Sabtu, 29 Juni 2019

PENDIDIKAN AKHLAK (BUKU MAHASISWA & UMUM)

Buku Pendidikan Akhlak dapat di pesan di email. muamaralqadri@gmail.com

AUTOBIOGRAFI (TULISAN TAHUN 2011)

AUTOBIOGRAFI

MUAMAR AL QADRI


KELAHIRAN
Tepatnya pada hari kamis tanggal 11 April 1991 pukul 11 siang lahirlah seorang bayi laki-laki di bulan yang begitu mulia dan amat barokah yakni pada tanggal 27 Ramadhan 1412 H ketika itu aku lahir dirumah kedua orang tuaku tepatnya di Proyek Panca Arga III Bengaru (Proyek Perumahan Kodam Bukit Barisan Sumatera Utara) Desa Belinteng Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat  yang ditolong oleh seorang Bidan Desa yang bernama Siti Arman Purba A.Mkeb, aku adalah anak keempat dari pasangan suami isteri bernama H.M Ridwan, S.Pd dan Hj Fatimah Syam.

PEMBERIAN NAMA
Kesenangan ayahku akan mendengar pembacaan ayat-ayat suci al-qur’an yang dibacakan oleh legendaries Qori Internasional Yakni H.Muamar ZA, menjadi terinsfirasi oleh keluarga ku untuk memberikan nama Muamar dan karena kulahir dibulan Ramadhan biasanya di sepuluh akhir bulan Ramadahan semua orang meningkatkan amal Ibadahnnya untuk mendapatkan suatu malam yang amat mulia yang ganjarannya seribu bulan yaitu malam lailatul qadar, berawal dari hal itu maka di Tabalkanlah Namaku menjadi MUAMAR AL QADRI, yang berarti berumur panjang lagi mulia, itulah nama Ku



KEHIDUPAN DILINGKUNGAN SEKOLAH DAN PENSIONAN MILITER
Keluarga dari ayahanda dan ibundaku semuanya tinggal di Tanjung Pura, ketika ayah ku diterima menjadi PNS ia ditempatkan di SD No.057199 Lau Serden Sebagai Guru Agama Islam, di rumah dinas guru yang sederhana itulah kami tinggal yang mana hampir setiap hari aku melihat siswa-siswi SD itu sekolah, senam dan upacara sehingga membuat aku ingin sekali cepat-cepat sekolah, tak jauh dari rumah ku juga terdapat Asrama Linut 100 yang sekarang sudah diganti menjadi Reder 100 bayak hal yang kudapat dari mereka dan juga kawan ayahku yang pansyunan Militer  terutama kedisiplinan dan perjuangan.

KETIKA SD DAN ADAT ISTIADAT SUKU KARO
Keinginan ku untuk bersekolah di SD Impres didepan rumah ku, di kabulkan oleh kedua orang tua walaupun aku belum cukup umur, setelah tiga tahun aku menimba ilmu di sekolah itu bayak hal yang ku dapat terutama dalam hal toleransi beragama, walaupun masjid dengan gereja berhadapan, muslim dengan nonmuslim berjiranan tetapi tetap akur begitu juga aku yang banyak teman yang tidak seaqidah dengan aku tetapi kami tetap bersama bermain.

Budaya dan adat istiadat suku karo ketika itu masih melekatnya animisme yang biasanya tempat pemujaannyaitu disebut empung-empung, budaya lain yaitu ketika ku menyaksikan prosesi kematian atau pesta dengan menari dan menyayi serta menjunjung sumpit dikepalanya yang berisi beras, memikul kain sarung di pundaknya, menggantung tengkorak jenazah di pohon, dan bayak lagi yang lain…he…he…serem

PEMBERIAN MARGA PADA KELUARGAKU
Walaupun ayahku sukunya melayu dan bundaku suku banjar, tapi karena prestasi ayahandaku sangat luar biasa dalam segala hal yang terutama dalam membenahi dan mengislamkan bayak dari kalangannya maka banyak yang menawarkan marga, yang akhirnya di Nobatkan marga Bangun, walaupun keluarga kami dinobatkan marga bangun tapi kami tidak mencantumkannya di nama kami.

KISAH DI ISTANA MAIMUN
Ketika itu ku belum mengetehui begitu jelas sejarah dari istana maimun, karena ku masih kecil tapi sekarang ketika ku mengetahi sejarah-sejarah yang terjadi dinegeri ini terutama Tanjung Pura yang dulunya adalah Tempat Kerajaan yang sangat megah yang katanya mengalahkan istana maimun kemegahannya, timbul padaku kekaguman dan kebanggaan akan salah satu putra melayu langkat…subhanallah

KEPINDAHAN KETANJUNG PURA
Melihat kondisi Mendiang Andong dan Atok Ku yang sakit-sakitan, keluargapun berusaha keras untuk dapat pindah ke Tanjung Pura, dan akhirnya dengan seijin Allah aku dapat pindah dan menyambung sekolah di SDN 056020 Pematang Rambai hingga tamat tahun 2003, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyan Negeri (MTsN) Tanjung Pura Hingaga tamat tahun 2006, menlanjutkan kembali ke Madrasah Aliyah Negeri I (MAN I) Tanjung Pura tamat tahun 2009, dan sekarang ini aku berkuliah di STAI-JM Tanjung Pura semester 5 B.

KUPENUHI PANGGILANMU YA ALLAH
Labbaikallahhummalabaik labaikkala sarikalakalabaik innalhamda wani’mata lakawalmulk lasarikalak..

Ketika kecil kusering diajak ayah untuk mengawaninya pergi ceramah kemana-mana, hingga ku termotifasi ingin sekali pergi haji karena perjalanan haji adalah nikmat akhirat yang tak bisa  dilupakan seumur hidup, ayahku berangkat haji tahun 2003 dan bunda ku berangkat haji tahun 2007, karena kerinduan akan ka’bah ayahku berangkat kembali dengan kakaku Nurbaiti A.Mkeb umrah tahun 2008, keinginankupun semangkin kuat ketika ku hampir setiap tahun mengantarkan jama’ah haji, dan selalu menjadi panitia manasik haji sebagai sesi Dokumentasi IPHI Kec. Tanjung Pura. Dan sekarang aku menjabat sebagai Sekretaris IPHI Desa Pantai Cermin Preode 2011 – 2014.

PENDAFTARAN HAJI
Ketika itu aku masih duduk di kelas tiga Aliyah, ayahku menelpon agar pulang kerumah karena mau kestabat, sesampainya dirumah akupun bertanya mau kemana? ayahku menjawab maudaftar haji, subhanallah aku sangat gembira, rasa syukur yang takterhingga kepada Allah SWT dan kepada kedua orangtuaku yang memberangkatkanku menunaikan ibadah haji di usiaku yang masih muda, nomor porsipun aku dapat dan tinggal menunggu tiga tahun lagi baru keberangkatan yaitu tahun 2011.

KESAN-KESAN KU YANG TAK TERLUPAKAN MEMENUHI PANGGILANMU
Sebagai jama’ah haji termuda Kab.Langkat dan sebagai komandan Regu (KARU)…..

Dengan mengucapkan Alhamdulillah, diusiaku yang masih muda yakni 20 Tahun aku dapat menunaikan ibadah haji dan  terpilih menjadi jama’ah haji termuda Kab.Langkat dan meraih penghargaan dari Bupati Langkat.

Ketika ku mengikuti manasik di banyak tempat membut wawasan ku tentang haji semangkin bertambah selainitu ayahku yang selalu membimbing dan selalu mengajari membuat Aku semangkin yakin dan istiqomah selama di Mekkah dan Madinah akupun dipilih sebagai KARU oleh  Ustadz H.Ahmad Mahfudz karena iaadalah pembimbingku.

Saat keberangkatan…..

Pada hari rabu tepatnya tanggal 12 Oktober 2011 pukul delapan pagi bertolaklah seluruh jama’ah haji Kabupaten Langkat dengan menggunakan pesawat dari bandara Medan bertolak ke bandara King Abdul Ajis Jeddah, yang mana perjalanan tersebut menggunakan pesawat Garuda yang menempuh waktu yang cukup lama+ 8 jam perjalanan,  yang mana saat-saat itu merupakan pertama kalinya aku naik pesawat.

Permohonan hamba yang lemah…..

Setibanya aku di bandara King Abdul Ajis Jeddah pada pukul 13.00 WIB waktu Saudi Arabia, rasa syukur disertai dengan sujud syukur seraya memohon pada sang pencipta akan lancarnya dan cocoknya segala yang ada di sana, Ya roob cocokanlah iklim, budaya dan makanan di tanah Haram mu pada Ku.

Keberangkatan ke Madinah…..
Setelah sholat Asyar berangkatlah dengan Bus yang sudah disiapkan menuju ke Madinah, saya pun di tunjuk untuk memimpin membaca talbiyah dan do’a di Bus ketika diperjalanan, satu hal yang menggugah hati ketika saya melihat disekeliling pandangan tiada lain hanya padang pasir dan gunung-gunung batu yang menguning tanpa banyak rumput yang hijau dan pepohonan. Bus pun terus berjalan menempuh perjalanan yang panjang sejauh 425 Km, di dalam perjalalan bus banyak berhenti untuk menerima sedekah roti dan nasi sayapun kembali terkagum melihat kedermawanan Negara ini untuk bersedekah tidak tanggung-tanggung menggunakan motor Teronton yang di kumpulkan diposkonya, Subhanallah. Buspun tersu berjalan kencang, ketika mulai memasuki kota Madinah bangunan yang menjulang megah serta kota yang indah mengganti penglihatan disekelilingku, dan tibalah akhirnya di Hotel Wasel Alreem di Madinah tengah malam

Masjidil Nabawi…..
Tak sabar lagi akan kerinduan Rasulallah SAW untuk dapat menjiarahi makamnya, malam itu juga ku kejar ke Masjidil Nabawi Yang tak jauh dari hotel tempat kami tinggal sekitar 70 M, ketika mulai memasuki halaman masjid begitu indah Ku pandang manara yang cahayanya redup penuh ornament yang menarik, akupun terus berjalan dengan Pak Abdul Halim memasuki masjid dan menuju ketengah-tengah, lemahnya pisik ku di karenakan kecapekan setelah melalu perjalanan yang lama membuat aku tak kuat dan mampu berdesakakn masuk keraudah padahal mimbar Rasul sudah didepan mata, akhirnya aku hanya dapat Sholat di Mihrab istrinya Nabi Muhammad SAW di sebelah kanan dari mimbar rasul.

