Selasa, 26 April 2016

KOMPONEN-KOMPONEN UTAMA DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN FUNGSINYA


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kurikulum merupakan suatu perencanaan yang mengatur secara sistematik dan struktur yang memuat isi dan bahan pelajaran, menunjuk kepada perangkat mata ajaran atau bidang pengajaran tertentu dengan menyesuaikan cara, metode atau strategi penyampaian pengajaran. Dengan demikian kurikulum merupakan alat pendidikan yang menjadi pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sebagai mana yang dinyatakan dalam sistem pendidikan Nasional bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. [1]
Dengan demikian secara garis besarnya menunjukkan adanya keharusan, bahwa pengembangan kurikulum mesti dilandasi oleh dasar-dasar esensial seperti tujuan pendidikan nasional, tahap perkembangan peserta didik, kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, dan kesesuaian dengan jenis dan jenjang satuan pendidikan.
Islam menjelaskan bahwasanya inti kurikulum pendidikan sangat mengutamakan pendidikan agama, akhlak dan keruhanian, setelah itu barulah pelajaran-pelajaran mengenai kebudayaan dan kemasyarakatan.[2]
Berdasarkan kutipan diatas inti kurikulum ialah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.


B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.    Hakikat komponen utama kurikulum ?
2.    Macam macam komponen dalam pengembangan kurikulum ?
3.    Fungsi masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum ?
4.    Keterkaitan masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum ?

C.  Tujuan Pembahasan
Adapaun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui hakikat komponen utama kurikulum
2.    Untuk mengetahui macam macam komponen dalam pengembangan kurikulum
3.    Untuk mengetahui fungsi masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum
4.    Untuk mengetahui keterkaitan masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum

D.  Manfaat Pembahasan
1.    Secara teoritis, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang hakikat, macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen utama dalam pengembangan kurikulum.
2.    Makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam memahami hakikat, macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen utama dalam pengembangan kurikulum.
3.    Secara praktis hasil makalah ini dapat memperluas wawasan para pembaca yang berhubungan dengan hakikat, macam-macam, fungsi dan keterkaitan komponen-komponen utama dalam pengembangan kurikulum.





BAB II
PEMBAHASAN



A.  Hakikat Komponen Utama Kurikulum
Pada hakikatnya kurikulum merupakan alur atau tahapan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir. Landasan filsafat tertentu beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika, epistomologi, logika dan aksiologi akan berimplikasi terhadap komponen utama kurikulum pendidikan.
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : Aliran progresivisme menghendaki sebuah pendidikan yang pada hakekatnya progresif, tujuan pendidikan diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar siswa sebagai peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian kembali sesuai tuntutan lingkungan. Aliran essensialisme menginginkan pendidikan yang bersendikan atas nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan, dan nilai-nilai tersebut hendaknya yang sampai kepada manusia. Pendidikan bertugas sebagai perantara atau pembawa nilai di luar ke dalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu dilatih agar punya kemampuan yang tinggi. [3]
Dalam pengembangan kurikulum senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu,  sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
3
Menurut Hasan Lunggulung, bahwa kurikulum merupakan sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan sekolah untuk anak didiknnya baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud menolongnya agar dapat berkembang secara menyeluruh di semua aspeknya dan mengubah tingkah laku sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan. [4]
Berdasarkan kutipan diatas dapat di tarik garis terang tentang hakikat perkembangan kurikulum. Bahwasannya kurikulum pendidikan itu harus sesuai dengan dinamika zaman, dimana implikasi dari pengembangan kurikulum terhadap peserta didik adalah mereka akan semakin aktual serta mampu membawa dirinya sesuai dengan hakikatnya dan hakikat lingkungannya.

