|
|
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kurikulum merupakan
suatu perencanaan yang mengatur secara sistematik dan struktur yang memuat isi
dan bahan pelajaran, menunjuk kepada perangkat mata ajaran atau bidang
pengajaran tertentu dengan menyesuaikan cara, metode atau strategi penyampaian
pengajaran. Dengan demikian kurikulum merupakan alat pendidikan yang menjadi
pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Sebagai mana yang
dinyatakan dalam sistem pendidikan Nasional bahwa kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara
yang di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. [1]
Dengan demikian secara
garis besarnya menunjukkan adanya keharusan, bahwa pengembangan kurikulum mesti
dilandasi oleh dasar-dasar esensial seperti tujuan pendidikan nasional, tahap
perkembangan peserta didik, kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan
nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, dan
kesesuaian dengan jenis dan jenjang satuan pendidikan.
Islam menjelaskan bahwasanya
inti kurikulum pendidikan sangat mengutamakan pendidikan agama, akhlak dan
keruhanian, setelah itu barulah pelajaran-pelajaran mengenai kebudayaan dan
kemasyarakatan.[2]
Berdasarkan kutipan
diatas inti kurikulum ialah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia,
yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini adalah :
1. Hakikat
komponen utama kurikulum ?
2. Macam
macam komponen dalam pengembangan kurikulum ?
3. Fungsi
masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum ?
4. Keterkaitan
masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum ?
C. Tujuan Pembahasan
Adapaun tujuan
dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui hakikat komponen utama kurikulum
2. Untuk
mengetahui macam macam komponen dalam pengembangan kurikulum
3. Untuk
mengetahui fungsi masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum
4. Untuk
mengetahui keterkaitan masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum
D. Manfaat Pembahasan
1. Secara
teoritis, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang hakikat,
macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen utama dalam pengembangan
kurikulum.
2. Makalah
ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam memahami
hakikat, macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen utama dalam
pengembangan kurikulum.
3. Secara
praktis hasil makalah ini dapat memperluas wawasan para pembaca yang
berhubungan dengan hakikat, macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen
utama dalam pengembangan kurikulum.
|
|
PEMBAHASAN
A. Hakikat Komponen Utama Kurikulum
Pada hakikatnya kurikulum merupakan alur atau tahapan yang
harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengembangan kurikulum
membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir. Landasan filsafat
tertentu beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika,
epistomologi, logika dan aksiologi akan berimplikasi terhadap komponen utama
kurikulum pendidikan.
Filsafat
memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam
Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : Aliran
progresivisme
menghendaki sebuah pendidikan yang pada hakekatnya progresif, tujuan pendidikan
diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar siswa
sebagai peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan
penyesuaian kembali sesuai tuntutan lingkungan. Aliran essensialisme menginginkan
pendidikan yang bersendikan atas nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya
dalam kebudayaan, dan nilai-nilai tersebut hendaknya yang sampai kepada
manusia. Pendidikan bertugas sebagai perantara atau pembawa nilai di luar ke
dalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu dilatih agar punya kemampuan yang
tinggi. [3]
Dalam pengembangan kurikulum senantiasa berpijak pada aliran
– aliran filsafat tertentu, sehingga
akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
|
3
|
Berdasarkan kutipan diatas dapat di tarik garis terang
tentang hakikat perkembangan kurikulum. Bahwasannya kurikulum pendidikan itu
harus sesuai dengan dinamika zaman, dimana implikasi dari pengembangan
kurikulum terhadap peserta didik adalah mereka akan semakin aktual serta mampu
membawa dirinya sesuai dengan hakikatnya dan hakikat lingkungannya.
B. Macam-macam Komponen Dalam
Pengembangan Kurikulum
Manusia sebagai suatu
organisme memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu dimana yang satu
dengan lainnya saling menopang. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan
yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk
satu kesatuan.
Nana Syaodih
Sukmadinata mengidentifikasi unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang
utama adalah : tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan
media, serta evaluasi, yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya. [5]
Sementara itu Hasan
Langgulung membagi unsur kurikulum menjadi empat yaitu: tujuan pendidikan, isi atau
kandungan pendidikan, metode pengajaran, dan metode penilaian. [6]
Menurut Sutopo dan
Suemanto komponen-komponen kurikulum itu terdiri dari : Tujuan, Materi (isi dan
struktur program), organisasi dan strategi, sarana dalam kurikulum dan
evaluasi. [7]
Setelah melihat
komponen kurikulum yang dikemukanan diatas, dapat penulis uraikan
komponen-komponen utama kurikulum ialah :
1.