Setelah sholat asar ku coba lagi untuk masuk ke Raudah akhirnya dengan seijin Allah SWT Aku dapat masuk, karena Rasulullah muhammad SAW bersabda diantara rumahku dan mimbarku adalah taman dari tamanya syurga, linangan air mata disertai sujud syukur serta do’a kupanjatkan ke ilahi robbi karena ku tahu salah satu tempat mustajab do’a Mu ialah Raudah. Kemudian ku sholat sunat dan memperbanyak amalan-amalan seperti membaca Al-Qur’an, dzikir dan memperbanyak do’a. Dan di raudah juga terdapat mimbar Rasul yang begitu megah di penuhi ukiran-ukiran dan warna yang kekuning-kuningan Alhamdulillah aku dapat naik dua kali di mimbar tersebut di anak tangga ke tiga karna hanya dapat naik sampai tangga ke tiga saja untuk menaiki selanjutnya tidak dapat karena disekat dengan pintu mimbar,  disebelah kiri dari mimbar rasul juga terdapat mihrab tempat Rasul sholat dan disebelah kirinya lagi ialah Kuburan Nabi  Muhammad Rasulullah SAW, Abu Bakar Syidik ra, umar Ibnu Khatab ra, yang terlihat dari samping, ketika ku sudah merasa puas beribadah di Raudah kupun langsung berjalan menuju kekiri kearah luar disebelah kiri itulah terdapat makam rasul dan para sahabat yang dipagar berwarna kuning dan kuburannya yang ditutup kain hijau tampak dicelah-celahpagar. Kembali ku menangis ketikaku mengucapkan salam kepadanya Assalamu’alaikum yarasulallah, Assalamu’alaikum yahabiballah, Assalamu’alaikum yanabiyallah, Assalamu’alaikum yasafwatallah, begitu juga denagn Abu bakar dan umur. Alhamdulillah permohonanku untuk dapat berulang-ulang beribadah di raudah dan berjiarah di makam rasul di kabulkan Allah sehingga hamper setiap hari aku masuk ke raudah dan jiarah ke makam rasul, enam kali aku masuk raudah dan tujuh kali berjiarah di makam rasul. Lahaulawalakuwatailabillah…

Ketika ikut menguburkan Jenazah di Madinah pekuburan baqi…..

Setelah sholat isya muadzin pun mengumumkan untuk mensholatkan jenazah yakni seorang laki-laki dan satu orang perempuan penduduk madinah, karena untuk mensholatkan jenazah hampir setiap selesai sholat fardhu dilakukan, timbul pemikiran di benak Ku untuk ingin mengetahui bagaimana proses penguburan jenazah di madinah sayapun mengatur startegi bagaimana supaya dekat dan dapat memikul jenazah, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari raudah dan sholat di pintu keluar dari Kuburan Rasul setelah sholat isya aku pun bergegas untuk melaksanakan sholat sunah ba’dia isya dan setelah itu sholat jenazah yang dipimpin Imam, terdapat dua jenazah ketika itu disholati, jenazah pun di pikul keluar dari pintu depan tempat imam sholat untuk di bawa kekuburan di Baqi, aku pun ikut memikul salah satu mait tersebut ke kuburan dengan berjalan cepat dan ternyata maitnya berat juga, mait dipikul hanya menggunakan usungan dari besi tanpa penutup, mait hanya di bungus kain hijau lalu di ikat tubuhnya, sesampainya di pekuburan walaupun malam hari ternyata lampu-lapu di pasang dengan begitu terang dan lubang-lubang kuburannya sudah tersedia sebelumnya.

Maitpun di masukkan kedalam liang kubur ternyata yang aku pikul seorang ibu dengan anaknya, seperti biasa setelah mait di masukkan kain pengikatnya pun dilepas dan diarahkan ke Kiblat setelah itu baru disusun batu-batu sebagai lahatnya bentuknya seperi batu bata tetapi besar sedikit, batupun disusun hingga menutupi si mait, kemudian baru ditimbun aku pun ikut menimbun dengan menyiramkan pasir dengan tanganku, setelah kuburan rata baru di kasi batu diujung dan dikaki untuk tanda, setelah itu baru masing-maing berdo’a. akupun dikasi air minum dingin oleh mereka, satuhal yang unik dan sangat berkesan buatku ketika hendak pulang rupanya tradisi warga madinah seluruh keluarga ahli duka yang ikut menguburkan tadi berbaris lalu bersalaman dengan warga yang ikut mengantarkan dengan cara berpelukan dan cium pipi kiri dan pipi kanan dengan mulut di beri suara mich-mich dua kali belah kiri dan satu kali belah kanan saya pun ikut sekali melakukannya melihat yang saya salami tadi orangnya wara’-wara’ memiliki jenggot yang panjang ada yang tua dan muda untuk selanjutnya saya hanya menyalaminya saja. Teringat akan tugas yang masih ada untuk membagikan jatah makan malam bagi anggota karena aku sebagai ketua regu akupun langsung bergegas pulang ke hotel. Sesampainya di hotel akupun langsung mengambil jatah nasik dan langsung membagi-bagikannya pada jama’ah, ketika sedang bersama-sama dengan kawan sekamar akupun menceritan kejadian yang kualami tadi yang mana perbuatanku tadi cukup berni dengan seorang diriku aku ikut bergabung dengan penduduk madinah yang mana orang indonesia tidak ada yang ikut selain aku saja.

Tmpat-tempat bersejarah di Madinah yang ku kunjungi…..

Perjalanan dimulai dari sekitar Masjidil Nabawi begitu banyak rupanya terdapat tempat sejarah diantaranya ialah tempat dimana Abu Bakar ra dilantik Rasulullah SAW menjadi khalifah, Rumah Abu Bakar terletak di dalam Masjidil Nabawi dibawah lampu besar pintu masuk ke raudah, rumah Abu Ayub yaitu rumah pertama kali Rasul tinggal ketika unta berhentinya di situ. Masjid Ghamamah ialah tempat di mana Rasul memohon hujan, letaknya sebelah barat daya Masjid Nabawi dan berjarak sekitar 305 meter. Masjid Ali bin Abi Thalib Masjid ini berjarak sekitar 290 meter dari Masjid Nabawi luasnya mencapai 31 x 22 m, disertai menara setinggi 26 meter. Menurut keterangan dari pembimbingku, lokasi Masjid tersebut dulunya adalah tempat tinggal Ali bin Abi Thalib yang menikah dengan anak kesayangan Nabi Muhammad, yaitu Fatimah az-Zahra. Masjid Abu Bakar al-Shiddiq Jaraknya sekitar 335 m dari Masjid Nabawi dan 40 meter dari Masjid Ghomamah. Luasnya 19.5 x 15 m. Masjid Umar bin al-Khattab masjid seluas 325 m persegi ini terletak di barat daya Masjid Nabawi dan berjarak sekitar 455 meter dari Masjid Nabawi. Masjid Ijabah atau Masjid Bani Mu’awiyah yakni terletak sejauh 583 M dari Masjid Nabawi dan berada di arah sebelah utara pekuburan Baqi, masjid ini adalah salah satu tempat mustajab do’a ketika rasul memohon. Kuburan Baqi yang terletak sebelah timur Mesjid Nabawi tempat dimakamkanya kurang lebih 10.000 sahabat utama, keluarga Nabi Saw, para syuhada perang Uhud dan Badar. Perjalanan berikutnya karena berjauhan maka menggunakan Bus kami pun berkunjung ke Jabal Uhud Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dasyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada,antara lain Hamzah bin Abdul Munthalib paman Nabi Muhammad SAW. Masjid Qiblatain yang berarti Masjid berkiblat dua, Masjid Quba memiliki keutamaan yang begitu besar sebagai mana sabda Nabi “Barangsiapa yang berwudlu di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Qubâ dan salat di dalamnya, maka ia memperoleh pahala seperti mengerjakan umrah”. Kebun Kurma, Istana Raja Fath, Jabal Magnet yaitu bukit yang memiliki daya magnet yang cukup besar sehingga motor tertarik dengan begitu kencang, Percetakan Al-Qur’an, Masjid Bir Ali yakni tempat pengambilan Niat umrah ketika hendak keMekkah. Dan banyak lagi tempat sejarah lainnya yang semuanya itu untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah. Minayatina.

Ketika pertama kali masuk dan melihat ka’bah…..

Sesampai di tmpat penginapan di mekkah pada sore hari ku langsung bergegas untuk mencari kamar, dan mendapat intruksi dari pembimbing bahwasanya tawaf umrahnya dilakukan besok pagi, setelah sholat magrib dan isya Akupun beristirahat untuk menghilangkan rasa capek karena seharian dalam perjalanan, ketika itu kami satu kamar tujuh orang kami pun membuat suatu kesepakatan tengah malam nanti ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf umrah, ketika itu kami lima orang yang dua lagi tidak ikut karena melihat kondisi yang tidak memungkinkan karena faktor usia lanjut, dengan  masih berpakaian ihran kami pun berjalan mengikuti  kearah Tower Zam-Zam, dengan rasa ngatuk dimata Ku terus berjalan mengikuti arah ke masjidil haram yang tidak jauh dari tempat kami tinggal sekitar 2 KM, ketika ku melihat menara masjidil haram dari jauh kupun semangkin bersemangat untuk terus berjalaan, ketika kami sampai di halaman saya pun melihat tanda-tanda yang mudah untuk diingat  selain dari tower jam-jam, di sebelah kiriku terdapat pembangunan perluasan masjidl haram, akupun terus berjalan mencari pintu babussalam, nampak polisi yang sedang duduk kubertanya ia menunjukkan pintunya dengan sedikit menuruni tangga akhirnya kami samapi di depan pintu babussalam dengan membaca do’a masuk masjidil haram kami terus berjalan melewati tempat sa’i dan naik tangga kembali ternyata Subhanallah kami tepat di depan pintu Ka’bah dengan ta’jub dan kerinduan akan ka’bah disertai linangan air mata ku berdo’a untuk kemuliaan ka’bah.

Mencium Hajar Aswad…..

Setelah Tawaf ku coba merapat kedinding ka’bah untuk sholat sunah di Hijir Ismail dan berdo’a di bawah pancuran emas, setelah itu hatipun ingin  rasanya terus menyisiri pinggiran ka’bah untuk menyentuh rukun yamani dan terus menuju ke Hajar Aswat ramainya orang membatalkan niatku sehingga tujuan berubah menjadi ingin memegang pintu ka’bah dan berdo’a di Multazam berlahan aku mendekati pintu ka’bah alhamdulullah dapat memegangnya kemudian bergeser sikit-demisedikit lalu dapat di Multazam bergeser terus kekiri akhirnya aku dekat dengan hazar aswad dan menyorongkan kepalaku ke lubang tersebut dengan seijin Allah SWT aku dapat mencium hajar aswad sungguh ni’mat yang luar biasa Allah berikan kepada ku. Denagn kegigihanku untuk terus melakukan tawaf sunah dan umrah sunah membuat aku dapat berulang mencium hajar aswad sebanyak tiga kali, di multazam dan hijir ismail empat kali, memegang tiang pintu ka’bah yang emas dua kali, dan bedoa di makam ibrahim satu kali yang kesemuanya itu berkat pertolongan Allah SWT

Perjumpaanku dengan wanita keturunan qurais di lantai tiga Masjidil Haram…..