B.  Macam-macam Komponen Dalam Pengembangan Kurikulum
Manusia sebagai suatu organisme memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu dimana yang satu dengan lainnya saling menopang. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan.
Nana Syaodih Sukmadinata mengidentifikasi unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah : tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi, yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya. [5]
Sementara itu Hasan Langgulung membagi unsur kurikulum menjadi empat yaitu: tujuan pendidikan, isi atau kandungan pendidikan, metode pengajaran, dan metode penilaian. [6]
Menurut Sutopo dan Suemanto komponen-komponen kurikulum itu terdiri dari : Tujuan, Materi (isi dan struktur program), organisasi dan strategi, sarana dalam kurikulum dan evaluasi. [7]
Setelah melihat komponen kurikulum yang dikemukanan diatas, dapat penulis uraikan komponen-komponen utama kurikulum ialah :

1.    Tujuan
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.
Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua pelaksanaan dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan pendidikan, bila tidak memiliki tujuan yang jelas untuk dicapai, maka prosesnya akan mengabur Oleh karena itu tujuan tersebut tidak mungkin dapat tercapai secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertahap, misalnya tujuan pendidikan Nasional, tujuan institusional, tujuan kurikulum dan tujuan intruksionalnya ditetapkan secara jelas dan terarah. [8]
Adapun tujuan yang terdapat dalam kurikulum setelah sekolah terbagi atas dua :
a.       Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.
Selaku lembaga pendidikan, setiap sekolah mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut bisa digambarkan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Tujuan dari sekolah tersebut kita namakan tujuan institusional atau tujuan lembaga, misalnya tujuan didikan dasar, tujuan pendidikan menengah, dan seterusnya.
b.      Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi
Tujuan setiap bidang studi ada yang kita sebut tujuan kurikuler dan ada pula yang kita sebut tujuan pembelajaran, yang merupakan pelajaran dari tujuan kurikulum. [9]



2.    Materi
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar atau materi pendidikan.  Materi pendidikan tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.
Adapun kriteria dalam memilih materi pendidikan diantaranya : (1) harus valid dan signifikan, (2) harus berpegang pada realitas sosial, (3) kedalam dan keluasannya harus seimbang, (4) menjangkau tujuan yang luas, (5) dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa, dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat peserta didik. [10]

3.    Organisasi dan Strategi
a.      Organisasi yang dimakssudkan disini ialah struktur program kurikulum yang dikenal dengan istilah struktur horizontal dan struktur vertical, Struktur horizontal yaitu suatu kurikulum yang berkenaan dengan apakah kurikulum itu diorganisasikan dalam bentuk mata pelajaran secara terpisah, misalnya matematika, sejarah fisika dan lain-lain, atau secara kelompok mata pelajaran yang disebut bidang studi, misalnya program pendidikan keguruan, program spesialisasi, dan lain-lain. Sedangkan struktur vertical kurikulum yaitu berkenaan dengan apakah kurikulum tersebut dijalankan  melalui  Sistem kelas, misalnya kelas I, II, III dan seterusnya, kenaikan kelas diadakan setiap tahun secara serempak atau program tanpa kelas, yaitu perpindahan dari suatu tingkat program ketingkat program berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu teman-teman yang lain.           
b.      Strategi yaitu perlaksanaan krikulum tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, mengadakan penilaian, melaksanakan bimbingan/penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. [11]

Proses pelaksanaan belajar mengajar dalam pendidikan secara umum dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seorang peserta didik belajar selain kepada apa yang dipelajari. Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan guru, sesama peserta didik, dan peserta didik dengan lingkungannya.
Sistem penyampaian mencakup beberapa hal pokok, yaitu: strategi dan pendekatannya, metode pengajarannya, pengaturan kelas, serta pemanfaatan media pendidikan. [12]
Berdasarkan kutipan diatas penyampaian merupakan sistem atau strategi yang digunakan dalam menyampaikan materi pendidikan yang telah dirumuskan. Sistem penyampaian ini paling minim berkaitan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi, serta pendekatan pembelajaran. Ketika guru menyusun materi pendidikan, secara otomatis ia juga harus memikirkan strategi yang sesuai untuk menyajikan materi pendidikan tersebut. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan belajar mengajar antara lain adalah pola atau pendekatan belajar mengajar yang digunakan, intensitas dan frekuensinya, model interaksi, pengelolaan kelas, serta penciptaan suasana betah di sekolah.