Tujuan
Pendidikan
sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan
tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu
bersifat abstrak sampai pada rumusan yang dibentuk secara khusus untuk
memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.
Dengan demikian
tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua
pelaksanaan dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses
kegiatan pendidikan, bila tidak memiliki tujuan yang jelas untuk dicapai, maka
prosesnya akan mengabur Oleh karena itu tujuan tersebut tidak mungkin dapat
tercapai secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertahap, misalnya tujuan
pendidikan Nasional, tujuan institusional, tujuan kurikulum dan tujuan
intruksionalnya ditetapkan secara jelas dan terarah. [8]
Adapun tujuan
yang terdapat dalam kurikulum setelah sekolah terbagi atas dua :
a. Tujuan
yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.
Selaku
lembaga pendidikan, setiap sekolah mempunyai tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan-tujuan tersebut bisa digambarkan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Tujuan dari sekolah tersebut kita namakan tujuan institusional
atau tujuan lembaga, misalnya tujuan didikan dasar, tujuan pendidikan menengah,
dan seterusnya.
b. Tujuan
yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi
Tujuan
setiap bidang studi ada yang kita sebut tujuan kurikuler dan ada pula yang kita
sebut tujuan pembelajaran, yang merupakan pelajaran dari tujuan kurikulum. [9]
2.
Materi
Dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar atau
materi pendidikan. Materi pendidikan
tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.
Adapun kriteria
dalam memilih materi pendidikan diantaranya : (1) harus valid dan signifikan,
(2) harus berpegang pada realitas sosial, (3) kedalam dan keluasannya harus
seimbang, (4) menjangkau tujuan yang luas, (5) dapat dipelajari dan disesuaikan
dengan pengalaman siswa, dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat
peserta didik. [10]
3.
Organisasi
dan Strategi
a.
Organisasi yang dimakssudkan disini
ialah struktur program kurikulum yang dikenal dengan istilah struktur
horizontal dan struktur vertical, Struktur horizontal yaitu suatu kurikulum
yang berkenaan dengan apakah kurikulum itu diorganisasikan dalam bentuk mata
pelajaran secara terpisah, misalnya matematika, sejarah fisika dan lain-lain,
atau secara kelompok mata pelajaran yang disebut bidang studi, misalnya program
pendidikan keguruan, program spesialisasi, dan lain-lain. Sedangkan struktur
vertical kurikulum yaitu berkenaan dengan apakah kurikulum tersebut
dijalankan melalui Sistem kelas, misalnya kelas I, II, III dan
seterusnya, kenaikan kelas diadakan setiap tahun secara serempak atau program
tanpa kelas, yaitu perpindahan dari suatu tingkat program ketingkat program
berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu teman-teman yang
lain.
b.
Strategi yaitu perlaksanaan krikulum
tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, mengadakan penilaian,
melaksanakan bimbingan/penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara
keseluruhan. [11]
Proses
pelaksanaan belajar mengajar dalam pendidikan secara umum dilaksanakan dengan
lebih banyak mengacu kepada bagaimana seorang peserta didik belajar selain
kepada apa yang dipelajari. Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara
peserta didik dengan guru, sesama peserta didik, dan peserta didik dengan
lingkungannya.
Sistem
penyampaian mencakup beberapa hal pokok, yaitu: strategi dan pendekatannya,
metode pengajarannya, pengaturan kelas, serta pemanfaatan media pendidikan. [12]
Berdasarkan
kutipan diatas penyampaian merupakan sistem atau strategi yang digunakan dalam
menyampaikan materi pendidikan yang telah dirumuskan. Sistem penyampaian ini
paling minim berkaitan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi,
serta pendekatan pembelajaran. Ketika guru menyusun materi pendidikan, secara
otomatis ia juga harus memikirkan strategi yang sesuai untuk menyajikan materi
pendidikan tersebut. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
belajar mengajar antara lain adalah pola atau pendekatan belajar mengajar yang
digunakan, intensitas dan frekuensinya, model interaksi, pengelolaan kelas,
serta penciptaan suasana betah di sekolah.
4.
Sarana
dan Prasarana
Sarana dan
Prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan khusunya
dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan tentu saja
fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan proses pendidikan
yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan pendidikan akan
bisa dpastikan tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, jika dalam
menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya
ketersediaan gedung sekolah, bangku meja dan sebagainya. [13]
5.