Setelah sholat Isya akupun ingin pulang lekas ke Makhtab (pemondokan) karena rasa lapar pun sudah terasa karena kebiasaanku yang ga pulang dari ashar hingga isya, ketika ku melihat ternyata tangga Eskolator pun diberhentikan karena padatnya orang, aku menunggu di sebelah pinggir melihat orang berlalu lelang menuruni tangga, takkusangka datang sesosok wanita sebaya dengan ku dengan tidak menggunakan cadar berdiri disampingku, subhanallah cantiknya luar biasa, saling pandang-memandang pun terjadi pada kami, setelah begitu lama kami berdiri kumemberanikan diri untuk bertanya dimana asalnya ia menjawab dari negara Adaby, dan ia juga akan haji, ayahnya pun memanggilnya untuk sama turun tetapi anaknya tidak mau, ketidak tahuan ku akan berbicara bahasa arab dan rasa segan ku membuat keterputusan pembicaraan kami

Tempat-tempat bersejarah di Mekkah yang ku kunjungi…..

Tempat yang pertama dikunjungi ialah Jabal Tsur tempat dimana Rasul bersembunyi dari kejaran kafir Kurais, Masjid Namirah ialah Namirah diambil dari nama seorang janda yang gigih memperjuangan islam, Jabal Rahmah di arafah ialah suatu bukit dimana tempat bertemuanya nabi Adam dan Hawa, Jabal Nur ialah tempat pertama kali Ayat Al-qur’an turun surat Al-alaq kepada rasul, Kuburan Ma’la, Masjid Jin ialah segerombolan jin yang muslim ikut sholat dengan rasul lalu ia minta bai’at keislamannya, Masjid Tan’im ialah tempat pengambilan niat umrah bagi penduduk mekkah ketika itu rasul menganjurkan kepada isyrinya untuk mengambil miqat dimasjid tersebut, Masjid Aqobah adalah masjid yang sudah berusia 1500 tahun di mina, Masjid Khaif ialah masjid yang tidak diketahui asal usul siapa yang membangunnya diperkirakan usianya 5000 tahun di Mina, dan tempat yang terakhir tempat penyembelihan qurban.

Ketika ku diangkat menjadi anak angkat…..

Sifat saling tolong menolong dan kesabaran sangat dianjurkan di tanah Suci itulah yang selalu tertanan di hatiku, hingga ku tak letih-letihnya menolong sesama semampu dan sebisaKu, karena Ku sering menolong dan membantu kek Husen dan yang lainnya makanya aku diangkat kek husen menjadi anak angkatnya, kek Husen memiliki penyakit Gula hingga membuat ia tidak bisa berjalan itulah kerjaku memapahnya dan menyorongnya selama proses haji tangal 8 sampai 13 Dzulhijah, dan yang satu lagi Kek Yanis kuat berjalan tapi sering hilang, makanya aku menjaga kedua ini, mungkin karena aku suka menolng selama perjalanan hajiku dimudahkan Allah SWT.

Yang paling mengesankan…..

Ketikaku berangkat ke Arafah, yang mana arafah adalah puncaknya ibadah haji merupakan tempat yang sangat penting pada ibadah Haji, disini jama’ah haji harus melakukan Wuku.

Wukuf merupakan rukun Haji dan tanpa melaksanakan Wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah, kulihat semuanya mengenakan pakaian Ihram dengan pakaian yang tidak berjahit  laksana kain kafan yang di bawa mati, Keadaan di Arafah ini merupakan replika di Padang Mahsyar saat manusia dibangkitkan Allah SWT pada hari yang tak diragukan lagi. Saat itu semua manusia sama dihadapan Allah SWT, yang membedakan hanyalah kualitas keimanan dan ketaqwaannya. Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina. Di Muzdalifah ini jama’ah haji bermalam (mabit) dan mengambil batu kecil untuk persiapan melempar jumroh di Mina. Setelah mabit di Muzdalifah lalu berangkat ke Mina, Mina adalah tempat atau lokasi melempar jumroh yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wusta dan Jumrah Aqabah dalam rangkaian ibadah Haji pada tanggal 10,11,12, dan 13 Dzulhijah, banyak pelajaran yang dapatku ambil disini terutama kisahnya nabi Ibrahim dan anaknya Ismail yang akan dikurbankan begitulah ketaatannya kepada Allah, yang terpenting hakikatnya disini ialah membuang sipat-sipat jelek yang ada pada dirikita dan selalu berjuang di jalan Allah.

Semoga allah menerima semua apa yang kulakukan dan memberikan haji yang Mabrur padaku Amin, demikianlah yang dapatku sampaikan lebih dan kurang mohon maaf, akhirukalam Billahitaufik Wal Hidayah, Wassalamu`alaikum Wr.Wb.

IMPLEMENTASI LAYANAN KONSELING ISLAMI DALAM PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL



IMPLEMENTASI LAYANAN KONSELING ISLAMI
DALAM PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL

 Oleh:
MUAMAR AL QADR

 BAB II
LANDASAN TEORITIS


A. Kerangka Teoritis
1.    Pengertian Konseling Islami dalam Pembinaan Kesehatan Mental
Dalam bahasa Arab kata konseling disebut dengan al-irsyad. Al-Khuli dalam Saiful Akhyar mendefinisikan sebagai berikut:[1]Secara etimilogi kata irsyad berarti: al-huda, ad-dalalah, dalam bahasa Indonesia berarti: petunjuk,sedangkan kata Istisyarah berarti: talaba minh al-masyurah/an-nasihah, dalam bahasa Indonesia berarti: meminta nasihat, konsultasi. Kata al-irsyad banyak ditemukan di dalam Alquran dan hadis serta buku-buku yang membahas kajian tentang Islam.[2]
Sedangkan pengertian konseling Islami menurut pendapat para ahli dan cerdik cendikiawan, memberikan uraian sebagai berikut:
Lahmuddin Lubis mengemukakan bahwa konseling Islami adalah memberikan kesadaran kepada klien agar tetap menjaga eksistensinya sebagai ciptaan dan makhluk Allah, dan tujuan yang ingin dicapaipun bukan hanya untuk kemaslahatan dan kepentingan duniawi semata, tetapi lebih jauh dari itu adalah untuk kepentingan ukhrawi yang lebih kekal abadi.[3]
Saiful Akhyar Lubis mengemukakan bahwa konseling Islami adalah proses konseling yang berorientasi pada ketentraman hidup manusia dunia-akhirat. Pencapainnya rasa tenang (sakinah) itu adalah melalui upaya pendekatan diri kepadaa Allah Swt serta melalui upaya untuk memperoleh perlindungan-Nya. Tetapi sakinah itu akan menghantarkan individu untuk berupaya sendiri dan mampu menyelesaikan masalah kehidupannya.[4]
Hallen A. Mengemukakan bahwa konseling Islami itu adalah “suatu usaha” membantu individu dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya, sehingga ia kembali menyadari perannya sebagai khalifah di muka bumi dan berfungsi untuk menyembah/ mengabdi kepada Allah Swt sehingga akhirnya tercipta kembali hubungan yang baik dengan Allah Swt. dengan manusa dan alam semesta.[5]
Menurut Musari konseling Islami bermaknakan menuntun konseli ke arah mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ibadah yang dilakukan dengan penuh khusyu’, sehingga pada gilirannya ia dapat memiliki hati yang sehat dan bersih, jiwa tentram dengan seperangkat sifat-sifat terpuji, serta dapat merasakan hidup tenang dan bahagia untuk pencapaian kehidupan berprilaku sebagai akhlak orang muslim yang sempurna sebagai realisasi dari tuntunan pembawa Islam yaitu Nabi Muhammad Saw.[6]
Secara tegas dapat dipahami bahwa konseling Islami merujuk kepada Alquran dan Hadits sebagai landasan dalam menyelesaikan masalah kehidupan, Allah Swt berfirman:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrߐÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ  
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari        Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam          dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S.    Yûnus /10: 57).[7]

Berdasarkan kutipan ayat di atas dapat dipahami bawa Alquran dan Hadits adalah petunjuk bagi umat manusia untuk menegakkan tauhid dalam diri, sehingga problema kehidupan yang dihadapi, tidak membuat manusia menjadi lemah dan lupa akan fitrahnya yang akan dimintai pertanggung jawaban selama hidup di dunia.


Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat yang dikutip Hanna Djumhana Bastaman adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berdasarkan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.[8]
Definisi lain tentang kesehatan mental dikemukakan oleh Abdul Aziz el-Quussy. Menurutnya, kesehatan mental adalah keserasian yang sempurna dan integrasi antara fungsi-fungsi jiwa yang bermacam-macam, disertai kemampuan untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan, yang biasa terjadi pada orang disamping secara positif dan merasakan kebahagiaan dan kemampuan.[9]
Arie Arumwardhani memberikan definisi kesehatan mental sebagai suatu keadaan sejahtera secara psiko-sosial dimana tiap individu menyadari potensi dirinya sendiri, dapat menghadapi tekanan yang normal dalam kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan baik, dan dapat memberikan kontribusi positif bagi komunitasnya. Sedangkan proses mental merupakan suatu proses perkembangan kematangan manusia yang berkesinambungan, perkembangan proses mental dipelajari dari pengalaman-pengalaman hidup yang baik maupun buruk. Unsur utama yang sangat diutamakan dalam proses perkembangan kematangan mental dapat membentuk kepribadian yang berkembang seperti saat menghadapi konflik-konflik psikologis yang umumnya muncul selama masa kanak-kanak.[10]
Diantara syarat kesehatan mental yaitu suksesnya dalam penyesuaian diri contoh penyesuaian diri yang wajar adalah takutnya seseorang akan situasi yang membahayakan hidupnya, misalnya jatuh di hadapan seekor binatang buas. Penyesuaian diri dalam hal ini adalah, agar manusia melakukan suatu tindakan untuk menghindarkan dirinya dari bahaya, misalnya lari dari binatang itu. Akan tetapi jika seseorang itu merasa sangat takut kepada binatang biasa seperti kucing, kelinci atau sebangsanya, maka ketakutan yang seperti itu dipandang sebagai penyesuaian diri yang tidak wajar. Dan biasanya penyesuaian diri yang wajar pada umumnya menunjukkan kesehatan mental sedangkan penyesuaian diri yang tidak wajar, menunjukkan penyimpangan dari kesehatan mental.[11]
Berdasarkan kutipan di atas orang yang sehat mentalnya adalah pribadi yang dapat menyesuaikan diri, yang dapat menikmati dan dapat mencapai aktualisasi dan realisasi diri. Mustafa Fahmi pun lebih menekankan proses penyesuaian diri sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan mental, karena penyesuaian diri dapat mencapai integritas dan kesatuan pribadi, penerimaan diri terhadap diri sendiri dan penerimaan orang lain terhadap dirinya yang akhirnya dapat membawa kepada rasa bahagia dan kelegaan jiwa, tanpa mengurangi pengaruh dari lingkungan. Lingkungan ini mempunyai tiga segi, yaitu: lingkungan alam, lingkungan sosial, dan manusia sendiri.[12]
Hasan Langgulung menegaskan, bahwa seseorang dianggap sehat mentalnya apabila dirinya mampu mengaktualisasikan diri dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sesuai dengan ciptaan Allah Swt.[13] Lebih lanjut Hasan Langgulung menjelaskan, bahwa kesehatan mental dilihat dari kemampuan seseorang dalam mengaktualisasikan ciri utama manusia yang membedakannya dengan makhluk-makhluk lain seperti: sifat kebebasan, kesanggupan mengadakan abstraksi, kesanggupan mencipta, kesanggupan berpegang teguh pada nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama. Dalam merumuskan pengertian kesehatan mental, ada tiga orientasi kesehatan mental yang lazim dijadikan kerangka acuan oleh para ahli. Pertama, orientasi klasik: seseorang dianggap sehat apabila seseorang itu tidak memiliki keluhan tertentu, seperti: ketegangan, rasa cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau tidak sakit, serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Orientasi ini dianut oleh lingkungan kedokteran. Kedua, orientasi penyesuai diri: seseorang dianggap sehat secara psikologi apabila seseorang itu mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain serta lingkungan sekitar. Ketiga, orientasi pengembangan potensi: seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa apabila seseorang itu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju kedewasaan sehingga seseorang tersebut dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.[14]
Indikasi jiwa (mental) yang sehat dalam konsep Islam, yaitu apabila hamba Allah telah berhasil melakukan pendidikan dan pelatihan penyehatan, pengembangan dan pemberdayaan jiwa (mental), seseorang akan mencapai tingkat kejiwaan atau mental yang sempurna, yaitu integritasnya jiwa mutmainnah (yang tentram), jiwa radhiyah (jiwa yang meridhoi), dan jiwa yang mardhiyah (yang diridhoi).[15] Perlu pula dikemukakan bahwa dalam membicarakan konsep kesehatan mental, kepribadian manusia dilihat sebagai satu totaliotas psiko-fisik yang kompleks.[16]
Pembinaan kesehatan mental memiliki urgensi yang tidak terpisahkan dengan upaya penanaman nilai-nilai Islam itu sendiri. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam pembinaan kesehatan mental Islami yaitu:

a.    Penanaman Nilai Keimanan (aqidah)
Diperlukannya penanaman nilai keimanan berlandaskan pada asumsi bahwa hakikat fungsi manusia adalah beribadah kepada Allah atau dengan kata lain, hakikat fungsi manusia adalah hamba Allah. Setiap hamba harus selalu tunduk kepada penciptanya, ia tidak dapat dioperasikan dengan cara berbeda, apalagi bertentangan dengan kehendak Allah sebagai khaliqnya. Sementara itu, maksud diciptakannya manusia antara lain agar dia mengabdi kepada Allah, maka dari itu fungsi manusia adalah hamba Allah.[17]
Dengan demikian, penanaman nilai keimanan atau mempercayai keesaan Allah harus diutamakan karena perasaan ketuhanan yang sempurna hadir dalam jiwa individu akan berperan sebagai dasar dalam berbagai aspek kehidupannya. Nilai keimanan yang tertanam kokoh dalam jiwa individu akan memberikan warna dan corak dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya pengakuan dalam dirinya tentang kekuatan yang menguasai dan melindunginya, yaitu Allah. Pengakuan ini diharapkan mampu mendorong individu untuk berbuat sesua dengan yang dikehendakai Allah. Maka dari itu, semakin matang perasaan ketuhanannya akan semakin baik perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tahap selanjutnya, individu selalu diarahkan untuk mentaati hukum-hukum Allah serta diimbangi pengetahuan tentang ibadah yang dalam sistem etika Islam termasuk akhlak terhadap Allah.

b.   Penanaman Nilai Akhlak
Pembentukan moral tertinggi adalah tujuan utama pendidikan Islam. Dengan demikian, harus diusahakan terhadap pembinaan akhlak mulia, meresapkan fadhilah di dalam jiwa para siswa, membiasakan berpegang kepada moral yang tinggi, menghindari hal-hal tercela, berfikir secara ruhaniah dan insaniah, serta mempergunakan waktu untuk belajar ilmu keduniaan dan agama dengan tanpa memandang keuntungan materi.[18]
Pendidikan akhlak terbagi dalam dua kategori, yaitu akhlak kepada Allah dan akhlak individual, sosial, serta alam. Akhlak kepada Allah antaralain berisikan tentang kewajiban-kewajiban manusia kepada Allah.

Dari beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.
Dengan demikian Konseling Islami dalam Pembinaan Kesehatan Mental yaitu  kegiatan yang dilakukan guru untuk memberikan kesadaran kepada klien baik secara individu atau kelompok agar tetap menjaga eksistensinya sebagai ciptaan dan makhluk Allah, dan tujuan yang ingin dicapaipun bukan hanya untuk kemaslahatan dan kepentingan duniawi semata, tetapi lebih jauh dari itu adalah untuk kepentingan ukhrawi yang lebih kekal abadi.

2.    Indikator Kesehatan Mental
Muhyani menyebutkan orang yang mempunyai mental sehat ditandai dengan sifat-sifat khas antara lain: mempunyai kemampuan-kemampuan untuk bertindak secara efisien, memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas, punya konsep diri yang sehat, ada koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, meiliki regulasi-diri dan integrasi kepribadian dan batinnya selalu tenang.[19]
Siswanto menjelaskan indikator kesehatan mental pada umumnya adalah: bertingkah laku menurut norma sosial yang di akui, mampu mengelola emosi, mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki, dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan social, dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah laku, mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang, mampu belajar dari pengalaman, biasanya gembira. Sedangkan menurut Harber dan Runyon yang di kutip Siswanto menjelaskan ciri individu yang bisa dikelompokkan sebagai normal adalah: mampu menerima diri sendiri apa adanya, pandangan yang realistis terhadap diri sendiri dan dunia sekitar, kepribadian yang menyatu dan harmonis, bebas dari konflik batin, mengembangkan keterampilan berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, emosional dan sosial.[20]
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat dirumuskan tentang ciri-ciri orang yang memiliki kesehatan mental dalam pandangan Islam adalah:
a.    Beriman dan beribadah kepada Allah Swt, keimanan kepada Allah Swt bisa menanamkan rasa lapang, ridha, dan bahagia dalam diri seseorang, merasa aman dan tenang, dan merasa dilindungi oleh Allah Swt.
b.    Sehat secara fisik, tidak sakit-sakitan.
c.    Melaksanakan pola hidup sehat dengan berolah raga secara rutin, makan-makanan yang halal dan sehat, tidak merokok, tidak minum-minuman keras (beralkohol), tidak terlibat pengguanaan narkoba, dan cukup istirahat.
d.   Menerima kenyataan hidup, ditandai dengan menerima keadaan fisik apa adanya tidak membuat tato ditubuhnya, tidak membuat tindik atau anting dibagian tubuhnya, memotong rambut dengan rapih.
e.    Mampu beradaptasi baik dengan dirinya maupun dengan alam sekitar secara umum sehingga merasa senang, bahagia, dan hidup dengan lapang.
f.     Percaya diri, tidak minder dalam bergaul, ini disebabkan karena merasa dirinya tidak kurang suatu apapun dan dia puas dengan penampilan dirinya.
g.    Mampu mengatasi stres dengan yang positif, bila mendapat masalah dalam hidupnya selalu berusaha memecahkan dengan cara yang positif.
h.    Jujur terhadap dirinya sendiri, sehingga dia berkata apa adanya, tidak curang dalam bertransaksi dengan orang lain.
i.      Berani karena benar, menyampaikan kebenaran dengan berani sekalipun akibatnya pahit untuk dirinya.

3.    Kriteria Mental Yang Sehat dan Tidak Sehat
Telah menjadi kesepakatan dunia bahwa yang disebut sehat adalah sehat fisik, mental, dan sosial. Mengenali orang yang sehat secara fisik dan sosial lebih mudah daripada mengenali sehat secara mental. Demikian pula lebih mudah mendiagnosa orang-orang yang sakit secara fisik maupun sosial daripada sakit secara mental. Namun yang pasti antara ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Apabila salah satunya mengalami gangguan, maka yang lainpun ikut terganggu meskipun gradasinya bisa berbeda-beda pada setiap kasus dan atau setiap orang.[21]