4.    Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan khusunya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan proses pendidikan yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan pendidikan akan bisa dpastikan tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku meja dan sebagainya. [13]

5.    Evaluasi
Dalam evaluasi pendidikan harus diperhatikan beberapa hal yaitu: bahwa evaluasi harus bermuara pada tujuan, dilaksanakan secara obyektif, komprehensif dan harus dilakukan secara kontinyu.
Omar Hamalik mengemukakan bahwa evaluasi merupakan keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data-data dan informasi), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. [14]
Evaluasi terhadap hasil belajar siswa dilakukan dengan menyiapkan hal-hal sebagai berikut: [15]
a.    Tes atau ulangan dan ujian
b.    Mengetahui tujuan pengajaran yang telah dicapai
c.    Mengetahui kelemahan dan kekurangan siswa
d.   Menunjukkan kelemahan metode/ teknik yang di gunakan
e.    Membei petunjuk yang lebih jelas tentang tujuan yang hendak  dicapai
f.     Memberi dorongan kepada siswa untuk belajar dengan giat

C.  Fungsi Masing-masing Komponen Dalam Pengembangan Kurikulum
Secara umum, fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum adalah segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis, diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. fungsinya dapat difokuskan pada tiga aspek berikut :
1.    Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan sehari-hari.
2.    Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendidikan dan penyiapan tenaga kerja.
3.    Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikutsertaan dalam memperlancar pelaksanaan program, pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan program yang serasi. [16]

Selanjutnya penulis akan menjelaskan fungi kurikulum berdasarkan komponen dalam pengembangan kurikulum :
1.      Fungsi Tujuan yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. [17]
2.      Fungsi Materi yaitu  Sebagi bahan belajar utama dan apabila dirancang sedemikian rupa, maka dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sebagai bahan pendukung proses pembelajaran yang diselenggarakan, sebagai media utama dalam prose pembelajaran, sebagai alat yang digunakan untuk menyusun dan mengawasi proses peserta didik dalam memperoleh informasi, sebagi penunjang media pembelajran lainnya. [18]
3.      Fungsi Organisasi / Strategi yaitu untuk mewujudkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Dengan adanya pengorganisasian dan perencanaan seorang guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan.
4.      Fungsi Sarana prasarana yaitu sebagai penunjang aktivitas belajar mengajar di sekolah.  Tanpa adanya sarana prasarana dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Dengan demikian Sarana prasarana harus di penuhi dalam dunia pendidikan. [19]
5.      Fungsu Evaluasi yaitu untuk mengetahui sejauh mana efektifitas belajar mengajar, prestasi anak didik, perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh anak didik. Selain itu evaluasi juga berfungsi sebagai umpan balik atau feedback, dimana dengan evaluasi dapat dikatahui kekurangan-kekurangan sehingga bisa dicarikan jalan keluar dimasa yang akan datang.

D.  Keterkaitan Masing-masing Komponen Dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam pelaksanaannya, suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian, efektifitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan.[20] Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Pertama relevansi antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat. Kedua relevansi antara komponen-komponen kurikulum.
Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna dengan agama, prinsip universal, keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum, keterkaitan dengan segala aspek pendidikan, mengakui adanya perbedaan (fleksibel), prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan, dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum. [21]
Adapun keterkaitan dari masing-masing komponen dalam pengembangan kurikulum adalah :
1.      Tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan. Tanpa ada tujuan maka apa yang ingin di capai akan menjadi tidak terarah. Dengan adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai mana siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan adanya tujuan akan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
2.      Penentuan isi dan materi pelajaran di dasarkan atas pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik, pengalaman belajar yang dialami oleh peserta didik dijadikan suatu acuan dalam penyusunan materi ajar, hal ini bertujuan agar terjadi hubungan atau kesinambungan antara pengalaman belajar dengan materi ajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal.
3.      Langkah pengorganisasian merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan kemudahan dalam menjalankan strategi dan metode yang sudah direncanakan  dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
4.      Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan kemudian memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
5.      Setelah proses pembelajaran selesai akan dilaksanakan suatu proses evaluasi. Dalam proses pengembangan kurikulum ini tahap evaluasi merupakan tahap yang sangat penting, hal itu karena proses penilaian atau evaluasi dapat memberikan informasi tentang ketercapaian daripada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan evaluasi ini maka akan dapat diketahui apakah kurikulum yang diterapkan itu berjalan denagn baik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah tersebut.secara rinci dapat dikatakan bahwa Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakan kurikulum itu masih bisa berlaku atau harus di perbaharui atau digamti lagihal itu terjadi karena evaluasi suatu kurikulum dapat memberikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi ini akan sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah [22]
  


BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
1.      Kurikulum pendidikan harus sesuai dengan dinamika zaman, dimana implikasi dari pengembangan kurikulum terhadap peserta didik, mereka akan semakin aktual serta mampu membawa dirinya sesuai dengan hakikatnya dan hakikat lingkungannya
2.      Komponen kurikulum terdiri dari Tujuan, Materi, organisasi, strategi, sarana dan evaluasi
3.      Kurikulum bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab
4.      Kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian, efektifitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan.

