Selasa, 26 April 2016

PERKEMBANGAN EMOSI

KATA PENGANTAR

Puji syukur khadirat Allah SWT yang melimpahkan kenikmatan. Dialah dzat yang memberi kehidupan setiap makhluknya di muka bumi. Sholawat berangkaikan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga para sahabat dan para pengikutnya sampai hari akhir zaman.
Atas terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof Dr. Lahmuddin, M.Pd dan Dr. Hadijah, M.Ag dosen pembimbing mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, yang telah banyak memberikan ilmu dan kemudahan kepada penulis hingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya penulis berkeyakinan bahwa dalam penulisan makalah ini masih dijumpai kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikannya. Semoga makalah ini bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Amin ya Rabb al-‘Alamin.


Medan,  30 April 2016

Penulis


H.  Muamar Al Qadri
Mahasiswa UIN-SU






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pada umumnya perbuatan manusia sehari- hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari –hari, itu disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang kuat dan kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam hal warna efektif yang kuat, maka perasaan – perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah. Persaan –perasaa yang seperti ini disebut emosi. Beberapa emosi antara lain : gembira, bahagia, terkejut, jemu, benci, was –was, dan sebagainya
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kwalitatif yang tidak jelas batasnya. Pada saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan emosi disini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah  maupun pada tingkat yang kuat. Adapun pendapat tentang terjadinya emosi diantaranya menurut navistik yang mengatakan bahwa emosi itu pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir, sedangkan pendapat empiris mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.    Pengertian emosi ?
2.    Teori-teori perkembangan emosi ?
3.    Tahapan perkembangan emosi ?
4.    Bimbingan emosi pada anak dan remaja ?
5.   

1
Model stimulasi perkembangan emosi ?
C.  Tujuan Pembahasan
Adapaun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui Pengertian emosi
2.    Untuk mengetahui Teori-teori perkembangan emosi
3.    Untuk mengetahui Tahapan perkembangan emosi
4.    Untuk mengetahui Bimbingan emosi pada anak dan remaja
5.    Untuk mengetahui Model stimulasi perkembangan emosi

D.  Manfaat Pembahasan
1.    Secara teoritis, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pengertian, teori, tahapan, bimbingan dan model stimulasi perkembangan emosi.
2.    Makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam memahami pengertian, teori, tahapan, bimbingan dan model stimulasi perkembangan emosi.
3.    Secara praktis hasil makalah ini dapat memperluas wawasan para pembaca yang berhubungan dengan pengertian, teori, tahapan, bimbingan dan model stimulasi perkembangan emosi.

  



BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengertian Emosi
Secara etimologi emosi berasal dari kata Prancis emotion, yang berasal lagi dari emouvoir, “excite” yang berdasarkan kata latin emovere, yang terdiri dari kata-kata e- (variant atu ex-) artinya “keluar” dan movere, artinya “bergerak” dengan demikian secara etimologi emosi berarti “bergerak keluar”. [1]
Sebenarnya banyak jenis kata yang menggabarkan emosi, seperti yang penulis temukan dari beberapa buku dan firman Allah SWT, dalam Tafsir Qur’an penulis menemukan sebanyak 9 kata marah, 75 kata gembira, 5 kata sedih,  2 kata kecewa, 25 kata senang, dan masi banyak lagi yang lain. Sedangkan dalam bahasa inggris penulis menemukan sebanyak 47 kata yang menggambarkan emosi.
Selanjutnya emosi menurut Sarlito W. Sarwono adalah reaksi penilaian positif atau negatif yang kompleks dari sistem syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri. [2]
Sedangkan Emosi menurut Eva Latipah diartikan sebagai suatu keadaan mental akibat pristiwa-pristiwa yang pada umumnya datang dari luar dan menimbulkan keguncangan pada diri orang tersebut. Kemudian mengutip pernyataan Atkinson yang mengungkapkan bahwa emosi merupakan perasaan yang saling mendasar yang dialami seseorang. Hal ini di gambarkan dalam bentuk kebahagiaan dan kemarahan. [3]

3
Rochelle Semmel Albin menyebut emosi yang muncul dalam diri individu dengan berbagai nama seperti sedih, gembira, kecewa, semangat, marah, benci dan cinta. Selanjutnya Rochelle merinci emosi-emosi biasa itu seperti rasa sedih, rasa duka cita, depresi, cemas, ramah, cinta, gembira, rasa bersalah, iri hati dan benci. [4]
Dalam pengertian yang umumnya digunakan, emosi sering diartikan dorongan yang amat kuat dan cendrung mengarah kepada hal-hal yang kurang terpuji, seperti halnya emosi yang ada pada para remaja yang sedang goncang.[5]
Emosi menurut Masganti sama dengan perasaan. Defenisi utama emosi mengacu pada perasaan kuat yang melibatkan pikiran, perubahan fisiologis dan ekspresi pada sebuah prilaku. [6]
Dari beberapa pengertian di atas dapat penulis gambarkan bahwa emosi diawali dengan adanya suatu rangsangan, baik dari luar seperti benda, manusia, situasi, cuaca, maupun dari dalam diri seperti tekanan darah, kadar gula, lapar, ngantuk, segar, dan lain-lain dan juga pada indra manusia. Selanjutnya manusia (individu) yang menafsirkan persepi atas rangsangan itu apakah rangsangan itu sebagai suatu hal yang positif (menyenangkan, menarik) atau negative (menakutkan, ingin menghindar) yang selanjutnya diterjemahkan dalam respon psikologis dan motorik seperti jantung berdebar, mulut menganga, bulu roma berdiri, mata merah, dan sebagainya dan pada saat itulah terjadi emosi.

B.  Teori-Teori Perkembangan Emosi
Ada dua pendapat tentang terjadintya emosi, yaitu pendapat nativistik (emosi adalah bawaan) dan pendapat empirik (emosi adalah hasil belajar/pengalaman) : [7]
1.    Paham Nativistik sebagaimana yang di kemukakan oleh Rene Descartes teori emosinya adalah, sejak lahir manusia memiliki enam emosi dasar: cinta, kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum. Argumentasi yang mendasari teori nativistik adalah bahwa ekspresi emosi pada dasarnya sama saja di antara heran dan manusia, anak kecil maupun orang dewasa.
2.    Paham Empiris sangat mengutamakan hubungan antara jiwa yang berpusat di otak. Ekspresi marah pada hewan dan manusia dengan rangsangan-rangsangan dari lingkungan melalui jaringan syaraf pada tubuh manusia, mulai dari indra ke pusat, diolah di pusat (otak) dan kembali ke motorik/kelenjar-kelenjar dalam bentuk reaksi-rekasi tubuh.

Selanjutnya ada tiga teori empirik klasik tentang emosi yang didasarkan pada hubungan otak/syaraf dengan rangsangan dari lingkungan. Yang pertama adalah teori Somatik dari William James dan Carl Lange yang kemudian dikritik oleh Cannon Bard, dan yang termodren adalah teori kognitif tentang emosi yang sering disebut juga sebagai teori Singer-Schacher. Penjelasan dari ketiga teori tersebut ialah : [8]
1.    Menurut James-Lange emosi adalah reaksi terhadap perubahan –perubahan dalam sistem fsiologi tubuh. Contoh : ketika seseorang melihat seeokor beruang ia belum merasa takut dulu, tetapi jantung mulai berdebar keras, dan adrenalinnya terpacu. Dalam praktek teori ini misalnya terapi tertawa. Dalam satu kelompok orang diminta untuk tertawa sekeras-kerasnya walau tidak ada yang lucu, maka emosi senang dan gembira akan muncul karena tertawa itu.
2.    Walter Canon dan Philip Bard membuktikan dalam penelitiannya dengan hewan, bahwa rekasi motorik timbul setelah takut, bukan reaksi motorik menimbulkan takut. Contoh : orang menjerit dan lari karena takut.
3.    Penelitian berikutnya oleh para penganut aliran psikologi kognitif menemukan bahwa reaksi orang terhadap suatu rangsangan tertentu bisa berbeda-beda. Contoh: seorang ibu rumah tangga yang belum pernah melihat beruang sama sekali, ketika melihat beruang di halaman rumahnya ia menjerit ketakutan. Sedangkan seorang pelatih beruang akan berekasi tenang saja, sama sekali tidak takut karena sudah terbiasa dengan binatang itu.

Dari ketiga teori di atas penulis sependapat dengan aliran psikologi kognitif yang menyatakan bahwa emosi seseorang dapat berbeda-beda terhadap suatu rangsangan. Hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Hud ayat 70 dan 74:
Artinya: Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, Sesungguhnya Kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." [9] 
Artinya: Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. [10]

Berdasarkan ayat tersebut di atas penulis berpendapat bahwa rangsangan dapat berbeda yang mana ketika melihat sesuatu yang aneh maka timbulah rasa takut dan rasa takut itu akan hilang jika sudah terbiasa.

C.  Tahapan Perkembanagn Emosi
1.    Perkembangan Emosi Masa Bayi Neonatal 0-2 Minggu
Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya psikologi perkembangan menjelaskan bawa, reaksi emosional bayi neonatal hanya dapat di uraikan sebagai keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang ditandai oleh tubuh yang tenang dan tubuh yang tegang. Adapun ciri yang menonjol dari keadaan emosinya adalah tidak adanya tingkatan reaksi yang menunjukkan tingkat intensitas yang berbeda. Apapun rangsangannya, yang dihasilkan adalah emosi yang kuat (intensitas) dan tiba-tiba. [11]
Lain halnya dengan anak prematur yang cendrung bersikap apatis secara emosional,kekacauan emosionalnya menjadi pemarah, mudah tersinggung, berikap negatif, nervous, berang, meledak, dan mengisap jempol, adalah lazim.
Dari pernyataan tersebut di atas dapat di pahami bahwa pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, hampir tidak terbedakan sama sekali. Dengan bertambahnya usia reaksi emosionalnya menjadi lebih terbedakan oleh berbagai rangsangan.

2.    Perkembangan Emosi Masa Bayi
Pola emosional yang lazim pada bayi meliputi : Kemarahan yakni bayi akan menjadi marah bila ada campur tangan terhadap gerakan mencobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengijinkannya mengerti sendiri atau melakukan apa yang diinginkannya. Bentuk marahnya dimanifestasikan dalam bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang, mengibaskan tangan, memukul atau menendang apa saja yang ada di dekatnya. Pada tahun kedua dapat juga melonjak-lonjak, berguling-guling, meronta-ronta dan menahan nafas, ketakutan yakni bayi akan menjadi ketakutan bila mendengar suara keras dari orang atau benda, situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi, dan takut binatang, atau takut terhadap stimulus yang datang tiba-tiba dan tidak terduga. Reaksi takut diekspresikan melalui perilaku menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan, merengek, menangis dan menahan nafas, rasa ingin tahu yakni ditunjukkan pada setiap mainan atau barang baru dan tidak biasa. Ekspresi rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan ekspresi wajah menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah. Kemudian akan memegang barang tersebut, membolak-balik, melempar atau memasukkan ke mulutnya, kegembiraan yakni muncul oleh adanya kesenangan fisik, misalnya pada bulan kedua atau ketiga bayi akan merasa senang bila ada yang mengajak bercanda, menggelitik, mengamati, dan memperhatikannya. Ungkapan rasa bahagia tersebut ditunjukkan dengan tertawa, tersenyum, dan menggerakkan tangan serta kakinya, afeksi yakni setiap orang yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya atau memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Mainan dan hewan kesayangan keluarga mungkin juga menjadi obyek cinta bagi mereka. Umumnya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang yang dicintai. [12]
Dari bebrapa pola emosional yang lazim pada masa bayi tersebut di atas adapaun emosi bayi terjadi secara singkat tetapi kuat, sering muncul tetapi bersifatsementara. Emosi juga mudah berubah apabila perhatiannya dialihkan, hal itu dikarenakan terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehinggamereka mudah dan cepat bereaksi terhadap rangsang yang pada waktulalu membangkitkan reaksi emosional. Emosi bayi lebih banyak mengalami yangmenyenangkan atau sebaliknya, emosi tidak menyenangkan tergantungpada kondisi fisik dan lingkungannya.

3.    Perkembangan Emosi Masa Kanak-Kanak
Sejak dini, anak kecil sudah mampu merasa dan mengekspresikan emosinya, seperti senang, marah, susah, dan takut. Pada tahun-tahun berikutnya, anak mengalami emosi lain seperti malu, rasa bersalah, dan bangga. Pada masa prasekolah, anak tidak hanya mengembangkan emosi-emosi tersebut, tetapi juga cara mengendalikannya. Pada masa ini juga, anak sudah mampu menggunakan bahasa untuk memberi nama pada emosi yang dialami.  Misalnya mengatakan “saya takut”. Ketakutan-ketakutan ini adalah nyata dialami anak, sehingga perlu diperhatikan. Cara yang efektif untuk mengatasinya ialah dengan membicarakan ketakutan-ketakutan tersebut, serta memberikan anak rasa aman. [13]
Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase pada Sekolah Dasar yaitu masa kelas rendah antara usia 6 sampai 10 tahun kelas 1,2,3 dan masa kelas tinggi antara usia 9 sampai 13 tahun kelas 4,5 dan 6. Adapun ciri-ciri anak kelas rendah ialah Adanya hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah, memuji diri sendiri, kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggapnya tidak penting. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya. Suka meremehkan orang lain. Ciri-ciri anak kelas rendah ialah perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari, Ingin tahu, ingin belajar dan realistis, Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus, Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah, Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dala kelompoknya. [14]
Dari beberapa persoalan di atas adapun tugas pendidik ialah membantu anak untuk mengembangkan perasaan diri yang realistik dan seimbang tentang diri mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan mendiskusikan bersama anak tentang apa yang dapat mereka kerjakan, apa yang tidak, kesalahan-kesalahan yang mereka buat, prestasi yang dicapai, serta tantangan-tantangan yang ada dan diterima anak. Jangan melakukan pemujian yang berlebihan terhadap anak.

4.    Perkembangan Emosi Remaja
Pada masa remaja terjadi ketegangan emosi yang bersifat khas sehingga masa ini disebut masa badai & topan (storm and stress)-> Heightened Emotionality, masa yang menggambarkan keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak. [15]
Meningginya emosi terutama karena remaja menghadapi kondisi baru, selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Kepekaan emosi yang meningkat sering diujudkan dalam bentuk, remaja lekas marah, suka menyendiri dan adanya kebiasaan nervous, seperti gelisah, cemas dan sentimen, menggigit kuku, garuk-garuk kepala dan dalam diri remaja mulai timbul perhatian terhadap lawan jenis, atau sering diistilahkan mulai jatuh cinta.

5.    Perkembangan Emosi Dewasa
Santrock menekankan bahwa perkembangan emosi pada masa ini, kehidupan keluarga mempengaruhi ciri khas perkembangan emosinya, pada fase ini berada pada taraf kestabilan dalam berumah tangga. Stabilitas dicapai karena perjuangan pasangan dalam memupuk arti cintanya selama bertahun-tahun dengan dipengaruhi adanya sikap toleransi terhadap pasangan. Asumsinya, karena usia perkawinan yang sudah cukup panjang, sehingga di dalam keluarga, pola-pola konflik lebih dikenal, lebih dapat diperkirakan, sehingga penyelesaian lebih realistik. Namun bilamana komitmen emosional yang selama bertahun-tahun diwarnai dengan adanya pengkhianatan maka pernikahan pada masa ini sering diakhiri kegagalan yang diakhiri perceraian. [16]
Dari penjelasan di atas dapat di pahami bahwa tingkat keberhasilan pria dan wanita dalam menyesuaikan diri pada masa dewasa dapat dinilai dari empat kriteria, yaitu : prestasi, tingkat emosional yang diartikan seberapa tegang individu mengahadapi konflik-konflik pada usia ini, pengaruh perubahan fisik, dan rasa bahagia pada usia tersebut.

6.    Perkembangan Emosi Lanjut Usia
Rita Eka Izzaty mengutip pernyataan Lafrancois, bahwa pada dasarnya ada dua teori yang menerangkan hubungan antara umur manusia dengan kegiatannya : Pertama Teori disangegement yang berpendapat bahwa semakin tinggi usia manusia akan diikuti secara berangsur-angsur oleh semakin mundurnya interaksi sosial, fisik dan emosi dengan kehidupan dunia. Terjadi suatu proses saling menarik diri atau pelepasan diri baik individu dari masyarakat maupun masyarakat dari individu. Individu mengundurkan diri karena kesadarannya akan berkurangnya kemampuan fisik maupun mental yang dialami, yang membawanya secara berangsur-angsur kepada kondisi tergantung, baik fisik maupun mental. Sebaliknya masyarakat mengundurkan diri karena ia memerlukan orang yang lebih muda yang lebih mandiri untuk mengganti bekas jejak orang yang lebih tua. Kedua Teori Activityyang bertolak belakang dengan teori yang pertama, menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin memelihara hubungan sosial, fisik maupun emosionalnya. Kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada kelangsungan keterlibatannya pada berbagai kegiatan. [17]
Setelah mengetahui perkembangan-perkembangan emosi yang telah penulis jelaskan di atas tentunya memeiliki harapan terhadap implikasi pendidikan, adapun hal yang sangat penting ialah emosi itu bukan bakat, melainkan bisa dibuat, dilatih, dikembangkan, dipertahankan dan yang kurang baik dikurangi atau di buang sama sekli. Oleh karena itu guru dan lingkungan keluarga berperan aktif dalam melatih perkembangan emosi.

D.    Bimbingan Emosi Pada Anak dan Remaja
Pentingnya pengalaman ajaran agama bukanlah hanya untuk kehidupan di akhirat saja, tetapi ia juga merupakan bekal penting untuk dapat mencapai kehidupan yang baik di dunia. Dengan demikian jelasnya bahwa yang harus diperisapkan oleh setiap pribadi muslim adalah perbuatan – perbuatan yang termasuk amal shaleh, yaitu  Aktivitas yang bermanfaat.[18]
Sering sekali di jumpai pada anak dan remaja tidak sanggup mengendalikan diri, karena pengendalian diri merupakan aspek yang terpenting, tidak hanya pengendalian diri saja,  tetapi juga pada semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi prustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, kemampuan untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati), kesanggupan untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin orang-orang yang dikuasai dorongan nafsu tanpa  memiliki kendali diri.
Allah swt juga dengan tegas mengatakan di dalam al Qur’an tentang pentingnya pengendalian diri sebagaimana firmannya dalam Q.S Ali Imran ayat 134:
Artinya:   (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [19]

Ayat di atas menjelaskan  bahwa kemampuan seseorang bukan hanya tertuju kepada pengenalan benar salah, tetapi juga menjangkau pengenalan pada baik-buruk, sopan-santun, pantas-tidak pantas, mesti dilakukan atau di hindarkan, Orang yang telah mencapai puncak kesabaran dalam  Al-Qur`an dijelaskan bahwa di antara tanda-tanda orang taqwa ialah mampu menahan emosi (sabar), menyadari perbuatan salahnya, memaafkan kesalahan orang lain, hal ini sesuai dengan hadis nabi sebagaimana pernah mengajarkan kepada para sahabat akan pentingnya pengelolaan atau pengendalian emosi.

  
Ų­َŲÆَّŲ«َنَŲ§ Ų¹َŲØْŲÆُ اللَّهِ ŲØْنُ يُوسُفَ Ų£َŲ®ْŲØَŲ±َنَŲ§ Ł…َŲ§Ł„ِكٌ Ų¹َنْ Ų§ŲØْنِ Ų“ِهَŲ§ŲØٍ Ų¹َنْ Ų³َŲ¹ِيدِ ŲØْنِ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ³َيَّŲØِ Ų¹َنْ Ų£َŲØِي هُŲ±َيْŲ±َŲ©َ Ų±َŲ¶ِيَ اللَّهُ Ų¹َنْهُ Ų£َنَّ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللَّهِ ŲµَŁ„َّى اللَّهُ Ų¹َŁ„َيْهِ وَŲ³َŁ„َّŁ…َ Ł‚َŲ§Ł„َ Ł„َيْŲ³َ الَّؓŲÆِيدُ ŲØِالصُّŲ±َŲ¹َŲ©ِ Ų„ِنَّŁ…َŲ§ الَّؓŲÆِيدُ Ų§Ł„َّŲ°ِي يَŁ…ْŁ„ِكُ نَفْŲ³َهُ Ų¹ِنْŲÆَ Ų§Ł„ْŲŗَŲ¶َŲØِ
( ļŗ®ļ»­ļŗļ»© ļŗļ» ļŗ’ļŗØļŗŽļŗ®ļ»° )  
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyib dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah." ( H.R Bukhari) [20]