Evaluasi
Dalam evaluasi
pendidikan harus diperhatikan beberapa hal yaitu: bahwa evaluasi harus bermuara
pada tujuan, dilaksanakan secara obyektif, komprehensif dan harus dilakukan
secara kontinyu.
Omar Hamalik mengemukakan bahwa evaluasi merupakan
keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data-data dan informasi),
pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang
tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah melakukan kegiatan
belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. [14]
a. Tes atau ulangan dan ujian
b. Mengetahui tujuan pengajaran yang
telah dicapai
c. Mengetahui kelemahan dan kekurangan
siswa
d. Menunjukkan kelemahan metode/ teknik
yang di gunakan
e. Membei petunjuk yang lebih jelas
tentang tujuan yang hendak dicapai
f. Memberi dorongan kepada siswa untuk
belajar dengan giat
C. Fungsi Masing-masing Komponen Dalam
Pengembangan Kurikulum
Secara
umum, fungsi kurikulum adalah
sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke
arah tujuan pendidikan. Kurikulum adalah segala aspek yang mempengaruhi peserta
didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum
sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis,
diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
fungsinya dapat difokuskan pada tiga aspek berikut :
1. Fungsi
kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai
seperangkat tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam
mengatur kegiatan sehari-hari.
2. Fungsi
kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses
pendidikan dan penyiapan tenaga kerja.
3. Fungsi
bagi konsumen, yaitu sebagai keikutsertaan dalam memperlancar pelaksanaan
program, pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan program yang
serasi. [16]
Selanjutnya penulis
akan menjelaskan fungi kurikulum berdasarkan komponen dalam pengembangan
kurikulum :
1. Fungsi Tujuan
yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan
itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang
dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur
dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam
setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikan
yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. [17]
2. Fungsi Materi
yaitu Sebagi bahan belajar utama dan apabila dirancang sedemikian
rupa, maka dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sebagai bahan pendukung
proses pembelajaran yang diselenggarakan, sebagai media utama dalam prose
pembelajaran, sebagai alat yang digunakan untuk menyusun dan mengawasi proses
peserta didik dalam memperoleh informasi, sebagi penunjang media pembelajran
lainnya. [18]
3. Fungsi Organisasi / Strategi
yaitu untuk mewujudkan Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Dengan adanya pengorganisasian
dan perencanaan seorang guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara
variatif, menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan.
4. Fungsi Sarana prasarana
yaitu sebagai penunjang aktivitas belajar mengajar di sekolah. Tanpa adanya sarana prasarana dalam proses
pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Dengan demikian Sarana
prasarana harus di penuhi dalam dunia pendidikan. [19]
5. Fungsu Evaluasi
yaitu untuk mengetahui sejauh mana efektifitas belajar mengajar, prestasi anak
didik, perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh anak didik. Selain itu
evaluasi juga berfungsi sebagai umpan balik atau feedback, dimana dengan
evaluasi dapat dikatahui kekurangan-kekurangan sehingga bisa dicarikan jalan
keluar dimasa yang akan datang.
D. Keterkaitan Masing-masing Komponen
Dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam pelaksanaannya,
suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian, efektifitas,
efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan.[20]
Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Pertama relevansi
antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan
masyarakat. Kedua relevansi antara komponen-komponen kurikulum.
Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip
umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna
dengan agama, prinsip universal, keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum,
keterkaitan dengan segala aspek pendidikan, mengakui adanya perbedaan
(fleksibel), prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan,
dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum. [21]
Adapun keterkaitan dari masing-masing komponen dalam
pengembangan kurikulum adalah :
1. Tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan.
Tanpa ada tujuan maka apa yang ingin di capai akan menjadi tidak terarah.
Dengan adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam
menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan
tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai mana
siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan
kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan adanya tujuan akan dapat
ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
2. Penentuan isi dan materi pelajaran di dasarkan
atas pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik, pengalaman belajar
yang dialami oleh peserta didik dijadikan suatu acuan dalam penyusunan materi
ajar, hal ini bertujuan agar terjadi hubungan atau kesinambungan antara
pengalaman belajar dengan materi ajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat
berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal.
3. Langkah pengorganisasian merupakan hal yang
sangat penting karena dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan
kemudahan dalam menjalankan strategi dan metode yang sudah direncanakan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
4. Setiap
satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas,
ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi,
ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah,
tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan
kemudian memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media
pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan.