B.  Implikasi
Untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Berdasarkan komponen-komponen kurikulum yang telah di susun seperti komponen Tujuan, Materi (isi dan struktur program), organisasi dan strategi, sarana dalam kurikulum dan evaluasi maka diperlukannya kerjasama yang baik dari semua kalangan baik pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan Kepala Sekolah, Guru, Siswa, orang tua dan lingkungan masyarakat.

C.  Saran
13
Masalah yang di hadapi dilingkungan pendidikan adalah belum terlaksana secara merata komponen kurikulum yang telah di rencanakan di setiap sekolah disebabkan perhatian pemerintah yang belum terpusat. Dengan demikian disarankan agar:
1.    Memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada pengawas, kepala sekolah dan guru dalam hal pengembangan kurikulum dan pelaksanaan komponen kurikulum.
2.    Mengevaluasi dana bantuan oprasional sekolah agar sesuai dengan juknis yang telah di tetapkan. Yang bertujuan untuk menghindari korupsi berjamaah dari tingkat terendah sampai yang tertinggi.
3.    Mengevaluasi tunjangan sertifikasi agar kinerja guru dapat di tingkatkan.
4.    Memberikan perhatian dan kelayakan gaji  bagi tenaga Administrasi dan guru honorer.

DAFTAR PUSTAKA


Abdullah. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, Yogyakarta: Ar Ruzz      Media, 2007
Daryanto, M, Adminitsrasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011
Ghofir, Abdul dan Muhaimin, Pengenalan Kurikulum Madrasah, Solo:      Ramadhani, 1993
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Bumi Aksara, 2001
Ladjid, Hafni,  Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis      Kompetensi, Ciputat: Quantum Teaching, 2005
Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial,       Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar      Kurikulum, Solo: Ramadhani, 1991
Prastowon, Andi,  Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Yogyakarta:     Diva Press, 2014
Samin, Mara, Telaah Kurikulum, Bandung: Perdana Mulya Sarana, 2011
Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ar-Ruzz Meedia, 2011
Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,         Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja    Rosdakarya, 2008
Usman, M. Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat             Pers, 2002
Yamin,  Martinis, Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan,         Jakarta: Gudang Persada Press, 2009



Oleh :
H. Muamar Al Qadri, S.PdI
Mahasiswa
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
UIN – SU  M E D A N
2016




[1] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2001), h.66
[2] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ar-Ruzz Meedia,2011) h.132
[3] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991) h.41
[4] Abdullah. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2007) h.186
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) h.102
[6] Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002) h. 100
[7] Mara Samin Lubis, Telaah Kurikulum, (Bandung: Perdana Mulya Sarana, 2011) h.10-11
[8] Hafni Ladjid, Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005) h.4
[9] Mara Samin Lubis, Of Cit, h.11
[10] Abdul Ghofir dan Muhaimin, Pengenalan Kurikulum Madrasah, (Solo: Ramadhani, 1993) h.37-38
[11] Mara Samin Lubis, Of Cit, h.12
[12] Muhaimin, Of.Cit, h.184
[13] Mara Samin Lubis, Of Cit, h.19
[14] Martinis Yamin,  Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Gudang Persada Press, 2009) h.194
[15] M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) h.16-17
[16] Hafni Ladjid, Of Cit, h.3
[17] Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008) h.103
[18] Andi Prastowo. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif , ( Yogyakarta: Diva Press, 2014)  h.25-27
[19] M. Daryanto, Adminitsrasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011) h.103
[20] Nana Syaodih Sukmadinata, Of. Cit, h.150-151
[21]Muhaimin, Of Cit h.39-40
[22] Nana Syaodih Sukmadinata,  Of Cit, h.167-168

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)