Jumat, 15 Juni 2018

JIKA UMAT ISLAM TIDAK PEDULI KEPEMIMPINAN ISLAM, MAKA JANGAN MENYESAL JIKA NANTI AKAN DIPIMPIN OLEH ORANG YANG TIDAK PEDULI TERHADAP ISLAM

Sukses dalam hidup dan menang dalam membangun peradaban adalah ketika umat Islam melandasi hidupnya pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam : persyaratan pertama untuk meraih kemenangan atau kesuksesan adalah jika umat Islam melandasi hidupnya dengan nilai-nilai keimanan. Keimanan pada yang ghaib, keimanan pada Allah, Malaikat, kitab suci Al-Qur’an, para rasul, hari akhir dan keimanan pada taqdir Allah.
Pilar kedua yang harus dimiliki oleh kita agar sukses dalam hidup dan dapat membangun peradaban adalah ilmu dan terus-menerus menimba ilmu baik ilmu Syariat maupun ilmu umum.
Pilar ketiga yang harus dilakukan kita untuk meraih kesuksesan hidup adalah amal shalih. Amal shalih mencakup unsur-unsur; ikhlas, baik, kompetensi dan professional. Iman dan ilmu tanpa amal tidak akan sempurna.
Selanjutnya umat Islam harus bermujahadah, bersungguh-sungguh dalam semua lapangan kehidupannnya. Bagi umat Islam tidak ada istilah libur dari amal shalih, tidak ada istilah pansiun dari ibadah, tidak ada istilah cuti dari kebaikan.
Salah satu ibadah dalam kehidupan adalah memilih pemimpin yang peduli terhadap Islam dengan cara mensukseskan PILKADA  yang dilakukan serentak di beberapa propinsi, kabupaten dan kota. Ada pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Rutinitas lima tahunan ini diharapkan menjadi  pesta rakyat, bukan  petaka rakyat. Rakyat  berbondong-bondong  ke TPS dengan suka cita, tanpa tekanan, intimidasi, dan tanggung jawab kepada Allah saat memilih. Tidak ada politik uang, tidak ada serangan fajar, dan tidak ada kecurangan, Semua berjalan aman dan damai. Langsung, bebas, jujur, dan adil. 
PILKADA  kali  ini  merupakan  ujian  bagi  umat  Islam, apakah  kita bisa  menjaga persatuan  dan  kesatuan  bangsa,  tanpa konflik  dan  permusuhan, karena kita merupakan  umat  yang  mayoritas. Kita tidak  ingin  bangsa ini tercabik-cabik karena politik dalam negeri yang kacau. Kita tidak ingin nasib  kita, bangsa Indonesia seperti  yang  dialami  bangsa-bangsa lain  di  belahan  dunia. Kita ingin  tetap  dapat  menjalankan  ibadah  dengan  khusyu  dalam  suasana negeri  yang  damai. Kita ingin  rakyat  Indonesia  makmur dan  berkemajuan.
Umat Islam jangan mau diadu domba, jangan mau dipecah belah. Indonesia  adalah negara yang dibangun di atas tetesan darah para syuhada. Negeri ini  dibangun oleh para ulama yang berjuang antara hidup dan mati. Indonesia adalah  negara kita. Umat  Islam  adalah  pemilik  dan  pewaris  sah  negeri ini. Jangan ragukan  itu. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para sultan dan raja raja nusantara bersama rakyatnya berjuang melawan penjajah.
Umat Islam tidak boleh berputus asa untuk melakukan perbaikan negeri ini. Jika umat islam bersatu melakukan perubahan dan perbaikan, insyaa Allah masih ada harapan.
Bagaimana cara mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi?
Caranya sederhana, jangan sampai ada umat Islam yang golput. Pilihlah calon pemimpin, Muslim yang paling tinggi komitmen ke-Islamannya dan berakhlak mulia. Pilihlah pemimpin muslim yang rekam jejaknya tidak pernah mencederai umat Islam.
Apakah itu cukup?
Tentu belum, pemimpin harus mampu memikul amanah. Akan tetapi, sebelum persyaratan yang lain dipenuhi, kepemimpinan Islam harus di tangan orang Islam. Wajib bagi setiap muslim memilih pemimpin muslim. Allah berifirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin (auliya) bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ketetapan ini sudah bersifat pasti. Jangan diragukan lagi. Jangan ada yang menyelisihinya, dengan memberi tafsir macam-macam. Itulah ketentuan Allah, dan semua ketentuan Allah pasti benar. Semua ketentuan Allah pasti membawa maslahat dan manfaat. Sebaliknya, menyelisihi ketetapan Allah hanya akan mendatangkan penyesalan dan kerusakan. Inilah panduan dan petunjuk memilih pemimpin dalam al-Qur’an.
Melalui PEMILU setidak-tidaknya kita bisa mengubah nasib bangsa ini. Pertama, para pemimpin negara, mulai dari presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota. Kedua, para legislator, pembuat undang-undang. Mereka adalah anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka adalah penentu arah kebijakan negara. Di tangan mereka nasib bangsa, tidaknya selama periode kepemimpinannya ditentukan baik buruknya. Oleh sebab itu, umat Islam harus aktif dalam menentukan pilihan. Jangan asal pilih. Perhatikan rekam jejaknya. Di masa kampanye banyak serigala berbulu domba. Di masa kampanye mereka ramah, setelah menang mereka lupa. Sebelum pemilihan mereka merangkul, setelah berkuasa sampai hati mereka memukul. Tidak sungkan mereka merayu meski akhirnya menipu.
Jangan mudah dibohongi oleh penampilan sesaat. Kenali secara benar orang yang yang kita pilih, sebab setiap pilihan kita akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niatkan saat memilih sebagai ibadah. Niatkan untuk jihad membangun negeri yang lebih baik untuk mendapatkan ridha Ilahi. Untuk itu, mari kita bermunajat kepada Allah swt agar dipilihkan pemimpin yang amanah, jujur, cerdas, dan aspiratif. Pemimpin yang peduli kepada rakyatnya dan rakyat mencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)