Puji syukur khadirat Allah SWT yang melimpahkan kenikmatan. Dialah dzat yang memberi kehidupan setiap makhluknya di muka bumi. Sholawat berangkaikan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga para sahabat dan para pengikutnya sampai hari akhir zaman.
Atas terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof Dr. Lahmuddin, M.Pd dan Dr. Hadijah, M.Ag dosen pembimbing mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, yang telah banyak memberikan ilmu dan kemudahan kepada penulis hingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya penulis berkeyakinan bahwa dalam penulisan makalah ini masih dijumpai kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikannya. Semoga makalah ini bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Amin ya Rabb al-‘Alamin.
Medan, 30 April 2016
Penulis
H. Muamar Al Qadri
Mahasiswa UIN-SU
|
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada umumnya perbuatan
manusia sehari- hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan
senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari –hari, itu
disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang kuat dan kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam hal warna
efektif yang kuat, maka perasaan – perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas
dan lebih terarah. Persaan –perasaa yang seperti ini disebut emosi. Beberapa
emosi antara lain : gembira, bahagia, terkejut, jemu, benci, was –was, dan
sebagainya
Perbedaan antara
perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya
merupakan suatu kelangsungan kwalitatif yang tidak jelas batasnya. Pada saat
tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga
dapat dikatakan sebagai emosi.
Oleh karena itu, yang
dimaksud dengan emosi disini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja,
tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna
efektif, baik pada tingkat yang lemah maupun pada tingkat
yang kuat. Adapun
pendapat tentang terjadinya emosi diantaranya menurut navistik yang mengatakan
bahwa emosi itu pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir, sedangkan pendapat empiris mengatakan bahwa emosi
dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini adalah :
1.
Pengertian
emosi ?
2.
Teori-teori
perkembangan emosi ?
3.
Tahapan
perkembangan emosi ?
4.
Bimbingan
emosi pada anak dan remaja
?
5.
|
1
|
C. Tujuan Pembahasan
Adapaun tujuan
dari pembahasan makalah ini adalah :
1.
Untuk mengetahui Pengertian emosi
2.
Untuk mengetahui Teori-teori perkembangan emosi
3.
Untuk mengetahui Tahapan perkembangan emosi
4.
Untuk mengetahui Bimbingan emosi pada anak dan remaja
5.
Untuk mengetahui Model stimulasi perkembangan emosi
D. Manfaat Pembahasan
1. Secara
teoritis, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pengertian, teori, tahapan, bimbingan dan model
stimulasi perkembangan emosi.
2. Makalah
ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam memahami pengertian, teori, tahapan, bimbingan dan model
stimulasi perkembangan emosi.
3. Secara
praktis hasil makalah ini dapat memperluas wawasan para pembaca yang
berhubungan dengan pengertian,
teori, tahapan, bimbingan dan model stimulasi perkembangan emosi.
|
|
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Emosi
Secara etimologi emosi berasal dari
kata Prancis emotion, yang berasal
lagi dari emouvoir, “excite” yang
berdasarkan kata latin emovere, yang
terdiri dari kata-kata e- (variant
atu ex-) artinya “keluar” dan movere, artinya “bergerak” dengan
demikian secara etimologi
emosi berarti “bergerak keluar”. [1]
Sebenarnya banyak jenis kata yang menggabarkan emosi, seperti yang
penulis temukan dari beberapa buku dan firman Allah SWT, dalam Tafsir Qur’an
penulis menemukan sebanyak 9 kata marah, 75 kata gembira, 5 kata sedih, 2 kata kecewa, 25 kata senang, dan masi
banyak lagi yang lain. Sedangkan dalam bahasa inggris penulis menemukan
sebanyak 47 kata yang menggambarkan emosi.
Selanjutnya emosi menurut Sarlito W. Sarwono adalah
reaksi penilaian positif atau negatif yang kompleks dari sistem syaraf seseorang
terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. [2]
Sedangkan Emosi menurut Eva Latipah diartikan sebagai suatu keadaan
mental akibat pristiwa-pristiwa yang pada umumnya datang dari luar dan
menimbulkan keguncangan pada diri orang tersebut. Kemudian mengutip pernyataan
Atkinson yang mengungkapkan bahwa emosi merupakan perasaan yang saling mendasar
yang dialami seseorang. Hal ini di gambarkan dalam bentuk kebahagiaan dan
kemarahan.