Menurut Hanna Djumhana Bastaman, konsep kesehatan mental itu memiliki beberapa pola wawasan yang berorientasi pada simtomatis (gejala), penyesuaian diri, pengembangan potensi, dan agama (kerohanian). Atas dasar pola wawasan atau pandangan-pandangan tersebut, kriteria kesehatan mental yaitu:
a.    Bebas dari gangguan dan penyakit-penyakit kejiwaan
b.    Mampu serta luwes menyesuaikan diri dan menciptakan hubungan antar pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan
c.    Mengembangkan potensi-potensi pribadi (bakat, kemampuan, sikap, sifat, dan sebagainya) yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan
d.   Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan dan berupaya menerapkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.[22]
Ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang mempunyai gejala gangguan jiwa dan gejala penyakit jiwa termasuk orang yang mempunyai gangguan mental, bahkan orang-orang pemalas, hilangnya kegairahan bekerja, gelisah, cemas termasuk bagian dari gejala penyakit mental.[23]
Selain kriteria mental yang sehat di atas adapun mental yang sehat menurut penulis diantaranya: dapat menyesuaikan diri meskipun kenyataan itu buruk baginya, secara relatif bebas dari rasa gelisah dan cemas, berhubungan dengan orang lain dengan cara tolong menolong, menerima kekecewaan sebagai pelajaran untuk kemudian hari, mempunyai rasa kasih sayang yang besar serta menerapkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang atau sekelompok orang yang profil kepribadiannya menyimpang jauh dari kriteria-kriteria mental yang sehat di atas, maka orang atau kelompok-kelompok orang itu dapat dipandang sebagai pribadi-pribadi yang tidak sehat mentalnya, atau dengan kata lain mengalami gangguan mental.
Zakiah Daradjat mengemukakan, bahwa basis sakit mental itu dua macam: Pertama, disebabkan adanya kerusakan pada anggota tubuh, misalnya otak, sentral saraf atau hilangnya kemampuan berbagai kelenjar, saraf-saraf atau anggota fisik lainnya untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin terjadi karena keracunan akibat minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotika, akibat penyakit kotor dan sebagainya. Kedua, disebabkan karena gangguan jiwa yang telah berlarut-larut sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian secara wajar, atau dengan kata lain, disebabkan kehilangan keseimbangan mental secara menyeluruh. Akibat suasana lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin, dan sebagainya.[24]Dalam ungkapan M. Ustman Najati, gangguan mantal itu disebabkan oleh tiadanya harmoni atau keselarasan antara aspek-aspek material dan spiritual dalam diri manusia.[25]
Menurut Kartini Kartono, ketidaksehatan mental bisa bersumber dari salah satu basis jasmaniah atau basis psikologi, atau bahkan dari keduanya. Basis jasmaniah dari ketidaksehatan mental (penyakit mental) antara lain disebabkan oleh penyakit, keracunan zat-zat yang mengandung racun, proses degenerasi karena usia tua, dan kelainan-kelainan sistem kelenjar. Sedangkan basis psikologi ketidaksehatan mental adalah ketidakmampuan individu menghadapi realitas, yang membuahkan berbagai konflik mental pada dirinya.[26]
Hamdani Bakran Adz-Dzaky mengungkapkan bahwa keberadaan jiwa seseorang akan dapat diketahui melalui sikap, perilaku, dan penampilannya. Dengan melihat itu semua, maka akan dapat diketahui kondisi kejiwaan seseorang dalam kondisi sehat atau tidak sehat. Indikasi atau tanda-tanda kejiwaan yang tidak stabil diantaranya adalah: pemarah, dendam, dengki, takabur, riya’, ‘ujub, su’udzan, was-was, pendusta, serakah, pelupa, putus asa, pemalas, kikir, hilangnya rasa malu.[27]
Maksud dari pelupa di atas adalah seseorang yang melupakan Allah Swtdan melupakan perintah dan larangan Allah Swt. Yang dimaksud perasaan malu pada seseorang adalah tidak malu meninggalkan perintah Allah Swt dan tidak malu melanggar larangan-Nya, tidak malu menampakkan aurat atau kehormatannya pada orang lain, tidak malu melakukan pembelaan diri dari akibat perbuatannya yang buruk, jahat, dan bertentangan dengan hukum-hukum Allah Swt maupun hak-hak hamba, dengan mengajukan berbagai dalil dan alasan bahkan tidak segan mengkambinghitamkan orang lain yang tidak bersalah.
Indikasi adanya gangguan psikologi dan tidak sehatnya mental di atas, disebabkan karena penyimpangan-penyimpangan perilaku seseorang dari tuntunan, bimbingan dan pimpinan fitrah ilahiyah (al-Qur’an) dan ketauladanan Nubuwah (as-Sunnah). Sikap dan perilaku penyimpangan itu akan berakibat sangat buruk bagi diri seseorang dan lingkungannya, baik secara vertikal (dengan Allah Swt) maupun secara horizontal (dengan sesama manusia).
Singkatnya, pribadi yang tidak mampu memelihara kesucian dan mensucikan jiwanya, bahkan justru mengotorinya, atau menjadi pribadi yang tidak sehat mentalnya. Dari pola kepribadian yang ditemukan dalam al-Qur’an seperti apa yang dimaksud oleh pola kepribadian yang munafik dan kafir, dengan sejumlah karakteristik masing-masing.
Begitulah orang yang jiwanya tidak sehat atau seseorang yang menderita penyakit mental (psychose), kepribadiannya menjadi terganggu dan akibatnya kurang mampu menyesuaikan diri secara wajar serta tidak sanggup memahami problemnya. Ironisnya, orang yang sakit mental sering tidak merasa bahwa ia sakit atau tidak sakit. Sebaliknya ia menganggap bahwa dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari orang lain. Akhirnya, untuk sekedar penegasan kembali, bahwa teori kesehatan mental, khususnya kesehatan mental menurut pandangan Islam perlu di kaji.
4.      Tujuan Konseling Islami dalam Pembinaan Kesehatan Mental
Mengenai tujuan konseling, penulis berfokus kepada tujuan konseling Islami. Jika di lihat dari segi Alquran manusia pada dasarnya diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan membawa citra ketuhanan di dalam dirinya, yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah Swt.[28]

Penjelasan di atas terkait firman Allah Swt. dalam Alquran yang berbunyi:
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S, Al-Baqarah/2: 30).[29]

$¯RÎ) $oYôÊttã sptR$tBF{$# n?tã ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ÉA$t6Éfø9$#ur šú÷üt/r'sù br& $pks]ù=ÏJøts z`ø)xÿô©r&ur $pk÷]ÏB $ygn=uHxqur ß`»|¡RM}$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. $YBqè=sß Zwqßgy_ ÇÐËÈ  

Artinya: “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S, Al-Ahzâb  /33: 72).[30]

Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa Allah hendak menjadikan seorang khalifah/pemimpin dibumi ini dengan dibebankan tugas oleh Allah Swt. yaitu tugas keagamaan serta untuk memakmurkan alam semesta ini. Kemudian manusia harus mengabdikan hidupnya untuk Allah Swt. sebagai Khaliknya, sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S, Adz-Dzâriyât  /51: 56).[31]

Penjelasan ayat di atas adalah agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya, maka manusia dilengkapi dengan potensi-potensi yang diberikan Allah Swt. dan manusia diberikan ciri-ciri sebagai makhluk yang berpotensi.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Djamaludin Ancok bahwa ciri-ciri manusia sesuai dengan potensi nya yaitu:[32]
a.    Manusia mempunyai raga dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dengan rupa dan bentuk yang sebaik-baiknya ini diharapkan manusia menjadi bersyukur kepada Allah Swt. hal ini sesuai dengan Firman Allah yang berbunyi:

t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Èd,ptø:$$Î/ ö/ä.u§q|¹ur z`|¡ômr'sù ö/ä.uuqß¹ ( Ïmøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇÌÈ  

Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk           rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-         lah kembali (mu)”. (Q.S, At-Taghâbun  /64:3).[33]

 

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk            yang sebaik-baiknya”. (Q.S, At-Tîn  /95: 4).[34]

b.    Manusia itu baik dari segi fitrah sejak semula. Dia tidak mewarisi dosa asal karena Adam (dan Hawa) keluar dari surga.
c.    Ruh. Alquran secara tegas menyatakan bahwa kehidupan manusia tergantung pada wujud ruh dalam badannya. Tentang bagaimana wujudnya, bagaimana bentuknya, dilarang untuk mempersoalkannya.
š

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. katakanlah:"Roh itu      termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan             melainkan sedikit". (Q.S, Al-Isrâ` /17: 85).[35]
          Tetapi bagaimana ruh itu bersatu dengan badan yang kemudian membentuk manusia menjadi khalifah itu, dalam Alquran dinyatakan:
 

Artinya: “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dantelah        meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu          kepadanya dengan bersujud”. (Q.S, Al Hijr/15: 29).[36]

d.   Kebebasan kemauan atau kebebasan berkehendak, yaitu kebebasan untuk memilih tingkah lakunya sendiri, kebaikan atau keburukan.
e.    Akal. Dalam pengertian Islam bukan otak melainkan daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal dalam Islam merupakan ikatan dari tiga unsur, yaitu pikiran, perasaan dan kemauan.
f.     Nafsu. Nafs atau nafsu seringkali dikaitkan dengan gejolak atau dorongan yang terdapat dalam diri manusia. Apabila dorongan itu berkuasa dan manusia tidak mengendalikannya, maka manusia akan tersesat.

Kemudian dari sudut pandang konseling Islami. Tujuan konseling Islami menurut beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli seperti berikut ini:
a.    Saiful Akhyar Lubis mengemukakan bahwa tujuan konseling Islami ialah membantu konseli agar mampu menyelesaikan masalahnya demi mencapai ketentraman jiwa dalam kehidupan yang sakinah dan diridhai Allah Swt. memiliki istiqamah untuk menjadikan Allah Swt. sebagai Konselor Yang Maha Agung, serta dapat melakukan self counseling bagi dirinya dan orang lain.[37]
b.    Lahmuddin Lubis mengemukakan bahwa tujuan konseling Islami adalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah, membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sedangkan tujuan khusus adalah, membantu individu agar tidak mempunyai masalah, membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya, membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik agar tetap baik atau menjaga lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.[38]
c.    Willis dalam Namora Lumongga Lubis mengemukakan beberapa tujuan konseling secara umum yaitu:[39]
1)      Mengembangkan potensi individu secara optimal sehingga menjadi kreatif, produktif, mandiri dan bersifat religious.
2)      Memecahkan masalah yang dihadapi individu sehingga siswa terlepas dari tekanan emosional (stress), kemudian muncullah ide yang cemerlang untuk merencanakan hidupnya secara wajar.
3)      Merujuk pada apa yang dijelaskan oleh Willis tersebut, Namora Lumongga Lubis menarik kesimpulan bahwa: Pertama, kemampuan/ potensi dasar yang dimiliki oleh masing-masing anak didik membutuhkan sentuhan yang tulus dari pendidik untuk mengasahnya dan tidak sekadar memberikan ilmu pengetahuan sesuai kurikulum. Kedua, sama seperti orang dewasa, anak-anak juga memliki masalah walaupun dalam kapasitas yang berbeda. Mereka dapat kehilangan semangat belajar, sulit menerima ilmu yang diajarkan, dan pergaulan yang tidak menyenangkan. Hal inilah yang harus menjadi fokus pendidik untuk segera diselesaikan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, konseling mutlak diperlukan yang dapat membantu pendidik mengenali gejala-gejala timbulnya permasalahan yang dialami anak didik sehingga tidak berkembang menjadi lebih parah.
d.   Selanjutnya, atas dasar pandangan tentang unsur dan kedudukan manusia, A. Badawi dalam Saiful Akhyar Lubis merumuskan tujuan konseling Islami dalam empat point tujuan berikut ini:[40]
1)      Agar manusia dapat berkembang secara serasi dan optimal unsur raga dan rohani serta jiwanya, berdasar atas ajaran Islam.
2)      Agar unsur rohani serta jiwa pada individu itu berkembang secara serasi dan optimal: akal/ pikir, kalbu/ rasa, dan nafsu yang baik/karsa, berdasarkan ajaran Islam.
3)      Agar berkembang secara serasi dan optimal unsur kedudukan individu dan sosial, berdasarkan ajaran Islam.
4)      Agar berkembang secara serasi dan optimal unsur manusia sebagai makhluk yang sekarang hidup di dunia dan kelak akan hidup di akhirat, berdasarkan atas ajaran Islam.