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi dalam Kitab Tafsir Sya’rawi, Q.S Ali Imran ayat 134 ini berisikan sebagian sifat muttaqin. Gambaran makna kalimat walkazhimiinal ghaizh dan orang-orang yang menahan amarahnya, diberitahukan dalam perang Uhud kepada kita. Hamzah sebagai paman nabi yang syahid dalam peperangan ini ternyata harus mengalami kematian dengan cara yang menyedihkan dengan tubuh yang terkoyak-koyak, bahkan hatinya dimakan oleh Hindun, ketika berita ini disampaikan kepada nabi, beliau berkata Allah tidak akan mengazab satu bagianpun dari tubuh Hamzah di dalam api neraka. Hal ini juga yang menyebabkan mengapa Hindun meludahkan kembali hati Hamzah agar dia yang sudah jelas akan amsuk neraka tidak akan membaga bagian tubuh Hamzahyang di makanannya kedalam neraka. Dengan begitu terbuktilah ucapan Rasul yang mengatakan tubuh Hamzah tidak akan di azab di neraka. [21]
Pokok pembicaraan ayat ini adalah bagaimana kita berusaha untuk menahan amarah. Walaupun ayat ini awalnya ditujukan bagi Nabi dan berlaku dalam pertempuran Uhud, namun akhirnya ini bersifat umum yang juga mencakup saat kita berada dalam perdamaian.
Begitu juga dengan al-ghaizh (emosi marah) yang mengacaukan jiwa manusia. Dia harus ditutup dan dicegah, sebagaimana kita menutup kantong air yang sudah penuh. Artinya Allah tidak memungkiri adanya sifat marah dalam jiwa manusia karena itu merupakan rekasi alamiah. Sendaianya Allah tidak menginginkannya tentu Dia akan mencegah sebab-sebabnya dalam pembentukan manusia. Allah menginginkan keberadaan emosi marah manusai untuk berbagai hal, seperti seksualitas yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan makluk hidup dengan cara meletakkan aturan syariat untuk mengarahkannya. Begitu juga dengan reaski emosi harus diarahkan, karena agama Islam tidak ingin seorang mukmin memiliki hati sekeras batu dan tidak berperasaan sama seklali. Allah menginginkan agar mukmin bereaksi terhadap sebuah pristiwa yang ada sewajarnya dan bersifat membangun, bukan reaksi yang malah menghancurkan.
Akhir ayat berbunyi, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Kaliman ini secara implisit mengatakan bahwa kita semua adalah ciptaan Allah dan seluruh ciptaan yang ada di alam ini merupakan keluarga Allah. Seandainya ada  makluk yang menyakiti makluk lain, tentu Allah akan berpihak pada barisan yang disakiti dan memberikan meraka rahmat, kasih sayang, ampunan  dan sebaginya. [22]
Dengan demikian orang disakiti akan mendapat keuntungan, jadi sudah merupakan suatu kewajiban untuk membalas kezaliman tersebut dengan kebaikan. Sayangnya akal manusia kehilaangan kecerdasannya saat dia berada dalam kondisi emosi (marah). Dia menganggap orang yang berbuat jahat dan zhalim lawan yang harus dienyahkan. Padahal tidak demikian, hendaklah kita memahami bahwa orang yang menyakiti sebenarnya menjadikan Allah berada disamping kita, dan apa yang kita proleh berupaka kebaikan akibat kezalimannya itu. Untuk itu sebaiknya kita beriman secara benar dan memberikan yang terbaik kepada orang yang menyakiti kita.

E.  Model Stimulasi Perkembangan Emosi
Marah merupakan hal yang manusiawi yang dapat dilakukan semua orang dalam kehidupan sehari-hari karna  berbagai alasan, efek yang paling nyata ketika marah adalah wajah yang memerah dan nada suara yang meninggi pernafasan menajadi cepat detak jantung tidak teratur dan otot-otot diseluruh tubuh menjadi tegang semua gejala marah tersebut tentunya memiliki resiko dan bahaya tersendiri untuk tubuh.
Pada pembahasan ini penulis akan mencoba menceritakan pengalaman yang di hadapi ketika mengajar PAI di sebuh sekolah dasar negeri, yang mana mendapati seorang siswa kelas empat SD yang sangat lambat dalam proses berfikir dan menerima pelajaran, siswa tersebut bernama Darman. Penulis tertarik untuk mengkonseling pada waktu itu, walau belum sampai kepada solusi untuk mengatasi hal tersebut, penulis menanyakan latar belakang dan kehidupan di lingkungan rumahnya kepada guru yang lebih mengetahui, sehingga di dapati info bahwasanya sewaktu ia kecil sampai seuisianya sekrang ketika keinginannya tidak dipenuhi, dan di marahi orang tuanya ia menangis sambil mengamuk menghantukkan/ membenturkan keningnya ke dinding berulang-ulang kali, dan begitu lah seterusnya ketika menagis, hal tersebut dibiarkan saja oleh keluarganya. Lalu saya bertanya mengapa ia tidak di titipkan sama keluarganya yang lain, dan apa yang di inginkannya di penuhi, permasalahannya ialah kurangnya perhatian dan ekonomi yang lemah.
Sebagai seorang guru tentunya sudah memberikan nasihat-nasihat agama begitu juga dengan wali kelas sudah memanggil orang tuanya utnuk dapat melakukan hal yang terbaik, serta menyarankan utntuk masuk SDLB, namun hal tersebut tidak berjalan dengan apa yang di inginkan siswa tersebut sering tinggal kelas, usia ya yang semangkin tua dan tubuhnya ya yang semangkin besar membuat ia semangkin malas sekolah dan akhirnya berhenti ketika itu kelas 5.
Sebagai orang tua perlu menerapkan program-program yang diarahkan pada pencegahan perbuatan agresif pada anak-anak difokuskan pada stategi pendisiplinan non-kekerasan. Hal ini melibatkan pengembangan perilaku pengasuhan yang baru, seperti memberikan penguatan positif untuk prilaku yang benar, memberikan hukuman yang ringan dan berkompromi melalui negosiasi. [23]
Dalam penelitian ilmiah para ahli sikologi menyatakan jika sesorang marah dapat membuat seseorag saraf otaknya terganggu, karena pada saat marah sedikitnya ada 500 sel syaraf otak yang mati, selain itu marah juga dapat menimbulkan bebagai penyakit dalam tubuh manusia, penyakit apa sajakah yang di maksud dan mengapa bisa demikian berikut penjelasannya :
1.    Marah itu dapat membuat orang stres berkepanjanga, stres merupakan efek samping yang terjadi apabila seseorang sering marah, saat emosi produksi memperoleh hormon kortisol hormone yang diproduksi kelenjar adrenal yang dapat meningkatkan tekanan darah hal ini tidak baik, sesorang yang memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes.
2.    Marah dapat menyebabkan penyakit darah tinggi saat seseorang marah tekanan darah dalam tubuh akan naik bersama dengan meningkatnnya detak jantung dan jika terjadi terlalu lama tekanan darah yang teramat tinggi bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak sehingga terjadi struk.
3.    Marah dapat menimbulkan serangan jantung sebuah studi ilmiyah di Swedia menjelaskan bahwa luapan emosi pada saat marah dapat meninggkatkan resiko mendapat serangan jantung, selain itu marah juga dapat mengurangi sistem kekebalan tubuh sehingga mereka yang meimiliki sifat emosi tinggi cendrung mudah sakit menurut para ahli saat marah maka detak jantung akan meningkat menjadi 180 detak jantung permenit sehingga lebih banyak membutuhkan oksigen dan membuat nafas menjadi sesak yang dapat memperburuk kondisi jantung.
4.    Marah dapat menimbulkan gangguan pernafasan orang-orang yang menderita asma harus pandai menjaga emosinya, karena penderita asma akan detak jantung membutuhkan oksigen yang lebih banyak dan membuat pernafasan menjadi tersendat.
5.    Marah dapat membuat seseorang sakit kepala peningkatan tekanan darah dan detak jantung saat marah juga membuat pembuluh darah di kepala akan semangkin denyut dengan cepat faktor inilah yang memicu sakit kepala dan mengganggu kesehatan.
6.    Marah membuat sulit untuk terlelap, jika sering marah akan membuat sulit tidur  karena selalu memikirkan masalah-masalah yang dihadapi dengan emosi, karena kurang tidur maka kekurangan waktu untuk istirahat sehingga kesehatan terganggu.
Oleh karena bahaya yang disebutkan tadi Islam memiliki beberapa cara untuk mengendalikan amarah hal ini agar tidak meninggalkan bahaya dalam hidup manusia, dari Abu Hurairah r.a, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah beri aku wasiat, lalau Rasulullah berkata janganlah marah dan nabi mengulangi nasihat itu. [24]
Apa yang seharusnya di lakukan ketika sukar menahan emosi dan ingin marah berikut adalah cara yang di ajarkan dalam Islam dalam meredam amrah :
1.    Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan
2.    Diam dan tidak berbuat yang tidak baik
3.    Banyak mengingat Allah SWT
4.    Merubah posisi ketika marah
5.    Berwudhu atau mandi

Demikian penjelasan mengenai amarah dari segi Islam maupun ilmu penelitian maka ada baiknya jika kita mengikuti sunah Rasulullah SAW agar kita terhindar dari sipat emosi yang merupakan godaan syaitan dan menimbulkan mudharat bagi umat manusia.




BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
1.      Emosi berawal dari adanya rangsangan dari luar dan dalam. Selanjutnya manusia menafsirkan rangsangan itu apakah rangsangan itu sebagai suatu hal yang positif atau negative.
2.      Teori perkembangan emosi menurut penganut aliran psikologi kognitif menemukan bahwa reaksi orang terhadap suatu rangsangan tertentu bisa berbeda-beda.
3.      Perkembngan emosi dapat di lihat dari sejak bayi hingga lajut usia, menurut navistik mengatakan bahwa emosi itu pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir, sedangkan pendapat empiris mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
4.      Pentingnya pengalaman ajaran agama untuk membimbing emosi pada anak dan  remja, agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan demikian jelasnya bahwa yang harus diperisapkan oleh setiap pribadi muslim adalah perbuatan – perbuatan yang termasuk amal shaleh, yaitu  Aktivitas yang bermanfaat.
5.      Islam mengajarkan cara dalam meredam amrah dengan cara Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan, Diam dan tidak berbuat yang tidak baik, Banyak mengingat Allah SWT, Merubah posisi ketika marah, Berwudhu atau mandi.

B.  Saran
Pemakalah menyarankan kepada pembaca agar tidak menjadikan makalah ini satu-satunya rujukan yang dijadikan sebagai sarana informasi ilmu yang berkaitan dengan perkembangan emosi. Karena pada makalah ini tentunya masih banyak hal-hal yang belum sempurna.




DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Zainuddin, Ringkasan Shahih Bukhari, Saudi Arabia: Dar Al-Kitab Al-    Sunna, 2010
Aidah, Asnil & Irwan, Tafsir Tarbawi, Bandung: Citapustaka Media, 2013
Daradjat, Zakiah, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta:             Ruhama, 1984
Hurlocj, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980
Izzaty, Rita Eka, dkk, Perkembangan peserta didik, Yogyakarta: UNY Press,        2008
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001
Latipah, Eva, Pengantar Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pedagogia, 2012
Masganti Sit, Perkembangan Peserta Didik, Medan: Perdana Publising, 2012
Santrock, J.W, Life-Span Development, Terjemahan. Jakarta: Erlangga, 2002
Sarwono, Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Rajawali Pres, 2010
Semmel Albin, Rochelle, Emosi: Bagaimana Mengenal, Menerima dan       Mengarahkannya, Yokyakarta: Kanisius, 1986
Sya’rawi, Syekh Muhammad Mutawalli Tafsir Sya’rawi, renungan seputar kitab    suci Al Qura’a jilid 2, Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013
Widyastuti, Yenis, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014
Yunus, Mahmud, Tafsir Qur’an Karim, Jakarta: Wa Dzurriyyah, 2011






[1]Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), h.125.
[2]Ibid, h.124.
[3]Eva Latipah, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012), h.191.
[4]Rochelle Semmel Albin, Emosi: Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya, (Yokyakarta: Kanisius, 1986), h. 11.
[5]Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1984), h. 88.
[6]Masganti Sit, Perkembangan Peserta Didik, (Medan: Perdana Publising, 2012), h. 127.
[7]Sarlito W. Sarwono, Ibid, h.125.
[8] Ibid, h.129-130.
[9] Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta: Wa Dzurriyyah, 2011), h. 321
[10]Ibid, h.321
[11]Elizabeth B. Hurlocj, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1980), h.52.
[12]Rita Eka Izzaty, dkk, Perkembangan peserta didik, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), h.86-87
[13]Ibid, h.108-109
[14]Ibid, h.127-128.
[15]Ibid, h.142.
[16]Santrock, J.W, Life-Span Development, Terjemahan. (Jakarta: Erlangga, 2002), Jilid I, h.47.
[17]Rita Eka Izzaty, dkk, Ibid, h.182-183
[18]Jalaluddin, Teologi Pendidikan, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001 ), hlm. 97.
[19] Mahmud Yunus, Ibid, h. 90.
[20] ZainuddinAhmad, Ringkasan Shahih Bukhari, (Saudi Arabia: Dar Al-Kitab Al-Sunna, 2010), h. 1120.
[21]Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi, renungan seputar kitab suci Al Qura’a jilid 2, (Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013) h. 558

[22]Asnil Aidah & Irwan, Tafsir Tarbawi, (Bandung: Citapustaka Media, 2013) h. 310-311
[23]Yenis Widyastuti, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), h.129.
[24] ZainuddinAhmad, Ibid, h. 1121.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)