[3]
|
3
|
Dalam pengertian yang
umumnya digunakan, emosi sering diartikan dorongan yang amat kuat dan cendrung
mengarah kepada hal-hal yang kurang terpuji, seperti halnya emosi yang ada pada
para remaja yang sedang goncang.[5]
Emosi menurut Masganti sama dengan perasaan. Defenisi utama emosi
mengacu pada perasaan kuat yang melibatkan pikiran, perubahan fisiologis dan
ekspresi pada sebuah prilaku.
[6]
Dari beberapa pengertian di atas dapat penulis gambarkan bahwa
emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik dari luar seperti benda,
manusia, situasi, cuaca, maupun dari dalam diri seperti tekanan darah, kadar
gula, lapar, ngantuk, segar, dan lain-lain dan juga pada indra manusia.
Selanjutnya manusia (individu) yang menafsirkan persepi atas rangsangan itu
apakah rangsangan itu sebagai suatu hal yang positif (menyenangkan, menarik)
atau negative (menakutkan, ingin menghindar) yang selanjutnya diterjemahkan
dalam respon psikologis dan motorik seperti jantung berdebar, mulut menganga,
bulu roma berdiri, mata merah, dan sebagainya dan pada saat itulah terjadi
emosi.
B. Teori-Teori
Perkembangan Emosi
Ada
dua pendapat tentang terjadintya emosi, yaitu pendapat nativistik (emosi adalah
bawaan) dan pendapat empirik (emosi adalah hasil belajar/pengalaman) :
[7]
1.
Paham
Nativistik sebagaimana yang di kemukakan oleh Rene Descartes teori emosinya
adalah, sejak lahir manusia memiliki enam emosi dasar: cinta, kegembiraan,
keinginan, benci, sedih dan kagum. Argumentasi yang mendasari teori nativistik
adalah bahwa ekspresi emosi pada dasarnya sama saja di antara heran dan
manusia, anak kecil maupun orang dewasa.
2.
Paham
Empiris sangat mengutamakan hubungan antara jiwa yang berpusat di otak.
Ekspresi marah pada hewan dan manusia dengan rangsangan-rangsangan dari
lingkungan melalui jaringan syaraf pada tubuh manusia, mulai dari indra ke
pusat, diolah di pusat (otak) dan kembali ke motorik/kelenjar-kelenjar dalam
bentuk reaksi-rekasi tubuh.
Selanjutnya ada tiga teori empirik klasik tentang emosi yang didasarkan
pada hubungan otak/syaraf dengan rangsangan dari lingkungan. Yang pertama
adalah teori Somatik dari William James dan Carl Lange yang kemudian dikritik
oleh Cannon Bard, dan yang termodren adalah teori kognitif tentang emosi yang
sering disebut juga sebagai teori Singer-Schacher. Penjelasan dari ketiga teori
tersebut ialah :
[8]
1.
Menurut
James-Lange emosi adalah reaksi terhadap perubahan –perubahan dalam sistem
fsiologi tubuh. Contoh : ketika seseorang melihat seeokor beruang ia belum
merasa takut dulu, tetapi jantung mulai berdebar keras, dan adrenalinnya
terpacu. Dalam praktek teori ini misalnya terapi tertawa. Dalam satu kelompok
orang diminta untuk tertawa sekeras-kerasnya walau tidak ada yang lucu, maka
emosi senang dan gembira akan muncul karena tertawa itu.
2.
Walter
Canon dan Philip Bard membuktikan dalam penelitiannya dengan hewan, bahwa
rekasi motorik timbul setelah takut, bukan reaksi motorik menimbulkan takut.
Contoh : orang menjerit dan lari karena takut.
3.
Penelitian
berikutnya oleh para penganut aliran psikologi kognitif menemukan bahwa reaksi
orang terhadap suatu rangsangan tertentu bisa berbeda-beda. Contoh: seorang ibu
rumah tangga yang belum pernah melihat beruang sama sekali, ketika melihat
beruang di halaman rumahnya ia menjerit ketakutan. Sedangkan seorang pelatih
beruang akan berekasi tenang saja, sama sekali tidak takut karena sudah
terbiasa dengan binatang itu.
Dari ketiga teori di atas penulis sependapat dengan aliran psikologi
kognitif yang menyatakan bahwa emosi seseorang dapat berbeda-beda terhadap
suatu rangsangan. Hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Hud
ayat 70 dan 74:
Artinya: Maka tatkala dilihatnya tangan
mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa
takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, Sesungguhnya
Kami adalah (malaikat-malaikat)
yang diutus kepada kaum Luth."
[9]
Artinya: Maka tatkala rasa takut hilang dari
Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan
(malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. [10]
Berdasarkan ayat tersebut di atas penulis berpendapat bahwa rangsangan
dapat berbeda yang mana ketika melihat sesuatu yang aneh maka timbulah rasa
takut dan rasa takut itu akan hilang jika sudah terbiasa.
C. Tahapan
Perkembanagn Emosi
1. Perkembangan
Emosi Masa Bayi Neonatal 0-2
Minggu
Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya psikologi perkembangan menjelaskan
bawa, reaksi emosional bayi neonatal hanya dapat di uraikan sebagai keadaan
menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang ditandai oleh tubuh yang tenang dan
tubuh yang tegang. Adapun ciri yang menonjol dari keadaan emosinya adalah tidak
adanya tingkatan reaksi yang menunjukkan tingkat intensitas yang berbeda.
Apapun rangsangannya, yang dihasilkan adalah emosi yang kuat (intensitas) dan
tiba-tiba. [11]
Lain halnya dengan anak prematur yang cendrung bersikap apatis secara
emosional,kekacauan emosionalnya menjadi pemarah, mudah tersinggung, berikap
negatif, nervous, berang, meledak, dan mengisap jempol, adalah lazim.
Dari pernyataan tersebut di atas dapat di pahami bahwa pada waktu lahir,
emosi tampak dalam bentuk sederhana, hampir tidak terbedakan sama sekali.
Dengan bertambahnya usia reaksi emosionalnya menjadi lebih terbedakan oleh
berbagai rangsangan.
2. Perkembangan
Emosi Masa Bayi
Pola emosional yang
lazim pada bayi meliputi : Kemarahan yakni bayi akan menjadi marah bila ada
campur tangan terhadap gerakan mencobanya, menghalangi keinginannya, tidak
mengijinkannya mengerti sendiri atau melakukan apa yang diinginkannya. Bentuk
marahnya dimanifestasikan dalam bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang,
mengibaskan tangan, memukul atau menendang apa saja yang ada di dekatnya. Pada
tahun kedua dapat juga melonjak-lonjak, berguling-guling, meronta-ronta dan
menahan nafas, ketakutan yakni bayi akan menjadi ketakutan bila mendengar suara
keras dari orang atau benda, situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi, dan
takut binatang, atau takut terhadap stimulus yang datang tiba-tiba dan tidak
terduga. Reaksi takut diekspresikan melalui perilaku menjauhkan diri dari
perangsang yang menakutkan, merengek, menangis dan menahan nafas, rasa ingin
tahu yakni ditunjukkan pada setiap mainan atau barang baru dan tidak biasa.
Ekspresi rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan ekspresi wajah menegangkan otot
muka, membuka mulut, menjulurkan lidah. Kemudian akan memegang barang tersebut,
membolak-balik, melempar atau memasukkan ke mulutnya, kegembiraan yakni muncul
oleh adanya kesenangan fisik, misalnya pada bulan kedua atau ketiga bayi akan
merasa senang bila ada yang mengajak bercanda, menggelitik, mengamati, dan
memperhatikannya. Ungkapan rasa bahagia tersebut ditunjukkan dengan tertawa,
tersenyum, dan menggerakkan tangan serta kakinya, afeksi yakni setiap orang
yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya atau memperlihatkan
afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Mainan dan hewan
kesayangan keluarga mungkin juga menjadi obyek cinta bagi mereka. Umumnya bayi
mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang
yang dicintai. [12]
Dari bebrapa
pola emosional yang lazim pada masa bayi tersebut di atas adapaun emosi bayi
terjadi secara singkat tetapi kuat, sering muncul tetapi bersifatsementara.
Emosi juga mudah berubah apabila perhatiannya dialihkan, hal itu dikarenakan
terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehinggamereka mudah dan cepat bereaksi
terhadap rangsang yang pada waktulalu membangkitkan reaksi emosional. Emosi
bayi lebih banyak mengalami yangmenyenangkan atau sebaliknya, emosi tidak
menyenangkan tergantungpada kondisi fisik dan lingkungannya.
3. Perkembangan Emosi Masa Kanak-Kanak
Sejak dini, anak
kecil sudah mampu merasa dan mengekspresikan emosinya, seperti senang, marah,
susah, dan takut. Pada tahun-tahun berikutnya, anak mengalami emosi lain
seperti malu, rasa bersalah, dan bangga. Pada masa prasekolah, anak tidak hanya
mengembangkan emosi-emosi tersebut, tetapi juga cara mengendalikannya. Pada
masa ini juga, anak sudah mampu menggunakan bahasa untuk memberi nama pada emosi
yang dialami. Misalnya mengatakan
“saya takut”. Ketakutan-ketakutan
ini adalah nyata dialami anak, sehingga perlu diperhatikan. Cara yang efektif
untuk mengatasinya ialah dengan membicarakan ketakutan-ketakutan tersebut,
serta memberikan anak rasa aman. [13]
Masa kanak-kanak
akhir dibagi menjadi dua fase pada Sekolah Dasar yaitu masa kelas rendah antara
usia 6 sampai 10 tahun kelas 1,2,3 dan masa kelas tinggi antara usia 9 sampai
13 tahun kelas 4,5 dan 6. Adapun
ciri-ciri anak kelas rendah ialah Adanya hubungan yang kuat antara keadaan
jasmani dan prestasi sekolah, memuji diri sendiri, kalau tidak dapat
menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggapnya
tidak penting. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu
menguntungkan dirinya. Suka meremehkan orang lain. Ciri-ciri anak kelas rendah
ialah perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari, Ingin tahu,
ingin belajar dan realistis, Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus,
Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di
sekolah, Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk
bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dala kelompoknya. [14]
Dari beberapa persoalan di atas adapun tugas
pendidik ialah membantu anak untuk mengembangkan perasaan diri yang realistik
dan seimbang tentang diri mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mendiskusikan
bersama anak tentang apa yang dapat mereka kerjakan, apa yang tidak,
kesalahan-kesalahan yang mereka buat, prestasi yang dicapai, serta
tantangan-tantangan yang ada dan diterima anak. Jangan melakukan pemujian yang
berlebihan terhadap anak.
4.
Perkembangan
Emosi Remaja
Pada masa remaja terjadi ketegangan
emosi yang bersifat khas sehingga masa ini disebut masa badai & topan
(storm and stress)-> Heightened Emotionality, masa yang menggambarkan
keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak. [15]
Meningginya emosi terutama karena remaja
menghadapi kondisi baru, selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan
diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Kepekaan emosi yang meningkat sering
diujudkan dalam bentuk, remaja lekas marah, suka menyendiri dan adanya
kebiasaan nervous, seperti gelisah, cemas dan sentimen, menggigit kuku, garuk-garuk kepala dan dalam diri remaja mulai timbul perhatian terhadap lawan
jenis, atau sering diistilahkan mulai jatuh cinta.
5.
Perkembangan Emosi Dewasa
Santrock menekankan bahwa perkembangan
emosi pada masa ini, kehidupan keluarga mempengaruhi ciri khas perkembangan
emosinya, pada fase ini berada pada taraf kestabilan dalam berumah tangga.
Stabilitas dicapai karena perjuangan pasangan dalam memupuk arti cintanya
selama bertahun-tahun dengan dipengaruhi adanya sikap toleransi terhadap
pasangan. Asumsinya, karena usia perkawinan yang sudah cukup panjang, sehingga
di dalam keluarga,
pola-pola konflik lebih dikenal, lebih dapat diperkirakan, sehingga
penyelesaian lebih realistik. Namun bilamana komitmen emosional yang selama
bertahun-tahun diwarnai dengan adanya pengkhianatan maka pernikahan pada masa
ini sering diakhiri kegagalan yang diakhiri perceraian. [16]
Dari penjelasan di atas dapat di pahami
bahwa tingkat keberhasilan
pria dan wanita dalam menyesuaikan diri pada masa dewasa dapat dinilai dari empat kriteria,
yaitu : prestasi, tingkat emosional yang
diartikan
seberapa tegang individu mengahadapi konflik-konflik pada usia ini, pengaruh perubahan fisik, dan rasa
bahagia pada usia tersebut.
6.
Perkembangan Emosi Lanjut Usia
Rita Eka
Izzaty mengutip pernyataan Lafrancois, bahwa pada dasarnya ada dua teori
yang menerangkan hubungan antara umur manusia dengan kegiatannya : Pertama
Teori disangegement yang
berpendapat bahwa semakin tinggi usia manusia akan diikuti secara
berangsur-angsur oleh semakin mundurnya interaksi sosial, fisik dan emosi
dengan kehidupan dunia. Terjadi suatu proses saling menarik diri atau pelepasan
diri baik individu dari masyarakat maupun masyarakat dari individu. Individu
mengundurkan diri karena kesadarannya akan berkurangnya kemampuan fisik maupun
mental yang dialami, yang membawanya secara berangsur-angsur kepada kondisi
tergantung, baik fisik maupun mental. Sebaliknya masyarakat mengundurkan diri
karena ia memerlukan orang yang lebih muda yang lebih mandiri untuk mengganti
bekas jejak orang yang lebih tua. Kedua Teori Activityyang bertolak belakang dengan teori yang pertama,
menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin memelihara hubungan sosial,
fisik maupun emosionalnya. Kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada
kelangsungan keterlibatannya pada berbagai kegiatan. [17]
Setelah mengetahui
perkembangan-perkembangan emosi yang telah penulis jelaskan di atas tentunya memeiliki harapan terhadap implikasi
pendidikan, adapun hal yang sangat penting ialah emosi itu bukan bakat,
melainkan bisa dibuat, dilatih, dikembangkan, dipertahankan dan yang kurang
baik dikurangi atau di buang sama sekli. Oleh karena itu guru dan lingkungan
keluarga berperan aktif dalam melatih perkembangan emosi.
D.
Bimbingan Emosi Pada Anak dan Remaja
Pentingnya pengalaman ajaran agama
bukanlah hanya untuk kehidupan di
akhirat saja, tetapi ia juga merupakan bekal penting untuk dapat
mencapai kehidupan yang baik
di dunia. Dengan demikian jelasnya bahwa yang
harus diperisapkan oleh setiap pribadi muslim adalah perbuatan – perbuatan yang
termasuk amal shaleh, yaitu Aktivitas
yang bermanfaat.[18]
Sering sekali di jumpai pada anak dan remaja tidak
sanggup mengendalikan diri, karena pengendalian diri merupakan aspek yang
terpenting, tidak hanya pengendalian diri saja,
tetapi juga pada semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi
diri sendiri dan bertahan menghadapi prustasi, kesanggupan untuk mengendalikan
dorongan hati dan emosi, tidak melebihkan kesenangan, mengatur suasana hati,
dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, kemampuan
untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati), kesanggupan untuk
memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan
konflik, serta untuk memimpin orang-orang yang dikuasai dorongan nafsu
tanpa memiliki kendali diri.
Allah swt juga dengan tegas mengatakan di dalam al
Qur’an tentang pentingnya pengendalian diri sebagaimana firmannya dalam Q.S Ali Imran ayat 134:
Artinya: (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [19]
Ayat di atas menjelaskan
bahwa kemampuan seseorang bukan hanya tertuju kepada pengenalan benar
salah, tetapi juga menjangkau pengenalan pada baik-buruk, sopan-santun,
pantas-tidak pantas, mesti dilakukan atau di hindarkan, Orang yang telah
mencapai puncak kesabaran dalam Al-Qur`an
dijelaskan bahwa di antara tanda-tanda orang taqwa ialah mampu menahan emosi
(sabar), menyadari perbuatan salahnya, memaafkan kesalahan orang lain, hal ini
sesuai dengan hadis nabi sebagaimana pernah mengajarkan kepada para sahabat
akan pentingnya pengelolaan atau pengendalian emosi.
|
|
( ļŗ®ļ»ļŗļ»© ļŗļ» ļŗļŗØļŗļŗ®ļ»° )
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami
Malik dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyib dari Abu Hurairah radliallahu
'anhu bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah orang yang
kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang
dapat menahan nafsunya ketika ia marah." (
H.R Bukhari) [20]
Menurut Syekh Muhammad
Mutawalli Sya’rawi dalam Kitab Tafsir Sya’rawi, Q.S Ali Imran ayat 134
ini berisikan sebagian sifat muttaqin. Gambaran makna kalimat walkazhimiinal ghaizh dan orang-orang yang menahan amarahnya,
diberitahukan dalam perang Uhud kepada kita. Hamzah sebagai paman nabi yang
syahid dalam peperangan ini ternyata harus mengalami kematian dengan cara yang
menyedihkan dengan tubuh yang terkoyak-koyak, bahkan hatinya dimakan oleh Hindun, ketika berita ini disampaikan kepada
nabi, beliau berkata Allah tidak akan mengazab satu bagianpun dari tubuh Hamzah
di dalam api neraka. Hal ini juga yang menyebabkan mengapa Hindun meludahkan
kembali hati Hamzah agar dia yang sudah jelas akan amsuk neraka tidak akan
membaga bagian tubuh Hamzahyang di makanannya kedalam neraka. Dengan begitu
terbuktilah ucapan Rasul yang mengatakan tubuh Hamzah tidak akan di azab di
neraka.