Pelayanan konseling dalam hal tujuan konseling seakan-akan hanya bersifat penyembuhan atau pengentasan (curatif) saja, sesungguhnya dalam perkembangan saat ini tujuan konseling tidak hanya demikian, melainkan konseling juga bertujuan agar konseli setelah mendapatkan pelayanan konseling, diharapkan ia dapat menghindari masalah-masalah dalam hidupnya (preventif), memperoleh pemahaman diri dan lingkungannya (understanding), dapat melakukan pemeliharaan dan pengembangan terhadap kondisi dirinya yang sudah baik agar tetap menjadi baik (development and preservatif), dan juga dapat melakukan pembelaan diri kearah pencapaian semua hak-haknya sebagai pelajar atau mahasiswa maupun sebagai warga Negara (advocation).[41]
Dari pemaparan di atas mengenai tujuan konseling Islami dapat dipahami bahwa konseling Islami berusaha membantu dalam memperbaiki diri dan kesehatan mental peserta didik agar terhindar dari masalah. Sesuai dengan dimensi keagamaan dalam dirinya serta membantu peserta didik meningkatkan intelegensi dan mengembangkan potensi yang diberikan Allah Swt. sehingga ia dapat mengemban tugas yang diamanahkan Allah Swt. yaitu sebagai khalifah dan sebagai Abdullah di bumi ini.

5.    Fungsi Konseling Islami
Fungsi konseling Islami menurut Lahmuddin Lubis paling tidak terdapat empat fungsi utama konseling Islami, yaitu:[42]
a.    Sebagai preventif atau pencegahan, yaitu membantu individu menjaga atau mencegah timbulnya masalah bagi dirinya. Pada tahap ini setiap guru pembimbing (konselor) diharapkan dapat memberikan nasihat kepada klien, agar klien dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya baik sebagai hamba Allah (‘abdullah) maupun sebagai pemimpin di bumi ini (khalifatun fiil ardi).
b.    Konseling berfungsi sebagai kuratif atau korektif, yaitu membantu individu memcahkan masalah yang sedang dihadapi atau dialaminya. Jika ada seseorang yang mempunyai masalah dan ia ingin keluar dari masalahnya, maka konselor sebaiknya memberikan bantuan kepada klien agar klien dapat menyadari kesalahan dan dosa yang ia lakukan, sehingga pada akhirnya klien tersebut kembali ke jalan yang benar yaitu sesuai dengan ajaran agama (Islam).
c.    Sebagai preservatif, yaitu membantu individu untuk menjaga agar situasi dan kondisi yang pada awalnya tidak baik (ada masalah) menjadi baik (terpecahkan atau teratasi). Pada tahap ini guru pembimbing (konselor) berusaha memberikan motivasi kepada klien agar klien tetap mempunyai kecenderungan untuk melaksanakan yang baik itu dalam kehidupannya. Situasi yang baik itu tentunya sesuai dengan kaedah hukum dan norma yang berlaku, baik norma yang dilahirkan oleh agama Islam maupun norma dan adat istiadat yang berlaku pada masyarakat.
d.   Sebagai development atau pengembangan, yaitu membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang telah baik menjadi lebih baik, sehingga pada masa-masa yang akan datang, individu tersebut tidak pernah mempunyai masalah lagi, walaupun ada masalah-masalah yang timbul, ia mampu mengatasi sendiri tanpa mintak bantuan kepada orang lain (konselor atau guru pembimbing).

Menurut Prayitno ditinjau dari kegunaan atau manfaat, ataupun keuntungan-keuntungan apa saja yang diperoleh melalui pelayanan tersebut. Fungsi-fungsi itu banyak dan dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi pokok, yaitu:[43]
a.    Fungsi pemahaman, yaitu fungsi yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.
b.    Fungsi pencegahan, yaitu fungsi yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permsalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan keragu-raguan tertentu dalam proses perkembangannya.
c.    Fungsi pengentasan, yaitu yang akan menghasilkan tereatasinya berbagai permasalahan yang dialaminya oleh pserta didik.
d.   Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangnya berbagai potensi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantab dan berkelanjutan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi konseling Islami dalam pembinaan kesehatan mental yaitu untuk membantu klien sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak. Konselor memberikan perlakuan terhadap klien supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.


6.    Asas Konseling Islami
Setiap kegiatan yang dilakukan seharusnya ada suatu asas atau dasar yang melandasi dilakukannya kegiatan tersebut dengan kata lain ada asas-asas yang di jadikan dasar pertimbangan sebagaimana Saiful akhyar lubis mengemukakan bahwa asas dalam konseling Islami dimaksudkan sebagai kaidah, ketentuan yang diterapkan serta dijadikan landasan dan pedoman penyelenggaraan konseling Islami, yakni:[44]
a.    Asas Ketauhidan
Tauhid adalah pengesaan Allah yang merupakan syarat utama bagi penjalinan hubungan antara hamba dengan pencipta-Nya. Tauhid dimaksudkan sebagai penyerahan total segala urusan masalah kepada Allah Swt.
b.    Asas Amliah
Konselor dituntut untuk bersifat realistis, dengan pengertian sebelum memberikan bantuan terlebih dahulu ia harus mencerminkan sosok yang memiliki keterpaduan ilmu dan amal.
c.    Asas aklhaq al-karimah
Dalam konteks pendidikan Islam, dengan tegas dinyatakan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah pendidikan akhlak. Tanpa akhlak yang tinggi atau mulia, keselamatan dan kemajuan tidak akan tercapai, dan berarti tujuan kehidupan manusia juga tidak akan tercapai.
d.   Asas Professional (Keahlian)
Keberhasilan suatu pekerjaan akan banyak bergantung pada profesionalisasi atau keahlian orang yang melakukannya. Demikian juga halnya dalam konseling Islami, pelaksanaannya tidak akan membuahkan hasil jika para petugasnya (konselor) tidak memiliki keahlian khusus untuk itu.
e.    Asas Kerahasiaaan
Segala problem klien/konseli yang dipaparkan kepadanya harus dipandang sebagai hal bersifat pribadi dan sangat rahasia, sehingga klien/ konseli merasa terjamin kerahasiannya.

Menurut Lahmudin terdapat dua belas asas dalam bimbingan konseling. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut: Asas Kerahasiaan, Asas Kesukarelaan, Asas Keterbukaan, Asas Kekinian, Asas Kemandirian, Asas Kegiatan, Asas Kedinamisan, Asas Keterpaduan, Asas Kenormatifan, Asas Keahlian, Asas Alih Tangan, Asas Tutwuri Handayani. [45]

Adapun asas-asas bimbingan konseling Islami menurut Lahmudin memfokuskan kepada empat aspek, yaitu: [46]
a.    Asas Amal Saleh
Amal saleh yang dilakukan manusia pada hakikatnya bukan untuk orang lain, juga bukan untuk Allah, tetapi semua akan kembali kepada pelaku perbuatan itu.
b.    Asas Sosial
Seorang konselor harus dapat menerima klien apa adanya tanpa melihat latar belakang, status ekonomi, keluarga dan agama.
c.    Asas Kasih Sayang
Kasih saying yang tulus dan kesungguhan yang di tunjukkan guru BK dapat mengalahkan dan menundukkan pemikiran klien yang salah dan perilaku yang menyimpang selama ini.
d.   Asas Saling Menghargai dan Menghormati
Hubungan yang terjalin antara guru BK dengan klien merupakan hubungan yang harmonis, saling menghargai dan saling menghormati, termasuk menjaga kerahasiaan klien.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konselor haruslah mengetahui benar apa fungsi dan asas-asas konseling Islami itu sendiri, sehingga konselor akan semaksimalmungkin membantu para kliennya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan berlandaskan Alquran dan Hadis.


Lebih lanjut Muhammedi menjelaskan perbedaan konseling umum dengan konseling Islami menurut Thohari Musnamar diantaranya yaitu:[47]
a.    Pada umumnya di barat proses layanan konseling tidak dihubungkan dengan tuhan maupun ajaran agama. Maka layanan konseling dianggap sebagai hal yang semata-mata masalah keduniawian, sedangkan Islami menganjurkan aktifitas layanan konseling itu merupakan suatu ibadah kepada Allah Swt suatu bantuan kepada orang lain, termasuk layanan konseling, dalam ajaran Islam dihitung sebagai suatu sedekah.
b.    Pada umumnya konsep layanan konseling barat hanyalah didasarkan atas pikiran manusia. Semua teori konseling yang ada hanyalah didasarkan atas pengalaman-pengalaman masa lalu, sedangkan konsep konseling Islami didasarkan Alquran dan sunnah Rasul, aktivitas akal dan pengalaman manusia.
c.    Konsep layanan konseling barat tidak membahas masalah kehidupan sesudah mati. Sedangkan konsep layanan konseling Islami meyakini adanya kehidupan sesudah mati.
d.   Konsep layanan konseling barat tidak membahas dan mengaitkan diri dengan pahala dan dosa. Sedangkan menurut konseling Islami membahas pahala dan dosa yang telah dikerjakan.
Berdasarkan uraian di atas semangkin terlihat perbedaan antara konseling barat dengan konseling Islami, di mana proses konseling barat bisa terlaksana apabila telah ada masalah yang dihadapi oleh seseorang, sedangkan konseling Islami bisa saja berlangsung tanpa adanya masalah yang mendahuluinya.

7.    Layanan Konseling Perorangan dalam Pembinaan Kesehatan Mental
Jika dilihat secara umum layanan konseling merupakan layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-masalah, terutama masalah sosial-pribadi yang mereka hadapi. Layanan ini bersifat terapeutik dan hanya dapat diberikan oleh pembimbing yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang bimbingan dan konseling atau psikologi. Layanan konseling ini di lakukan melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli. Konselor memfasilitasi lingkungan psikologis konseli sehingga konseli dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin dan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya sebaik mungkin.[48]
Menurut Prayitno konseling perorangan merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentaskan masalah pribadi klien. Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan konselor. Membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi menyangkut rahasia pribadi klien); bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik menuju kearah pengentasan masalah.[49]
Bahkan dikatakan bahwa konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara menyeluruh. Hal ini berarti agaknya bahwa apabila layanan konseling telah memberikan jasanya, maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upaya-upaya bimbingan lainnya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping. Atau dengan kata lain, konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya menuntut persyaratan dan mutu usaha yang benar-benaar tinggi. Ibarat seorang jejaka yang menaksir seorang gadis, apabila jejaka itu telah mampu memikat “jantung hati” gadis itu, maka segala urusan dan kehendak akan dapat diselenggarakan dan dicapai dengan lancar.[50]
Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu adalah, apabila seorang konselor telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa, mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (dalam arti memahami, menghayati, dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Hal itu dapat dimengerti karena, layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, serta pemeliharaan dan pengembangan. Di samping itu, perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”, sebagaimana telah disebut terdahulu, menjangkau aspek-aspek yang lebih luas dari pada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. Isi konseling menyangkut berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan pada layanan-layanan orientasi dan informasi, penempatan dan penyaluran, serta bimbingan belajar. Dalam hubungan itu semua dapat dimengerti bahwa layanan konseling bersangkutan dengan jenis-jenis layanan lainnya.[51]
Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan konseling Individu/ Perorangan dilaksanakan dalam suasan tatap muka, yang mana konselor berusaha mengarahkan klien agar memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permasalahan yang dialami, serta kemungkinan untuk mengatasi masalahnya.

a.    Tujuan Konseling Perorangan
Tujuan layanan konseling perorangan adalah merujuk kepada fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yaitu. Pertama, merujuk kepada fungsi pemahaman, maka tujuan layanan konseling adalah agar klien memaahami seluk-beluk yang dialami secara mendalam dan komprehensif, positif, dan dinamis. Kedua, merujuk kepada fungsi pengentasan, maka layanan konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan klien dari masalah yang dihadapinya. Ketiga, dilihat dari fungsi pengembangan dan pemeliharaan, tujuan layanan konseling perorangan adalah untuk mengembangkan potensi-potensi individu dan memelihara unsur-unsur positif yang ada pada diri klien. Dan seterusnya sesuai dengan fungsi-fungsi konseling.[52]
b.   Isi Layanan Konseling Perorangan Dalam Pembinaan Kesehatan Mental
Masalah-masalah yang bisa dijadikan isi layanan konseling perorangan mencakup: (a) masalah-masalah yang berkenaan dengan bidang pengembangan pribadi, (b) bidang pengembangan sosial, (c) bidang pengembangan pendidikan atau kegiatan belajar, (d) bidang pengembangan karier, (e) bidang pengembangan kehidupan berkeluarga, dan (f) bidang pengembangan kehidupan beragama. Pembahasan masalah dalam konseling perorangan bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut masalah klien (siswa), namun juga bersifat spesifik menuju kearah pengentasan masalah.[53]
c.    Pelaksanaan Layanan Konseling Perorangan
Seperti halnya layanan-layanan yang lain, pelaksanaan layanan konseling perorangan, juga menempuh beberapa tahapan kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, tindak lanjut, dan laporan.[54]

8.    Layanan Konseling Kelompok Dalam Pembinaan Kesehatan Mental
Apabila konseling perorangan menunjukkan layanan kepada individu ataau klien prang-perorangan, maka konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental mengarahkan layanan kepada sekelompok individu. Dengan satu kali kegiatan, layaanan kelompok itu memberikan manfaat atau jasa kepada sejumlah orang. Kemanfaatan yang lebih meluas inilah yang paling menjadi perhatian semua pihak berkenaan dengan layanan kelompok itu. Apalagi pada zaman yang menekankan perlunya efisiensi, perlunya perlusan pelayanan jasa yang mampu menjangkau lebih banyak konsumen secara tepat dan cepat, layanan kelompoksemakin menarik.[55]
Dalam layanan kelompok interaksi antar individu anggota kelompok merupakan suatu yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Dengan interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama berlangsungnya layanan, diharapkan tujuan-tujuan layanan (yang sejajar dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok) dapat tercapai secara lebih mantab. Selain itu, karena para anggota kelompok dalam interaksi mereka membawakan kondisi pribadinya, sebagaimana mereka masing-masing tampilkan dalam kehidupan sehari-hari, maka dinamika kelompok yang terjadi di dalam kelompok itu mencerminkan suasana kehidupan nyata yang dapat dijumpai di masyarakat secara luas. Hal itu akan lebih terwujud lagi apabila kelompok terdiri dari individu-individu yang heterogen, terutama dari segi latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing. Keadaan nyata yang dihadirkan di dalam kegiatan kelompok itu merupakan keunggulanketiga dari layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental.[56]
Layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok. Di sana ada konselor (yang jumlahnya mungkin lebih dari seorang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya paling kurang dua orang). Di sana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif, dan penuh keakraban. Di mana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus). Kegiatan evaluasi dantindak lanjut.[57]
Unsur-unsur konseling perorangan tampil secara nyata dalam Konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental. Kalau demikian adanya, apa yang membedakan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental dari konseling perorangan? Satu hal yang paling pokok ialah dinamika interaksi sosial yang dapat berkembang dengan intensif dalam suasana kelompok. Di situlah keunggulan Konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental. Melalui dinamika interaksi sosial yang terjadi di antara anggota kelompok, masalah yang dialami oleh masing-masing individu anggota kelompok dicoba untuk dientaskan.[58]

a.    Tujuan Layanan Konseling Kelompok
Tujuan Layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental terbagi dua yaitu: pertama, terkembangnya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap terarah kepada tingkah laku khususnya dan bersosialisasi dan berkomunikasi. Kedua, terpecahnya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut bagi individu-individu lain yang menjadi pesertalayanan.[59]

b.   Isi Layanan Konseling Kelompok
Apabila dianalisis, suatu kelompok yang sedang menyelenggarakan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental tetap memiliki dalam keempat unsur kelompoknya. Tujuan yang didukung oleh konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental semua anggota kelompok ialah terpecahkannya masalah-masalah yang dialami oleh para anggota kelompok. Anggota kelompok ialah sesama mereka yang mengikat kegiatan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental itu. Pemimpinnya ialah konselor. Sedangkan aturan yang diikuti ialah ketentuan berkenaan dengan pengembangan susasana interaksi yang akrab, hangat, permisif, terbuka. Masing-masing anggota dalam berbicara dan menanggapi pembicaraan anggota lain harus dengan sopan, berusaha memahami dan menerima apa adanya pendapat orang lain, mengendalikan diri dan bertenggang rasa. Aturan lain misalnya, berbicara tidak perlu berkeliling bergiliran, dan tidak perlu pula menunggu ditunjuk oleh konselor; tetapi bicara tetap satu persatu, tidak berebutan; setiap masalah yang dialami anggota dibicarakan sampai tuntas satu per satu masalah mana yang didahulukan pembahasannya dan urutan berikutnya ditentukan secara musyawarah. Dengan demikian jelas bahwa konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental memangmemenuhi unsur-unsur kelompok yang paling mendasar.[60]
Mengenai masalah yang dibahas dalam konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental, selain masalah yang bervariasi, konselor dapat menetapkan (melalui persetujuan para anggota kelompok) masalah tertentu yang akan dibahas dalam kelompok. Satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus, ialah sifat isi pembicaraan dalam konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental. Sebagaimana dalam konseling perorangan, konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental menghendaki agar para klien (para peserta) dapat mengungkapkan dan mengemukakan keadaan diri masing-masing, sepenuh-penuhnya dan seterbuka mungkin. Dalam hal ini, asas kerahasiaan menjadi menonjol. Masing-masing klien perlu mempercayai konselor dan rekan-rekan mereka sesama anggota kelompok, bahwa kerahasiaan segenap apa yang merekakemukakan terjamin sepenuhnya.[61]

d.   Teknik Layanan Konseling kelompok
Adapun teknik Layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental meliputi: pertama, komunikasi multiarah secara efektif dinamis dan terbuka. Kedua, pemberian rangsangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasa, diskusi, analisis, dan pengembangan argumentasi. Ketiga, dorongan minimal untuk menetapkan respons aktivitas anggota kelompok. Keempat, penjelasan, pendalaman, dan pemberian contoh (uswatun hasan) untuk lebih memantapkan analisis, argumentasi dan pembahasan. Kelima, pelatihan untuk membentuk polatingkah laku baru yang dikehendaki.[62]

e.    Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental menempuh tahap-tahap sebagai berikut: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, tindak lanjut, dan laporan.[63]
Lebih jauh dari hal di atas. Menurut Lahmuddin Lubis, sebelum bantuan dilakukan kepada klien yang mengalami permasalahan atau gangguan, maka setiap konselor haruslah mengetahui penyebab munculnya masalah tersebut, sehingga bantuan penyembuhan yang diberikan kepada konseli sesuai dengan permasalahan yang dirasakan oleh konseli.[64]
Selanjutnya, berkaitan dengan layanan konseling Islami baik layanan konseling individu/ perorangan dalam pembinaan kesehatan mental maupun layanan konseling kelompok dalam pembinaan kesehatan mental , sebenarnya tidak jauh berbeda dengan layanan konseling secara umum, titik perbedaannya terletak pada pendekatan yang dilakukan/ dilaksanakan, di mana dalam layanan konseling Islami pendekatan yang dilakukan berpedoman kepada ayat-ayat Alquran.
Sebagaimana Saiful Akhyar Lubis mengemukakan bahwa pendekatan yang dimaksud sebagai upaya bagaimana klien/ konseli diperlakukan dan disikapi dalam penyelenggaraan konseling Islami.[65] Dalam hal ini Lahmuddin Lubis mengemukakan, pendekatan konseling Islami dengan merangkum beberapa ayat Alquran mapun Hadis Rasul yang dapat digunakan oleh konselor dalam rangka memberi bantuan dan pertolongan kepada klien yang bermasalah dengan pendekatan konseling Islami, yaitu:[66]

1)      Melalui Nasihat
Dalam rangka memberikan bantuan kepada klien, setiap pembimbing atau konselor memberikan bantuan melalui nasihat kepada orang yang mempunyai masalah. Pemberian nasihat seperti ini sangat relevan dengan isyarat Alquran yang berbunyi:
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ  

Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam        kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan       amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran       dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Q.S, Al-           ‘Asr/103: 1-3).[67]

Namun demikian, tidak semua masalah bisa diatasi  dengan nasihat. Berdasarkan surat Al-Asr di atas, maka seorang konselor atau pembimbing harus berusaha memberikan arahan dan nasihat kepada orang lain (klien), karena hal ini di samping tugas sosial kemasyarakatan, juga merupakan tanggung jawab sebagai seorang muslim untuk membantu dan mengarahkan saudaranya kepada jalan yang benar. Dengan kata lain tugas seperti ini merupakan bagian dari perintah Allah Swt.
Terlebih lagi sebagai seorang konselor agama, memberikan nasihat kepada seseorang baik yang belum mempunyai masalah yang serius maupun yang bermasalah (klien) mutlak diperlukan, agar seseorang yang belum pernah mempunyai masalah, untuk tidak pernah akan mempunyai masalah (preventif), dan sebaliknya, klien yang sudah punya masalah agar dapat keluar dari masalahnya (kuratif-korektif), serta mampu berbuat yang terbaik dalam setiap aspek kehidupannya dan berusaha untuk meningkatkan kebaikan pada masa-masa yang datang (developmental).

2)     Melalui Mau’izatul Hasanah
Dalam rangka memberikan bantuan dan layanan konseling Islami kepada klien, apakah secara individual maupun kepada kelompok masyarakat yang bermasalah, hendaklah dilakukan dengan pengajaran dan cara yang baik. Disamping itu, dalam proses konseling, setiap konselor sebaiknya dapat menumbuhkan keyakinan klien, bahwa konselor benar-benar menunjukkan kesungguhan untuk membantu klien, jika konselor telah mampu menumbuhkan keyakinan kepada klien, berarti konselor telah berhasil satu langkah untuk lebih berhasil pada pertemuan berikutnya.
Oleh karena itu, seorang konselor harus dapat menerima klien dengan sebaik-baiknya dan berusaha memberikan arahan dan pengajaran yang baik yang dapat membawa pemikiran dan perilaku klien ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, pengajaran yang baik turut mewarnai terjadinya perubahan perilaku klien kea rah yang lebih baik dan positif.
Di samping itu, dalam layanan konseling Islami seorang konselor sebaiknya menguasai terapi melalui pendekatan agama Islam. Memahami agama dengan baik, termasuk memberikan saran atau anjuran untuk memperbanyak zikir kepada Allah, anjuran melaksanakan shalat Tahajjud di malam hari dan lain sebagainya, karena cara-cara dan pembiasaan seperti ini dapat membantu seseorang keluar dari masalah yang dihadapinya.
Jika ditinjau lebih jauh, orang yang bermasalah adalah orang yang orang yang berpenyakit (menurut agama Islam), dan penyakit itu muncul disebabkan seseorang itu belum memahami atau belum mampu mengamalkan ajaran agama dengan baik. Sebagai contoh, orang yang pemalas, tidak ada gairah dalah hidup, tidak mau bergaul dengan orang lain, tertutup, iri melihat keberhasilan orang lain, dengki, khianat dan sebagainya, semua ini dapat menimbulkan masalah, dan jika masalah seperti ini dibiarkan berlarut-larut tidak mustahil akan sampai ke tahap psychose atau neurose (gejala penyakit jiwa).
Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah SWT pada surat al-Baqarah ayat 10 yang berbunyi:


Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah    penyakitnya; danbagi mereka siksa yang pedih, disebabkan     mereka berdusta”. (Q.S. Al-Baqarah/2: 10).[68]

3)   Melalui Mujadalah
Sewaktu mengadakan dialog dengan klien, seorang konselor atau pemberi layanan (giving advice) sebaiknya menumbuhkan komunikasi dua arah (diskusi), artinya seorang konselor memberikan waktu yang seluas-luasnya kepada klien untuk menyampaikan dan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Dalam proses konseling, seorang konselor pada awalnya cukup memberi perhatian yang serius terhadap masalah yang sedang diceritakan klien, walaupun kadang-kadang diperlukan isyarat non verbal dari konselor (mengangguk atau menggelengkan kepala) sesuai dengan arah pembicaraan.
Dengan demikian, pendekatan diskusi atau dialog bisa digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam konseling Islami. Pada waktu yang bersamaan, konselor bisa memberikan arahan dan pandangan kepada klien kea rah yang lebih baik dan konstruktif, agar klien memahami dan menyadari masalah yang dialaminya selama ini, dan berusaha untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan cara melaksanakan amal ibadah sesuai petunjuk Alquran dan sunnah Rasul.
Dalam banyak hal, pendekatan mujadalah ini sangat efektif digunakan oleh seseorang, baik sebagai da’i, pendidik dan lebih-lebih lagi bagi seorang konselor atau penolong (helper). Isyarat Alquran tentang keutamaan pendekatan ini terlihat pada firman Allah Swt yang berbunyi:

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.   Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang           siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih     mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S, An-            Nahl/16: 125).[69]

4)   Melalui Peringatan
Peringatan juga dapat dilakukan konselor sebagai salah satu usaha untu mengembalikan pandangan dan perilaku klien yang bermasalah ke arah lebih baik, melalui peringatan ini diharapkan klien menyadari masalah yang pernah dihadapinya dan berusaha untuk keluar dari masalah tersebut. Isyarat perlunya memberi peringatan kepada orang mempunyai masalah seperti terlihat pada firman Allah, yang berbunyi:


Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya           peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S, Adz-Dzâriyât /51:55).[70]


Artinya: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu    hanyalah orang yang memberi peringatan”. (Q.S, Al-Ghâsyiyah /88: 21).[71]

Berdasarkan penjelasan ayat di atas, agaknya pendekatan peringatan bisa dijadikan salah satu alternatif untuk memberi kesadaran kepada klien agar tetap melaksanakan ajaran agama dengan baik, dengan cara ini diharapkan klien mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Namun, peringatan atau ancaman yang diberikan tidak boleh menyalahi kaidah konseling (tidak boleh memaksakan kehendak), tetapi peringatan dilakukan merupakan salah satu cara untuk memberi kesadaran kepada klien.


[1]Saiful Akhyar Lubis, Konseling Islami: Dalam Komunitas Pesantren (Bandung: Citapustaka Media, Cet.1, 2015), h. 11.
[2]Ibid., h. 57.
                [3]Lahmuddin Lubis, Bimbingan Konseling Islami (Jakarta: Hijri Pustaka Utama, Cet. 1, 2007), h. 18.
[4]Saiful, Konseling, h. 63.
                [5]A, Hallen. Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Ciputat Press, Cet. 3, 2005), h. 21.
                [6]Musari, Bimbingan Konseling: Pembentukan Psikologi Positif Peserta DidikBerdasarkan Pendidikan Nilai (t.t.p.: Pustaka Diamond, Cet. 1, 2011), h. 112.
                [7]Departemen RI, Al-Qur’an, h. 299.
[8]Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 132.
[9]Abdul Aziz el-Quussy, Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental, terj. Zakiah Daradjat (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 38.
[10]Arie Arumwardhani, Psikologi Kesehatan (Yogyakarta: Galang Press, 2011), h.44.
[11]Abdul ‘Aziz El Quussy, Pokok-pokok kesehatan jiwa/mental (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 35.
[12]Mustafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, terj. Zakiah Daradjat (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 24.
[13]Hasan Langgulung, Teori-Teori Kesehatan Mental (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1986), h. 230.
[14]Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 132.
[15]M. Solohin, Terapi Sufistik, Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2004), h. 60-61.
[16]Kartini Kartono, Hygiene Mental (Bandung, Mandar Maju, 2000), h.34.
[17]Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 58.
[18]M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 11.
[19]Muhyani, Pengaruh Pengasuhan Orang Tua dan Peran Guru di Sekolah Menurut Persepesi Murid Terhadap kesadaran Religius dan Kesehatan mental (Jakarta: KEMENAG RI: 2012). h.23.
[20]Siswanto, Kesehatan Mental (Yogyakarta: Andi: 2017). h.24.
[21]Kementrian Agama RI, Tafsir Al-Qur’an Tematik (Jakarta: Aku Bisa, 2009), h. 295.
[22]Bastaman, Integrasi, h. 132.
[23]Lahmuddin Lubis, Konseling dan Terapi Islami (Medan: Perdana Publishing, 2016), h. 13.
[24]Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental (Jakarta: PT Gunung Agung, 1971), h. 224.
[25]M. Utsman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi’ Usmani (bandung: Pustaka, 1985), h. 244.
[26]Kartono, Hygiene Mental, h. 12-13.
[27]Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikologi Islam “Penerapan Metode Sufistik” (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), h. 335.
[28]Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap RentangKehidupan Manusia dari Prakelahiran Hingga Pascakematian (Jakarta: PT RajaGarfindo Persada,Ed. 1-2, 2006), h. 41.
[29]Departemen Agama RI, Al Qur’an, h. 6.
[30]Ibid., h. 427.
[31]Ibid., h. 523.
[32]Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. 2, 1995), h. 157-159.
[33]Departemen RI, Al-Qur’an, h. 556.
[34]Ibid., h. 597.
[35]Ibid., h. 290.
[36]Ibid., h. 263.
[37]Saiful, Konseling, h. 91.
[38]Lahmuddin, Bimbingan, h. 25-26.
[39]Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori danPraktik (Jakarta: Kencana, Ed. 1, 2011), h. 17-18.
[40]Saiful, Konseling, h. 86.
[41]Hartono dan Boy Soedarmadji, Psikologi Konseling (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. 1, Ed. Rev. 2012), h. 32-33.
[42]Lahmuddin, Bimbingan, h. 32-33.
[43]Prayitno, Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Koseling di Sekolah (Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet. 1, 2001), h. 68-69.
[44]Saiful, Konseling, h. 91-98.
[45]Lahmuddin Lubis, Konseling dan Terapi Islami, h. 33.
[46]Ibid., h. 48.
[47] Muhammedi, Bimbingan dan Konseling Isalmi, (Medan, Larispa: 2017), h. 222-223.
[48]Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling: Dalam Berbagai LatarKehidupan (Bandung: PT Refika Aditama, Cet. 3, 2009), h. 20.
[49]Prayitno, Seri Layanan Konseling: Layanan L.1 – L.9 (Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang 2004), h. 1.
[50]Prayitno, Dasar-Dasar, h. 288-289.
[51]Ibid., h. 289.
[52]Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah: Berbasis Integrasi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Ed. 1-2, 2008), h. 164-165.
[53]Ibid., h. 165-166.
[54]Ibid., h. 169.
[55]Ibid., h. 307.
[56]Ibid., h. 307.
[57]Ibid., h. 311.
[58]Ibid., h. 311.
[59]Ibid., h. 181-182.
[60]Prayitno, Dasar-dasar., h. 311-312.
[61]Ibid., h. 313.
[62]Tohirin, Bimbingan, h. 182-183.
[63]Ibid., h. 185.
[64]Lahmuddin Lubis, “Psikoterapi Dalam Perspektif Bimbingan Konseling Islami, “dalam MIQOT, Vol. XXXVI No. 2 Juli-Desember 2012, h. 394.
[65]Saiful, Konseling, h. 98.
[66]Lahmuddin, Bimbingan, h.71-82.
[67]Departemen RI, Al-Qur’an, h. 601.
[68]Departemen RI, Al-Qur’an, h. 2.
[69]Ibid, h. 281.
[70]Ibid, h. 523.
[71]Ibid, h. 592.

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)