya apa pendapat kalian tentang masalah ini? Abdullah segera menjawabnya dengan suara lirih, kemudian ia berdiri dan pergi, malik kagum atas adabnya lalu berkata kepada kami: ini adalah ibnul mubarok, faqihnya syam.

ZAINAL ABIDIN

A.   Kelahiran
Berawal dari tokoh agama berjuluk Longko Pati dari desa Nganguk Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bersama istrinya, mereka pindah dari kota Pati ke kota Blora, tepatnya di Banjarwaru Kec. Ngawen Kab. Blora, tanpa diketahui argumennya. Di sinilah lahir seorang putra bungsu bernama Zainal Abidin yang dalam perkembangannya mempunyai kecakapan ilmu agama. Kemahiran ilmu agamanya menimbulkan ketertarikan seorang hartawan di desa Talokwohmojo sampai suatu ketika Zainal Abidin dinikahkan dengan salah seorang putrinya bernama Haminah. Dari pernikahan inipun membawa ronde baru dalam sejarah Desa Talokwohmojo.
B.  Pendiri pesantren
Melihat potensi anak menantunya, ayah mertua Zainal Abidin meberikan sebidang tanah seluas satu hektare di bilangan desa Talokwohmojo untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu agama. Pada tahun 1900, di atas tanah pemberian mertuanya, dibangun sebuah langgar kecil untuk salat berjamaah warga sekitar. Selain berjamaah langgar itu juga menjadi tempat berusaha bisa Alquran sekaligus kitab-kitab kuning. Itu sebabnya, tempat ini lebih dikenal menjadi pondok pesantren.
Pada tahun-tahun berikutnya Zainal Abidin tidak hanya mengajarkan ilmu fikih dan ilmu Alquran saja, sebab pada tahun 1908 dia resmi dibawa ke atas menjadi mursyid tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah. Berjasa beliau telah mendapatkan izin mengajar dan mebaiat para santri tarekat di Desa Talokwohmojo pada khususnya dan warga desa sekitar biasanya.
Pelajaran tarekat itu didapatkan dari salah seorang mursyid Tareqat Naqsabandiyah Khalidiyah bernama K.H Ahmad Rowobayan, Padangan, Kabupaten Bojonegoro, ujung barat propensi Jawa Timur. Mulai tahun tersebut terdapat dua corak pendidikan agama; fikih-salaf dan tasawuf-tarekat. Pesantren itu yaitu pondok pesantren pertama dan tertua, serta satu-satunya pondok pesantren tarekat di kota Blora.
C.  Keturunan
Dari pernikahan dengan Haminah beliau mendapatkan sembilan anak dengan perincian anak laki-laki berjumlah enam dan anak perempuan berjumlah tiga. Beliau dinikahkan dengan murid guru tarekatnya bernama Ruqayyah setelah istri pertamanya meninggal dunia. Dengan Ruqayah beliau mendapatkan tiga putra dan putri. Pada tahun 1922 K.H Zainal Abidin menghadap Allah Swt.
Periode selanjutnya pondok salaf dan tarekat di pegang oleh putra pertama dari istri pertama, K.H Ahmad Hasan. Pada masa ini pondok sempat menemui guncangan saat menghadapi penjajah, terutama penjajah Jepang. Tingkah laku yang dibuat represif di alamatkan pada pondok pesantren tersebut, sampai pada kesudahannya K.H Ahmad Hasan wafat pada tahun 1942.
Sepeninggal K.H Ahmad Hasan, saudara kandung yang lebih mudanya, K.H Ismail, meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Beliau yaitu putra putra kedua dari ibu pertama pendiri pondok tersebut. Beliau murid kesayangan dari K.H Kholil Kasingan Rembang dan juga sempat berguru kepada Hadratus Syekh K.H Hasyim Asyari di Tebuireng. Di tangan K.H. Islamil tersebut pondok menemui perkembangan pesat, santri dari luar kota mulai berdatangan. Selain tempat persinggahan, pondok tersebut juga digunakan menjadi tempat perlindungan para ulama, pejabat dan warga. Tercatat dalam sejarah pada tahaun 1948 terjadi pemberontakan PKI pertama. Pondok tersebut menjadi tempat perlindungan ulama-ulama dan pejabat pemerintahan dari ancaman PKI. Belakang September pada tahun tersebut Blora dapat dikuasai oleh PKI Muso dan dalam waktu singkat membentuk pemerintahan baru.
Para pejabat dan ulama mendapatkan ancaman bahkan gerakan pembantaian. Bupati Blora dan tokoh-tokoh yang lain di bantai oleh PKI pada saat itu. Demikian pula saat serangan militer belanda yang kedua pada tahun 1949. Pondok Pesantren tersebut juga pernah menjadi markas pertahanan para tentara dan sukarelawan sewaktu melawan Belanda. K.H Ismail wafat tahun 1956.


D.  Perkembangan pesantren
Pada periode ini kepemimpinan diserahkan kepada putra mantu dari putri dari istri kedua K.H Zainal Abidin, yakni K.H Nahrowi. Mulai dari periode ini terdapat pemisahan pengelolaan pondok syariat dan tarekat. K.H Nahrowi mengurus pondok tarekat dan pondok syariat di serahkan pada putra bungsu K.H Zainal Abidin, yaitu K.H Abbas. Pada periode tersebut muncul inisiatif untuk memberikan nama pondok pesantren dengan nama Mambaul Huda. Dalam memegang pondok syariat, K.H. Abbas dibantu K Rosikhin, Putra dari K.H Nahrowi. Tetapi pada tahun 1976 K.H Abbas wafat dan sepuluh tahun kesudahan menyusul K.H Nahrowi.
Sepeninggal K.H. Abbas, pondok syariat dipegang oleh K.H Ali Ridlo, yang juga menantu K.H Abbas, sedangkan sepeninggal K.H Nahrowi pondok tarekat diserahkan kepada putranya, K.H Musthofa Nahrowi. Beliau yaitu merupakan mursyid Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah yang di baiat oleh ayahnya sendiri. Meskipun banyak perkumpulan pengajian tarekat semisal Syadziliyah dan Qodiriyah, di Blora hanya benar satu mursyid yaitu muryid yang benar di Pondok Pesantren Mambaul Huda. Sekarang, corak pendidikan yang benar di sana bukan hanya syariat dan tareqat, tetapi juga telah menyertai kurikulum negara.


Biografi Salman al-Farisi

          Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.

          Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan digelari dengan Salman Al-Khair. Ia berasal dari desa Ji di Isfahan, Persia. Ia adalah sosok sahabat yang terkenal memiliki ide-ide brilian, memiliki tubuh yang kuat, dan pandai dalam ilmu-ilmu syariat. Ia pernah menjadi penjaga api di kuil tempat pemujaan orang-orang Persia.

      Masuk Islamnya Salman
          Sebelum Islam datang, Salman memeluk agama Nasrani, karena ia terpikat dengan model sembahyang mereka. Suatu ketika, atas saran seorang  pendeta yang ditemuinya di Mosul, Salman pergi menemui Rasul yang saat itu sudah hijrah ke Madinah. Sang  pendeta mengabarkan bahwa seorang Nabi akan diutus pada zaman itu. Ia berpesan agar Salman mengikuti Nabi tersebut dan Nabi itu akan hijrah ke sebuah daerah yang banyak ditumbuhi pohon kurma dan daerahnya diapit dua bidang tanah yang berbatu hitam.

          Setibanya di Madinah, pada malam harinya, ia pergi menemui Rasulullah sambil membawa makanan sembari berkata, ''Makanan ini adalah sedekah.'' Nabi tidak memakan makanan tersebut dan mempersilahkan para sahabatnya untuk menyantapnya. Kemudian Salman datang lagi dan membawa makanan sambil mengatakan, ''Makanan ini adalah hadiah.'' Kali ini Nabi memakan sebagiannya dan sebagiannya Beliau berikan kepada para sahabatnya.

          Suatu hari, Salman melihat ciri kenabian di pundak Nabi. Takala  ia  melihat  tanda-tanda kenabian pada diri Nabi, di mana Beliau tidak makan sedekah, menerima hadiah, dan di pundaknya ada cap kenabian, Salman pun langsung  mengikrarkan diri masuk Islam dan menceritakan liku-liku perjalanannya kepada Beliau.

Ikut perang Khandaq (parit)
          Perang Khandaq merupakan perang pertama kali yang diikuti oleh sahabat mulia ini. Karena sebelumnya ia masih terkungkung oleh perbudakan. Sampai akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi para sahabat agar membantu Salman, yaitu untuk menebusnya. Setelah itu, Salman al Farisi tidak pernah absen menyertai Rasulullah dalam peperangan selanjutnya. Dalam perang Khandaq, Salmanlah orang yang mengusulkan untuk menggali parit berdasarkan pengalamannya dalam peperangan di Persia. Orang-orang Arab takjub dengan usulan Salman untuk menggali parit tersebut.

Menjadi Gubernur Kufah
          Tatkala masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Salman diangkat untuk menjadi Gubernur Kufah. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk Kufah lantas memadati jalan raya untuk menyambut kedatangannya. Mereka menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Namun ternyata  mereka salah, Salman al Farisi datang ke kota itu sendirian dan hanya menunggang  seekor  keledai. Dia duduk di atasnya sambil memegang tulang berdaging yang digigitnya sedikit demi sedikit.

          Saat menjabat sebagai gubernur, Salman bertemu dengan seorang saudagar yang baru pulang berniaga dari Syam membawa kurma dan buah tin. Saudagar itu menyuruh Salman untuk mengangkut barang dagangannya karena ia mengira Salman seorang kuli angkut barang. Salman pun membawa barang dagangan saudagar tersebut. Ketika si saudagar mengetahui bahwa Salman adalah gubernur Al-Madain, ia  meminta  maaf  atas kelancangannya. Akan tetapi Salman tetap membawa barang dagangan tersebut sampai ke tempat tujuan.

Kisah anak sholeh yang mengendong ibunya
          Suatu hari ada seorang anak sholeh (Salman al farisi) yang mengendong  ibunya yang tercinta. Dikisahkan ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri. Saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada ibunya, ingin membahagiakan ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya. Ketika akhirnya mereka sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat  mereka cintai dan mereka rindukan.

          Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya  menggendong ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”. Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu, “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh, tapi maaf  (sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”.

Kisah cinta Salman al Farisi 
          Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Namun ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah. Salman pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, Abu Darda’. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya.
Setiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah. Singkat cerita Abu Darda’ mengutarakan maksud kedatangannaya kepada tuan rumah tentang lamaran Salman kepada putri sang tuan rumah. Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut.
          Mewakili sang putri, ibunya pun mengatakan bahwa putrinya menolak lamaran Salman. Kemudian sang ibu menjelaskan bahwa putrinya akan menjawab iya bila  Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman. Jika seperti pria pada umumnya, maka hati Salman pasti hancur berkeping-keeping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun Salman merupakan pria shaleh, seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menerima keputusan sang wanita dengan lapang dada. Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda untuk persiapan pernikahan. Salman juga akan menjadi saksi pernikahan mereka berdua.

Hasan Al – Basri
Oleh : Irma Melati

1.    Biografi Hasan Al – Basri
Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang  perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya  pada tahun !" H di kota madinah setahun setelah  perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan  bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab. Khoiroh adalah bekas pembantu dari Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rasulullah Saw.
Sejak kecil Hasan Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya. Para ahli sejarah menguraikan  bahwa Ummu Salamah paling luas pengetahuannya diantara para istri-istri Rasulullah Saw lainnya.
Dan ketika menginjak 14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basrah terkenal dengan kota ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in yang singgah di kota ini. Banyak orang  berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang pendengar.
Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq) dan mendirikan madrasah di sana. Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr ibn Ubaid dan Wasil ibn Atha. Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.
Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.
Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. dia merupakan tokoh sufi dalam islam . Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.
2.   Pujian Ulama kepada Hasan Al – Basri
Setelah al-Hasan tumbuh menjadi seorang pemuda. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kecerdasan kepadanya, maka beliau menimba ilmu kepada para sahabat kibar (senior) seperti Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan sejumlah sahabat kibar lainnya radhiallahu ‘anhum. Dengan kemapanan ilmu dan kesungguhan dalam ibadah hal itu semakin menambah keutamaan bagi al-Hasan. Sehingga tidak heran bila Qotadah mengatakan, “Al-Hasan adalah orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram.”
Abu Burdah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih serupa dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding beliau.”
Humaid bin Hilal berkata, “Suatu hari Abu Qotadah berwasiat kepada kami, “Tekunilah Syaikh ini, karena aku tidak melihat seorang yang pendapat-pendapatnya lebih mirip dengan pendapatnya Umar selain beliau.”
Anas bin Malik berkata, “Bertanyalah kalian kepada al-Hasan, karena beliau selalu ingat tatkala kami lupa.”

a)    Potret ibadah beliau
Ibrahim bin Isa al-Yaskuri berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang selalu berada dalam kesedihan (takut akhirat ed.) kecuali al-Hasan. Aku tidak melihatnya melainkan seperti seorang yang baru terkena musibah.”
As-Surri bin Yahya berkata, “Adalah al-Hasan selalu berpuasa bidh, puasa pada bulan-bulan haram (mulia), demikian juga puasa Senin dan Kamis.”
Dari Syu’aib ia berkata, “Aku pernah melihat al-Hasan tengah membaca Alquran sedang ia menangis sampai mengalir air matanya membasahi jenggotnya.”
b)   Sikap beliau terhadap Fitnah
Di kala itu, kepemimpinan kaum muslimin jatuh ke tangan seorang pemimpin zalim, al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Karena kezalimannya banyak kaum muslimin yang dibunuh secara zalim. Sebagian orang tidak sabar melihat kekejaman dan kezaliman pemimpin mereka itu di saat mereka seharusnya memberikan ketaatannya kepada kholifah kaum muslimin. Di antara mereka adalah sebagian kelompok yang dipimpin oeh Ibnu Asy’ats yang tengah merekrut dan menyusun kekuatan untuk mengkudeta pemimpin mereka al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Di tengah gejolak fitnah besar yang merata semacam itu, seorang muslim akan diuji siapakah di antara mereka yang tetap berada dalam jalan selamat yang ditunjukkan oleh syariat dan tampaklah orang-orang yang tidak sabar lalu meninggalkan syariat. Oleh karena itu, mari kita menimba ilmu dari seorang alim tabi’in tentang bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah.
Dari Sulaiman bin Ali ar-Rab’i ia berkata, “Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats yang hendak meemrangi al-Hajjaj, pergilah Uqbah bin Abdil Ghafir, Abul Jauza, dan Abdullah bin Ghlalib untuk menemui al-Hasan dan meminta fatwa kepada beliau. Mereka memerangi seorang thaghut ini (al-Hajjaj bin Yusuf, pen.) yang telah menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan merampas harta yang haram untuk dirampas, telah meninggalkan shalat, dan telah melakukan ini dan itu…’ (Mereka menyebutkan semua tindak-tanduk dari al-Hajjaj bin Yusuf). Lalu al-Hasan berkata, ‘Namun, aku berpendapat kalian jangan memeranginya. Karena kalaulah ia adalah suatu hukuman untuk kalian, maka sekali-kali kalian tidak akan mampu menolak hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pedang-pedang kalian, namun bila ia adalah musibah dan ujian untuk kalian, maka bersabarlah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum kepada kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik yang memutuskan hukum.’ Namun, mereka tidak menggubris perkataan al-Hasan bahkan mengatakan, ‘Apakah kita akan menaati perkataan keledai liar itu..!? (Hajaj)’ Mereka pun tetap nekad keluar bersama Ibnu Asy’ats hingga akhirnya mereka terbunuh semua.”
Beliau juga mengatakan, “Seandainya manusia tatkala diuji dari sisi pemimpinnya mereka mau bersabar, tentu mereka akan mendapat jalan keluarnya. Namun, mereka begitu tergesa-gesa menghunus pedang-pedang mereka. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah mereka datang dengan membawa kebaikan.”
3.   Beberapa perkataan Mutiara Hasan Al – Basri
Dari Imran bin Khalid bahwa al-Hasan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mukmin yang sesungguhnya adalah yang selalu merasa sedih baik di kala pagi maupun sore, karena dia akan selalu di antara dua rasa takut, antara dosa yang sebelumya telah ia perbuat sedang ia tidak atahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan perbuat kepadanya dan ajal yang akan menjemputnya yang juga ia tidak tahu apa yang akan menimpanya dari kebinasaan.”
Dari Hazm bin Abi Hazm ia mengatakan, “Aku pernah mendengar al-Hasan berkata, ‘Sungguh jelek dua sahabat ini yaitu dinar dan dirham, karena keduanya tidak akan memberi manfaat kepadamu sampai keduanya berpisah darimu’.”
Beliau juga mengatakan, “Tidaklah seorang yang memuliakan dirham kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.”
Dari Zuraik bin Abi Zuraik ia berkata bahwa al-Hasan pernah mengatakan, “Sesungguhnya fitnah apabila datang maka akan diketahui oleh setiap yang alim dan apabila ia lenyap baru diketahui oleh setiap yang jahil.”
4.   Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang dapat kita petik dari imam besar ini di antaranya.
Kegagahan dan ketampanan serta nasab bukanlah tolok ukur keutamaan seseorang. Ketakwaan, ilmu, dan amal seseorang itulah yang menjadi landasan penilaian keutamaan.
Kewajiban rakyat adalah tetap wajib menaati pemimpinnya, sekalipun mereka berbuat zalim kepada kita, selama mereka tetap muslim dan melaksanakan shalat, karena hal itu membawa maslahat yang lebih umum, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada umatnya dalam mengahdapi pemimpin yang zalim: “Hendaklah kalian tetap mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia menzalimimu dan mengambil hartamu, maka tetaplah kalian wajib mendengar dan menaatinya,” (HR. Muslim)
Sikap seorang mukmin tatkala terjadi fitnah adalah bersikap wara’ dan menjauhkan diri dari fitnah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada kita tentang hal ini dalam sabdanya,
Sesungguhnya akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih utama dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan orang yang berjalan masih lebih baik dari yang memiliki andi di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi: 4/486)
Maka jalan yang selamat tatkala terjadi fitnah adalah berusaha menjauhkan diri dari fitnah sejauh-jauhnya dan jangan sekali-kali menceburkan diri dalam fitnah tersebut karena hal itu berarti kebinasaan.
5.   Pemikiran tasawufnya
dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman, sehinggan ajaran itu melekat pada dirinya sikap maupun perilaku pada kehidupan sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud.
dengan gigih dan gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan kemudian muncullah kehidupan sufistik
prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. #erasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah. dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motifasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar pengabdian kepada Allah dan sikap da)a’ ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-NYA
6.    Corak Pemikiran Tasawufnya
Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakat khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu  beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni. 
7.    Ajaran-Ajaran Tasawufnya
 Ajaran-ajaran Hasan Al-Bashri adalah an)uran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya . Sikap tasawuf Hasan Al-Bashri senada dengan sabda Nabi yang berbunyi :  “Orang yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana yang orang duduk di  bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya” 
8.   Karya-karyanya
Banyak dari buku atau kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kesuhudan serta  berbagai hal yang mengarah kepada kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang mana berkat perjuangan  beliau berdampak kepada perubahan masyarakat islam kepada suatu hal yang lebih baik.Dan juga menjadi tongkat estafet bagi ulama-ulama setelah beliau dalam menerapkan mendefinisikan sehingga sebagai pembuka jalan generasi berikutnya. Dan jarang dari buku atau kitab para ulam-ulam yang membahas tentang karya-karya beliau. Karena keterbatasan kemampuan, penulis belum bisa memaparkan karya-karya beliau tapi ada ajaran beliau yang menjadi pembicaraan kaum sufi adalah :
“Anak Adam!
Dirimu, diriku!
Dirimu hanya satu,
Kalau ia binasa,
 binasalah engkau.
Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu. 
Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.
Dan tiap-tiap bencana yang bukan neraka adalah mudah”.
                                                                       


MALIK  BIN DINAR
Oleh : RAHMA FADILLAH BRSIMATUPANG


Syekh Malik bin Dinar
 Syekh Malik bin dinar disebutkan sebagai tokoh tradisionis handal, transmisi dari pemerintah seperti Anas bin malik dan Ibnu sirin.  Ia meninggal pada usia 90 tahun di basra. Malik bin Dinar As Sami’ adalah putera seorang budak berkebangsaan Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan Al Bashri. Beliau tercatat sebagai seorang ahli Hadis Shahih dan merawikan Hadis dari tokoh-tokoh kepercayaan di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin.
Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka
.
  Saat masa remaja dikehidupan Malik bin Dinar ia selalu melakukan perbuatan dosa, mabuk-mabukan, berbuat maksiat, berbuat onar, memakan hak orang lain, dan memakan riba, tidak ada satu maksiat pun yang tidak dilakukannya. Ia sungguh sangatlah jahat hingga manusia lain pun tidak menghargai nya karena kejahatannya. Pada suatu waktu Malik Bin Dinar menginginkan untuk menikah dan memiliki keluarga, maka ia menikahlah dan di karuniakan seorang anak yang cantik bernama Fatimah. Dia sangat mencintai putrinya, Suatu ketika anak yang di cintainya melihat Malik Bin Dinar sedang mabuk dan memegang segelas minuman keras, Fathimah pun mendekat dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai baju Malik Bin Dinar. Fatimah tidak tega melihat ayahnya melakukan hal seperti itu karena dia sangat mencintai ayahnya, saat usianya genap tiga tahun fatimah meninggal dunia. Malik Bin Dinar semakin menjadi setelah kehilangan anak yang di cintainya, dan dia selalu mabuk sepanjang malam hingga tak sadarkan diri dan bermimpi. Didalam mimpi tersebut dia melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat, kemudian Malik Bin Dinar melihat seekor ulat besar yang ganas merayap mengejarnya dengan membuka mulut, dia pun lari ketakutan lalu dia melihat di atas gunung terdapat anak kecil “ Wahai fathimah tolonglah ayahmu !” maka fatimah pun memegang Malik Bin Dinar dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara Malik Bin Dinar sangat ketakutan lalu fatimah duduk di pangkuan Malik Bin Dinar sebagaimana dulu dia di pangku ayahnya saat di dunia. Malik Bin Dinar berkata : “ Wahai putriku, beritahu kepada ku tentang ular itu. Fatimah berkata : “Itu adalah amal keburukan engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakan mu. Tidak kah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat ?  Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja aku tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepada mu.” Malik Bin Dinar pun terbangun dari tidurnya, kemudian ia mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni surga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.