5. Setelah proses pembelajaran selesai akan
dilaksanakan suatu proses evaluasi. Dalam proses pengembangan kurikulum ini
tahap evaluasi merupakan tahap yang sangat penting, hal itu karena proses
penilaian atau evaluasi dapat memberikan informasi tentang ketercapaian
daripada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan evaluasi ini maka akan
dapat diketahui apakah kurikulum yang diterapkan itu berjalan denagn baik
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah tersebut.secara rinci
dapat dikatakan bahwa Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan
menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakan
kurikulum itu masih bisa berlaku atau harus di perbaharui atau digamti lagihal
itu terjadi karena evaluasi suatu kurikulum dapat memberikan informasi mengenai
kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap tujuan yang ingin
dicapai dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi ini akan sangat berguna
sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan
tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang
baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang
berubah [22]
|
|
PENUTUP
A. Simpulan
1.
Kurikulum
pendidikan harus sesuai dengan dinamika zaman, dimana implikasi dari
pengembangan kurikulum terhadap peserta didik, mereka akan semakin aktual serta
mampu membawa dirinya sesuai dengan hakikatnya dan hakikat lingkungannya
2.
Komponen kurikulum terdiri dari Tujuan,
Materi, organisasi, strategi, sarana dan evaluasi
3.
Kurikulum bertujuan untuk meningkatkan
kualitas manusia Indonesia, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab
4.
Kurikulum harus mempunyai relevansi atau
kesesuaian, efektifitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan.
B.
Implikasi
Untuk
meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung
jawab. Berdasarkan komponen-komponen kurikulum yang telah di susun seperti
komponen Tujuan, Materi (isi dan struktur program), organisasi dan strategi,
sarana dalam kurikulum dan evaluasi maka diperlukannya kerjasama yang baik dari
semua kalangan baik pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan Kepala
Sekolah, Guru, Siswa, orang tua dan lingkungan masyarakat.
C.
Saran
|
13
|
1.
Memberikan pelatihan dan sosialisasi
kepada pengawas, kepala sekolah dan guru dalam hal pengembangan kurikulum dan
pelaksanaan komponen kurikulum.
2. Mengevaluasi
dana bantuan oprasional sekolah agar sesuai dengan juknis yang telah di
tetapkan. Yang bertujuan untuk menghindari korupsi berjamaah dari tingkat
terendah sampai yang tertinggi.
3. Mengevaluasi tunjangan sertifikasi agar kinerja guru
dapat di tingkatkan.
4. Memberikan perhatian dan kelayakan gaji bagi tenaga Administrasi dan guru honorer.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah. Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktik, Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2007
Daryanto, M, Adminitsrasi Pendidikan, Jakarta: Rineka
Cipta, 2011
Ghofir,
Abdul dan Muhaimin, Pengenalan Kurikulum Madrasah, Solo: Ramadhani, 1993
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Bumi
Aksara, 2001
Ladjid, Hafni, Pengembangan
Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Ciputat: Quantum Teaching, 2005
Langgulung,
Hasan, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, Solo: Ramadhani, 1991
Prastowon, Andi, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar
Inovatif, Yogyakarta: Diva Press, 2014
Samin, Mara, Telaah Kurikulum, Bandung: Perdana Mulya Sarana, 2011
Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ar-Ruzz Meedia, 2011
Sukmadinata,
Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori
dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2008
Usman, M. Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta:
Ciputat Pers, 2002
Yamin, Martinis, Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan
Pendidikan, Jakarta: Gudang
Persada Press, 2009
Oleh :
H. Muamar Al Qadri, S.PdI
Mahasiswa
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM
PASCA SARJANA
UIN
– SU M E D A N
2016
[3] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, (Solo:
Ramadhani, 1991) h.41
[5] Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) h.102
[6] Hasan
Langgulung, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial, (Jakarta: Gaya
Media Pratama, 2002) h. 100
[8]
Hafni
Ladjid, Pengembangan Kurikulum Menuju
Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005) h.4
[14] Martinis Yamin, Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan
Pendidikan, (Jakarta: Gudang Persada Press, 2009) h.194
[15] M. Basyiruddin
Usman, Metodologi Pembelajaran Agama
Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) h.16-17
[17] Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori
dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008) h.103
[18] Andi Prastowo. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif , ( Yogyakarta: Diva Press, 2014) h.25-27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar