Sabtu, 29 September 2018

Metode Membaca Ar Ridha ke-1

Ada banyak metode yang dapat digunakan guru untuk mengajar membaca di kelas I SD IT. Beberapa metode pembelajaran membaca yang terkenal, yaitu:
1. Metode Abjad. yaitu guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa dengan memasang di papan tulis huruf : a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Masing-masing huruf juga ditulis dalam sebuah kartu (satu huruf satu kartu). Guru memberikan contoh cara membaca huruf dan siswa menirukan dengan cara klasikal (seluruh kelas) dan kemudian persiswa.
Jangan berpindah ke huruf lain sebelum huruf yang dikenalkan benar-benar dipahami oleh siswa. Ini penting; sebab, jika siswa belum paham kemudian guru menambah dengan huruf lain, maka siswa justru tidak akan bisa memahami apa-apa. Mereka menjadi cuek, tak mau lagi memperhatikan guru.
Apabila guru sering menegur anak-anak ini (yang belum paham dan berubah menjadi cuek), maka mereka akan frustrasi, dan mungkin tak mau lagi berangkat ke sekolah.
Nah, jika terjadi demikian, maka guru akan merasa sangat bersalah karena tidak berhasil membelajarkan siswa.
Apabila pengenalan huruf tadi sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia. Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad).
Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu.
Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata. Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan bisa menjadi kata yang bermakna. Misalnya: m a m a. Tempel atau tulis huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama.
Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menyimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma. Berikan contoh yang lain, misalnya: papananatata, dan lain-lain.
Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan. Namun untuk konsonan tidak perlu diberikan semua. Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan.
Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: amanas, dan lain-lain. Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: mandanbas, dan lain-lain.
2. Metode Kupas-Rangkai Suku Kata.Berbeda dari metode abjad di atas, metode kupas-rangkai suku kata ini dimulai dengan pengenalan kata terlebih dahulu. Misalnya: mama. Kita perlu juga menjelaskan arti kata mama itu kepada siswa agar mereka mendapatkan makna dari apa yang dipelajari.
Kata mama kemudian dipisahkan menjadi dua suku kata yaitu ma dan ma(ma-ma). Masing-masing suku kata dikupas lagi menjadi huruf-huruf, sehingga siswa mengenal bahwa kata mama itu terdiri dari huruf mama.
Mengingat empat huruf (yang sebetulnya hanya dua huruf) ini tentunya lebih mudah bagi siswa daripada langsung mengingat empat huruf misalnya madu (m-a-d-u). Jadi, mulai dari yang mudah dan dekat dengan kehidupan siswa, maka siswa akan lebih berhasil.
Kegiatan selanjutnya adalah mengenalkan kata-kata yang lain, sehingga pada akhirnya siswa bisa membaca sebuah kalimat, misalnya: ini mama saya; itu bola budi, dan lain-lain.
Contoh kata-kata yang mudah sebagai pendahuluan:
papa      pa-pa      p-a-p-a      pa-pa      papa
nana      na-na      n-a-n-a      na-na      nana
mata      ma-ta      m-a-t-a     ma-ta      mata
3. Metode Global. Menurut Teori Gestalt, suatu kesatuan lebih bermakna daripada bagian-bagian. Metode global dimulai dengan mengenalkan kalimat utuh kepada siswa.
Contohnya: ibu makan nasi, disertai gambar, anak membaca tulisan tersebut, baru guru menjelaskan huruf-huruf yang dirangkai membentuk suku kata, kata, dan kalimat.
Kalimat-kalimat dipilihkan yang sederhana dan pendek-pendek dahulu, agar siswa tidak mengalami kesulitan.
4. Metode SAS — Struktural Analisa Sintesa. Metode SAS dilaksanakan dengan menggunakan kartu kalimat dan papan flanel. Mula-mula guru menunjukkan gambar kepada siswa (jika benda asli bisa dihadirkan tentunya lebih baik jika benda asli ditunjukkan terlebih dahulu).
Misalnya guru menunjukkan bola kepada siswa, kemudian berkata, ”Anak-anak, ini bola.” Suruh siswa mengulangi kata-kata guru. ”ini apa?” Siswa menjawab, ”ini bola.”
Apabila siswa hanya menjawab bola saja, maka guru perlu membetulkan ucapan siswa, ”ini bola.” Guru menyuruh siswa menirukan kata-kata guru.
Kegiatan selanjutnya, guru menempelkan gambar bola di papan tulis. Di bawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru menunjukkan contoh membaca tulisan ini bola, dan siswa disuruh menirukan.
Pastikan bahwa siswa seluruh kelas memperhatikan tulisan ketika mengucapkan kalimat ini bola. Gambar diambil, tulisan ini bola tetap tertempel di papan tulis. Guru menyuruh siswa membaca kembali tulisan ini bola tadi.
Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis kalimat ini bola, menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Setelah itu, huruf-huruf dikembalikan menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat (sintesa).
Berikut adalah contohnya: membaca kalimat, gambar tidak diperlihatkan.
ini bola
ini     bola
i    ni       bo   la
i   n   i       b   o   l   a
i    ni       bo la
ini    bola
ini bola
Selain itu guru harus mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan indera belajar siswa. Artinya, pembelajaran yang dilaksanakan guru bersama siswa harus bisa memenuhi kebutuhan siswa yang dominan baik di Visual, Auditorial, maupun Kinestetik.
Sebab itu dalam pembelajaran harus ada: gambar, benda nyata, tulisan, dan lain-lain (yang isa diamati atau dilihat oleh kelompok Visual); suara yang bisa didengar atau huruf, kata, kalimat yang bisa diucapkan (untuk kelompok Auditorial); serta siswa bisa melakukan manipulasi benda atau alat-alat pelajaran (untuk kelompok kinestetik).

Jumat, 15 Juni 2018

JIKA UMAT ISLAM TIDAK PEDULI KEPEMIMPINAN ISLAM, MAKA JANGAN MENYESAL JIKA NANTI AKAN DIPIMPIN OLEH ORANG YANG TIDAK PEDULI TERHADAP ISLAM

Sukses dalam hidup dan menang dalam membangun peradaban adalah ketika umat Islam melandasi hidupnya pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam : persyaratan pertama untuk meraih kemenangan atau kesuksesan adalah jika umat Islam melandasi hidupnya dengan nilai-nilai keimanan. Keimanan pada yang ghaib, keimanan pada Allah, Malaikat, kitab suci Al-Qur’an, para rasul, hari akhir dan keimanan pada taqdir Allah.
Pilar kedua yang harus dimiliki oleh kita agar sukses dalam hidup dan dapat membangun peradaban adalah ilmu dan terus-menerus menimba ilmu baik ilmu Syariat maupun ilmu umum.
Pilar ketiga yang harus dilakukan kita untuk meraih kesuksesan hidup adalah amal shalih. Amal shalih mencakup unsur-unsur; ikhlas, baik, kompetensi dan professional. Iman dan ilmu tanpa amal tidak akan sempurna.
Selanjutnya umat Islam harus bermujahadah, bersungguh-sungguh dalam semua lapangan kehidupannnya. Bagi umat Islam tidak ada istilah libur dari amal shalih, tidak ada istilah pansiun dari ibadah, tidak ada istilah cuti dari kebaikan.
Salah satu ibadah dalam kehidupan adalah memilih pemimpin yang peduli terhadap Islam dengan cara mensukseskan PILKADA  yang dilakukan serentak di beberapa propinsi, kabupaten dan kota. Ada pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Rutinitas lima tahunan ini diharapkan menjadi  pesta rakyat, bukan  petaka rakyat. Rakyat  berbondong-bondong  ke TPS dengan suka cita, tanpa tekanan, intimidasi, dan tanggung jawab kepada Allah saat memilih. Tidak ada politik uang, tidak ada serangan fajar, dan tidak ada kecurangan, Semua berjalan aman dan damai. Langsung, bebas, jujur, dan adil. 
PILKADA  kali  ini  merupakan  ujian  bagi  umat  Islam, apakah  kita bisa  menjaga persatuan  dan  kesatuan  bangsa,  tanpa konflik  dan  permusuhan, karena kita merupakan  umat  yang  mayoritas. Kita tidak  ingin  bangsa ini tercabik-cabik karena politik dalam negeri yang kacau. Kita tidak ingin nasib  kita, bangsa Indonesia seperti  yang  dialami  bangsa-bangsa lain  di  belahan  dunia. Kita ingin  tetap  dapat  menjalankan  ibadah  dengan  khusyu  dalam  suasana negeri  yang  damai. Kita ingin  rakyat  Indonesia  makmur dan  berkemajuan.
Umat Islam jangan mau diadu domba, jangan mau dipecah belah. Indonesia  adalah negara yang dibangun di atas tetesan darah para syuhada. Negeri ini  dibangun oleh para ulama yang berjuang antara hidup dan mati. Indonesia adalah  negara kita. Umat  Islam  adalah  pemilik  dan  pewaris  sah  negeri ini. Jangan ragukan  itu. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para sultan dan raja raja nusantara bersama rakyatnya berjuang melawan penjajah.
Umat Islam tidak boleh berputus asa untuk melakukan perbaikan negeri ini. Jika umat islam bersatu melakukan perubahan dan perbaikan, insyaa Allah masih ada harapan.
Bagaimana cara mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi?
Caranya sederhana, jangan sampai ada umat Islam yang golput. Pilihlah calon pemimpin, Muslim yang paling tinggi komitmen ke-Islamannya dan berakhlak mulia. Pilihlah pemimpin muslim yang rekam jejaknya tidak pernah mencederai umat Islam.
Apakah itu cukup?
Tentu belum, pemimpin harus mampu memikul amanah. Akan tetapi, sebelum persyaratan yang lain dipenuhi, kepemimpinan Islam harus di tangan orang Islam. Wajib bagi setiap muslim memilih pemimpin muslim. Allah berifirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin (auliya) bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ketetapan ini sudah bersifat pasti. Jangan diragukan lagi. Jangan ada yang menyelisihinya, dengan memberi tafsir macam-macam. Itulah ketentuan Allah, dan semua ketentuan Allah pasti benar. Semua ketentuan Allah pasti membawa maslahat dan manfaat. Sebaliknya, menyelisihi ketetapan Allah hanya akan mendatangkan penyesalan dan kerusakan. Inilah panduan dan petunjuk memilih pemimpin dalam al-Qur’an.
Melalui PEMILU setidak-tidaknya kita bisa mengubah nasib bangsa ini. Pertama, para pemimpin negara, mulai dari presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota. Kedua, para legislator, pembuat undang-undang. Mereka adalah anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka adalah penentu arah kebijakan negara. Di tangan mereka nasib bangsa, tidaknya selama periode kepemimpinannya ditentukan baik buruknya. Oleh sebab itu, umat Islam harus aktif dalam menentukan pilihan. Jangan asal pilih. Perhatikan rekam jejaknya. Di masa kampanye banyak serigala berbulu domba. Di masa kampanye mereka ramah, setelah menang mereka lupa. Sebelum pemilihan mereka merangkul, setelah berkuasa sampai hati mereka memukul. Tidak sungkan mereka merayu meski akhirnya menipu.
Jangan mudah dibohongi oleh penampilan sesaat. Kenali secara benar orang yang yang kita pilih, sebab setiap pilihan kita akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niatkan saat memilih sebagai ibadah. Niatkan untuk jihad membangun negeri yang lebih baik untuk mendapatkan ridha Ilahi. Untuk itu, mari kita bermunajat kepada Allah swt agar dipilihkan pemimpin yang amanah, jujur, cerdas, dan aspiratif. Pemimpin yang peduli kepada rakyatnya dan rakyat mencintainya.

Selasa, 03 April 2018

IPHI SANTUNI ANAK YATIM DESA KE DESA SE KECAMATAN TG. PURA


Pantai Kwala Serapuh Tahun 2014
Pantai Kwala Serapuh Tahun 2014
Jum'at, 30 Maret 2018 Kunjunagn santunan di tiga tempat (Desa Kwala Serapuh, Kwala Langkat dan Lubuk Jaya)

IPHI Santuni Anak yatim sebanyak 18 Desa + 1 Kelurahan se Kec. Tanjung Pura diantaranya: 
=Kwala Langkat,=Kwala Serapuh,=Bubun,=Tapak Kuda,=Pematang Cengal,=Pematang Cengal Barat,=Pantai Cermin,=Suka Maju,=Karya Maju,=Lalang,=Pekubuan,=Pulau Banyak,=Pematang Serai,=Baja Kuning,=Teluk Bakung,=Paya Perupuk,=Pematang Tengah,=Serapuh Asli,=Pekan Tanjung Pura. Secara bergilir setiap bulannya menerima santunan anak yatim, kegiatan ini merupaka program Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia IPHI Kec. Tanjung Pura yang sudah berjalan hampir 4 tahun, atas kerja sama yang baik IPHI beserta masyarakat kegiatan ini berjalan dengan sukses sesuai amanah para donasi yang dihimpun setiap bulannya oleh Ustadz. Sudarto selaku koordinator anak yatim. Selain santunan anak yatim IPHI juga melaksanakan bimbingan ibadah haji dan umrah yang dilaksanakan di Jl. Khairil Anwar depan RS Tg.Pura, di rumah Ustadz. H. Muamar Al Qadri selaku koordinator KBIH IPHI Tg. Pura. 

Kegiatan safari jum'at dan santunan anak yatim yang di lakukan setiap bulannya merupakan suatu wadah untuk memperkokoh Ukhwah Islamiyah agar terjalin kasih sayang antar sesama, Ketua IPHI Ustadz H. M. Ridwan menyampaikan pentingnya persatuan dan kesatuan agar umat Islam tidak terpecah selain itu juga memperkenalkan istilah "Moh Limo" moh main (tidak berjudi), moh ngombe (tidak minum-minuman keras), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak menggunakan narkotik), moh madon (tidak berzina).
Pantai Kwala Serapuh Tahun 2018

IPHI juga menerima keluh kesah yang di sampaikan masyarakat baik adanya paham yang tidak sesuai ajaran Islam, jalan dan kawasan wisata yang kurang terperhatikan, Ustadz H. Zainudin Ilyas selaku wakil ketua IPHI dan juga wartawan Nasional menerima aspirasi warga yang disampaikan setiap kunjungan kedesa-desa diantaranya meninjau pantai yang pernah dikunjungi sebelumnya di Desa Kwala Serapuh kala itu pantainya luas, kini mulai abrasi, sampah berserakan dan pepohonan yang mati sehingga perlu sentuhan dan perhatian pemerintah dan warga agar bisa di kondisikan untuk dikelola sehingga bisa menambah penghasilan warga sekitar.

Kamis, 29 Maret 2018

YAYASAN PENDIDIKAN AR-RIDHA DESA PANTAI CERMIN












Yaspend Ar-Ridha, Menerima siswa/siswi baruTahun Ajaran 2018-2019  "PAUD-TK, SD IT dan SMK Islamic Centre", yang beralamat di Dusun Teladan Desa Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara, tanpa di pungut biaya (GRATIS) uang sekolah sampai tamat siswa SD IT Ar-Ridha dan SMK Islamic Centre.
Adapun fasilitas yang di sediakan ruang belajar yang nyaman sebanyak 11, ruang labolatorium 1, ruang kantor 1, Masjid Ar-Ridha dan klinik Bidan Nurbaiti,AMKEB, halaman parkir dan lapangan olahraga yang luas.
Masjid Ar-Ridha yang dipergunakan untuk menghafal Al-Qur'an, pengajian, sholat berjama'ah dan duha setip pagi menjadikan siswa-siswa menjadi anak yang berkarakter, sholeh dan sholehah yang menjadi kebanggaan orang tua, kelak membawa ke syurga dengan ilmu Al-Qur'an dan pengamalannya.
Amin ya rabbal 'alamin.

- Ketua Yayasan : Ustadz H. Ridwan
- Ka. Sekolah PAUD : Ustadzah Hj. Fatimah Syam
- Ka. SD Islam Terpadu Ar-Ridha : Ustadz H. Muamar Al Qadri, M.Pd
- Ka. SMK  Islamic Centre : Ustadz Muhammad Taufiq, AMK, S.Pd

https://web.facebook.com/yaspend.arridha

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)