B. Syekh Malik bin Dinar. 
    
    Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada penolong-mu!  Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada penolong-mu! penolong-mu senantiasa menyeru memanggil mu di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu : “Barang siapa mendekatkan dirinya kepadaku satu jengkal, maka aku akan mendekat kan diriku kepadanya satu hasta,  jika dia mendekatkan dirinya kepadaku satu hasta, maka aku akan mendekatkan diriku kepadanya satu depa, siapa yang mendatangi ku dengan berjalan, aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”  Kita memohon kepada Allah SubhanahuwaTa’ala aga memberikan rizki taubat kepada kita, tidak ada sesembahan yang hak selain engkau, maha suci engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim. Malik bin Dinar Rahimahullah wafat pada tahun 130 H. 



Al Muhasibi
Oleh : Laili Muqarramah

A.   Biografi Al Muhasibi
Al muhasibi (w. 243 H/875 H) di lahirkan di basrah dan menghabiskan sebagian besar usianya di Baghdad, nama lengkapnya adalah abu abdilah al-harist al-muhasibi. Ia mengembangkan psilokologi moral yang paling ketat dan paling berpengaaruh di tradisi ahlak tasawuf. Pengaaruh al muhasibi bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung , terutama melali\ui muridnya, sari al-saqathi (paman dari al junaid). Psikologi al muhasibi bias di temukan dalam karya-karya abu tholib al makki mempengaruhi pemikiran abu hamid al ghozali (w. 111 M) yang karya –karya tasawufnya terkenal di dunia islam. Hingga saat ini.
Karya utama dari al muhasibi adalah kitab al-ar’ayat lihukukillah yang berisi tentang analisis yang bagus dan emndalam tetang berbagai bentuk idioleisme yan mendalam tentang berbagai bentuk egoinisme manusia, metode unutk mengujinya, periangatan untuk bersikap waspada terhadap egoisme itu,dan peringatan agar kita tidak terikat dan di sibukka olehnya, demikian komentar micheal A.sells.
Bentuk-brntuk utama egoisme yang di bahas oleh al muhasibi dalam karyanya itu meliputi:
1.    Kesombongan dan keinginan untuk menampilkan kebaikan diri (riya’)
2.    Cinta kepada diri sendiri (narsisme¬)
3.    Membanggakan diri (kibr)¬
4.    Angkuh (ujub) dan
5.    Berhayal bahwa diri sendiri merupakan orang yang tepat (ghrah)

setiap bentuk egoisme itu saling berhubungan satu sama lain, misalnya sikap selalu ingin bersaing, bermusuhan, serakah, dan membanggakan diri sendiri,dan obat penangkal egoisme dan turunnannya adalah sikap iklas yang di dasarkan atas perenungan terhadap tuhan tan maha esa, nilai-nilai al quran, serta akal manusia yang selalu bekerja dalam kerangka wahyu Tuhan.

B.  Pemikiran Al Muhasibi Terhadap Tasawuf
Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat islam. Al-muhasibi menemukan kelompok didalamnya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Diantara mereka terdapat pula orang-orang terkesan sedang melakukan ibadah karenaAllah,tetapi sesunguhnya tidak demikian.
Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.
Al muhasibi juga dikenal sebagai ulama yang cukup lama berkecimpung dalam ilmu hadist dan fikih maka tasawufnya yang dikembangkan adalah tasawuf yang berlandasan al quran dan hadist dan tidak melanggar batas-batas syariat . dan juga ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu kalam, maka tasawufnya sangat menghargai akal. Ia sangat menyakini peranan hadist ”Allah tidak akan menerima sholat, puasa, haji, umroh, sedekah, jihad, dan berbagai kebaikan yang di ucapkan dari seseorang yang tidak memahami hadits.
C.  Ajaran-Ajaran Tasawuf Al-Muhasibi
Sebagaimana diterangkan diatas, al Musahibi melanjutkan dan memperluas pandangan tasawuf makruf al-karhi. Kalau makruf al-karkhi menyatakan bahwa puncak cinta itu apabila yang mencintai kenal (makrifah) kepada yang di cintai. Inilah puncak cinta yang mencapai ke titik ketenangan. Al muhasibi menjelaskan lagi cinta cinta hamba kepada Allah adalah semata karunia Allah, yang ditempatkan didalam hati yang di cintainya .kalau cinta telah bersemayam dan tumbuh serta berkembang dalam jiwa, belum sampai kepada yang dituju sebelum ia merasakan bersatu (ittihad) denga yang di cintai . inilah ajaran tasawuf al muhasibi yang nantinya di kembangkan lagi oleh para shufi dibelakangnya. Berikut ini beberapa ajaran-ajarannya;

1. Pandangan Al-Muhasibi tentang ma’rifat Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun, dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasa-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami pengertian batin agama. Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hasits Nabi yang berbunyi, “Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Berdasarkan hadits diatas dan hadis-hadis senada, Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah. Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:

a. Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud kongkrit ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan samat. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.

b. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.

c. ada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.

d. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dan fana’ yang menyebabkan baqa’.


2. Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Raja’ Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya.yakni, ketika disifati dengan khauf dan raja’, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal wara’ , menurutnya, adalah ketakwaan pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat al-nafs) ; pangkal introspeksi diri adalah khauf dan raja’, pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentanga janji dan ancaman Allah; pangakal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.

Khauf dan raja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dikaitkan dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah.Untuk itu, ia menganggap apa yang diungkapkan ibnu Sina dan Rabi’ah al-‘adawiyyah sebagai jenis fana atau kecintaan kepada Allah yang berlebih lebihan dan keluar dari garis yang telah di jelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dari kalangan ahlusunnah, Al-muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan.Ajakan ajakan Al-quran pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (suggesti) dan tarhib (ancaman). Al-quran jelas pula berbicara tentang surga dan neraka.

15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,

16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.

18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Raja’, dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi
3.Wejangan-Wejangan Al-Muhasibi Apabila motivasi dalam mengajari dan membantu orang adalah ridha Allah semata, pahala pasti didapat. Tetapi jika motivasinya adalah hasrat untuk dihormati, dikagumi, dipuji dan diberi keuntungan duniawi, jangan lakukan kebaikan itu hingga motivasi anda berubah, sebab apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. (Q.s. Al Qoshosh : 60).

Kalau hati kacau karena kedua motivacsi silih berganti mengisi relung hati, jangan memaksakan diri hingga motivasi anda benar-benar mengharapkan ridha Allah Swt.
Kalau anda melakukan ibadah ritual atau ibadah sosial dengan ikhlas, lalu ada orang yang melihat hingga timbul semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah, ada dua kemungkinan
1.Kalau motivasi peningkatan kualitas adalah ria.
2. Kalau motivasinya ikhlas, anda pengikhlas sejati.Apabila anda ragu dan tidak tahu sedang ria atau masih ikhlas, perbaharuilah niat anda dengan keikhlasan! Meskipun tidak memperbaharui niat, ibadah tetap sah, karena anda yakin akan ikhlas dan ragu akan ria.
Ikhlas dan ria pada hakikatnya adalah hasrat yang membonceng keinginan beribadah. Keinginan beribadah adalah hasrat melaksanakan perintah. Ikhlas adalah mendambakan pahala Allah Swt semata dan tidak peduli dengan keadaan duniawi. Ria adalah ambisi mendapatkan pujian, kehormatan dan tujuan-tujuan lain dalam beribadah.
Ada orang yang tidak tenang karena dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya. Jalan keluarnya adalah mencermati jiwa. Kalau jiwanya tidak suka dan hatinya gelisah ketika dicela, dihina dan dilecehkan masyarakat, jelas ia telah ria. Sebaliknya, jika sikap masyarakat tidak mempengaruhi kalbunya, ia ikhlas. Mungkin pada awalnya ia ria dan senang dipuji, tetapi kemudian terlintas kesadaran untuk mengabaikan pujian, masih bisa dikategorikan ikhlas.
D.  Karya-karya Al Muhasbi
Al muhasibi menulis karya tulis sebanyak 200 buah, yang berbentuk risalah. Dalam risalah itulah ia mengemukakan pandangannya, baik dala bidanag fikih, dan ilmu kalam dan banyak risalah tentang tasawuf, namun dari sekian banyak karya tulisnya . hanya sedikit yang di temukakannya di antaranya:
1. Ar-riayat lihukukillah(memelihara hak-hak Allah )
2. Al washiyah an-nasaih (wasiat atau petunjuk)
3. Risalah al-mutarsidin (orang-orang yang memperoleh peunjuk)
4. Al masa’ilfi amal al qulub wa al-jawarih wa al-aql(tentang aktifitas hati,anggota tubuh, dan akal)
5. Al fahmi al quran (memahami al quran)



Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Oleh : Muhammad Tahiri

1.    Biografi Syekh Abdul Qadir Al Jailani
a)    Nama dan Gelar
Nama Abdul Qadir Jaelani juga dilafalkan Abdul Qadir Gaylani, Abdel kader, Abdul Qadir, Abdul Khadir - Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany, Abdel Qader Gilany.
Ibnul Imad menyebutkan bahwa nama lengkap syekh ini adalah Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailany.
Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha, melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham sebagi berikut: "Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu".
Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut: Dari Ayahnya(Hasani):
Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad Al Akbar bin Dawud bin Musa At-tsani bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdullah Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam
Dari ibunya(Husaini): Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah 'Atha bin Mahmud bin Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami' Az-Zahid bin Abu Ala'uddin (ﻋﻼﺀﺍﻟﺪﻳﻦﺍﻟﺠﻭﺍﺩ) bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam
Abdul Qadir lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M.[6] selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran. Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama.
b)  Pendidikan
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.
2.   Dakwah,  Ketokohan, Dan pengaruh
a)    Awal kemahsyuran
Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
b)  Murid
Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.
c)   Karya Tulis
Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."
Karya karyanya :
1.    Tafsir Al Jilani
2.    al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
3.    Futuhul Ghaib.
4.    Al-Fath ar-Rabbani
5.    Jala' al-Khawathir
6.    Sirr al-Asrar
7.    Asror Al Asror
8.    Malfuzhat
9.    Khamsata "Asyara Maktuban
10. Ar Rasael
11. Ad Diwaan
12. Sholawat wal Aurod
13. Yawaqitul Hikam
14. Jalaa al khotir
15. Amrul muhkam
16. Usul as Sabaa
17. Mukhtasar ulumuddin
Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis dia. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.
d)  Perkataan ulama tentangnya
Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai dia meninggal dunia.
Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu."
e)   Perkataan Guru dan Murid
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya. 2) Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf). 3) Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut. 4) Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya. 5) Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar. 6) Dua karakter dari Utsman bin Affan Utsman yaitu dermawan dan bangun tahajjud pada waktu orang lain sedang tidur. 7) Dua karakter dari Ali yaitu alim cerdas intelek dan pemberani.
Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan: Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar Al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut".
Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
3.   Kontroversi
Al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi al-Mishri (nama lengkapnya adalah Ali bin Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Judul asli Kiab itu cukup panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.

Imam Adz-Dzahabi

Al-Sam'ani berkata, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup dia." Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, "Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."
Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan dia mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung, tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah ta'ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas namanya." Imam Adz Dzahabi juga berkata, " Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi".

Ibnu Rajab Al-Hambali

Dalam mengomentari kitab kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan: "Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."[11]
Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja'far al Adfwi (nama lengkapnya Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi'i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya'ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi dia dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy-Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini. Subhanallah
4.   Wafat
Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 11 Rabiul akhir di daerah Babul Azaj wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.



Al Ghazali
Oleh : Mulyadi Saputra

1.    Biografi al ghazali
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Mishbah Al-Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al-Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anak dari Situ Al-Mana bintu Abu Hamid Al-Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al-Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al-Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al-Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al-Akhbar, ini pendapat Al-Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya, 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:326 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193 dan 194)

2.   Kehidupan dan perjalanannya menuntut ilmu 
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:194)
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191)
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

3.   Pengaruh Filsafat Dalam Diri Al-Ghazali
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa, 6:54)
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa, 6:54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala, 19:328)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa, 4:164)

4.   Masa akhir kehidupannya

Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya), “Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan saya.’ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.’ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari).” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:201)
5.   Karya-karyanya
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan akidah:

1. Arba’in fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
3. Al Iqtishad fil I’tiqad.
4. Tahafut Al-Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5. Faishal At-Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:

1. Al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fikih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar ….” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 17 dan 18)
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 19)
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
2. Mahakun Nadzar.
3. Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
4. Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
5. Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
6. Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
7. Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al-Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al-Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al-Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:329)
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
10. Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
11. Qanun At-Ta’wil.
12. Fadhaih Al-Bathiniyah dan Al-Qisthas Al-Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
13. Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al-Mu’tashim Billah Al-Baghdadi.
14. Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
15. Ar-Risalah Alladuniyah.
16. Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:

– Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:334).

– Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al-Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al-Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:339-340)

– Imam Subuki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah (Lihat 6:287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al-Mughni An-Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al-Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
17. Al-Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya
18.Al-Wasith.
19.Al-Basith.
20.Al-Wajiz.
21. Al-Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As-Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:224-227.

6.   Aqidah dan mazhab beliau

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al-Wasith, Al-Basith, dan Al-Wajiz. Bahkan kitab beliau Al-Wajiz termasuk buku induk dalam Mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz Zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi Asy-Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al-Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al-Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al-Maqshad Al-Asna, Jawahirul Qur’an dan Al-Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al-Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga akidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al-Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam akidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah, 2:628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al-Ghazali, bahwa tasawuf Al-Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al-Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al-Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al-Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al-Juhani, 2:928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al-Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al-Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al-Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).”




Biografi Abu Thalib al Makki
Oleh : Muhammad putra Adinata

Nama lengkap Abu Thalib Hadalah Muhammad bin Ali bin Athiyah Abu thalib al-Makki al-Harits al- Maliki. Dia merupakan tokoh sufi dan penulis spiritual muslim awal abad pertengahan yang cukup berpengaruh. Bahkan kitabnya menjadi rujukan banyak sufi yang datang setelahnya. Sebagaimana sufi-sufi lain, lahir dan wafat Abu Thalib tidak diketahui secara pasti. Bahkan makamnya pun masih belum jelas keberadaanya. Hanya saja dalam beberapa buku dijelaskan bahwa dia wafat di Baghdad pada tahun 386 H/996 M.[1] Dia tumbuh  besar di Makkah sekitar abad ke-10, sebagian yang lain mengatakan dia dilahirkan di Jabal yaitu daerah antara Baghdad dan Wasith. Kehidupan dan pendidikan yang dijalani oleh Abu Thalib al-Makki tidaklah banyak disebutkan di dalam sejarahnya para tokoh Sufi.
Abu Thalib merupakan tokoh sufi yang sangat tekun dalam mengkaji ilmu agama. Penguasaannya dalam bidang agama sudah tidak diragukan lagi. Dalam menimba ilmu beliau banyak berguru kepada orang-orang alim. Seperti; Syekh Ali bin Ahmad bin al-Mashri, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad al-jarajarini al-Mufid dan kepada Abul Hasan Ahmad bin Muhammad Ibnu Ahmad bin Salim al-Shaghir, di mana beliau memperdalam ilmu tasawufnya.
Ajaran tasawuf yang dipelajarinya ialah Taswuf Salafiyah yang didalaminya dengan berguru kepada Abu al-Hasan di Iraq. Kemudian setelah belajar tasawuf yang dibawanya banyak diikuti oleh oleh masyarakat Basrah dan umat islam saat itu. Karena tasawuf beliau bersumber dari Tasawuf Sahab bin Abdullah al-Tistari.
Sebagai seorang Sufi, Abu Thalib memiliki dasar-dasar pemikiran yang telah dikembangkannya. Pemikiranya banyak tertulis dalam karya monumentalnya yaitu; Qut al-quluub fi mu`allamatil mahbub wa washf thariq al-muriid ila maqaam al-tauhiid yang banyak dibaca secara luas dan dianjurkan selama beberapa abad. Kitab ini menjadi rujukan para sufi, bahkan al Ghazali sebelum menulis Ihya Ulumuddin. Dan sebagai sufi yang mengembangkan tasawuf amali, Abu Thalib memiliki jasa besar dalam dunia Thariqah.Tasawuf Amali Abu Thalib al Makki
Sebagaimana para sufi amali lainnya, Abu Thalib al Makki dalam tasawufnya juga menekankan pada aspek amaliyah. Tasawuf amali yang oleh beberapa kalangan disebut juga sebagai tasawuf syar’i, memaksimalkan perintah syari’at sebagaimana digariskan Syari’ (Allah) lewat Nabi Muhammad. Karena kedekatan pada Allah dan cinta-Nya hanya dapat diupayakan dengan pengamalan syari’at itu sendiri dengan sesungguhnya. Syari’at tidak dijadikan sekedar dijadikan hal instrumental belaka, tetapi diikuti dengan kemantapan hati. Shalat, puasa, haji, zakat dan lainnya yang dibarengi dengan keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam melaksanakan, tidak sekedar menunaikan kewajiban atau sekedar symbol keislaman.
Begitu pula dalam hal keyakinan. Tasawuf yang berangkat dari tauhid, harus benar-benar mentauhidkan Tuhan baik dalam ucapan, hati dan tindakan. Ketika seseorang bersaksi akan Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, maka dia harus siap dengan konsekuensi-konsekuensi logis keimanan dan keislamannya.
Menurut Abu Thalib al Makki, Tasawuf hanya dapat ditegakkan di atas dasar-dasar yang kuat. Tanpanya, dia tidak berarti apa-apa. Dan untuk mencapai dasar-dasar tersebut, maka seseorang harus melalui tujuh tahap sebagai berikut:
1.        Kehendak yang benar dan konsekuen
2.        Membina hidup takwa dan menolak keburukan atau maksiat
3.        Memiliki pengetahuan keadaan diri, mengetahui kelemaahan diri
4.        Selalu makrifat dan dzikir
5.        Banyak tobat nasuha
6.        Makan makanan halal dan tahu hukumnya sebagaimana penjelasan syara’
7.        Selalu bergaul dengan orang yang shaleh dan menegakkan takwa yang sejati.[4]
Selanjutnya Abu Thalib al Makki menuliskan bahwa dalam penguatan tasawufnya ada empat penyangga untuk memprkuat kehidupan para sufi yaitu: pertama, membiasakan diri dengan keadaan yang lapar, karena pada saat itulah ia bisa bertaqaruf kepada tuhannya dan bisa mendapat hidayahnya. Kedua, dengan cara solat malam. Karena dengan cara itu kita bisa mendekatkan diri terhadap tuhannya tanpa ada gangguan dari siapaun. Ketiga, banyak berdiam diri dan menyebut namanya ,karena jalan itu bisa mendekatkan diri kepada tuhannya. Keempat, menyendiri dan banyak berzikir. karena dengan berzikir dapat mendekatkan diri kita kepadanya.
Melihat berbagai konsep dan ajaran Abu Thalib al Makki di atas, jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain tasawuf amali atau syar’i berupa maqam-maqam atau tingkatan jalan sufistik seseorang meliputi:
a.         Taubah: pembersihan diri dari dosa
b.        Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c.         Sabr: pengendalian diri
d.        Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
e.         Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
f.         Mahabah: cinta kepada Allah
g.         Ma'rifah: mengenal keesaan Tuhan
           Dalam tasawufnya yang menekankan pada amal, Abu Thalib banyak menekankan pada hakekat amal yang tampak di mata sebagai manifestasi dari Iman  yang tersimpan di dada. Dalam buku Tafsir Sufistik Rukun Islam yang diterjemahkan dari Quthu al Qulub karya Abu Thalib, Dia menuliskan bahwa perumpamaan iman dan amal itu tak ubahnya seperti hati dan tubuh, keduanya tidak terpisah. Tubuh tanpa hati tidak bisa hidup, begitu pula sebaliknya. Di sini dia mau menunjukkan hubungan iman yang ada di hati dan Islam yang tampak dalam berbagai ibadah. Hal ini merupakan penolakan terhadap mereka yang mengatakan Islam dan iman yang tak sejalan sekaligus menunjukkan bahwa tasawuf dan fiqih itu sejalan.[5] Hal ini jauh berbeda dengan para sufi falsafi dan mereka yang lebih melihat tasawuf sebagai kesatuan eksistensial dengan Tuhan.


Biografi Suhrawardi
Oleh : Muhammad Riski putra suhaimi

Suhrawardi yang memiliki nama lengkap Syihab al-Din Yahya bin Habasybi bin Amirak Suhrawardi, lahir di Suhrawardi, sebuah desa dekat kota Zinjan di Iran Selatan pada 549 H/1155 M dan meninggal di Aleppo pada 587 H/1197 M. Ia dijuluki al-Maqtul (yang terbunuh) atau al-syahid, sebab ia meninggal karena dibunuh atas suruhan al-Malik al-Zahir (raja Aleppo dan Siria Utama). Keputusan pembunuhan atas dirinya diambil karena ajaran tasawufnya dipandang telah menyeleweng dari rel Islam. Julukan lain yang sering dinisbatkan kepadanya adalah Syaikh al-Isyraq (Guru Illuminasi). Suhrawardi menjalani masa studinya pada beberapa guru di beberapa tempat. Majd al-Din al-Jili adalah gurunya yang pertama, yang mengajarinya filsafat dan teologi di Maragha. Selain itu, ia diajar pula Fakhr al-Din al-Mardini (w. 594/1198), yang juga mengajar di Isfahan atau Mardin. Orang inilah yang diduga sebagai gurunya yang terpenting. Al-Mardini berada di wilayah Aleppo, sesaat Suhrawardi dieksekusi peristiwa yang telah ia prediksikan sebelumnya tetapi sejauh ini tidak diketahui apakah ia punya peran, positif atau negatif, dalam intrik yang membawa ke pengadilan dan selanjutnya pembunuhan atas Suhrawardi. Al-Mardini merupakan orang sezaman dengan Abu al-Barakat al-Bahgdadi (w. 560/1164), seorang pengikut aliran anti Aristoteles yang terkenal. Ia juga murid dari Baghdadi yang lain dan menjadi rivalnya di Baghdad. Karena hal ini dan sekian alasan lain, al-Baghdadi termasuk salah seorang dari sedikit filsuf sezaman yang disebut-sebut Suhrawardi. Baik Suhrawardi maupun al-Baghdadi dalam persoalan filsafat yang mendasar sama-sama memberi peran penting kepada intuisi dalam bangunan filsafat. Menurut Hossein Ziai, struktur karya filosofis al-Baghdadi, Evidential (al-Mu’tabar), juga terefleksi dalam karya-karya filosofis Suhrawardi. Bagi Ziai, ini membuktikan al-Baghdadi semestinya dipandang sebagai satu sumber langsung yang penting bagi banyak pendekatan non-peripatetik Suhrawardi terhadap persoalan filsafat.
Al-Baghdadi, sebagaimana Suhrawardi, mengklaim bahwa magnum opus-nya, al-Mu’tabar, merupakan gubahan tentang dasar refleksi pribadi. Keduanya mengakui bahwa kepastian intuisi punya validitas yang sama dengan kepastian penalaran dan persepsi inderalah yang diterima oleh kaum Peripatetik. Guru Suhrawardi yang lain adalah Zahir al-Farsi (Nasr menyebutnya Zahiruddin al-Qari), dari tokoh ini ia belajar tentang pengamatan (al-Basha’ir). Juga belajar dari seorang ahli logika ternama, ‘Umar ibn Sahla al-Sawi (w. 540/1145), salah seorang dari filsuf yang namanya disebut-sebut oleh Suhrawardi, khususnya dalam kaitan dengan permasalahan-permasalahan tertentu logika yang rumit. Setelah menyelesaikan studinya, Suhrawardi melakukan perjalanannya ke Iran. Di sana ia menemui sejumlah syekh sufi dan sangat tertarik sebagian dari mereka. Pada kenyataannya, ia memasuki lingkaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama berkhalwat dalam mempelajari dan menekuninya.
Perjalanannya secara bertahap meluas hingga mencapai Anathole dan Suriah yang pemandangan alamnya memukau. Pernah dalam perjalanannya, ia pergi dari Damaskus ke Aleppo untuk menemui Malik Zahir, putera Salah al-Din al-Ayyubi yang terkenal. Malik yang punya kecintaan khusus kepada para sufi dan sarjana, menjadi tertarik kepada pemikir muda Suhrawardi, lalu mengundangnya untuk tinggal di istana. Suhrawardi yang sudah sangat menyukai daerah ini, dengan senang hati menerima undangan tersebut dan tinggal di istana. Akan tetapi karena caranya yang oensif dan kekurang hati-hatiannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin esoterik dihadapan semua jenis audiens; intelegensinya yang tajam yang memungkinkannya untuk mengalahkan lawan-lawannya dalam berdebat dan kepiawaiannya baik dalam filsafat diskursif maupun sufisme, membuatnya banyak dimusuhi orang, terutama di kalangan para ulama hukum (fuqaha). Belakangan, ulama-ulama tersebut menuntut kepada Malik Zahir, agar menjatuhi hukum mati terhadap Suhrawardi karena terbukti menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan agama.
Malik awalnya menolak. Maka mereka melanjutkan tuntutannya kepada Salah al-Din al-Ayyubi secara langsung. Pada saat itu Suriah telah terbebas dari tentara Salib, sementara dukungan ulama merupakan satu hal penting bagi kekuatan Sultan Salah al-Din. Karena desakan mereka terus menerus, akibatnya Sultan mengabulkan tuntutan mereka itu. Malik dipaksa untuk melaksanakannya. Lalu kekuasaan eksekutif keagamaan mengakhiri hidup pemikir muda yang cemerlang itu dengan memenjarakannya. Dan ketika ia meninggalkan penjara, ia wafat tanpa sebab yang dapat diterangkan sebagai penyebab langsung kematiannya pada 587/1191. Demikianlah Syaikh al-Isyraq menerima nasibnya pada usia 38 tahun, sebagaimana yang diterima pendahulunya, al-Hallaj, yang cukup menarik baginya ketika masa hidupnya, dan ia sendiri banyak mengutip ucapan-ucapan al-Hallaj dalam buku-bukunya.
Karya-Karya Suhrawardi :
Suhrawardi adalah sosok pemuda yang cerdas, kreatif, dan dinamis. Ia termasuk dalam jajaran para filosof sekaligus sufi yang sangat produktif sehingga dalam usianya yang relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya kurang lebih 50 karya. Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang ia tekuni.
Sayyed Hussein Nasr mengklasifikasikan karya-karyanya menjadi lima kategori:
Memberi interpretasi dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik serta hikmah  isyraqinya, dalam kelompok ini antara lain kitab : At-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Mutharahat, Hikmahal- Ishraq.
Membahas tentang filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami baik yang berbahasa arab ataupun yang berbhasa persi: Al-Lamhat, Hayakil al-Nur, Risalah fi al-Ishraq.
Karya yang bermuatan sufistik dan menggunakan lambang-lambang yang sulit dipahami, dalam hal ini menggunakan bahasa persi walaupun ada sebagian yang berbahasa arab: al-Aql al-Ahmar, al-Gharb al-Gharbiyah, yaumun ma’a jama’at as-sufiyyin dan lain-lain.
Karya yang merupakan ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik: Risalah al-Thair, dan risalah fi haqiqah al-ishq, ini semua karya Ibn sina yang kemudaian di terjemahkan oleh Suhrawardi kedalam bahasa Persia.
Karya yang berupa serangkaian doa-doa, yang dikenal dengan kitab al-Waridat wa al-Taqdisat.



Sayyid Ahmad Rifa’i
Oleh : Nur Khaliza Putri

A.   Lahir dan Masa Belajar
Suatu ketika datang seorang pemuda ke negeri Iraq dan menetap di daerah bernama Batha’ih, tepatnya di desa Ummi Abidah. Kemudian pemuda yang biasa disebut Ali itu menyunting salah satu saudari Syaikh Manshur, -salah satu ulama terkemuka dan zuhud- Fatima. Dari jalinan kasih keduanya, mereka dikarunai beberapa putra. Di antaranya adalah Sayid Ahmad ar-Rifai al-Kabir.
Menurut sebagian riwayat, Sayid Ahmad ar-Rifa’i (selanjutnya ditulis; ar-Rifa’i) lahir pada awal bulan Muharam tahun 500 H. di Iraq.  Sebelum lahir, ar-Rifai sudah dibanggakan oleh sejumlah ulama terkemuka kala itu, di antaranya Syaikh al-Kabir Tâjul Arifîn Abul Wafâ, Syaikh Mansur, Syakih Ahmad Khumais dan lainnya.

1.    Nasab ar-Rifai
Garis keturunan ar-Rifai bersambung kepada Nabi Muhammad e dari jalur Sayidina Husain, cucu Rasulullah SAW. Lengkapnya sebagai berikut, ar-Rifai bin Ali bin Yahya bin Sayid Tsabit bin Hazim Ali bin Sayid Ahmad bin Ali bin Hasan bin Rifa’ah al-Hasyimi al-Makki bin Sayid Mahdi bin Abil-Qasim Muhammad bin Hasan bin Sayid Husain ar-Radli bin Sayid Ahmad al-Akbar bin Musa ast-Tsani bin Ibrahim al-Murtadla bin Sayid Musa al-Kadzim bin Sayidina Jakfar Shadiq bin Sayid Muhammad Baqir bin Sayid Zainal Abidin Ali As-Sujjad bin Sayid Husain bin Sayidina Ali Amirul Mu’minin dengan Sayidah Fatimah bintu Rasulullah e.
Sedangkan dari jalur ibu, nasab  ar-Rifa’I bersambung kepada salah satu sahabat nabi yang bernama Abu Ayyub al-Anshari.

2.   Masa Belajar
Ar-Rifa’i kecil lahir sebagai anak yatim. Beliau tidak pernah merasakan indahnya bercanda dengan sang ayah, tidak pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayang dari ayah tercinta. Beliau juga tidak pernah menerima petuah dan ilmu agam darinya. Sebab, sang ayah telah dipanggil ilahi Rabbi ketika ar-Rifa’i masih berada dalam kandungan. Hanya saja, hal itu tidak membuatnya kecil hati. Beliau tetap semangat dalam mencari ilmu. Sejak kecil ar-Rifa’i diasuh oleh pamanya, Syaikh Mansur. Ar-Rifa’i belajar kepada pamannya, tentang tarekat Sufiyah, ilmu Tasawuf, ilmu Syariah dan Hakikat. Bahkan ar-Rifa’i mendapat ijazah dari sang paman. Sedangkan dalam  ilmu Fiqih, ar-Rifa’i belajar  kepada Abul-Fadhl al-Wasithi yang dikenal dengan Ibnul-Qari. Selain itu beliau juga belajar kepada beberapa ulama dengan rajin dan giat sampai berumur 27 tahun. di antara gurunya adalah  Syaikh Abu Bakar al-Wasthi.
3.   Mendapat Ilmu Laduni
Semenjak kecil ar-Rifa’i tekun menuntut berbagai disiplin ilmu. Setiap ada majlis taklim, ar-Rifa’i tidak pernah absen untuk mengikutinya. Sebab ketekunan dan istikamahnya, Allah SWT menganugerahinya ilmu rohbani, yaitu ilmu ladunni, ilmu yang langsung diberi oleh Allah. Tak pelak jika saat ar-Rifa’i tumbuh dewasa beliau tampil sebagai rujukan masyarakat. Semua persoalan yang terjadi langsung dijawab oleh ar-Rifa’i secara detail lengkap dengan referensinya.
Pernah suatu ketika, di sebuah desa bernama Ummu Ubaidah, para pejabat, pembesar ulama, masyayikh dan masyarakat umum berlebur mengikuti pengajian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i. Pengajian yang saat itu diikuti sekitar 100.000 orang. semua berbondong-bondong mendengarkan nasihat dan mauizahnya. Setelah pengajian, pembesar ulama Irak dan ulama lainnya mendatangi ar-Rifa’i guna menanyakan tentang problema agama. Aneka ragam pertanyaan tentang Tafsir, Hadis, Fiqih, Usul Fiqih dan lainnya segera dilontarkan kepadanya. Pertanyaan itu mencapai 200 soal seputar problema aktual masyarakat. Semua itu dijawab oleh ar-Rifa’i tanpa merubah tempat duduknya. Lalu ada hadirin yang berdiri seraya berkata, “Apakah kalian sudah cukup dengan ini?, demi Allah SWT, seandainya kalian bertanya pada ar-Rifa’i segala bidang ilmu, maka dengan izin Allah SWT ar-Rifa’i menjawab semua pertanyaan itu tanpa paksaan.” Lalu ar-Rifa’i tersenyum dan berkata, “Ajaklah mereka, untuk bertanya padaku sebelum aku tiada dari dunia ini. Karena sesungguhnya dunia sirna, sedangkan Allah SWT berada dimana-mana.”
Syahdan, di ruangan masjid terdengar suara menggemuruh, suara tangis menghiasi suasan majlis. Pengajian itu dibanjiri dengan tetesan air mata dari para jamaah, semua menagis mendengarkan perkataa ar-Rifa’i. Bahkan, 5 orang sampai meninggal. Lebih jauh, sebanyak 80.000 jamaah langsung memeluk Islam, sementara 40.000 jamaah menyatakan bertaubat.
B.  Mutiara di tengah masyarakat
1.    Ayomi Anak Yatim dan Orang Miskin
Ar-Rifa’i tumbuh sebagai pribadi yang disegani olah masyarakat. Baik dari kalangan atas ataupun kalangan bawah. Ini bisa dilihat dari kebiasaan beliau bermasyarakat. Selain ibadah dan zikir kepada Allah SWT, beliau tidak serta merta melupakan masyarakat sekitarnya. Terlihat  ar-Rifa’i suka berkumpul bersama anak yatim dan fakir-miskin. Setiap hari ar-Rifa’i mendidiki dan mengajar anak yatim tentang Syariat Islam. Ar-rifa’i juga sering memberi makan dan bingkisan kebutuhan sehari kepada mereka. Rasa sayang ar-Rifa’i kepada anak yatim tak ubanhnya ia menyayangi keluarganya sendiri, sehingg terkadang ar-Rifa’i merasa iba dan terharu saat melihat anak yatim menangis. Ar-Rifa’i berkata, “Ketika saya melihat anak yatim menangis, maka seluruh badanku bergoncang keras.” Dan tampa terasa deraian air mata membasahi pipi ar-Rifa’i.
Selain sangat cinta kepada anak yatim, ar-Rifa’i juga hobi bercengkrama dengan masyarakat yang kurang mampu. Hampir setiap hari beliau bersama mereka. Bahkan, beliau sering memenuhi kebutuhan mereka serta memberinya uang tanpa meminta imbalan dan banyak pertanyaan. Pada suatu hari ar-Rifa’i mengumpulkan kayu bakar. Setelah kayu bakar terkumpul ar-Rifa’i lalu membagi-bagi kayu itu kepada para orang miskin, anak nyatim, orang sakit, tokoh masyarakat dan kepada teman-temanya. Ar-Rifa’i juga sering berkumpul makan dengan mereka, bahkan beliau juga pernah mencucikan baju temanya tanpa ada rasa malu. Semua itu beliau lakukan sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ar-Rifa’i berkata, “Syafaqah (kasih sayang) kepada saudara kita termasuk media yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.”
Sebab kasih sayang ar-Rifa’i pada mereka, ar-Rifa’i mendapat gelar Abal-Aytâ dan Abal-Miskîn (ayah anak yatim dan orang miskin). Berkat kemuliaan akhlak dan kasih sayingnya, banyak masyarakat yang memeluk ajaran Islam. Selain kepada anak yatim dan golongan miskin, kasih saying ar-Rifa’i juga kentara kepada para ulama, tokoh masyarakat, tetangga, guru, orang buta, orang sakit dan orang pincang.
  
2.   Pujian Dari Para Ulama
Perangai seorang ulama besar memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat umum. Terutama dari para ulama baik dari para Muhaddistin, para Fuqoha’. Semua mengakui atas kewalian dan ibadah yang beliau tekuni. Salah satunya adalah dari ulama fiqh yang pepoler di kalangan ulama, ia adalah Imam Ar-Râfi’i. Imam Ar-Rofi’i berkata dalam salah satu naskanya “ Bercerita padaku as-Syekh Abu Syujâ’ as-Syafi’i, beliau bercerita ‘ As-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i adalah sesosok ulama yang tenggelam dalam keilmuan, ilmu yang  di dapat menacap didadanya, muhaddist dan faqih (faham dalam masalah fiqih), mufassir yang mempunyai sanad yang lengkap’”.
Imam ad-Dzahaby r.a berkata tentang biografi Imam Ahmad ar-Rifa’i “ Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabîr adalah termasuk imâm (pemimpin), ahli ibadah, zuhud (tidak senang dengan dunia), dan Syaikhul-ârifîn (guru para ma’rifatullah).
Dan masih banyak ulama baik dari bidang hadist, fiqh dan sejarah mengakui atas kewalian dan perangai sebagai hamba yang selalu ingat pada Allah. Dan juga banyak yang tertarik untuk menceritakan biografi Imam Ahmad Ar-Rifa’i, di antaranya Imam as-Suyûty, Imam ar-Rofi’i, Imam ad-Dzahaby dalam kitab sejarahny, dan lain-lainya.

3.   Zuhud Dan Tawadu’
Al-Imam Al-Ghost Al-Qothbu Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i setiap hari selalu di hiasi dengan sesosok hamba yang tidak senang dunia. Beliau pasrahkan segala sesuatau pada Allah. Sifat zuhud inilah yang membuat beliau di angkat menjadi Auliyaul-llah. Beliau juga selalu merendahkan diri di hadapan manusia. Sifat kewalian yang beliau miliki tidak membuat beliau angkat kepala di hadapan para manuisa, bahkan beliau di anggat derajatnya krna sifat zuhud dan tawadu’ beliau.
Imam ar-Rifa’i perna berkata “ Selama aku menempuh suluk kepada Allah swt, aku tidak perna melihat sesuatu yang lebih deket (kepada Allah), lebih gampang, dan lebih baik dari kefaqiran dan hina “. Beliau lalu di tanya “ Bagaimana bisa itu terjadi, Wahai Sayyid ku “. Beliau menjawab “ mulyakanlah perintah Allah swt, berbelas kasihlah pada hamba Allah, dan ikutilah sunnah Rasulullah saw “.



C.  Mencium Asta Rasulullah
1.    Mendengar Suara Ghoib.
Imam ar-Rifa’i  termasuk pembesar ulama yang sangat mashur di zamanya. Beliau sempat terkenal sebab kejadian yang menggegerkan jamaah haji yang menyertainya. Keajaiban sebuah karomah tampak kepada para jamaah haji yaitu beliau mencium dan mendengar jawaban Rasulullah saw.
Di ceritakan, sebelum berangkat haji salah satu jamaah imam ar-Rifa’i, as-Syekh al-Jalil al-Fadhil abu hafidh umar al-Fârûmy, berada di majlis imam ar-rifa’i. Semua para ulama, masyarat di tempat dan pejabat berkumpul di majlis guna mengikuti pengajian imam ar-Rifa’i.  Saat itu  semua para jamaah saling berdiskusi tentang masalah agama dan ada juga yang bercerita  tentang keajaiban dan karomah seorang wali. Semua permasalah langsung di tanyakan pada imam ahamd ar-Rifa’i. Pada saat ar-Rifa’i di tanya tentang asrârul ghoribah (kejadian yang asing )  dan asrârul ajibah (di balik rahasia keajaiban), Imam Ahmad ar-rifa’i tiba-tiba berdiri  sambil melihat keatas, seraya berkata “ Telah nampak perkara yang benar dan telah jelas kebenaran. Aku mendengar suara sedang memanggilku ‘ Wahai Ahmad, berdirilah dan pergilah ke baitullah, dan berziarohlah kemakam datuk mu saw. Karna sesungguh di sana engkau akan mendapat pesan berupa dakwah dari Rasulullah saw’. Setelah kejadian aneh itu Imam ar-rifa’i berangkat bersama para rombongan jamaah haji.    

2.   Mencium Asta Rasulullah saw.
Pada tahun 555 H saat itu imam ar-Rifa’i berumur 43, beliau berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Setelah dimekkah beliau pergi ke Madinah untuk beziarah ke makam datuknya Rasulullah saw. Setelah sampai di Madinah, ar-Rifa’i dan para jamaahnya menuju masjid makam Rasulullah saw di masjid Nabawi. Saat itu nampak pada para jamaah karomah Imam ar-rifa’i, para jamaah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rasulullah saw menjawab salam dari Imam ar-Rifa’i. Ar-rifa’i berkata “Assalamualikum Wahai datuk ku..”. lalu datang dari dalam Hujroh Rasulullah suara, “ Waalaikum salam Wahai anak ku..”. ar-Rifai lalu masuk ke dalamnya dalam keadaaan gemeter dan menggigil sehingga warna kulitnya menjadi kekunig-kuningan dan ar-Rifai berlutut sambil menangis seraya berkata “ Dari kejahuan aku kiramkan ruhku untuk selalu mengingatmu sebagai perwakilanku, maka dalam kesempatan ini aku bisa melihat dengan seluruh jasad ku pada mu secara kasat mata. Maka aku mohon ulurkanlah tangan mu agar aku bisa mencium tangan mu “.
Sahdan, asta Rasulullah saw keluar dari maqbarohnya, ar-Rifai’ pun langsung menciumnya, sebagai mana yang di minta oleh ar-Rifa’i. Semua jamaah haji yang ikut serta melihat dan mendengar langsung karomah Imam as-Syekh al-Mursyid al-Ghoist as-Zahid al-Arif imamul-Akbar Sayyid Abul Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir. Kejadian ini 23 tahun sebelum imam ar-Rifa’i di panggil di pangkuan Allah.

3.   Di Baiat Oleh Rasulullah Saw
  Pada waktu imam ahmad ar-rifa’i mencium asta Rasulullah saw, beliau di baiat langsung oleh Nabi Muhammad saw. Rasulullah berkata pada Imam ar-rifa’i “ Wahai Anak ku. Pakailah selendang hitam dan naiklah ke atas mimbar lalu berkhutbahlah di depan para manusia. Baiat ini aku serahkan pada mu dan kepada keturunan mu hingga hari kiamat “. Lalu ar-Rifa’i keluar dan melaksanakan perintah dari Rasulullah saw. Semua jamaah haji yang hadir saat itu mencapai 90.000 orang, semua menyaksikan langsung karomah dan pembaiatan imam ar-rifa’i.

4.   Di Lihat Oleh Sulthonul Auliya’
Di antara jamaah yang yang melihat lansgung kejadian itu mulai dari para ulama, tokoh masyaraka, pejabat, dan masyarakat umum dari menengah ke atas hingah menengah kebawah. Di antara ulama adalah Sulthonul Auliya’ as-Syekh Abdul Qodir al-Jilani, Sayyid adiy bin musafir as-Syâmy, as-Syekh Ali bin Khomis, as-Syekh Hayat bin Qois al-Harâny.

D.  Wali para wali
1.    Wali al-Ghauts al-Qutb
ar-Rifa’I tumbuh sebagai peribadi yang alim, zuhud, waro’,  seorang ahli ibadah, ahli tasawuf, dan ahli fiqih yang bermadzhab Syafi’i. “ imam ar-Rifai adalah seorang panutan, zuhud dan gurunya orang yang ma’rifat” kata imam adz-dzahabi.
Beliau termasuk salah satu wali  al-Qutb al-Ghaust. Beliau memiliki banyak pengikut dan santri. Mayoritas mereka dari kalangan orang faqir. Mereka diberi nama ar-rifa’iyah ,  Ahmadiya dan Batha’ihiyah. Jika malam nisfu sya’ban tiba, orang-orang yang  datang mengikuti majlis beliau kurang lebih 100.000 jiwa. Konon,  sanri-santri beliau memiliki kehebatan memukau. Mereka mampu menunggangi hewan liar, bermain ular bahkan mereka tidak segan-segan melompat dari pohon kurma yang begitu tinggi. Anehnya, mereka baik-baik saja dan tidak merasakan sakkit sedikitpun.

2.   Di Angkat Menjadi Pemimpin Para Wali
Sebagaimana sudah di ketahui di antara para jumhurul-ulama’ bahwa imam ar-Rifa’I termasuk dari para kekasih Allah. Bahkan beliau termasuk juga dari king of the king para kekasih Allah saat itu. Ini bisa di lihat dari salah satu mimpi yang di lihat oleh khola-nya (paman dari ibu) imam ar-Rifa’I, ia adalah Sayyid as-Syekh Mansur al-Anshori. Beliau –paman Imam ar-Rifa’i- berkata “ Saya bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, 40 hari sebelum anak dari saudara perempuan saya di lahirkan, lalu Beliau SAW berkata kepada ku ‘ Wahai Manshur!, saya membawa berita gembira kepadamu bahwa Allah memberi karunia seorang anak setelah 40 hari, dia bernama Ahmad ar-Rifa’I, dia juga sama seperti halnya aku, bila aku adalah pemimpin para anbiya’, maka keponakanmu (Imam ar-Rifa’i) adalah pemimpin para auliyaullah’ “. 
Setelah imam ar-Rifa’i lahir ke alam dunia, beliau menjadi sesosok bocah yang ahli ibadah. Meski umur yang masih belita, beliau sudah beribadah seperti halnya seorang dewasa. ketika beliau masih kecil beliau sudah berpuasa satu hari full. Di katakan dari saudara rodo’ (sesuson) imam ar-Rifa’i pada bulan Ramadhon “ Sesungguhnya ahmad tidak mau meminum susu pada waktu siang hari, maka saya menyangka bahwa ada sesuatu yang tidak membuat dia suka. Tapi ketika matahari terbenam, ahmad menerima murdi’ dan mau meminum susunya “.

3.   Di Tunjuk Oleh Rasulullah SAW.
Beliua tumbuh menjadi seorang pemimpin thoriqoh Ar-Rifa’iyah dan menjadi Wali yang zahud (tidak mau dunia), Arif (ma’rifatullah), alim, dan dermawan. Jamaah yang mengikuti Thoriqoh Ar-Rifaiyah semakin menjadi pesat. Satu persatu orang datang untuk mengikuti thoriqoh dan suluk imam ar-Rifa’i ,untuk sampai kepada allah, mulai dari tingkatan atas sampai ketingkatan bawah. Beliau juga menjadi rujukan para pengikutnya dalam masalah wusul dan suluk kepada Allah. Sebagaimana di alami oleh Imam Muhammad Mahdi ar-Rowwas yang mendapat taujihat dari Rasulullah saw dalam mimpinya. Imam Mahdi ar-Rowwas berkata dalam mimpinya “ saya memimta petunjuk pada Rasulullah ‘berilah saya jalan menuju kebenaran Wahai.. Rasulullah’. Beliau menjawab ‘‘Al-Qur’anul Karim adalah jalan yang kamu cari’’. saya mengaduh lagi ‘berilah saya jalan (suluk) menuju Allah, Wahai..Rasulullah’. Beliau menjawab “Berpegang teguhlah pada anakku yaitu Amhad Ar-Rifa’i dan kamu akan sampai kepada Allah. Sedangkan dia adalah sayyidnya para auliya’ (kekasih) umat ku. Setelah auliya’ abad ketiga. Dan dia juga mempunyai derajat yang tinggi dari pada auliya’ di masanya ”.

E.  Karomah

1.    Sabar Pada Perlakuan Istri
Seorang istri yang begitu durhaka. Lidahnya tajam bak pedang yang siap menebas leher siapapun. Kata-katanya sangat pedih dan sering menmbus hati ar-Rifa’I. perempuan itu sangat gemar menyakiti suami shaleh ini. Dia memukul ar-Rifai hingga bajunya menghitam, namun ar-rifai tetap sabar mendpat perlakuan yang sedemikian ruapa. Tanpa diduga salah satu santri masuk ingin sowan kepada beliau. Tanpak di wajah santri itu kegelisahan yang mendalam, karna tidak enak hati melihat ar-Riafa’i diperlakukan seperti itu. Dia langsung keluar menemui teman-temanya. “Teman-teman, Syaikh diperlakukan tidak baik oleh perempuan jahat, kenapa kalian diam saja?” ujar santri. Mendengar pernyataan itu, salah satu mereka menyahut “Maharnya limaratus dinar, sedangkan Syaikh tidak bisa bayar.” Santri itupun pergi. Dia ingin mencari uang untuk diberikan kepada gurunya. Dia tidak tahan jika harus melihat sang guru disiksa habis-habisan. Dia berusaha keras memeras keringat agar secepatnya mendapatkan uang. Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Uang limaratus dinar kini berada ditangannya. Lalu santri itu pergi ke rumah ar-Rifai membawa uang itu. Dia letakkan di sebuah wadah dan diberikan kepada beliau. Melihat pemberian itu, ar-Rifai berkata “ Apa ini?” “ Uang lima ratus dinar untuk mahar istri jennnengan.” Jawab si santri. Ar-Rifa’I tanpak tersenyum dan berkata . “Andaikan bukan karna ketabahanku atas penyiksaan dan perkataan pedih  istriku, nescaya engkau tidak akan bermimimpi aku berada di surga.” Santri itu tertegun keheranan. Dia tidak mengira gurunya bisa tahu apa yang telah menimpanya, padahal dia tidak pernah bilang kepada siapapun kalau dia sering bermimpi ar-Rifa’i berada di dalam surga. Akhirnya, Santri itu sadar bahwa kejadian ini adalah karamah ar-Rifa’i; mengatahui yang ghaib.
F.   Sifat Bijak Imam Ar-Rifa’i
1.    Mencitai Orang Tak Berdaya
Kelembutan dan kasih sayang ar-Rifa’I memang sudah menjadi karakter. Menolong orang yang lemah dan tak berdaya sudah menjadi detak nadi hidup cicit Nabi ini. Jika suatu saat pulang dari sebuah perjalanan dan hampir tiba di kampung halaman, beliau menyiapkan tali untuk mencari kayu bakar. Hasil carian itu beliau bawa ke desa tempat tinggalnya. Lalu dibagi-bagikan kepada janda-janda, faqir miskin, orang-orang lumpuh, sakit, buta dan para masyaikh. ar-Rifa’I juga berkunjung ke rumah orang-orang lumpuh. Mencuci baju-bajunya, membawakan makanan untuknya, makan bersamanya, dan meminta doanya. Beliau berkata “Ziyaroh kepada orang seperti mereka wajib bukan sunat.”
Ketika mendengar ada orang sakit, ar-Rifa’I pasti menyambanginya meski jauh, dan beliau akan datang lagi setelah dua hari atau satu hari. ar-Rifa’I juga berdiri di jalan-jalan menunggu ada orang buta lewat. Jika orang buta itu datang, beliau menghampirinya dan menuntunnya. Beliau juga tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan. Syafaqoh dalam hati beliau begitu kuat, bahkan beliau berpandangan bahaw kasih sayang termasuk sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. “ Syafaqoh termasuk sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah.” Kata beliau suatu ketika.
2.   Kucing Tidur
Ar-rifai sangat menyayangi hewan. Rasa kasih sayang telah menyatu dengan hatinya laksana jiwa dan raga. Syafaqah yang telah mendarah daging sungguh teraplikasikan dalam hidup beliau. Suatu ketika, ada seekor kucing tidur pulas di lengan baju ar-Rifa’i. Padahal waktu salat telah berkumandang. Tidak boleh tidak  ar-Rifa’i harus menunaikan panggilan tuhan itu. Namun ar-Rifa’i juga tidak ingin menggangu tidur hewan kesayangan Abu huroiroh itu. Maka beliau menggunting lengan bajunya agar kucing itu tidak terganggu. Seusai salat, ternyata kucing itu telah bangun dan pergi. Barulah ar-Rifa’i mengambil potongan lengan baju itu dan menjahit seperti semula.


3.   Nyamuk Mengais Rizki
Pada suatu malam yang mencekam, hawa dinginya meresap ke sumsum tulang, tampak ar-Rifa’i selesai mengambil air wudlu’. Tiba-tiba beliau mematung tak bergerak. Tangannya lurus memanjang sekian lamanya. Ya’qub yang melihat kejadian itu, langsung menghampiri ar-Rifa’i dan menciyum tangannya. Meliahat kelakuan ya’qub, ar-Rifa’i berkata ” Ya’qub, engkau telah menggagngu makhluk Allah yang lemah ini” “gerangan, siapakah dia?” tanya Ya’qub. “nyamuk yang sedang mengambil bagian rizqinya di tanganku, ia lari karna ulahmu.” Ujar ar-Rifa’i.

4.   Sayang Belalang
Suatu saat, ar-Rifa’I    terlihat aneh. Beliau berkomonikasi sendirian. “ Wahai mubarakah, aku tidak mengetahuimu, aku telah membuatmu jauh dari tanah airmu.”   Ucap ar-Rifa’i. setelah damati, ternyata beliau menyapa belalang yang tersangkut dibajunya. Beliau mencoba mejelaskan kepada belalang itu, bahwa beliau tidak tahu keberadaannya. Anadaikan saja beliau tahu, maka semua ini tidak akan terjadi. 

5.   Anjing & Kutu
suatu ketika, ar-Rifa’I berjalan melewati sebuah rumah makan. Syahdan, beliau melihat ada segerombolan Anjing memakan kurama yang berada di sebuah wadah. Beliau langsung berdiri di pintu agar tidak seorang pun yang masuk dan mengganggu Ainjing-anjing. Lalu beliau berkata, “ Wahai yang diberkahi, makanlah dengan tenang, tidak usah rebutan. Jika tidak, maka kalian nanti ketahuan dan tidak akan bisa menikmati kurma itu lagi.”
Di lain waktu ar-Rifa’I mlihat seorang faqir membunuh Kutu. Beliau marah bukan kepalang. “ Jangan,- semuga Allah menyiksamu,- sudahkah sembuh marahmu?” Pekik ar-Rifa’i.

G.  Kenangan yang tak terlupakan
1.    Di Panggil Sang Khaliq swt.
Ketika imam ar-rifa’i menginjak umur 66, beliau terserang penyakit sakit perut. Penyikt itu kian hari bertambah semakin parah. Meski penyakit yang di derita oleh beliau cukup parah tapi beliau tetap  melaksanakan ibadahnya dan bertambah keimananya tampa merasa sakit dan mengeluh. Setelah satu bulan lebih beliau di serang penyakit, penyakit beliau bertambah semakin parah. Sehingga beliau tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.              
Dan keesokan harinya, Tetap ketika matahari menampakkan sinarnya ke bumi, dan embun senantiasa menghiasi dedaunan, yaitu pada hari Kamis, bulan Jumadil Ula, tahun 578 H, suasa menjadi terharu dan di banjiri dengan tangisan belasungkawa. Semua berbondong-bondong pergi ke dalem  imam ar-rifa’i, untuk memberikan sambutan yang terakhir kepada beliau. Saat itu semua orang merasa kehilangan sesosok pemimpin umat dan pemimpin para wali itu.
Al-Imam al-Ghoust al-Qathbu as-zâhid al-Arif billah Sayyid Abul Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifa’I al-Kabir. Lalu beliau di di makamkan di Qubbah kakek dari ibu, Sayyid Yahya al-Bukhori, di negaranya (Bukhâra). Setelah beliau di makamkan dan disholati, semua orang dari penjuru dunia berta’ziah ke makam beliau, untuk mengharap berkah dari beliau.

2.   Murid-murid Imam ar-Rifa’i
Imam ar-rifa’i tergolong ulama yang kaya dengan disiplin ilmu. Semua ilmu beliau dapat dengan jirih payah sendiri. Selain terkenal dengan kealimannya, imam ar-Rifa’i juga terkenal dengan kezuhudannya, Wara’, Rajib beribadah, dan selalu taqwa kepada allah. Dengan sifat-sifat itulah banyak ulama dan masyarakt menunjukdan memilih seorang guru sebagai muryid menuju ke jalan Allah swt dan mengetahui syariat agama islam, memilih Imam ahmad ar-rifa’i.
Imam ar-rifa’i di masanya termsuk dari salah saru dari ulama dan guru besar saat itu, banyak dari murid-murid beliau yang menjadi menjadi ulama dan menjadi wali semasa hidupnya dan setalah wafatnya. Imam ar-Rifa’i mendapat beberapa julukan di antara julukan beliau adalah Syaikhul-Tharâriq, Syaikhul-Kabîr, dan Ustadzul-Jamâ’ah. Sewaktu beliau Hidup banyak dari kalangan ulama, tokoh masyarakt, dan orang umum belajar kepada beliau mulai dari maslah fiqh, Tauhid, dan meminta ijazah Thariqoh ar-Rifa’iyah, sehingga sebab banyaknya murid imam ar-rifa’i yang ingin belajar kepada beliau, imam ar-rifa’i di juluki dengan Syaikhul-Tharâriq, Syaikhul Kabîr, Dan Ustadzul-Jamâ’ah. 
Di antara para ulama itu adalah Al-Arif Billâh al-Ghaust Sayyid Abul Hasan asy-syadzili (pendiri thariqoh Syadziliyah), al-imam al-Hafidz abdurrahman jalauddin as-suyûtiy (salah satu ulama fiqh), Syaikh Najmuddin (salah satu guru imam ad-dasuqi), syaikh aqîl al-munbijiy, dan syaikh ali al-Khowwas. Dan masih banyak ulama dan para waliullah yang perna menimba ilmu kepada imam ahmad ar-rifa’i.

3.   Karya-Karya Imam Ar-Rifa’i
Sebelum beliau di panggil di pangkuan sang Kholiq swt. Beliau banyak meninggalakan karya tulisnya mulai dari Kitab, Hizib, dan beberapa Aurâd. Karangan imam ar-rifa’i yang berupa kitab mencakup beberapa tema mulai dari Fiqh, Tafsir, Tauhid, dan Thoriqoh as-sufiyah. Di antarak kitab Fiqih yang beliau karang adalah kitab “Syarhu al-Kitab at-tanbîh lisy-syîraziy”, kitab fiqh madzhab As-Syafi’i. Sedangkan kitab tafsir adalah “ ma’âniy bismillâhirrahmânirahîm” dan “tafsiru surati al-Qodr”. Sedangkan kitab Tauhid adalah “al-burhanu al-muayyid”. Dan kitab yang menerangkan tentang tahoriqoh as-sufiyah ialah “hâlatu ahli-haqiqah, at-thariqah ila-Allah “. Dan masih banyak karna beliau yang lain.
Beliau juga menarang tentang dan hizib-hizib, di antara karya hizib beliau Hizbn Hason, Hizb Hirâsah, Hizb Satru, Hizb Tuhfa as-sanîyah.

Jalaludin Ar-Rumi
Oleh : Pisa Aulia

1.    Lahir dan Silsilah Keluarga
Maulana Jalaluddin Rumi memiliki nama lengkap Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, ia mampu berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanyaterancam oleh serbuan Mogol, keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Propinsi Rum di Anatolia tengah, yang merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota propinsi Rum. Dalam pengembaraan dan pengungsiannya tersbut, keluarganya sempat singgah di kota Nishapur yang merupakan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Tahun 1244 M, Rumi bertemu dengan syekh spiritual lain, Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddi wafat, Rumi kemudian bertemu dengan pada Husamuddin Ghalabi, dan mengilhaminya untuk menulisakan pengalaman spiritualnya dalam karyanya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi. Ia mendiktekan karyanya tersebut kepada Husamuddin sampai ahir hanyatnya pada tahun 1273 M.
2.   Pengaruh Tabriz
Fariduddin Attar,  yang juga seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Jalaluddin Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset. Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Jalaluddin Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Jalaluddin Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Jalaluddin Rumi baru beruisa lima tahun. [2]
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Jalaluddin Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Jalaluddin Rumi wafat ketika Jalaluddin Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Jalaluddin Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Jalaluddin Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Jalaluddin Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Jalaluddin Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Jalaluddin Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Jalaluddin Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Jalaluddin Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Jalaluddin Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Jalaluddin Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Jalaluddin Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Jalaluddin Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya. 
Ibarat seorang remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Jalaluddin Rumi dirundung duka. Jalaluddin Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Jalaluddin Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Jalaluddin Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Jalaluddin Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Jalaluddin Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Jalaluddin Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Jalaluddin Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Jalaluddin Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Jalaluddin Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz. 
Jalaluddin Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Jalaluddin Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

3.   Karya – karya Rumi yang populer
Ada banyak karya yang dihasilkan oleh Jalaluddin Rumi. Karya -karya yang dihasilkannya pun bukan karya yang bisa dianggap sebelah mata. Beberapa koleksi karya besar yang merupakan buah pikirnya meliputi :
a)    Diwan e syam e tabrizi
Diwan-e Shams-e Tabrizi atau Diwan-e-Kabir adalah salah satu karya andalan dari Rumi. Karya ini merupakan kumpulan dari Ghazal yang secara khusus dipersembahkan untuk sahabatnya Shamsuddin. Shamsuddin menjadi kawan baiknya sekaligus sosok yang begitu menginspirasi karyanya ini. Di dalam karya besar ini, Rumi juga mengisinya dengan sajak -sajak. Diwan-e-Kabir ditulis dalam dialek ‘Dari’. Selama ini, Diwan-e-Kabir diakui sebagai sastra Persia terbesar sepanjang sejarah.
b)  Mathnawi
Mathnawi atau disebut juga sebagai Masnawi atau Masnavi ini merupakan kompilasi yang terdiri dari enam volume puisi, yang ditulis dalam gaya didaktis. Syair -syair yang dituliskannya dalam karya ini dibuat dengan tujuan untuk berdakwah, mengajar, dan sekaligus menghibur para pembacanya. Kabarnya, selama menulis karya ini, Rumi ditemani oleh Husam al-Din Chalabin yang juga banyak mempengaruhi pemikirannya tentang kehidupan spiritual.
Masnawi disebut -sebut sabagai karya sastra terbesar dan paling murni yang dimiliki oleh bangsa Persia.
Popularitas dari Jalaluddin Rumi pun tak hanaya melingkupi negaranya sendiri, maupun negaraa di sekitarnya saja. Hampir seluruh dunia, mengenal siapa namanya dan apa saja karya -karyanya. Karenanya, Rumi pun diakui sebagai salah seorang penyair klasik Persia terbesar sepanjang sejarah.
Selama bertahun -tahun, ia banyak mempengaruhi kesusastraan Turki. Karya Rumi juga banyak menginspirasi banyak seniman lain, termasuk Mohammad Reza Shajarian (Iran), Davood Azad (Iran), Shahram Nazeri (Iran) dan juga Ustad Mohammad Hashem Cheshti (Afghanistan).
Para seniman ini mempelajari karya Rumi dan mendapatkan banyak pencerahan tentang interpretasi klasik dalam hal syair dan sastra. Selain itu, karya -karya Rumi ini juga telah diterjemahkan di berbagai belahan dunia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Rusia, Italia, Jerman, Turki, Urdu, Perancis, Spanyol, dan tentu saja juga di Indonesia.
Bahkan, pada tahun 2007 silam, Rumi telah dinobatkan sebagai “the most popular poet in America” atau penyair paling populer di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa nama Rumi semakin populer di dunia, meski setelah ia tiada.
4.   Wafat
Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada tanggal 17 bulan Desember tahun 1273. Ia meninggal di Konya ketika Konya berada di bawah pemerintahan kerajaan Seljuk. Jasadnya dikuburkan di samping makam ayahnya di Konya.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap Sang Sufi Rumi ini, maka di Konya dibangunlah sebuah makam mausoleum bernama Mevlana.
Di dalam mausoleum ini, terdapat sebuah masjid, aula untuk menari dan ruang lainnya. Tempat ini pun sering dikunjungi oleh para penggemarnya dari berbagai belahan dunia. Makam Jalaluddin Rumi ini pun menjadi salah satu tujuan ziarah yang cukup populer di dunia.
5.   Tulisan di batu nisan Jalaludin Ar – Rum
”Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.”

Salah satu Syair Jalalludin Rum :
Mana yang lebih berharga 
Kerumunan beribu orang atau kesendirian sejatimu?
Kebebasan atau kuasa atas seluruh negeri?
Sejenak, sendiri dalam bilikmu akan terbukti lebih berharga daripada segala hal lain yang mungkin kau terima

Oh Tuhan 
Telah kutemukan cinta!
Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya!...
Kuhaturkan puja-puji
Bagi gairah yang bangkit
Dan menghiasi alam semesta ini
Maupun segala yang ada di dalamnya!

Ketika engkau merasa bergairah
Cari tahu sebabnya 
Itulah tamu yang tak kan pernah kau salami dua kali

Adakalanya dengan tujuan menolong
Dia membuat kita sengsara
Tapi kepiluan hati 
demi Dia
Membawa kebahagiaan
Senyum akan datang,
Sesudah air mata
Siapapun yang meramalkan ini adalah hamba yang diberkati Tuhan
Dimana pun air mengalir, hidup akan makmur
Dimana pun air mata berderai, Rahmat Ilahi diperlihatkan

Pilihlah cinta.
Ya, cinta!
Tanpa manisnya cinta,
Hidup ini adalah beban
Tentu engkau telah merasakannya

Hati yang kacau
Tak dapatkan kesenangan hidup
Dalam kebohongan.
Air dan minyak 
Tak dapat menyalakan cahaya.
Hanya perkataan yang benar membawa kesenangan hidup
Kebenaran adalah umpan yang sangat memikat hati

Pergilah ke pangkuan Tuhan,
Dan Tuhan akan memelukmu dan menciummu, dan menunjukkan
Bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari Nya
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati Nya 
Siang dan malam

Kesabaranku mati pada malam ketika Cinta lahir!

Dari anggur cinta, Tuhan menciptaku! 

Barang siapa menjadi mangsa cinta, mana mungkin dia menjadi mangsa Sang Maut?

Hari perpisahan lebih panjang daripada Hari kebangkitan
Dan maut lebih cantik daripada derita perpisahan

Aku boleh mati, tetapi gairahku kepada Mu tak kan pernah mati

Telah kupalingkan hatiku dari dunia dan segala kesenangannya
Kau dan hatiku bukanlah dua wujud yang berpisah
Dan tak pernah kelopak mataku menutup di dalam lelap
Kecuali kutemukan Kau antara mata dan bulu mataku

Mereka tahu pasti bahwa aku sedang jatuh cinta
Tetapi mereka tak tahu siapa yang kucintai 

Hatiku mencintaimu sepanjang hidupku, dan ketika aku mati
Maka tulang-tulangku, kendati hancur, mencintai Mu dalam debu

Hari ini aku lupa sembahyang karena cintaku yang meluap-luap
Dan aku tak tahu lagi pagi atau malamkah sekarang
Karena ingatan pada Mu , wahai Tuhan, adalah makanan dan minumanku
Dan wajah Mu, saat aku melihat Nya, adalah obat penderitaanku

Aku adalah Dia yang kucintai dan 
Dia yang kucintai adalah aku

               
BIOGRAFI IMAM SUFYAN ATS-TSAURI
Oleh : Juwanda Pranata Wijaya

Sufyan Ats-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurunya. Sufyan rahimahullah adalah seorang yang mempunyai kemuliaan, sehingga dia tidak butuh dengan pujian. Selain itu Ats-Tsauri juga seorang yang bisa dipercaya, mempunyai hafalan yang kuat, berilmu luas, wara’ dan zuhud”, demikian kata Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khatib rahimahullah.
Nama, Kelahiran dan Tempatnya
Nama lengkapnya adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas.
Kelahirannya: Para ahli sejarah sepakat bahwa beliau lahir pada tahun 77 H. ayahnya adalah seorang ahli hadits ternama, yaitu Said bin Masruq Ats-Tsauri. Ayahnya adalah teman Asy-Sya’bi dan Khaitsamah bin Abdirrahman. Keduanya termasuk para perawi Kufah yang dapat dipercaya. Mereka adalah termasuk generasi Tabi’in.
Tempat kelahirannya: beliau rahimahullah dilahirkan di Kufah pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Dan beliau keluar dari Kufah tahun 155 H dan tidak pernah kembali lagi

Keteguhan Beliau Dalam Mengikuti Sunnah
Dari Syu’aib bin Harb rahimahullah, dia berkata, “Aku berkata kepada Sufyan, “Ceritakanlah sebuah hadits yang karena hadits itu Allah akan memberikan karunia kepadaku, dan jika aku berada di sisi-Nya dan Dia menanyaiku, maka aku akan katakan, “Wahai Tuhanku, Sufyan telah menceritakan hadits ini kepadaku, maka menjadi selamatlah diriku.”
Maka Sufyan berkata, “Tulislah, ‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk(ciptaan-Nya). Dari-Nya segala sesuatu ada dan hanya kepda-Nya semua akan kembali, dan barang siapa tidak mengakuinya maka dia telah menjadi kafir. Iman adalah perwujudan dari ucapan, perbuatan dan niat, kadar keimanan bisa bertambah dan bisa berkurang.”
Setelah aku menulisnya, kemudian aku tunjukkan tulisan itu kepadanya, dia berkata, “Wahai Syu’aib, apa yang telah kamu tulis tidak akan bermanfaat kepadamu hingga kamu membasuh khuffain (muzzah) dan menganggap bahwa melirihkan basmalah lebih utama dari mengeraskannya. Dan hendaknya kamu beriman kepada ketentuan atau qadar Allah, melakukan shalat berjamaah brsama imam, baik imam shaleh ataupun tidak shaleh.”
Kemudian Sufyan berkata, “Jihad hukumnya wajib, mulai zaman dahulu sampai Hari Kiamat, bersabarlah di bawah pemerinyahan seorang penguasa, baik penguasa yang adil maupun penguasa yang lalim.”
Aku bertanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah aku harus berjamaah dalam setiap shalat?” dia menjawab, “Tidak, namun shalat Jum’at, shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha. Berjamaahlah di belakang imam yang kamu dapatkan dalam shalat-shalat tersebut. sedangkan untuk shalat-shalat yang lain hendaknya kamu memilih imam, janganlah kamu shalat berjamaah kecuali bersama imam yang telah kamu percaya, yaitu imam yang memegang teguh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kamu berada dihadapan Allah dan ditanya tentang hal-hal yang telah aku pesankan kepadamu tersebut, maka katakan, “Wahai Tuhanku, sufyan bin Said telah memberitakan komentar seperti ini, lalu biarkan masalahmu menjadi tanggungan antara aku dan Tuhanku.”
Adz-Dzahabi memberikan komentar tentang keterangan diatas, dia berkata, “Keterangan ini benar-benar dari Sufyan.”
Beberapa Mutiara Perkataannya
Dari Abdullah bin Saqi, dia berkata, “Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, melihat kepada wajah orang yang berbuat zhalim adalah suatu kesalahan.”
Dari Yahya bin Yaman, dia berkata, “Sufyan menceritakan sebuah hadits kepada kami, ‘Isa bin Maryam ‘Alaihis Salam telah berkata: mendekatlah kalian kepada Allah dengan membenci orang-orang yang berbuat maksiat dan dapatkanlah ridha-Nya dengan menjauhi mereka.”
Orang-orang bertanya, “Dengan siapa kami harus bergaul, wahai Sufyan?” Sufyan menjawab, “Dengan orang-orang yang mengingatkan kamumuntuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuat kamu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”
Wafat Beliau
Adz-Dzahabi berkata, “Menurut pendapat yang benar, Sufyan meninggal pada bulan Sya’ban tahun161 H, Al-Waqidi juga mengatakan demikian, sedangkan Khalifah meragukannya dan dia berkata bahwa meninggalnya Sufyan adalah pada tahun 162 H.
Sufyan rahimahullah memberikan wasiat kepada Abdurrahman bin Abdul Malik, agar menyalatinya. Dan ketika beliau meninggal Abdurrahman pun memenuhi wasiatnya tersebut dengan menyalatinya bersama penduduk Bashrah. Mereka telah menjadi saksi meninggalnya Sufyan.
Abdurrahman bin Abdul Malik bersama Khalid bin Al-Haritsah dan dibantu penduduk Bashrah menguburkan Sufyan. Setelah acara pemakaman selesai, dia bergegas ke Kufah dan memberitahu keluarga Sufyan perihal meninggalnya Sufyan.


Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
Oleh : NOVIA SRI RAHAYU

Sayyidina Syeikh Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy Syadzili Al Maghribi Al-Hasani Al Idrisi lahir di Ghamarah, desa dekat Sabtah, Maroko, Afrika Utara pada tahun 591 H / 1195 M. Sebutan Asy Syadzili itu sendiri, menurut sebagian ulama adalah daerah tempat dimana beliau banyak menimba ilmu saat mudanya.
Beliau secara nasab bersambung hingga Rasulullah SAW melalui puterinya Sayyidatuna Fatimah Az-Zahrah. Keistimewaan nasab ini tampak dalam budi pekerti beliau yang indah lagi terpuji dan mengagumkan banyak orang, sehingga mereka banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari beliau.
Pada masa kecilnya, beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar ajaran agama, kemudian berguru kepada ulama dan sufi besar pada masa itu, yakni Syeikh Abdul Salam bin Masyisyi. Dari gurunya ini pula, kemudian beliau dikirim kepada ulama besar yang tinggal di Syazilia, Tunisia.
Keberangkatan beliau ke Syazilia ini merupakan awal dari pengembaraan sufistiknya. Hingga setelah mendapatkan banyak ilmu dari gurunya di Syazilia, beliau ditugaskan gurunya untuk mengembangkan ilmunya di Iskandaria, Mesir.
Sebelum pindah untuk berguru ke Syazilia, nama Syekh Abul hasan Asy Syazili sudah demikian harumnya; karena itu berita kedatangan beliau telah mengundang perhatian masyarakat, sehingga mereka menantikan kedatangan beliau. Demi mendengar hal itu, maka dengan ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah, beliau memilih jalur lain dab mengasingkan diri di Pegunungan Zagwan untuk bisa berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan gurunya di Syazilia.
Begitulah setelah lama berkhalwat di Zagwan; pada akhirnya beliau diperintahkan gurunya agar turun gunung dan berdakwah di masyarakat. Sudah barang tentu masyarakat yang ingin melihat dan berguru kepadanya datang berduyun-duyun, bahkan diantara mereka banyak para pejabat Negara yang hadir. Setelah itu beliau diutus gurunya ke Iskandaria. Dan rupanya kota ini menjadi akhir dari pengembaraan beliau, sebab disitu pula; setelah lama membimbing masyarakat, beliau akhirnya wafat dan dimakamkan disana.
Selama berada di Tunisia, beliau bersahabat dan banyak berdiskusi dengan para Ulama dan kaum Sufi besar disana. Di antara mereka terdapat :

• Syekh Abul Hasan Ali bin Makhluf As Syazili
• Abu Abdullah Al Shabuni
• Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Paituni
• Abu Abdillah Al Binai Al Hayah
• Abu Abdillah Al-Jarihi

Sedangkan diantara murud-murid beliau di Tunisia, dimana sebagian mereka adalah para Ulama kenamaan’ yaitu :

• Izzudin bin Abdul Salam
• Taqiyudin bin Daqiqi’id
• Abul Adhim Al-Munziri
• Ibnu Shaleh
• Ibnu Hajib
• Jamaluddin Usfur
• Nabiuddin bin Auf
• Muhyiddin bin Suraqah
• Ibnu Yasin

Diantara kemuliaan beliau, sebagaimana kesaksian sahabat seperjalanannya, bahwa diutusnya Syekh Abul Hasan Ali As Syazili oleh gurunya agar berangkat menuju Iskandaria, karena di kota itu telah menunggu 40 Waliyullah untuk meneruskan pelajaran kepada beliau.

Dasar-dasar Pemikiran Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili
• Seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf, maka terlebih dahulu harus mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
• Beliau mengajarkan ajaran Tasawuf kepada murid-muridnya dengan menggunakan 7 kitab; yaitu :

1. Khatam Al Auliyah karya Al Hakim At Tirmidzi ( menguraikan tentang masalah kewalian dan Kenabian )
2. Al Mawaqif wa Al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbar An Nifari ( menguraikan tentang kerinduan Tokoh sufi kepada Allah swt )
3. Qutub Qulub karya Abu Tholib Al Makki ( menguraikan pandangan tokoh sufi yang menjelaskan Syari’at dan hakikat bersatu )
4. Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali ( Paduan antara Syari’at dan Tasawuf )
5. Al Syifa’ karya Qadhi Iyadh ( dipergunakan untuk mengambil sumber Syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang Ahli Fiqih )
6. Ar Risalah Qusyairiyah karya Imam Qusyairi ( dipergunakan beliau untuk permulaan dalam pengajaran Tasawuf )
7. Ar Muhararul Wajiz dan Al Hikam karya Ibnu Aththa’illah ( melengkapi pengetahuan dalam pengajian )

Wafatnya Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili

Beliau wafat pada tahun 656 H / 1258 M di Homaithira, Mesir. Hingga kini makamnya masih selalu diziarahi, baik oleh pengikut tarekat Syaziliyah atau bukan; yang menganggapnya sebagai waliyullah.

Karya Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili

• Majmu’atul Ahzab ( Kumpulan Hizib-wirid )
• Mafakhirul ‘Aliyah
• Al Amin
• As Sirrul Jalil fi Khawashi Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil
• Hizbus Syadzili ( partai terkenal di Afrika )
          
                  
Biografi Singkat Al-Hallaj (Husein bin Mansur al-Hallaj)
Oleh : MAZLIA ULFA

Al-Hallaj

 ini memiliki nama lengkap Husein bin Mansur al-Hallaj. Lahir pada tahun 244 H atau 858 M di salah satu kota kecil Persia, yakni kota Baidha. Masa kecilnya ia habiskan di kota Wasiṭ dekat dengan Bagdadsampai usia 16 tahun. Diusia 16 ini ia mulai meninggalkan kota Wasith untuk menuntut ilmu kepada seorang Sufi besar dan terkenal, yakni Sahl bin Abdullah al-Tustur di negri Ahwaz. Kemudian setelah belajar di negri Ahwaz ia pergi ke Bashrah dan belajar kepada Amr al-Makki. pada tahun 264 H. ia melanjutkan belajarnya kepada al-Junaid di kota Baghdad yang merupakan seorang sufi besar pula. Selain besar keinginannya mempelajari ilmu kepada tokoh-tokoh sufi besar dan terkenal, ia juga telah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali. Dari sini jelas tidak diragukan bahwa pengetahuan tentang ajaran-ajaran tasawuf tidak diragukan.

 Ketika tiba di makkah pada tahun 897 M, ia memutuskan mencari jalan sendiri untuk bersatu dengan Tuhan, pada tahun ini bisa dikatakan al-Hallaj tealah memulai pemikiran-pemikirannya tentang bagaiman menyatu dengan Tuhan. Namun setelah ia menemukan cara bersatu dengan Tuhan dan menyampaikan ajaranya kepada orang lain, ia justru dianggap sebagai orang gila, bahkan diancam oleh pengusa Mekah untuk dibunuh, yang akhirnya ancaman tersebut membawanya untuk kembali ke Baghdad. Dalam perjalanan hidupnya yang dihiasi buah hasil pemikiranpemikirannya di bidang tasawuf, ia sering keluar masuk penjaran akibat konflik dengan ulama fikih, konflik tersebut dipicu oleh pikiran-pikiran al Hallaj yang dianggap ganjil. Ulama fikih yang sangat besar pengaruhnya karena fatwanya untuk memberantas dan membantah ajaran-ajaran al Hallaj. sehingga ia ditangkap dan dipenjara adalah Ibn Daud al-Isfahani. Tetapi setelah satu tahun dalam pejara, ia dapat meloloskan diri atas bantuan seorang sipir penjara.

 Untuk mencari pengamanan atas dirinya, dari bagdad ia melarikan diri ke Sus, suatu wilayah yang terletak di Ahwaz. Kurang lebih empat tahun bersembunyi di kota tersebut, dan tetap tidak mengubah pendiriannya tentang ajaran-ajarannya, akhirnya ia ditangkap kembali dan dipenjarakan selama delapan tahun. Meskipun telah lama hidup dalam penjara, tidak sedikitpun terkurangi pendiriannya atas ajaran-ajarannya tersebut. Sehingga pada tahun 309 H/921 M mengharuskan para ulama di bawah pengawasan kerajaan Bani Abbas, masa Khalifah Mu’tashim Billah, untuk mengadakan persidangan yang menghasilkan hukumam mati pada al-Hallaj pada tanggal 18 Ẓulhijjah di tahun yang sama.


Ajaran al-Hallaj. Pokok dari ajaran al-ḥulul adalah pertama, diri manusia tidak hancur, kedua ada dua wujud, tetapi bersatu dalam satu tubuh. Helbert W. Mason berpendapat al-hulul adalah penyatuan sifat ketuhanan dengan sifat kemanusiaan. Akan tetapi, dalam kesimpulannya, konsep hulul al-Hallaj bersifat majazi, tidak dalam pengertian yang sebanarnya. Menurutt Nashiruddin at-Thusiy, al-hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh itu dilenyapkan. Sesungguhnya Allah Swt, memilih jasad-jasad (tertentu) dan menempatkannya dengan makna ketuhanan setelah menghilangkan sifat sifat kemanusiaan. Menurut filsafat al-Hallaj, Allah Swt., mempunyai dua alam atau sifat dasar, yaitu al-lahut (ketuhanan) dan an-nasut (kemanusiaan). Demikian pula manusia, disamping memiliki sifat kemanusiaan, ia juga mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya. Selanjutnya, dalam menguraikan kesatuan al-lahut dan an-nasut atau antara roh ilahiyah dan roh insaniyah, al-Hallaj menggunakan istilah alhulul dalam pengertian Islam.

 Dalam menafsirkan ayat tentang penciptaan Adam, menurut al Hallaj, manusia juga memiliki sifat ketuhanan. Pendapat al-Hallaj ini juga dipertegas dengan ayat al-Qur’an :
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir”.(QS. Al-Baqarah :34)

Menurutnya, ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah telah memerintahkan kepada para Malaikat untuk bersujud kepada Adam, karena pada diri Adam Allah telah bersemayam. Keyakinan bahwa Allah telah bersemayam dalam diri Adam ini juga didasari dari sebuah hadis yang sangat berpengaruh di kaLangan Sufi, yakni : “Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”. Dari ayat dan hadist tersebut, al-Hallaj berkesimpulan bahwa dalam diri manusia memiliki sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusian (nasut). Jika sifat ketuhanan yang ada pada diri manusia dapat bersatu dengan sifat kemanusian pada diri Tuhan, maka terjadilah Hulul, numun untuk mencapai pada tingkatan tersebut, manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaanya melalui proses al-fana. Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang biografi singkat Al-Hallaj (Husein bin Mansur al-Hallaj).



Habib Al ‘Ajami
Oleh : Raidata Mardiyah

1.    Biografi Habib Al ‘Ajami
Habib bin Muhammad al-‘Ajami al-Bashri, adalah seorang tokoh sufi keturunan Persia yang menetap di Bashrah. Ia dikenal juga sebagai seorang ahli Hadits terkenal yang banyak merawikan hadits-hadits dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin dan tokoh-tokoh terpercaya lainnya. Ia hidup pada akhir abad    ke 2 H dan awal abad ke-3 H.
Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. Setiap hari dia berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperolerh angsuran dari langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib dapat menutupi biaya hidupnya sehari-hari. Namun apa yang dilakukan ini kemudian berakhir, setelah mendapat hidayah dari Allah dan ditaqdirkan menjadi salah seorang ahli ibadah. Semua harta benda yang ada pada dirinya dishodakohkan kepada siapa saja yang ditemui. Kemudian dia pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggiran sungai Eufrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang dan malam dia habiskan waktunya untuk belajar di bawah bimbingan Hasan Al-Bashri. Meskipun demikian, dia tidak dapat menghapal al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki ‘ajami atau si orang  asing bukan Arab.
Salah satu dari keistimewaan Habib al-‘Ajami adalah, bahwa dia suka bersedekah kepada siapa saja, terutama mereka yang sangat membutuhkannya.  Bahwa peristiwa ini di saksikan sendiri oleh Hasan Bashri, Gurunya yang banyak memberi pelajaran tentang keagamaan, ketika beliau sedang berkunjung ke rumahnya.
Rumah Habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota Bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim panas maupun di musim dingin. Sekali peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya dilemparkannya di atas tanah. Tidak lama kemudian Hasan  al-Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel Habib terletak di atas jalan, ia bergumam, “Dasar Habib seorang Barbar, tak peduli berapa harga mantel bulu ini! Mantel yang seperti ini tak boleh di biarkan saja di tempat ini, bisa-bisa hilang nanti”. Hasan berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut. tidak lama kemudian Habib pun kembali. ‘’Wahai, imam kaum Muslimin’’, Habib menegur Hasan setelah memberi salam padanya, “Mengapa engkau berdiri di sini?, tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakan, kepada siapakah engkau menitipkan mantel ini ?, Kutitipkan kepada Dia, yang selanjutnya menitipkannya kepadamu’’, jawab Habib dengan enteng.
Hasan Bashri hanya diam sambil mengangguk-angguk. Beliau semakin mengagumi muridnya yang hampir mendekati kepada tindakan orang-orang shaleh dari kalangan Shahabi., seperti Abu Bakar dan sahabat lainnya. Kepada Gurunya Habib bertanya, kenapa berada di tempat itu ?, Jawabnya, beliau sengaja datang untuk berkunjung k erumahnya. Lantas Gurunya di ajak ke rumahnya. Kepadanya, Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu kepada sang pengemis.
Hasan terheran-heran lalu berkata : ’’Habib, engkau memang seorang yang budiman, tetapi alangkah baiknya seandainya engkau mengetahui sedikit pengetahuan dan kesopanan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhan di depan hidung tamu lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu’’. Habib tidak memberikan jawaban. Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. di atas nampan tersebut ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis dan uang lima ratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan tersebut kehadapan Habib. Kemudian  Habib membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan tersebut di samping Hasan.
            Ketika Hasan sedang mengenyam daging panggang itu, Habib berkata kepadanya: ‘’Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah baiknya engkau memiliki sedikit keyakinan. pengetahuan harus di sertai keyakinan’’, berbuat baik kepada kaum miakin, daripada hanya untuk keinginan dirinya.
2.   Kisah terpopuler
Banyak kisah dari Habib Al ‘Ajami namun salah satu kisah populer dikalangan masyarakat salah satunya ialah :
Kisah Habib Si Orang Parsi

Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membungakan uang. la tinggal di kota Bashrah, dan setiap hari berkeliling kota untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperoleh angsuran dari langganannya maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.

Pada suatu hari Habib pergi ke rumah seorang yang berhutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya sedang tak ada di rumah. Maka Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang tersebut.
“Suamiku tak ada di rumah”, isteri sedang yang berhutang itu berkata kepadanya, “Aku tak mempunyai sesuatupun untuk diberikan kepadamu tetapi kami ada menyembelih seekor domba dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepadamu”.
“Bolehlah!” si lintah darat menjawab. Ia berfikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba tersebut dan membawanya
pulang. “Masaklah! “.
“Aku tak mempunyai roti dan minyak”, si wanita menjawab.
“Baiklah”, si lintah darat menjawab, “aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu engkau harus membayar ganti rugi pula”. Lalu ia pun pergi mengambil minyak dan roti.
Kemudian si wanita segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke dalam mangkuk, seorang pengemis datang mengetuk pintu.
“Jika yang kami miliki kami berikan kepadamu”, Habib mendamprat si pengemis, “Engkau tidak akan menjadi kaya, tetapi kami sendiri akan menjadi miskin”.
Si pengemis yang kecewa memohon kepada si wanita agar ia sudi memberikan sekedar makanan kepadanya. Si wanita segera
membuka tutup belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini, wajahnya menjadi pucat pasi. Segera ia
mendapatkan Habib dan menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.
“Saksikanlah apa yang telah menimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si pengemis!”. Si wanita menangis, “Apakah yang akan terjadi atas diri kita di atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti”.

Melihat kejadian ini dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah mereda seumur hidupnya.
“Wahai wanita! Aku menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan!”.
Keesokan harinya Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berhutang kepadanya. Kebetulan sekali hari itu adalah hari Jum’at dan anak-anak bermain di jalanan. Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak: “Lihat, Habib lintah darat sedang menuju ke sini, ayo kita lari, kalau tidak niscaya debu-debu tubuhnya akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”
Seruan-seruan ini sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana terdengarlah olehnya ucapan-ucapan yang bagaikan menusuk-nusuk jantungnya sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.

Habib bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari apa sebenarnya yang terjadi, Syaikh Hasan al-Bashri datang memapahnya dan menghibur hatinya. Ketika Habib meninggalkan tempat pertemuan itu seseorang yang berhutang kepadanya melihatnya, dan mencoba untuk menghindari dirinya.
“Jangan lari” Habib berkata, “Di waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindari diriku, tetapi sejak saat ini akulah yang harus menghindari dirimu”.
Habib meneruskan perjalanannya, anak-anak tadi masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib, mereka segera berteriak:
“Lihat Habib yang telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! jika tidak, niscaya debu-debu di tubuh kita akan menempel
di tubuhnya sedang kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah”.
“Ya Allah ya Tuhanku”, seru Habib. “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, maka Engkau telah menabuh genderang-genderang di dalam hati manusia untuk diriku dan telah mengumandangkan namaku di dalam keharuman”.

Kemudian Habib membuat sebuah pengumuman yang berbunyi: “Kepada siapa saja yang menginginkan harta benda milik Habib, datanglah dan ambillah!”
Orang-orang datang berbondong-bondong, Habib memberikan segala harta kekayaannya kepada mereka dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu pun juga. Namun masih ada seseorang yang datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar isterinya sendiri. Kemudian datang pula seorang lagi dan kepadanya Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga tubuhnya terbuka. Dan ia lalu pergi menyepi ke sebuah tempat di pinggir sungai Euphrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang malam ia belajar di bawah bimbingan Imam Hasan Al-Bashri namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal al-Qur’an, dan karena itulah ia dijuluki  ’ajami atau si orang Barbar. ‘

Waktu berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap menuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan rumahnya menuju tempat uzlahnya untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah dan apabila malam tiba barulah ia pulang.
”Di mana sebenarnya engkau bekerja sehingga tak ada sesuatupun yang engkau bawa pulang?” isterinya mendesak.
”Aku bekerja pada seseorang yang sangat Pemurah”, jawab Habib.
 “Sedemikian Pemurahnya Ia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-Nya, apabila saatnya nanti pasti ia akan memberi,
karena seperti katanya sendiri: ’Sepuluh hari sekali aku akan membayar upahmu’ “.

Demikianlah setiap hari Habib pergi ke tempat uzlahnya untuk beribadah kepada Allah. Pada waktu shalat Zhuhur di hari yang kesepuluh, sebuah pikiran mengusik batinnya. “Apakah yang akan kubawa pulang malam nanti? Apakah yang harus kukatakan kepada isteriku?”.
Lama ia termenung di dalam perenungannya itu. Tanpa sepengetahuannya Allah Yang Maha Besar telah mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawakan gandum sepemikulan keledai, yang iain membawa seekor domba yang telah dikuliti, dan yang terakhir membawa minyak, madu, rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda gagah yang membawa sebuah kantong berisi 300 dirham perak.

Sesampainya di rumah Habib, si pemuda mengetuk pintu.
“Apakah maksud kalian datang kemari?”, tanya istri Habib setelah membukakan pintu.
“Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini”, pemuda gagah itu menjawab, “sampaikanlah kepada Habib: ’Biia engkau melipatgandakan jerihpayahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu’ “’. Setelah berkata demikian merekapun berlalu.

Setelah matahari terbenam Habib berjalan pulang. Ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau roti dan masakan-masakan. Dengan berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan bersikap lembut kepadanya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya di waktu yang sudah-sudah.
“Wahai suamiku”, si isteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih. Lihatlah segala sesuatu yang telah dikirimkannya kemari melalui seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan: ’Bila Habib pulang, katakanlah kepadanya, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu` ”.
Habib terheran-heran.
“Sungguh menakjubkan! Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedemikian banyak imbalan yang dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti?”
Sejak saat itu Habib memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk Allah semata-mata.


AL-FUZAIL BIN IYAZ
Oleh  Ridha Armaya Putri

            Al-fuzail bin iyaz, nama lengkap nya Abu ali al-fuzail bin iyaz at-Taqalani. Tempat lahir di Khurasan, diriwayatkan bahwa sewaktu masih remaja fuzail adalah seorang penyamun. Ia dikenal dengan julukan “ sang pembegal yang bertaubat “. Setelah bertaubat , fuzail pergi ke kufah kemudian ke makkah, dimana ia tinggal beberapa tahun lamanya hingga wafatnya pada tahun 187H/803M. Nama Fuzail cukup terkenal sebagai seorang ahli hadits, dan keberaniannya mengkhotbahi khalifah Harun ar-rasyid sering diperbincangkan orang.
            Sebagai seorang remaja, fuzail mendirikan kemah ditengah padang pasir  antara Merv dan Bawrd.Fuzail memiliki teman yang semuanya penjudi dan pencuri. Dan teman fuzail membawa hasil rempasan/rampok mereka ke fuzail karena atasan kepala mereka.Pada awal pertualangan nya Fuzail tergila-gila kepada seorang wanita . Fuzail selalu mengadiahkan hasil rampasannya kepada wanita kekasihnya itu. Karena mabuk asmara fuzail sering memanjat dinding rumah sang wanita tanpa peduli keadasan cuaca bagaimanapun. Harta benda orang miskin tidak akan dirampas Fuzail. Untuk setiap korbannya, ia selalu meninggalkan sebagian dari harta bendanya yang dirampas, sebenarnya semua kecendrungan Fuzail tertuju kepada perbuatan baik.



Ibrahim Bin Adham
Oleh  Rizky Ananda Putri

1.    Biografi Ibrahim Bin Adham
Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin al-Manshur al-‘Ijli. Ia lahir di Balakh, sebelah Timur Khurasan. Karena itu ia dikenal pula dengan nama Abu Ishaq al-Balakhi. Menurut Imam al-Bukhari (wafat 870 M), Ibrahim bin Adham adalah keturunan kedua dari Umar bin al-Khaththab ra. Ibrahim bin Adham adalah seorang penguasa di Balakh yang kaya-raya dengan istananya yang megah. Namun, meski hidup bergelimang harta dan kekuasaan, hatinya tidak menjadi lalai.
Lama-lama, gemerlapnya dunia tak membuat dirinya bahagia, juga tak bisa menghadirkan ketenangan jiwa. Akhirnya, ia meninggalkan istana dan semua kemewahan duniawi. Ia pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama. Pencariannya ditopang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Ia hidup sebagai seorang yang amat zuhud dan wara’. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan sangat penyantun terhadap sesama, terlebih lagi kepada orang-orang miskin
Tentang keutamaan Ibrahim bin Adham, Imam an-Nasa’i berkata, “Ibrahim bin Adham tsiqah (terpercaya). Ia salah seorang yang amat zuhud.” (Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 3/219).
Karena keilmuan, keikhlasan, kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah seorang Sulthân al-Awliyâ’. Bahkan menisbatkan Sulthân al-Awliyâ’ kepada Ibrahim bin Adham (wafat 206 H) telah amat populer
Terkait keikhlasannya, Ibrahim bin Adham, jika ikut terlibat dalam peperangan (jihad), misalnya, usai perang ia tidak mengambil ghanîmah (rampasan perang) yang menjadi haknya. Hal itu ia lakukan demi meraih kesempurnaan pahala jihad
Terkait kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham rela meninggalkan istanannya yang megah dan segala kemewahan duniawi. Ia pergi menuju Syam untuk mencari rezeki yang halal dengan tangannya sendiri. Ia bekerja di kebun milik orang lain dengan tekun
Sikap zuhudnya juga tampak saat Ibrahim bin Adham pergi safar ke Baitullah (Makkah). Saat itu ia berpapasan dengan seorang Arab dusun yang mengendarai seekor unta. Orang itu berkata, “Syaikh, mau kemana?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Ke Baitullah.” Orang itu bertanya lagi, “Anda ini seperti tak waras. Saya tidak melihat Anda membawa kendaraan, juga bekal, sementara perjalanan sangat jauh.” Ibrahim kembali berkata, “Sebetulnya saya memiliki beberapa kendaraan. Hanya saja, engkau tidak melihatnya.” Orang itu bertanya, “Kendaraan apa gerangan?” Ibrahim bin Adham berkata, “Jika di perjalanan aku tertimpa musibah, aku menaiki ‘kendaraan sabar’. Jika di perjalanan aku mendapatkan nikmat, aku menaiki ‘kendaraan syukur’. Jika di perjalanan Allah SWT menetapkan suatu qadhâ’ untukku, aku menaiki ‘kendaraan ridha’.” Orang Arab dusun itu lalu berkata, “Jika demikian, dengan izin Allah, teruskan perjalanan Anda, Syaikh. Anda benar-benar berkendaraan. Sayalah yang tidak berkendaraan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 1/234).
Dalam kisah lain, Sahl bin Ibrahim menuturkan, “Aku berteman dengan Ibrahim bin Adham. Saat aku sakit ia membiayai semua pengobatanku dan memenuhi semua keinginanku. Setelah agak sembuh dari sakitku, aku bertanya, “Ibrahim, di manakah keledaimu?” Ibrahim bin Adham menjawab enteng, “Telah kujual untuk memenuhi keperluanmu.” Aku bertanya kembali, “Lalu kita naik apa?” Ibrahim bin Adham berkata, “Saudaraku, naiklah ke atas punggungku.” Kemudian ia membawa aku ketiga tempat." (Al-Qusairi, Risâlah al-Qusyairiyyah).
Ibrahim bin Adham amat terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang dalam dan amat menyentuh kalbu. Ia, antara lain, berkata, “Ada tiga perkara yang paling mulia di akhir zaman: (1) teman dekat di jalan Allah; (2) mengusahakan harta yang halal; (3) menyatakan kebenaran di hadapan penguasa.” (Abu al-Hajjaj al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 2/35).
Suatu saat Ibrahim bin Adham berjalan melewati sebuah pasar di Bashrah, Irak. Tiba-tiba ia dikelilingi oleh banyak orang. Ia ditanya oleh mereka tentang firman Allah SWT yang artinya, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (TQS Ghafir [40]: 60). Mereka mengatakan, “Kami telah berdoa kepada Allah, namun mengapa belum juga dikabulkan?” Lalu beliau menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh sepuluh perkara: (1) Kalian mengklaim mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya; (2) Kalian membaca Kitab-Nya, tetapi tidak mengamalkan isinya; (3) Kalian mengaku memusuhi setan, tetapi mengikuti ajakannya; (4) Kalian mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi meninggalkan sunnah-sunnahnya; (5) Kalian mengklaim merindukan surga, tetapi tidak melakukan amalan-amalan penduduk surga; (6) Kalian mengaku takut neraka, tetapi justru banyak melakukan perbuatan penduduk neraka; (7) Kalian mengatakan kematian itu pasti, tetapi tidak menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu; (8) Kalian sibuk mencari aib orang lain, sedangkan aib kalian sendiri tidak kalian perhatikan; (9) Kalian makan dari rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya; (10) Kalian sering menguburkan orang mati, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian mereka.
Mendengar nasihat itu, orang-orang itu pun menangis (Ibn Rajab al-Hanbali, Rawa’i’ at-Tafsîr, 2/230; Jâmi’ Bayân al-’Ilmi wa Fadhlihi, 12/2).
Ibrahim bin Basyar ash-Shufi al-Khurasani, pembantu Ibrahim bin Adham, menuturkan kisah lain: Pernah seorang sufi datang kepada Ibrahim bin Adham dan bertanya, “Abu Ishaq, mengapa hatiku seperti terhijab dari Allah ‘Azza wa Jalla?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Karena hatimu mencintai apa yang Allah benci. Kamu lebih mencintai dunia dan cenderung pada kehidupan yang penuh tipuan, senda-gurau dan permainan.” (Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 6/47).
Ibrahim bin Adham juga berkata, “Amal terberat di mizan (timbangan amal di akhirat) adalah yang paling memberatkan badan (dilakukan dengan susah-payah).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, 8/16).
Menurut Ibnu Asakir, Ibrahim bin Adham wafat sebagai syuhada pada 162 H dalam sebuah peperangan (jihad). Ia dimakamkan di Jabala, Suriah.
2.   MUTIARA HIKMAH IBRAHIM IBN ADHAM
a)    Nasihat Ibrahim bin Adham
Suatu ketika ibeahim bin adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliaupun di kerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya,:” wahai guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa dia akan mengabulkan doa hambaNya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak di kabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata,: “saudara sekalian, ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.
1.    Kalian mengenal allah, namun tidak menunaikan hak-hakNya
2.    Kalian membaca al-quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya
3.    Kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
4.    Kalian mengaku mencintai rasulullah, tapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya
5.    Kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tidak pernah melakukan amalan ahli surga
6.    Kalian takut di masukkan kedalam neraka tapi kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka.
7.    Kalian mengaku bahwa kematian pasti datang tapi kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
8.    Kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri
9.    Kalian setap hari memakan rejeki allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
10. Kalian sering mengantar jenazah ke kubur tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.
Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis. Dalam kesempatan lain ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seorang bertanya padanya. Ibrahim menjawab: “ saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat allah mengadili semua makhluk di padang masyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup didunia.”
b)  Mutiara Hikmah
1)    Ketika berthawaf, ia berkata kepada seorang lelaki, ketahuilah bahwa kamu tidak kan mencapai tingkatan orang saleh sebelum kamu melalui 6 jalan atau 6 pos penjagaan, yaitu: Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesenangan dan membuka pintu gerbang kesengsaraan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang kesombongan dan membuka pintu gerbang kerendahan, hendaklah kamu menutup gerbang hidup santai dan membuka pintu gerbang perjuangan/kerja keras, tutuplah pintu tidur dan buka lah pintu bangun malam, tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kemiskinan, tutuplah pintu harapan dan bukalah pintu persiapan kematian
2)    Pernah Ibrahim bin Adham menjaga kebun anggur, lalu lewat seorang prajurit dan berkata,:“berilah kami anggur!”. “pemiliknya tidak menyuruhku begitu.” Jawabnya. Prajurit itu memukulnya dengan cambuk, sementara ibrahim hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata “pukullah kepala ini selama ia durhaka kepada Allah!” akan tetapi prajurit itu tidak sanggup memukulnya lalu pergi.
3)    Sahal bin Ibrahim menuturkan, “ saya pernah bersahabat dengan Ibrahim bin Adham. Ketika saya sakit, ia membiayai pengobatanku. Ketika saya menginginkan sesuatu, ia menjual keledainya lalu uangnya di habiskan untukku. Ketika saya dihadapannya, saya mengatakan, “ wahai ibrahim dimanakah keledai itu?” dia menjawab ringan, “saya jual.” Saya bertanya lagi, “lalu saya naik apa?” dia menjawab “wahai saudaraku naiklah diatas punggungku.” Kemudian ia membawaku ketiga tempat.
 Suatu hari ketika tawaf Ibrahim ibn Adham bertemu dengan seorang laki-laki. Ia pun berkata kepada laki-laki tersebut, “Ketauhilah bahwa engkau tidak akan memperoleh derajat orang-orang shalih sampai engkau dapat melewati 6 rintangan.
1)    Pertama, tutuplah pintu kesenangan dan bukalah pintu kesengsaraan
2)    Kedua, tutuplah pintu kemuliaan dan bukalah pintu kehinaan
3)    Ketiga, tutuplah pintu istirahat bukalah pintu perjuangan
4)    Keempat, tutuplah pintu tidur bukalah pintu terjaga di malam hari
5)    Kelima, tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kefakiran
6)    Keenam, tutuplah pintu angan-angan dan bukalah pintu persiapan untuk kematian.”
Sahl ibn Ibrahim menuturkan “Aku berteman dengan Ibrahim ibn Adham. Ketika aku sakit ia membiayai semua pengobatanku, ketika aku menginginkan sesuatu ia memenuhi keinginanku dengan menjual keledainya. Setelah sembuh dari sakit, aku bertanya, “Wahai Ibrahim, dimanakah keledai itu?” Ibrahim ibn Adham menjawab dengan ringan “Telah aku jual”, lalu aku pun bertanya kembali kepadanya “lalu aku naik apa?” Ibrahim ibn Adham pun berkata “wahai saudaraku naiklah diatas punggungku.” Kemudian ia membawaku ketiga tempat.”(Mochamad Bukhori Zainun)

3.   Gerakan dan Ajaran Ibrahim bin Adham
Ibrahim Bin Adam beriman setelah mendengan bisikan Tuhan ketika sedang berburu di hutan. Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan aksetisme (zuhud) hidup dari hasil kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarannya terutama berkisar tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebiih menyuntukan terutama dengan kontrol diri (muroqobah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran ibrahim dapat dilihat dari ujaran-ujarannya.
Yang di maksud dengan aksetisme adalah khusus, aksetisme bukanlah kependekatan atau terputusnya kehidupan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Karena itu dalam islam aksetisme tidak bersyaratkan miskin.
Asketisisme dalam islam ada 4 faktor yang mengembangkan asketisisme dalam islam yaitu :
a)    Ajaran-ajaran islam itu sendiri. Kitab suci al-quran sendiri telah mendorong manusia agar hidup shaleh, takwa kepada allah, menghindari dunia beserta hiasannya, memandang rendah hal-hal duniawi, dan memandang tinggi kehidupan diakhirat.
b)    Revolusi rohaniyah kaum muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
c)    Dampak asketisisme masehi. Dampaknya itu terhadap para asketis muslim. Setelah timbulnya islampun langsung bergabung. Namun dampak asketisisme masehi itu lebih banyak terhadap aspek organisasionalnya timbang terhadap aspek prinsip-prinsip umumnya. Sehingga diriwayatkan adanya perkunjungan para sufi kepada para pendeta, ketempat-tempat peribadatannya, yang kemudian meminta sebagian dari ajaran mereka.
d)    Penentang terhadap fiqih dan kalam.
4.   Dasar-Dasar Pemikiran Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham memiliki beberapa dasar-dasar pemikiran yang beliau kembangkan, antara lain ialah:
a)    Tasawuf adalah keindahan dan kebesaran menuju kebebasan sejati. Tasawuf artinya kekerasan pikiran dan kekakuan, juga bukan menahan diri dari perasaan, bukan pula mengajak manusia kepada suatu kehidupan yang melarat atau susah juga bukan untuk meninggalkan fitrah. Akan tetapi dengan memahami tasawuf seseorang dapat menuju kepada pilihan yang benar, hidup zuhud, berlaku adil dengan keutamaan yang dapat menuju kepada kesucian.
b)    Kita harus dapat memperoleh hikmah dri hidup ini untuk itu kita harus taqwa kepada Allah SWT. Sebab ketaqwaan dapat mendatangkan dan memunculkan keikhlasan hati untuk dapat berbakti kepada Allah SWT. Supaya kita mendapatkan hikmah yang memancar dari kesucian hati dan ketaqwaan.



Bisyr Bin Harits
Oleh : Salsalbila

Bisyr bin Harits dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Ma’mun.
1.    Biografi
Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkirat al-Aulia. Attar meriwayatkan sewaktu muda, ia adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian me-nyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.
Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”.
“Bisyr adalah seorang pemuda berandal”, si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi salah”.
Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: “Bisyr sedang mengunjungi pesta minum anggur”.
Maka pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya tersebut kepada Bisyr.
Kemudian Bisyr berkata kepada teman-temann minumnya, “Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!”
Attar selanjutnya meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki ‘si manusia berkaki telanjang’.
2.   Dari sumber lain
Dia disebut Al Hafi (yang tidak memakai sandal) karena dia mendatangi tukang sol sandal meminta sebuah tali untuk salah satu sandalnya yang putus. Tukang sandal itu berkata: “Betapa sering kalian (maksudnya sufiyah) merepotkan orang lain”. Maka Bisyr melemparkan kedua sandalnya dan bersumpah tidak akan memakai sandal setelah itu. Hal tersebut menjadi ciri khas baginya dan menjadi pembeda yang membedakannya dari sufi lain.
Sedangkan menurut Fariduddin Aththar dalam bukunya Tadzkiratul Auliya, diceritakan bahwa Bisyr bin Harits ditanya mengapa beliau tidak memakai alas kaki lagi? Beliau menjawab bahwa ketika beliau bertaubat pertama kali dulu dalam keadaan tidak beralas kaki. Dan beliau menghargai hal itu adalah saat-saat di mana hidayah Allah turun kepada beliau.
Pada asal mulanya, Bisyr seorang pencuri (Catt: Dalam riwayat lain adalah seorang pemabuk), lalu bertaubat dan memohon ampun. Penyebab taubatnya adalah dia menemukan sebuah kertas yang bertuliskan nama Allah di sebuah kamar mandi umum, lalu dia mengangkat tulisan itu ke langit dan berkata: “Tuanku (maksudnya Allah), nama-Mu terbuang di sini dan diinjak-injak”. Kemudian dia membawa tulisan itu ke penjual minyak wangi dan membeli wewangian ghaliyah untuk mengharumkan nama Allah tersebut dan meletakkannya sampai tidak bisa diraih orang. Karena itu, Allah menghidupkan hatinya dan memberinya ilham serta menjadikannya ahli ibadah dan zuhud. Sampai konon, seseorang berkata kepadanya dalam mimpi: “Hai Bisyr, kamu harumkan nama-Ku, pastu Aku harumkan namamu di dunia dan akhirat”.
Tingginya derajat Bisyr membuat Al Makmun meminta tolong kepada Ahmad bin Hanbal untuk menghadap Bisyr, namun Bisyr menolak. Al Makmun berkata: “Di distrik ini tidak seorangpun yang berwibawa, selain kiyai Bisyr”. Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai wirai dan menjawab: “Astaghfirullah, tidak halal aku berbicara mengenai wirai, sementara aku mau memakan hasil bumi Bagdad. Seandainya ada Bisyr, tentu dia berhak menjawab kamu, sebab dia tidak mau memakan hasil bumi Bagdad maupun makanan Sawad Irak. Dia layak berbicara mengenai wirai”.
Kedudukan Bisyr di antara ahli fikih dan sufiyah adalah sama. Hal itu jelas dari ucapan Ibrahim Al Harbi, bahwa dia melihat ulama di seluruh dunia, namun tidak pernah melihat seperti tiga orang: Ahmad bin Hanbal yang kaum wanita tidak mampu melahirkan orang seperti dia, Bisyr bin Al Harits yang mulai ujung rambut sampai ujung kaki penuh dengan ilmu, Abu Ubaid Al Qasim bin Salam bagaikan gunung diberi ilmu”.
3.   Riwayat haditsnya
Jika kita membandingkan metodhe Bisyr dalam menetapkan sahihnya hadits, maka kita harus membandingkan antara dia dengan Ahmad bin Hanbal. Metodhe Ahmad dalam jarh wa ta’dil adalah melihat pada figur muhadits, sedangkan metodhe Bisyr bergantung pada hubungan antara para ulama hadits. Abbas bin Abdul Adhim Al Anbari berkata: “Seseorang mendiskusikan sebuah hadits kepada Ahmad yang diriwayatkan oleh Isa bin Yunus, lalu Ahmad berkata: “Isa tidak meriwayatkan hadits ini dan hadits ini hanya ada pada Bisyr bin Al Harits”. Abbas berkata: “Aku tidak bisa menghadap Bisyr, kecuali dengan perantara hadits ini. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu menceritakan apa yang dikatakan Ahmad tersebut, lalu Bisyr berkata: “Berilah aku keselamatan, berilah aku keselamatan, ini sungguh ujian dan cobaan. Sebuah hadits disebut, lalu dikatakan bahwa hadits ini tidak sahih, kecuali pada seseorang (maksudnya Bisyr sendiri)”.
Riwayat hadits menurut Bisyr sangat berkaitan dengan jalan keselamatan seseorang, faedahnya ia hafal hadits dan menulis hadits untuk ketenaran. Diriwayatkan bahwa dia berkata kepada ulama hadits: “Tunaikanlah zakat hadits”. Mereka bertanya: “Apa zakat hadits?” Bisyr berkata: “Dari 200 hadits amalkanlah 5 hadits”. Yakni dari 200 hadits yang kalian tulis dan hafal, amalkanlah 5 buah hadits, sebagaimana seseorang wajib menzakatkan 5 dirham jika mempunyai 200 dirham.
4.   Tasawuf menurut Bisyr
Sufiyah disebut sufiyah karena kejernihan hatinya dan kesucian batinnya. Bisyr berkata: “Sufi adalah orang yang hatinya dijernihkan oleh Allah”. Dengan demikian, maka inilah puncak ciri khas bagi tasawuf menurut Bisyr secara khusus dan sufiyah muslimin secara umum.
Dulu kami sudah mencantumkan devinisi tasawuf menurut Ma’ruf Al Karkhi dan devinisi ini menguatkan teori Bisyr di atas. Metodhe Bisyr mengenai thariqah tampak dalam ucapannya: “Barangsiapa ingin agung di dunia dan selamat di akhirat, maka janganlah meriwayatkan hadits, jangan bersaksi, jangan menjadi imam dan jangan memakan makanan milik orang lain”. Asas tasawuf menurut Bisyr adalah anti terhadap segala sesuatu yang tidak berguna di akhirat, termasuk hadits dan meriwayatkan hadits.
Asas zuhud menurut Bisyr adalah wirai yang menurut As Siraj Ath Thusi merupakan maqam yang mulia. Pernah suatu ketika Bisyr diundang untuk menghadiri sebuah jamuan makan, lalu makanan dihidangkan di hadapannya. Bisyr berusaha mengulurkan tangannya, namun ternyata tidak bisa. Bisyr berusaha sekali lagi, namun tidak berhasil juga sampai tiga kali. Seseorang yang mengenalnya berkata: “Tangan Bisyr tidak bisa diulurkan kepada makanan yang haram atau syubhat. Mestinya tuan rumah tidak perlu mengundang beliau ke perjamuan makan ini”.
Bisyr bekerja sebagai penenun kain dan itulah sumber kehidupannya sampai meninggal dunia. Dia tidak mau menerima pemberian siapapun, kecuali seorang muridnya, yaitu Sirri As Saqathi. Sikap tersebut sangat berbeda dengan sikap Ma’ruf Al Karkhi yang menerima makanan halal yang diberikan kepadanya. Ketika ditanya, bahwa saudaranya Bisyr tidak mau menerima pemberian, Ma’ruf menjawab: “Bisyr dikuasai wirai, sedangkan aku dibentangkan oleh makrifat. Aku hanya seorang tamu di rumah Tuhanku. Jika Dia memberi makan aku makan, jika Dia melaparkan aku, aku sabar”.
Masih ada poin penting yang berkaitan erat dengan tasawuf Bisyr dan tasawuf Islam secara keseluruhan, yaitu itikad sufiyah, bahwa Khidhir masih hidup dan belum meninggal. Melihat Khadhir termasuk keramat wali dan Al Qusyairi mengatakan, bahwa Bisyr berkata: “Aku masuk rumah, tiba-tiba ada seorang lelaki, sehingga aku bertanya: “Siapakah anda?” Dia menjawab: “Saudaramu Khadhir”. Aku berkata: “Doakanlah aku kepada Allah”. Khadhir berkata: “Semoga Allah meringankan ibadah bagimu”. Aku berkata: “Doakan lagi”. Khadhir berkata: “Dan semoga Allah menutupi ibadahmu”.
5.   Saudari-Saudari Bisyr
Hal lain yang menguatkan kedudukan Bisyr dalam sejarah tasawuf Islam adalah mempunyai beberapa saudari yang wirai dan menambah keagungan Bisyr. Bisyr mempunyai tiga orang saudari, yaitu Mudlghah, Mukhah, Zubdah. Mereka ahli zuhud, ahli ibadah dan wirai. Mudhghah mati sebelum Bisyr. Mukhah menemui Ahmad bin Hanbal dan menanyakan wirai dan Ahmad mengagumi pertanyaan-pertanyaannya. Zubdah berkata: “Sesuatu yang paling berat bagi hamba adalah dosa dan sesuatu yang paling ringan bagi hamba adalah taubat. Kenapa dia tidak menolak sesuatu yang paling berat dengan sesuatu yang paling ringan?”