[21]
Pokok pembicaraan ayat ini adalah bagaimana kita berusaha untuk menahan
amarah. Walaupun ayat ini awalnya ditujukan bagi Nabi dan berlaku dalam
pertempuran Uhud, namun akhirnya ini bersifat umum yang juga mencakup saat kita
berada dalam perdamaian.
Begitu juga dengan al-ghaizh (emosi marah) yang mengacaukan jiwa
manusia. Dia harus ditutup dan dicegah, sebagaimana kita menutup kantong air
yang sudah penuh. Artinya Allah tidak memungkiri adanya sifat marah dalam jiwa
manusia karena itu merupakan rekasi alamiah. Sendaianya Allah tidak menginginkannya
tentu Dia akan mencegah sebab-sebabnya dalam pembentukan manusia. Allah
menginginkan keberadaan emosi marah manusai untuk berbagai hal, seperti
seksualitas yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan makluk hidup dengan
cara meletakkan aturan syariat untuk mengarahkannya. Begitu juga dengan reaski
emosi harus diarahkan, karena agama Islam tidak ingin seorang mukmin memiliki
hati sekeras batu dan tidak berperasaan sama seklali. Allah menginginkan agar
mukmin bereaksi terhadap sebuah pristiwa yang ada sewajarnya dan bersifat
membangun, bukan reaksi yang malah menghancurkan.
Akhir ayat berbunyi, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Kaliman
ini secara implisit mengatakan bahwa kita semua adalah ciptaan Allah dan
seluruh ciptaan yang ada di alam ini merupakan keluarga Allah. Seandainya
ada makluk yang menyakiti makluk lain,
tentu Allah akan berpihak pada barisan yang disakiti dan memberikan meraka
rahmat, kasih sayang, ampunan dan
sebaginya. [22]
Dengan demikian orang disakiti akan mendapat keuntungan, jadi sudah
merupakan suatu kewajiban untuk membalas kezaliman tersebut dengan kebaikan.
Sayangnya akal manusia kehilaangan kecerdasannya saat dia berada dalam kondisi
emosi (marah). Dia menganggap orang yang berbuat jahat dan zhalim lawan yang
harus dienyahkan. Padahal tidak demikian, hendaklah kita memahami bahwa orang
yang menyakiti sebenarnya menjadikan Allah berada disamping kita, dan apa yang
kita proleh berupaka kebaikan akibat kezalimannya itu. Untuk itu sebaiknya kita
beriman secara benar dan memberikan yang terbaik kepada orang yang menyakiti
kita.
E. Model Stimulasi
Perkembangan Emosi
Marah merupakan hal yang manusiawi yang dapat dilakukan
semua orang dalam kehidupan sehari-hari karna
berbagai alasan, efek yang paling nyata ketika marah adalah wajah yang
memerah dan nada suara yang meninggi pernafasan menajadi cepat detak jantung
tidak teratur dan otot-otot diseluruh tubuh menjadi tegang semua gejala marah
tersebut tentunya memiliki resiko dan bahaya tersendiri untuk tubuh.
Pada pembahasan ini penulis akan mencoba menceritakan pengalaman yang di
hadapi ketika mengajar PAI di sebuh sekolah dasar negeri, yang mana mendapati
seorang siswa kelas empat SD yang sangat lambat dalam proses berfikir dan
menerima pelajaran, siswa tersebut bernama Darman. Penulis tertarik untuk
mengkonseling pada waktu itu, walau belum sampai kepada solusi untuk mengatasi
hal tersebut, penulis menanyakan latar belakang dan kehidupan di lingkungan
rumahnya kepada guru yang lebih mengetahui, sehingga di dapati info bahwasanya
sewaktu ia kecil sampai seuisianya sekrang ketika keinginannya tidak dipenuhi,
dan di marahi orang tuanya ia menangis sambil mengamuk menghantukkan/
membenturkan keningnya ke dinding berulang-ulang kali, dan begitu lah
seterusnya ketika menagis, hal tersebut dibiarkan saja oleh keluarganya. Lalu
saya bertanya mengapa ia tidak di titipkan sama keluarganya yang lain, dan apa
yang di inginkannya di penuhi, permasalahannya ialah kurangnya perhatian dan
ekonomi yang lemah.
Sebagai seorang guru tentunya sudah memberikan nasihat-nasihat agama
begitu juga dengan wali kelas sudah memanggil orang tuanya utnuk dapat
melakukan hal yang terbaik, serta menyarankan utntuk masuk SDLB, namun hal
tersebut tidak berjalan dengan apa yang di inginkan siswa tersebut sering
tinggal kelas, usia ya yang semangkin tua dan tubuhnya ya yang semangkin besar
membuat ia semangkin malas sekolah dan akhirnya berhenti ketika itu kelas 5.
Sebagai orang tua perlu menerapkan program-program
yang diarahkan pada pencegahan perbuatan agresif pada anak-anak difokuskan pada
stategi pendisiplinan non-kekerasan. Hal ini melibatkan pengembangan perilaku
pengasuhan yang baru, seperti memberikan penguatan positif untuk prilaku yang
benar, memberikan hukuman yang ringan dan berkompromi melalui negosiasi. [23]
Dalam penelitian ilmiah para ahli sikologi menyatakan jika sesorang
marah dapat membuat seseorag saraf otaknya terganggu, karena pada saat marah
sedikitnya ada 500 sel syaraf otak yang mati, selain itu marah juga dapat
menimbulkan bebagai penyakit dalam tubuh manusia, penyakit apa sajakah yang di
maksud dan mengapa bisa demikian berikut penjelasannya :
1.
Marah
itu dapat membuat orang stres berkepanjanga, stres merupakan efek samping yang
terjadi apabila seseorang sering marah, saat emosi produksi memperoleh hormon
kortisol hormone yang diproduksi kelenjar adrenal yang dapat meningkatkan
tekanan darah hal ini tidak baik, sesorang yang memiliki tekanan darah tinggi
dan diabetes.
2.
Marah
dapat menyebabkan penyakit darah tinggi saat seseorang marah tekanan darah
dalam tubuh akan naik bersama dengan meningkatnnya detak jantung dan jika
terjadi terlalu lama tekanan darah yang teramat tinggi bisa menyebabkan
pecahnya pembuluh darah di otak sehingga terjadi struk.
3.
Marah
dapat menimbulkan serangan jantung sebuah studi ilmiyah di Swedia menjelaskan
bahwa luapan emosi pada saat marah dapat meninggkatkan resiko mendapat serangan
jantung, selain itu marah juga dapat mengurangi sistem kekebalan tubuh sehingga
mereka yang meimiliki sifat emosi tinggi cendrung mudah sakit menurut para ahli
saat marah maka detak jantung akan meningkat menjadi 180 detak jantung permenit
sehingga lebih banyak membutuhkan oksigen dan membuat nafas menjadi sesak yang
dapat memperburuk kondisi jantung.
4.
Marah
dapat menimbulkan gangguan pernafasan orang-orang yang menderita asma harus
pandai menjaga emosinya, karena penderita asma akan detak jantung membutuhkan
oksigen yang lebih banyak dan membuat pernafasan menjadi tersendat.
5.
Marah
dapat membuat seseorang sakit kepala peningkatan tekanan darah dan detak
jantung saat marah juga membuat pembuluh darah di kepala akan semangkin denyut
dengan cepat faktor inilah yang memicu sakit kepala dan mengganggu kesehatan.
6.
Marah
membuat sulit untuk terlelap, jika sering marah akan membuat sulit tidur karena selalu memikirkan masalah-masalah yang
dihadapi dengan emosi, karena kurang tidur maka kekurangan waktu untuk
istirahat sehingga kesehatan terganggu.
Oleh karena bahaya yang disebutkan tadi Islam memiliki beberapa cara
untuk mengendalikan amarah hal ini agar tidak meninggalkan bahaya dalam hidup
manusia, dari Abu Hurairah r.a, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah
beri aku wasiat, lalau Rasulullah berkata janganlah marah dan nabi mengulangi
nasihat itu. [24]
Apa yang seharusnya di lakukan ketika sukar menahan emosi dan ingin
marah berikut adalah cara yang di ajarkan dalam Islam dalam meredam amrah :
1.
Berlindung
kepada Allah dari godaan syaitan
2.
Diam
dan tidak berbuat yang tidak baik
3.
Banyak
mengingat Allah SWT
4.
Merubah
posisi ketika marah
5.
Berwudhu
atau mandi
Demikian penjelasan mengenai amarah dari segi Islam maupun ilmu
penelitian maka ada baiknya jika kita mengikuti sunah Rasulullah SAW agar kita
terhindar dari sipat emosi yang merupakan godaan syaitan dan menimbulkan
mudharat bagi umat manusia.
|
|
PENUTUP
A. Simpulan
1.
Emosi berawal dari adanya rangsangan dari
luar dan dalam. Selanjutnya
manusia menafsirkan rangsangan itu apakah rangsangan itu sebagai suatu hal yang
positif atau negative.
2.
Teori
perkembangan emosi menurut penganut aliran psikologi kognitif menemukan bahwa
reaksi orang terhadap suatu rangsangan tertentu bisa berbeda-beda.
3.
Perkembngan
emosi dapat di lihat dari sejak bayi hingga lajut usia, menurut
navistik mengatakan bahwa emosi itu pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir,
sedangkan pendapat empiris
mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
4. Pentingnya pengalaman ajaran agama untuk membimbing emosi pada anak dan remja, agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan
demikian jelasnya bahwa yang harus diperisapkan oleh setiap pribadi muslim
adalah perbuatan – perbuatan yang termasuk amal shaleh, yaitu Aktivitas yang bermanfaat.
5.
Islam
mengajarkan cara dalam meredam amrah dengan cara Berlindung kepada Allah dari
godaan syaitan, Diam dan tidak berbuat yang tidak baik, Banyak mengingat Allah
SWT, Merubah posisi ketika marah, Berwudhu atau mandi.
B.
Saran
Pemakalah menyarankan kepada pembaca agar
tidak menjadikan makalah ini satu-satunya rujukan yang dijadikan sebagai sarana
informasi ilmu yang berkaitan dengan perkembangan emosi. Karena pada makalah ini tentunya masih
banyak hal-hal yang belum sempurna.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad, Zainuddin, Ringkasan Shahih Bukhari, Saudi Arabia: Dar Al-Kitab Al- Sunna, 2010
Aidah, Asnil & Irwan, Tafsir Tarbawi, Bandung: Citapustaka Media, 2013
Daradjat, Zakiah, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah,
Jakarta: Ruhama, 1984
Hurlocj, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan, Jakarta:
Erlangga, 1980
Izzaty, Rita Eka, dkk, Perkembangan
peserta didik, Yogyakarta: UNY Press, 2008
Jalaluddin, Teologi
Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001
Latipah, Eva, Pengantar
Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pedagogia, 2012
Masganti
Sit, Perkembangan Peserta Didik, Medan: Perdana Publising, 2012
Santrock, J.W, Life-Span Development, Terjemahan. Jakarta: Erlangga, 2002
Sarwono, Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Rajawali Pres, 2010
Semmel Albin, Rochelle, Emosi: Bagaimana
Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya, Yokyakarta: Kanisius, 1986
Sya’rawi, Syekh Muhammad Mutawalli Tafsir
Sya’rawi, renungan seputar kitab suci
Al Qura’a jilid 2, Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013
Widyastuti, Yenis, Psikologi
Sosial, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014
Yunus, Mahmud, Tafsir
Qur’an Karim, Jakarta: Wa Dzurriyyah, 2011
[3]Eva Latipah, Pengantar
Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012), h.191.
[4]Rochelle Semmel Albin, Emosi: Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya, (Yokyakarta:
Kanisius, 1986), h. 11.
[5]Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama,
1984), h. 88.
[12]Rita Eka Izzaty, dkk, Perkembangan peserta didik, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), h.86-87
[17]Rita Eka Izzaty, dkk, Ibid, h.182-183
[18]Jalaluddin,
Teologi Pendidikan, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001 ), hlm.
97.
[20] ZainuddinAhmad,
Ringkasan Shahih Bukhari, (Saudi
Arabia: Dar Al-Kitab Al-Sunna, 2010), h. 1120.
[21]Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi, renungan seputar kitab suci
Al Qura’a jilid 2, (Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013) h. 558
[22]Asnil Aidah & Irwan, Tafsir Tarbawi, (Bandung: Citapustaka Media, 2013) h. 310-311
[23]Yenis
Widyastuti, Psikologi Sosial, (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2014), h.129.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar