Sukses dalam
hidup dan menang dalam membangun peradaban adalah ketika umat Islam melandasi
hidupnya pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam : persyaratan pertama
untuk meraih kemenangan atau kesuksesan adalah jika umat Islam melandasi
hidupnya dengan nilai-nilai keimanan. Keimanan pada yang ghaib, keimanan pada
Allah, Malaikat, kitab suci Al-Qur’an, para rasul, hari akhir dan keimanan pada
taqdir Allah.
Pilar kedua
yang harus dimiliki oleh kita agar sukses dalam hidup dan dapat membangun
peradaban adalah ilmu dan terus-menerus menimba ilmu baik ilmu Syariat maupun
ilmu umum.
Pilar ketiga
yang harus dilakukan kita untuk meraih kesuksesan hidup adalah amal shalih.
Amal shalih mencakup unsur-unsur; ikhlas, baik, kompetensi dan professional.
Iman dan ilmu tanpa amal tidak akan sempurna.
Selanjutnya
umat Islam harus bermujahadah, bersungguh-sungguh dalam semua lapangan
kehidupannnya. Bagi umat Islam tidak ada istilah libur dari amal shalih, tidak
ada istilah pansiun dari ibadah, tidak ada istilah cuti dari kebaikan.
Salah satu ibadah dalam kehidupan adalah memilih pemimpin yang peduli terhadap Islam dengan cara mensukseskan PILKADA
yang dilakukan serentak di beberapa propinsi, kabupaten dan kota. Ada
pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Rutinitas lima tahunan ini diharapkan
menjadi pesta
rakyat, bukan petaka rakyat. Rakyat berbondong-bondong ke TPS dengan
suka cita, tanpa tekanan, intimidasi, dan tanggung jawab kepada Allah saat
memilih. Tidak ada politik uang, tidak ada serangan fajar, dan tidak ada
kecurangan, Semua berjalan aman dan damai. Langsung, bebas, jujur, dan
adil.
PILKADA kali
ini merupakan ujian
bagi umat Islam, apakah
kita bisa menjaga
persatuan dan kesatuan
bangsa, tanpa konflik dan
permusuhan, karena kita merupakan
umat yang mayoritas. Kita tidak ingin
bangsa ini tercabik-cabik karena politik
dalam negeri yang kacau. Kita tidak ingin nasib kita, bangsa Indonesia
seperti yang dialami
bangsa-bangsa lain di belahan dunia. Kita ingin tetap
dapat menjalankan ibadah
dengan khusyu dalam suasana negeri yang
damai. Kita ingin rakyat Indonesia
makmur dan berkemajuan.
Umat Islam
jangan mau diadu domba, jangan mau dipecah belah. Indonesia adalah negara yang dibangun di
atas tetesan darah para syuhada. Negeri ini dibangun oleh para ulama yang
berjuang antara hidup dan mati. Indonesia adalah negara kita. Umat Islam
adalah pemilik dan
pewaris sah negeri ini. Jangan ragukan itu. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para
sultan dan raja raja nusantara bersama rakyatnya
berjuang melawan penjajah.
Umat Islam
tidak boleh berputus asa untuk melakukan perbaikan negeri ini. Jika umat islam
bersatu melakukan perubahan dan perbaikan, insyaa Allah masih ada harapan.
Bagaimana cara mengubah Indonesia
menjadi lebih baik lagi?
Caranya sederhana, jangan sampai
ada umat Islam yang golput. Pilihlah calon pemimpin, Muslim yang paling tinggi
komitmen ke-Islamannya dan berakhlak mulia. Pilihlah pemimpin muslim yang rekam
jejaknya tidak pernah mencederai umat Islam.
Apakah itu cukup?
Tentu belum, pemimpin harus
mampu memikul amanah. Akan tetapi, sebelum persyaratan yang lain dipenuhi,
kepemimpinan Islam harus di tangan orang Islam. Wajib bagi setiap muslim
memilih pemimpin muslim. Allah berifirman:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin
(auliya) bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.
Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ketetapan
ini sudah bersifat pasti. Jangan diragukan lagi. Jangan ada yang
menyelisihinya, dengan memberi tafsir macam-macam. Itulah ketentuan Allah, dan
semua ketentuan Allah pasti benar. Semua ketentuan Allah pasti membawa maslahat
dan manfaat. Sebaliknya, menyelisihi ketetapan Allah hanya akan mendatangkan
penyesalan dan kerusakan. Inilah panduan dan petunjuk memilih pemimpin dalam al-Qur’an.
Melalui PEMILU setidak-tidaknya
kita bisa mengubah nasib bangsa ini. Pertama, para pemimpin negara, mulai dari
presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil
bupati, serta walikota dan wakil walikota. Kedua, para legislator, pembuat
undang-undang. Mereka adalah anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota. Mereka adalah penentu arah kebijakan negara. Di tangan mereka nasib bangsa,
tidaknya selama periode kepemimpinannya ditentukan baik buruknya. Oleh sebab
itu, umat Islam harus aktif dalam menentukan pilihan. Jangan asal pilih.
Perhatikan rekam jejaknya. Di masa kampanye banyak serigala berbulu domba. Di
masa kampanye mereka ramah, setelah menang mereka lupa. Sebelum pemilihan
mereka merangkul, setelah berkuasa sampai hati mereka memukul. Tidak sungkan
mereka merayu meski akhirnya menipu.
Jangan mudah dibohongi oleh penampilan sesaat. Kenali secara benar
orang yang yang kita pilih, sebab setiap pilihan kita akan kita pertanggung
jawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niatkan saat memilih sebagai
ibadah. Niatkan untuk jihad membangun negeri yang lebih baik untuk mendapatkan
ridha Ilahi. Untuk itu, mari kita bermunajat
kepada Allah swt agar dipilihkan pemimpin yang amanah, jujur, cerdas, dan
aspiratif. Pemimpin yang peduli kepada rakyatnya dan rakyat mencintainya.