6.   Mencari Aib Bisyr bin Harits

Ketika hari Jumat tiba, Bisyr pun datang dari Baghdad dengan membawa makanan untuk si Di Baghad, ada seorang pedagang yang membenci kaum sufi, hingga ia ingin membuntuti Bisyr Al Hafi waktu selesai shalat Jumat, untuk mencari aibnya. Saat Bisyr Al Hafi keluar dari masjid dengan segera, laki-laki itu berkata dalam hatinya,”Inikah yang disebut orang zuhud? Ia tidak tinggal lama di masjid?”
Kemudian si laki-laki terus mengikuti Bisyr Al Hafi yang sedang berlalu menuju pasar, dimana beliau membeli roti serta kue-kue. Si laki-laki semakin curiga, ia pun ingin melihat bagaimana Bisyr menyantap makanan itu. Setelah itu Bisyr Al Hafi pergi menuju padang pasir, saat itu si laki-laki itu berkata dalam hati,”Ia mencari sayuran dan air rupanya”.
Ternyata Bisyr yang terus berjalan menyusuri padang pasir hingga waktu ashar tiba dan memasuki sebuah desa, sedangan si pedagang terus mengikutinya. Di desa itu Bisyr mendatangi sebuah masjid dan di sana ada seorang laki-laki yang sakit. Kemudian Bisyr menyuapi si sakit dengan makanan yang ia bawa sebalumnya dari Baghdad. Sedangkan si laki-laki penguntit setelah mengetahui hal itu ingin melihat-lihat suasana kampung tersebut.
Setelah si penguntit kembali ke tempat laki-laki yang sakit Bisyr sudah tidak ada di tempat. Laki-laki yang sakit itu  menyampaikan bahwa Bisyr telah kembali ke Baghdad. Dan dari laki-laki itu si pedagang pun sadar bahwa jarak desa itu dengan Baghdad cukup jauh, sedangkan ia tidak memiliki uang untuk menyewa kendaraan dan tidak kuat lagi untuk berjalan. Si sakit  pun menyarankan agar pedagang itu tinggal sementara di desa tersebut dan menunggu kedatangan Bisyr pada Jumat yang akan datang.
sakit. Si sakit pun menyampaikan kepada Bisyr,”Ini ada yang mengikutimu dari Baghdad, ia tidak bisa pulang. Hantarkan ia ke rumahnya”.
Akhirnya Bisyr pun mengantarkan si penguntit hingga sampai Baghdad dan melarangnya untuk melakukan hal itu kembali.
Setelah peristiwa itu terjadi, si pedagang memutuskan untuk bersahabat dengan orang-orang sufi dan membelanjakan seluruh hartanya untuk mereka.
7.   Wafatnya Sang Waliyullah
Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841`M, tiba-datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi. Dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya.

Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”

Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.

“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi.

Biografi ma'ruf al kharkhi
Oleh : Tri Widya wati
Pada perkembangan Tasawuf, ada seorang sufi yang sangat terkenal pada masanya. Ketenarannya tidak hanya dikalangan umat Muslim saja akan tetapi pada umat non-Muslim juga sering diakui sebagai bagian dari mereka. Sufi itu adalah Ma’ruf al-Karkhi, nama lengkapnya adalah Abu Mahfudh Ma’ruf bin Fairuz al-Kurkhi / al-Karkhi (w. 200H./815M.). Perihal nisbah beliau al-Kurkhi atau al-Karkhi tidak diketahui alasan yang pasti. Akan tetapi diyakini bahwa al-Kurkhi atau al-Karkhi adalah : (1) nama sebuah kawasan di Irak Timur, (2) nama sebuah pemukiman di Kota Baghdad. Di tempat inilah sufi itu menetap hingga wafat.
Ma’ruf al-Karkhi dilahirkan dari keluarga Nashrani. Sejak kecil Ma’ruf dididik di lingkungan Romo dan dibekali dengan kepercayaan Nashrani. Ada sebuah kejadian yang menarik dari Ma’ruf al-Karkhi ini, yaitu ketika ada seorang Romo yang sedang mengajarkan tentang Tuhan dan menyatakan bahwa “Allah itu satu dari Trinitas”. Pada saat itu juga Ma’ruf menolak terhadap pernyataan tersebut, dan dia menyatakan bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak dalam Trinitas. Karena pernyataannya itu melawan kepercayaan Gereja dan Romo tersebut, maka Ma’ruf diusir dari lingkungan Gereja, kemudian dia memutuskan untuk mengembara dan mencari sebuah kebenaran. Pada pengembaraannya itu bertemu dengan seorang Imam dari sekte Syi’ah Imamiyyah, yaitu Imam Ali bin Musa al-Ridha. Pada Imam Ali Musa ar-Ridha inilah dia belajar tentang banyak hal, dan pada akhirnya beliau menyatakan masuk Islam di hadapan Imam Ali bin Musa tersebut.
Perlu diketahui bahwasanya Imam Ali bin Musa al-Ridha ini adalah keturunan Ahlulbait, dan beliau dipercayai sebagai Imam kedelapan dari sekte Syi’ah Imamiyyah. Dan para Imam yang ada pada sekte Imamiyyah ini adalah : (1) Ali bin Abi Thalib, (2) Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Ali Zainal Abidin, (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja’far as-Shadiq, (7) Musa al-Khadim, (8) Ali ar-Rdha, (9) M. al-Jawwad, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-‘Askari, (12) dan M. al-Mahdi. Imam Ali ar-Ridha memberikan pengajaran terpenting kepada Ma’ruf al-Karkhi, yaitu sebuah tradisi Intelektual dan tradisi Spiritual atau Ibadah.
Ketika sekian lama beliau belajar bersama dengan Imam Ali bin Musa al-Ridha, maka semakin kuatlah keimanan dan keyakinan beliau tehadap Islam. Maka beliau sudah mulai dipandang sebagai seorang yang mempunyai intelektual yang cerdas dan menjadi seorang sufi. Pada suatu ketika kedua orang tua Ma’ruf al-Karkhi sangat merindukannya, dan menginginkan beliau untuk kembali kepada mereka. Karena kerinduan kedua orangtuanya itu, maka terjadilah kontak batin antara beliau dengan Ibunya. Dengan perasaan itu maka beliau kembali kepada keluarganya dan bertemu dengan orang tua beliau. Setelah itu beliau ditanya oleh orang tuanya, Engkau beragama apa? Maka beliau menjawab : “Aku memeluk Agama yang suci”. Karena orang tuanya berjanji akan mengikuti Agama yang dipeluk oleh anaknya sebelum beliau merantau dan mencari kebenaran, maka ketika beliau mendapatkan Agama yang lurus menurut beliau maka orang tuanya ikut masuk kepada Agama tersebut. Setelah mendengar itu kedua orangtuanya berpindah Agama dari agama Kristiani kepada Agama Islam.


Biografi Syekh Ahmad Bin Ali Bin Yahya Al-Badawi
Oleh : Nurul Khalisah


Seyekh Ahmad Bin Ali Bin Yahya Al-Badawi, Lhir dikota Fes, Maroko pada tahun 596 H/ 1199 M Adalah seorang imam Syufi, wali kutub dan pendiri tariqah Al-Badawiyah. Beliau dijuluki AL-Badawi selalu menutup wajahnya seperti kebiasaan arab Badwi. Kakek beliau sebelumnya bermukim di jazirah Arab. Kakek beliau datang di fes maroko akibat semangkin berutalnya aksi Al Hajjaj Bin Yusuf Ats-Tsaqafi terhadap kalangan Alawiyah.
Nasab Al-Badawi dari jalur ayah sampai kepada syaidinah husain bin Ali, bin fatimah azzahra binti Rasulullah SAW. berdasarkan kesepakatan ulama nasab, dan alih sejrah secara lengkap nasab beliau adalah Ahmad Bin Ali Bin Yahya Bin Isa  Bin Abu bakar Bin Ismail Bin Umar Bin Ali Bin Usman Bin Husain Bin Muhammad Bin Musa Bin Yahya Bin Isa Bin Muhammad Bin Musa Bin Hasan Bin Ja’far azzaki Bin Ali Alhadi Bin Muhammad Aljawad Bin Ali Ridho Bin Musa Alkadhim Bin Ja’far Asyadiq Bin Muhammad Albaqir Bin Ali ZainalAbidin Bin Alhasan Bin Ali Bin Abi Tholib.
Sebagai alih nasab dan sejarah meragukan sampainya rantai nasab beliau kepada Rasulullah SAW. diantara mereka adlah Imam Faquruddin Arazi yang mengatakan bahwa hasan bin ja’far bin Ali alhadi adalah orang yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah ia mempunya anak atau tidak sedangkan kalangan syiah membenarkan nasab Albadawi. Mereka menisbatkannya kepada Ali bin ja’far azzaki bukan kepada Alhasan bin ja’far azzaki, kepada alhasan tidak mempunyai keturunan.
Beliau hijrah kemekah saat umur 7 tahun ( tahun 603 H. /1206 M), dimana perjalanan disana membutuhkan waktu 4 tahun, 3 tahun diantaranya beliau bermukim dimesir. Dimekah berdasarkan sumber-sumber dari kalangan dari syufiah, beliau selalu beristiqomah melakukan tawaf semenjak kecil setelah itu beliau masuk ke sebuah gunung di abil qubais untuk melakukan ibadah. Amalan ini beliau lakukan hingga beliau berumur 38 tahun, saat beliau melakukan syafar ke irak bersama kakak kandungnya hasan.
Di irak beliau menjiarahi berbagai kota tempat bermukim atau bersemayamnya para ulama, di antaranya kota syaik ahmad bin ali arrifai, pusat tariqah rifaiyah. Juga kemakam syaik abdul qadir alzailani.
Dalam kitab-kitab tasawuf, disebutkan karanah-karamah yang dinisbatkan kepada syekh ahmad albadawih di antaranya yang paling masyur adalah beliau mampu membebaskan para tawanan mesir di eropa saat terjadi perang sejarah mesir yang terkenal sebuah ucapan Allah Allah ya badawi jamil yusroh yang berarti badawi telah datang membawa tahanan.
 Sayyidina syekh ahmad Albadawi wafat  di tahanta pada hari selasa rabiul awwal 675 H/ 24 Agustus 1276 M. Saat berusia 79 tahun dari tangnnya banyak muncul-muncul wali abdhal dan kutu-kutub.


BIOGRAFI SYAQIQ BIN IBRAHIM ( Al-Balkh )
Oleh : Siti Nurhasanah

Syaqrq Bin Ibrahim, nama kunyahnya Abu Ali, adalah seorang guru dan ulama sufi yang tinggal di kota Balkh, termasuk wilayah khurasan, sehingga lebih dikenal dengan nama Syaqiq Al-Balkh. Ia berasal dari keluarga saudagar yang kaya raya, dan akhirnya mewarisi pekerjaan menjadi pedaagang yang sukses. Ia wafat pada tahun 194 Hijriyah atau 810 Masehi. Hidupnya selalu bergelimang kekayaan dan kemewahan dunia.Syaqiq adalah salah seorang diantara tokoh-tokoh besar khurasan, ia adalah guru dari Hatim Al-Asham.
Dikisahkan, tentang penyebab zuhudnya, suatu ketika ia melakukan lawatan ke turki untuk suatu kepentingan perniagaan, dan kepergiannya itu merupakan yang pertama kali baginya. Suatu saat ia masuk ke pura patung, penjaga pura patung itu rambut dan janggutnya dicukur, pakaiannya dari jenis sutera arjuwaniyah. Syaqiq berkata kepada sipenjaga, “bukankah anda mempunyai pencipta yang maha hidup, maha tahu, dan maha kuasa, ? maka sembahlah dia. Jangan menyembah patung-patung yang tidak membahayakan atau memberi manfaat kepada diri anda!!” penjaga itu menjawab “Bila dia sebagaimana anda ucapkan, tentu dia dapat memberi rezeky kepada diri anda di Negara anda sana, mengapa anda bersusah payah datang kemari untuk berniaga?” Seketika Syaqiq pun menjadi sadar, dan sejak saat itu ia mengambil jalan zuhud.
Dikisahkan, diantara penyebab zuhudnya, bahwa ia melihat seorang budak yang sedang bermain-main dengan penuh suka ria di musim kemarau dan kering. Orang-orang sangat prihatin kala itu, Syaqiq bertanya,” apa yang membuatmu bersuka cita seperti itu ? bukankah engkau melihat kesengsaraan manusia dimusim kemarau dan kering ini ? Budak itu menjawab, “ bagiku kesengsaraan itu tidak ada, tuanku berada disuatu desa yang bersih, siapa saja masuk disana dan apapun yang kami inginkan ducukupi,” sejenak Syaqiq sadar, dan berkata pada dirinya sendiri, “ kalau tuannya berada disuatu desa, dan ia tergolong makhluk yang fakir, sementara dirinya tidak peduli terhadap rezeky, lalu layakkah seorang Muslim mementingkan rezekynya, sedangkan Tuannya Maha Kaya?”
Hatim Al- Asham berkata, “ Syaqiq Al-Balkh tergolong raya kaya, ia menghidupi para pemuda pada masanya, sedangkan gubernur Balkh kala itu adalah Ali Bin Isa Bin Mahan. Sang gubernur ini sangat menyayangi anjing pemburu miliknya, suatu saat salah satu anjingnya hilang, lantas anjing itu ditemukan berada ditempat seseorang laki-laki yang menjadi tetangga Syaqiq, laki –laki itu pun dicari, namun ia lari dan bersembunyi di rumah Syaqiq. Lantas Syaqiq pergi pergi kerumah gubernur, dan berkata “ tolong beri jalan, soal anjing itu ada dirumahku, kukembalikan tiga hari lgi,” para pengawal gubernur menyilakan Syaqiq, dan setelah itu Syaqiq kembali pulang.
Pada hari ketiga, seorang sahabat Syaqiq yang sudah lama menghilang dari Balkh datang. Sahabat itu menemukan anjing yang lehernya berkalung dijalan, lantas anjing itu pun dibawanya. Lebih baik, anjing ini kuberikan saja kepada Syaqiq, sebab ia sibuk dengan kaum muda, kata si sahabat tersebut.” Ketika Syaqiq melihatnya, ternyata anjing tersebut anjing gubernur. Syaqiq amat girang dan anjing itu tepat pada hari ketiga dibawah kepada gubernur dan ia bebas dari beban. Allah SWT, kemudian melimpahkan rezeky kesadaran, dan Syaqiq bertobat dari prilaku sebelumya kkemudian menempuh jalan zuhud.
Diantara ucapan Syaqiq, “ Bila Anda ingin mengenal seseorang, maka kenalilah apakah ia memilih janji Allah SWT, atau memilih janji manusia. Lebih condong kemana orang tersebut, maka akan kelihatan pribadinya.”
Katanya pula” Takwa seseorang diketahui atas tiga hal: Mengambil, Mencegah dan Berbicaranya.” Wallahu‘Alam.
Kata-kata bijak Syaqiq Al-Balkhi
Syekh Hatim Al-‘Asham, mengungkapkan bahwa gurunya, Syaqiq Al-Balkhi, pernah berujar: “Laksanakanlah lima perkara ini: (1) Beribadahlah kepada Allah sebanyak apa yang kamu perlukan dari-Nya. (2) Carilah bekal di dunia sebanyak usiamu di dunia. (3) Berdosalah kepada Allah sejauh kamu mampu memikul siksa-Nya. (4) Himpunlah harta di dunia sebanyak kesanggupanmu membawanya di kuburmu. (5) Dan beramallah (berbuatlah) demi surga, seukur kedudukan surga mana yang kamu kehendaki.”


Sari As Sawathi
Oleh : Siti Nurhasanah

1.    Biografi
Al-Imam Sari As-Saqathi, nama lengkapnya, Abul Hasan Sari bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’ruf al-Karkhi dan paman Imam Junaid al-Baghdadi. Beliau adalah seorang tokoh sufi terkemuka di Baghdad, beliau hidup sekurun dengan imam Ahmad ibn Hanbal, meninggal pada tahun 253 H/867 M dalam usia 98 tahun.Sarri as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan ”peleburan” (fana) sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Iraq adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Beliau pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.
Pada mulanya Sari tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya. Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari dan berkata: “Syeikh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu”. Sari menyahut; “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan mengkhusyukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walau sesaat pun”.
Diriwayatkan, terakhir kali beliau meninggalkan kebiasaan berdagang, yaitu ketika beliau menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar. “Pasar terbakar!”, orang-orang bertariak. Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari: “Bebaslah aku sudah!” Setelah api reda ternyata toko Sari tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Sari menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian. Selama berdagang beliau tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen.
Diriwayatkan, ada seseorang yang bertanya sehubungan beliau berhenti berdagang dan mengambil jalan sufi. “Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini”, Sari menjawab: “Pada suatu hari Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Lalu kuberi Habib ar-Ra’i sesuatu agar disampaikan kepada orang-orang miskin. Lantas Habib ar-Ra`i mendoakan diriku ’Semoga Allah memberkahi engkau`,. Setelah itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi”.
Dan pada keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta seorang anak yatim. ’Berikanlah pakaian untuk anak ini’, pinta Syaikh Ma’ruf kepadaku. Maka anak itu pun kuberi pakaian. Kemudian syaikh Ma’ruf berkata; ’Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini’. Karena doa Syaikh Ma’ruf al-Karkhi itulah aku dapat meninggalkan semua harta kekayaanku di dunia ini”.
Imam Junaid meriwayatkan. Sari mempunyai seorang saudara perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya. “Hidupku tidak patut diperlakukan seperti itu”, Sari berkata kepada saudara perempuannya itu.
Pada suatu hari ia memasuki kamar Sari dan terlihatlah olehnya seorang wanita tua sedang menyapu. “Sari, dulu engkau tidak mengizinkan aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan sanak familimu”.
Sari menjawab: “Janganlah engkau salah sangka. Dia adalah penduduk alam kubur, Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku”.

2.   Imam Sari As-Saqothi dan Seorang Seorang Jurutulis Istana
Pada suatu hari ketika Sari sedang memberikan ceramah. Ahmad Yazid si jurutulis Kholifah lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya. “Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya”, kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi”. Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari.
Sari dalam ceramahnya berkata: “Di antara kedelapan belas ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaikat-malaikat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa!”
Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikkan Sari ke jantung Ahmad Yazid, sehingga Ahmad Yazid menangis dan tak sadarkan diri. Setelah sadar ia masih menangis Ahmad Yazid bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu tak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang diucapkannya.

Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Sari berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang. Di hari yang ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah selesai ia menghampiri Sari.
“Guru, kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah”. Kata Ahmad Yazid.
“Jalan manakah yang engkau inginkan”, tanya Sari. “Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?”
“Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku”, Yazid meminta kepada Sari.
Maka berkatalah Sari: “Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belakang seorang imam, dan keluarkanlah zakat – jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terperesok ke dalam perangkap-perangkapnya. Demikianlah kedua jalan tersebut”. Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara.
Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari dan berkata: “Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa han ini ia tidak pulang dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia, Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku”,

Permohonan wanita tua itu menggugah hati Sari. Maka berkatalah ia: “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya”.
Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad Yazid kembali kepada Sari. Sari memerintahkan kepada pelayannya, “Kabarkanlah kepada ibunya”. Kemudian ia memandang Ahmad Yazid. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk.
“Wahai guru yang budiman”, Ahmad berkata kepada Sari, “Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugerahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan di akhirat”.
Mereka sedang asyik berbincang-bincang, ibu dan isteri Ahmad Yazid masuk dengan membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si ibu melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya ia pun menubruk dada Ahmad Yazid. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari sendiri pun tidak dapat menahan air matanya.
“Wahai Imam kaum MusIimin”, Ahmad Yazid berseru kepada Sari, “mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada mereka? Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku”. Sari menjawab: “Ibumu terus menerus bermohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang”.
Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir isterinya meratap: “Belum lagi, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu jadi yatim, Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan kulakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu”. “Baiklah”, jawab Ahmad Yazid.

Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anaknya itu: “Sekarang, pergilah engkau seorang diri”. Melihat hal ini si isterinya menjerit: “Aku tidak sampai hati membiarkannya”, dan anak itu ditariknya ke dalam dekapannya.
“Aku memberikan kuasa kepadamu”, kata Ahmad Yazid kepada isterinya, ’Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian”. Setelah berkata itu, Ahmad Yazid pergi lagi ke padang belantara.
Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat Isya, seseorang mendatangi Sari di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Sari: “Ahmad Yazid mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia berpesan: ’Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku”.
Sari pergi ke tempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Sari mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi: “Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai para pekerja”.
Sari mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan ke dadanya, Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang syeikh, dan berkatalah ia: “Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi”.
Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Sambil menangis Sari kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan- urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota. “Hendak ke manakah kalian?” Sari bertanya kepada mereka. “Tidak tahukah engkau?”, jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari atas langit: ’Barangsiapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!’ “.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)