Pendidikan Karakter Dalam
Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan
karakter mendapat perhatian yang amat besar dari Al-Qur’an dan Hadis, karena
merupakan misi dan tujuan utama Al-Qur’an dan Hadis itu sendiri. Seluruh aspek
ajaran Islam : akidah, ibadah, tasawuf, sejarah, ilmu pengetahuan, dan lainnya,
pada akhirnya agar manusia memiliki akhlak yang mulia, semangkin dekat dan
bertakwa kepada Allah SWT.
Pentingnya
pendidikan dalam mendidik anak menjadi pesan kuat dari Al-Qur’an. Sebab
pendidikan adalah sarana penting dalam pembentukan akhlak dan kunci
keberhasilan seseorang. Sehingga Allah juga menegaskan bahwa Rasulullah
merupakan panutan utama manusia. Allah SWT berfirman dalam surat
Al-Ahzab ayat 21:
Artinya : “Sungguh, telah ada suri
teladan yang baik pada (diri) Rasulullah bagimu, (yaitu) bagi orang yang
mengharaf (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat
Allah.”[1]
Ayat diatas menegaskan bahwa dengan
meneladani Rasulullah berarti ia telah belajar dari kehidupan manusia yang
sangat mulia disisi Allah. Karena dalam Konsepsi Islami “Muhammad Rasulullah
adalah al-mu’allim al-awwal (pendidik
pertama dan utama), yang telah dididik oleh Allah Rabb al-‘Alamin ” [2]. Pendidik teladan dan percontohan ada dalam
pribadi Rasulullah yang telah mencapai tingkatan pengetahuan yang tinggi,
akhlak yang luhur dan menggunakan alat dan metode yang tepat. Dalam proses belajar tentu ada sebuah
perubahan yang jelas pada diri seseorang. “Belajar adalah suatu
perubahan yang terjadi dalam diri organisme manusia atau hewan, disebabkan oleh
pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.”[3]
Hampir semua
unsur yang berkaitan dengan kependidikan terdapat di dalam Al-Qur’an,
Rasulullah SAW yang menerima dan bertugas untuk menyampaikan dan
mengajarkannya. Dalam suksesnya pendidikan, Kitab suci Al-Qur’an menguraikan
banyak hal, antara lain, pengalaman para nabi, rasul, dan mereka yang
memperoleh hikmah dari Allah SWT. salah seorang yang memperoleh hikmah itu
adalah Luqman a.s yang telah sukses membentuk karakter anaknya melalui
pendidikan, sehingga Allah memberi hikmah kepada Luqman, Allah SWT berfirman
dalam surah Luqman ayat 12 :
Artinya : “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman,
yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada
Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa
yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”[4]
Pendidikan pada
hakikatnya adalah peniruan dan pembiasaan, sehingga sebagai sosok ayah Luqman
senantiasa memberikan tauladan dan nasehat yang baik kepada anaknya, Allah
jelaskan kembali didalam Al-Qur’an untuk dapat di ambil iktibar dan pelajaran
untuk senantiasa bersyukur, tidak mempersekutukan Allah, berbuat baik pada
kedua Ibu dan Bapak, tidak sombong, sederhana, tidak meninggikan suara dan
senantiasa beribadah dengan tuntunan yang benar, dengan demikian mencoba untuk
menjadikan siswa sebagai sosok Luqman. Personifikasi Luqman yang begitu
melegenda dan menjadi nama salah satu surah dalam Al-Qur’an. “Lukman sosok yang
melambangkan kearifan, sebagai pola kebijaksanaan atau hikmah dan pola kematangan ruhani” [5].
Pendidikan
karakter bangsa Indonesia telah dipelopori oleh tokoh pendidikan Ki Hadjar
Dewantara yang tertuang dalam tiga kalimat yang berbunyi :
Ing
ngarsa sung tuladha, didepan
memberikan teladan. Ketika berada di depan dapat memberikan teladan, contoh dan
panutan
Ing
madya mbangun karsa, ditengah
membangun kehendak. Ketika berada di tengah peserta didik hendaknya guru bisa
menjadi penyatu tujuan dan cita-cita peserta didiknya.
Tut
wuri handayani, dibelakang
memberikan dorongan. Guru yang memiliki maka “digugu dan ditiru” (dipercaya dan
docontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter kepada
peserta didiknya.[6]
a.
Pengertian Pendidikan Karakter
Secara etimologis, “kata karakter berarti tabiat,
watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan orang lain (Poerwadarminta, 1996:521).”[7]
“Dalam bahasa Arab, karakter diartikan Khuluq, sajiyyah, thab’u’ (budi pekerti,
tabiat atau watak). Kadang juga diartikan syakhsiyyah
yang artinya lebih dekat dengan personality
(kepribadian).”[8]
Sedangkan secara terminologis, menurut Philips
“karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang
melandasi pemikiran sikap dan perilaku yang di tampilkan.”[9]
Dari konsep karakter ini muncul istilah pendidikan
karakter (character education). Menurut
Ratna Megawangi “Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik
anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan
bijak dan memperaktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat
memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.”[10]
Defenisi yang lain dikemukakan oleh Fakry Gaffar “pendidikan karakter adalah
sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan
dalam kepribadian seseorang, sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan
orang itu.”[11]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan pendidikan karakter adalah bukan jenis mata pelajaran seperti
Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan
Moral Pancasila atau lainnya, tetapi merupakan proses internalisasi atau
penanaman nilai-nilai positif kepada peserta didik agar mereka memiliki
karakter yang baik (good character)
sesuai dengan nilai-nilai yang dirujuk, baik dari agama, budaya, maupun
falsafah bangsa.
Pengertian pendidikan karakter yang demikian itu jika
dihubungkan dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah tampak memiliki berbagai kesamaan.
Didalam Al-Qur’an kata-kata karakter dalam arti sifat, tabi’at dan sikap batin
sebagaimana tersebut diatas mirip dengan pengertian akhlaq yang jamaknya khuluq. Di
dalam Al-Qur’an misalnya terdapat ayat yang artinya : Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang
agung. (QS Al-Qalam ayat 4 ).
Ketika menjelaskan tentang karakter, Al-Qur’an
memperkenalkan sejumlah karakter yang buruk yang apabila orang
memperaktekkannya akan berakibat kerugian dan kesengsaraan, dan karakter yang
baik yang apabila orang memperaktekkannya akan mendapatkan keberuntungan dan
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an misalnya memperkenalkan karakter
fir’aun yang sombong, melanggar larangan tuhan, melampaui batas, berbuat zolim,
durhaka, dictator dan otoriter, dan mengaku dirinya sebagai Tuhan, dan
memperkenalkan pula karakter Nabi Muhammad SAW kasih sayang terhadap sesama,
senantiasa ruku, sujud dan senantiasa mengharapkan keridhaan Allah.
Pendidikan
karakter menurut Al-Qur’an lebih ditekankan pada membiasakan orang agar
memperaktekkan dan mengamalkan nilai-nilai yang baik dan menjauhi nilai-nilai
yang buruk dan ditujukan agar manusia mengetahui tentang cara hidup, atau
bagaimana seharusnya hidup, karakter (akhlak) menjawab pertayaan manusia
tentang manakah hidup yang baik bagi manusia, dan bagaimanakah seharusnya
berbuat, agar hidup memiliki nilai, kesucian dan kemuliaan. [12]
Oleh karena itu pendidikan karakter
menurut Al-Qur’an ditujukan untuk mengeluarkan dan membebaskan manusia dari
kehidupan yang gelap (tersesat) kepada kehidupan yang terang (lurus) Allah SWT
berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 43:
Artinya : “Dialah yang memberi rahmat
kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan
kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang
kepada orang-orang yang beriman” [13]
Ayat diatas menegaskan bahwasanya
Allah memberikan rahmatnya kepada seluruh kaum Mukmin dan senantiasa memberikan
petunjuk kejalan yang lurus yaitu kepada orang-orang yang beriman. Allah juga
berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah ayat 2 yang menunjukkan manusia
dari kehidupan yang keliru kepda kehidupan yang benar :
Artinya : “Dia-lah yang mengutus
kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan
hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan
yang nyata” [14]
Karena manusia dilahirkan tidak
memiliki pengetahuan, maka ia disuruh belajar. Diantaranya bertanya kepada
orang yang memiliki ilmu pengetahuan agar tidak terjadi perselisihan dan
permusuhan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 103 :
Artinya : “Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. [15]
Oleh
karena itu tujuan pendidikan karakter yang demikian telah berhasil dilakukan
oleh Nabi Muhammad SAW. Abdul Hasan Ali Al-Hasani al-Nadwiy berkata :
Muhammad bin Abdullah
diutus Allah sebagi Nabi dan Rasul tepat dalam keadaan dunia laksana satu
bangunan yang sedang digoncang hebat sekali oleh gempa, sehingga semua isinya
berantakan tidak berada ditempat semestinya. Ada sebagian dari tiang-tiang dan
perkakasnya yang rusak dan hancur, ada yang miring dan bengkok, ada yang
bergeser dari tempatnya semula pindah ke tempat yang lain yang tidak pantas,
dan ada juga yang tumpang tindih saling bertumpuk.[16]
Selanjutnya Al-Qur’an memperkenalkan tentang karakter
orang-orang yang baik dengan menggunakan istilah seperti al-mukmin, yaitu orang yang apabila disebut nama Allah bergetar
hatinya, dan apabila dibaca ayat-ayat Allah kepadanya semangkin bertambah
keimanannya dan kemudian bertawakal kepada Allah SWT. (QS Al-Anfal, 8:3), al-muttaqin, yaitu orang yang memiliki keimanan yang kokoh,
memiliki kepedulian sosial, membangun hubungan vertikal dengan Tuhan dan
horizontal dengan sesama manusia, senantiasa menepati janji, bersikap tabah dan
sabar dalam menghadapi penderitaan (QS Al-Baqarah, 2:177), senantiasa berinfak
di jalan Allah baik dalam keadaan lapang (berharta) maupun sempit (tidak
berharta), menahan amarah, dan memaafkan manusia. (QS Ali Imran, 3:134). al-mukhlisin, al-shabirin, al-mutawakkilin, dan
lain sebaginya. Selain itu, Al-Qur’an juga mengenalkan tentang sejumlah
karakter yang buruk yang selanjutnya disebut sebagai penyakit hati, yaitu
pesimisme, dusta, munafik, ghibah, mencari-cari kesalahan orang, dengki,
sombong, zolim, permusuhan dan kebencian, marah, khianat, kikir, serakah,
berbantah dan boros.
Dengan
demikian, menurut Al-Qur’an karakter adalah “sifat yang melekat, yang sudah
dibiasakan, dipraktekkan, dikerjakan, ditradisikan, diinternalisasikan dan
ditransformasikan kedalam diri seseorang” [17].
Al-Qur’an bukan meminta manusia menjadi amanu,
tapi mukminun, bukan ittaqa, tapi muttaqin, bukan aslama tapi
muslimun, bukan akhlasha, tapi mukhlisun.
Mukminun, muttaqin, muslimun dan mukhlisin menggambarkan bahwa berbagai
predikat tersebut telah mendarah daging dan menjadikan karakternya. Sedangkan
jika amanu, ittaqa, asalam dan akhlasha baru sampai pada proses, belum
menunjukkan hasil. Untuk mencapai keadaan yang demikian itu cukup berat dan banyak
kendalanya, serta merupakan sebuah proses perjuangan yang panjang. Oleh karena
itu, penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam diri manusia menurut
Al-Qur’an dan Hadis adalah sebuah perjuangan atau jihad yang paling berat,
yakni jihad al-nafs, perang
mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu, bujukan setan dan karakter yang
buruk.
Berkenaan dengan karakter yang buruk Rasulullah SAW
bersabda yang di riwayatkan dari Abu Hurairah :
Artinya :
“Ciri-ciri orang munafik ada tiga : jika berbicara ia
berdusta, jika berjanji ia pungkiri dan jika diberi amanat ia khianat.” (HR.
Bukhari) [18]
Hadits
tersebut diatas menjelaskan karakter yang bukuk, jika ketiga hal tersebut ada pada diri seseorang maka
ia akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW Bersabda yang
artinya, “Perbuatan yang paling banyak memasukkan manusia ke surga adalah
bertakwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik, sedangkan yang paling banyak
menyebabkan manusia masuk neraka ialah mulut dan kemaluan. (HR. Tirmidzi).”
[19]
b.
Kedudukan Pendidikan
Karakter
Tingginya kedudukan pendidikan karakter menurut Al-Qur’an dapat pula dilihat dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an tersebut yang berkaitan dengan akhlak. Menurut hasil penelitian Omar Muhammad al-Toumy alo-Syaibani, bahwa didalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 1.504 (seribu lima ratus empat ayat) yang berhubungan dengan akhlak, baik dari segi teori maupun dari segi praktis. Dengan kata lain, bahwa seperempat ayat Al-Qur’an berkenaan dengan akhlak. Jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan akhlak tersebut sungguhpun kata-kata akhlak disebutkan tidak sebanyak itu jumlahnya, namun subtansinya berkaitan dengan akhlak. Selain Al-Qur’an Hadist juga banyak menjelaskan tentang keutamaan dan pentingnya akhlak sebagai mana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :
Artinya :
“Perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam
syurga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang terpuji.” (Hadits riwayat
At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim) [20]
Hadits tersebut menjelaskan begitu pentingnya akhlak
yang baik sehingga Rasulullah SAW sering
mengucapkan do’a, Diriwayatkan dari Quthbah bin Malik r.a Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :
“Ya Allah,
jauhkanlah aku dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, tingkah laku, hawa nafsu
dan penyakit.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim) [21]
Do’a di atas adalah sebagai bukti yang tak terbantahkan,
bahwa Rasulullah memiliki perhatian yang serius terhadap keindahan akhlak, dan
keinginan beliau yang kuat agar kaum muslimin menghiasi diri mereka dengannya,
meskipun Rasulullah telah mencapai ketinggian akhlak. Maka dari itu akhlak yang
baik adalah “kalimat yang sempurna, termasuk didalamnya setiap akhlak mulia
yang menjadi perhiasan manusia dan mensucikan jiwa dengannya seperti sifat
malu, santun, lembut, pemaaf, toleransi, cerah ceria, jujur, amanah, memberi
nasihat, istiqomah dan ketulusan hati dan lain sebagainya dari akhlak yang
terpuji.” [22]
c.
Tujuan Pendidikan
Karakter
Tujuan
pendidikan karakter adalah untuk menyempurnakan kemulian budi pekerti manusia, Rasulullah
Saw bersabda :
Artinya: ”Sesungguhnya
tidak lain aku diutus melainkan untuk menyempurnakan kemulian budi pekerti.(HR
Al-Bukhari dan Muslim)”[23]
Hadis tersebut diatas menegaskan bahwa tujuan utama
Pendidikan karakter ialah untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif,
berakhlak mulia, bermoral, toleran, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semuanya
dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan dari Abu Dzar
bin Junadah dan Abdurrahman Muadz bin Jabal ra :
Artinya :
“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada.
Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan
menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR
Tirmiddzi)” [24]
Sedangkan
dalam aturan yang lebih operasional, khususnya di tinggat satuan pendidikan,
pendidikan karakter memiliki beberapa tujuan sebagai berikut :
1. mengembangkan potensi
kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang
memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan
dan prilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal
dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. menanamkan jiwa
kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. mengembangkan kemampuan
peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan
; dan
5. mengembangkan lingkungan
kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh
kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan
penuh kekuatan.[25]
Untuk
mewujudkan hal tersebut diatas pendidikan karakter memfasilitasi pengetahuan
dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam prilaku anak,
baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah. Maka dari itu tujuan
pendidikan karakter disekolah/madrasah terbagi menjadi dua bagian :
1)
Bagi
peserta didik yaitu “mendorong tercapainya keberhasilan belajar peserta didik,
serta bertujuan untuk mendewasakan peserta didik agar memiliki kepekaan
terhadap nilai-nilai moral yang paripurna, serta seimbang antara kecerdasan
intelektual, emosional, dan spiritual” [26].
2)
Bagi
guru/pendidik yaitu agar dapat memberi serta menjadikan dirinya suri teladan
bagi semua lingkungan sekolah, terutama kepada siswa/peserta didik, sehingga
guru memiliki profesionalisme serta tanggung jawab penuh untuk membangun
peradaban bangsa melalui lembaga pendidikan.
Tujuan
lain dalam pendidikan karakter adalah
untuk menumbuhkan semangat
belajar peserta didik. Adapun faktor untuk menumbuhkan semangat belajar
tersebut ialah :
Memberikan respons yang
positif, Memberikan cerita-cerita yang inspiratif, Membuat Slogan “Pemacu
Semangat”, Menampilkan gambar-gambar yang berkesan, Memberikan penghargaan,
Menginformasikan rencana pembelajaran, Memberikan waktu rihat di tengah
pembelajaran, menciptakan suasana pembelajaran yang baru, Menjaga konsistensi
antara perkataan dan perbuatan, mengajarkan cara memecahkan masalah dengan
bijak, Membuat kejutan yang menyenangkan, Membuat buku komunikasi (catatan
perkembanagn anak didik).[27]
Dengan cara tersebut diatas
mudah-mudahan pembelajaran menjadi “PAIKEM GEMROT” pembelajaran, aktif,
inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira dan berbobot, sehingga
pendidikan karakter yang diinginkan dapat terlaksana sesuai dengan tuntunan
Al-Quran dan Hadist.
d.
Nilai-nilai yang
dikembangkan dalam Pendidikan Karakter
Seperti
dikembangkan sebelumnya bahwa inti pendidikan karakter bukanlah sekedar
mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik tentang mana yang baik dan mana
yang buruk. Namun lebih dari itu, pendidikan karakter adalah proses menanamkan
(internalisasi) nilai-nilai positif kepada peserta didik melalui berbagai
metode dan strategi yang tepat.
Dalam rangka memperkuat
pendidikan karakter, pemerintah sebenarnya telah mengidentifikasi 18 nilai yang
bersumber dari agama, budaya dan falsafah bangsa, yaitu: (1) religius, (2)
jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri,
(8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah
air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai,
(15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18)
tanggung jawab.[28]
Sedangkan
jika dilihat dari nilai budaya terdapat sejumlah nilai yang dapat dijadikan
karakter yaitu “ketakwaan, kearifan, keadilan, kesetaraan, harga diri, percaya
diri, harmoni, kemandirian, kepedulian,kerukunan, ketabahan, kreativitas,
kompetitif, kerja keras, keuletan, kehormatan, kedisiplinan dan keteladanan”.[29]
Untuk
menanamkan nilai diatas tentunya masih disesuaikan dengan pertumbuhan
psikologis anak dengan berpihak pada keadaannya. Guru dapat memberikan dengan
cara bermain sambil belajar. Atau memberikan teladan seperti berlaku sopan
dengan demikian anak menjadi perhatian dan meniru perilaku guru. Bisa juga
melalui pendekatan tematik, disesuaikan atas situasi dan kondisi anak, tidak
sembarangan sehingga tepat sasaran dan
memberdayakan lingkungan sekitarnya yang membawa anak merasa dihargai, nyaman,
aman, bebas berkreasi, bebas menuangkan ide-idenya.
Jika
ingin mulai membangun karakter anak, maka besar harapannya bahwa anak
berkarakter baik. “Karakter yang terbentuk secara baik merupakan hasil dari
hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan (hubungan social dan alam
sekitar), dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa” [30].
Maka
dari itu yang merasakan manfaatnya bukan saja individunya saja, tetapi juga
masyarakat dan Negara. Oleh karena itu, didalam membangun karakter anak dapat
dilakukan melalui jalur pendidikan formal, non formal maupun informal, semuanya
saling melengkapi di dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak.
e.
Strategi Pendidikan
Karakter
Strategi
pendidikan karakter menurut Al-Qur’an dan hadis menggunkan seluruh peluang dan
kemungkinan yang sejalan dengan fitrah manusia, yaitu memudahkan antara teori
(kognitif), penghayatan (afektif), dan pengamalan (psikomotorik), menggunakan
pilar rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Menurut
buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementrian
Pendidikan Nasional, bahwa strategi pelaksanaan pendidikan karakter di
sekolah/madrasah dapat dilakukan dengan 4 (empat) cara, yaitu :
1)
Mengintegrasikan
ke setiap mata pelajaran
Mengintegrasikan
kesetiap mata pelajaran bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai pendidikan
karakter disetiap mata pelajaran, sehingga menyadari akan pentingnya
nilai-nilai tersebut dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku
peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di
dalam maupun di luar kelas.
2)
Pengembangan
budaya sekolah
Pengembanagna
budaya sekolah dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu dalam bentuk:
a.
Kegiatan rutin, yaitu kegiatan yang
dilakukan siswa secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contohnya:
tilawah atau tahfidz Al-Qur’an sebelum jam pelajaran, sholat dhuha, sholat dhuhur berjamaah,
operasi semut, makan siang bersama, upacara hari senin, dan lain-lain.
b.
Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang
dilakukan secara sepontan tanpa direncanakan terlebih dahulu, atau disebut juga
kegiatan incidental. Contohnya: pengumpulan sumbangan ketika terjadi bencana.
c.
Keteladanan, yaitu prilaku atau
sikap guru dan tenaga kependidikan dalam
memberikan contoh melalui tindakan baik, sehingga menjadi panutan bagi siswa.
d.
Pengkondisian, yaitu upaya sekolah
untuk menata lingkungan fisik maupun non fisik demi terciptanya suasana yang
mendukung terlaksananya pendidikan karakter.
3)
Melalui
kegiatan ekstra kurikuler
Kegiatan
ekstra kurikuler, merupakan kegiata-kegiatan diluar jam pelajaran dalam rangka
menyalurkan minat, bakat, dan hobi siswa, juga untuk mendukung pelaksanaan
pendidikan karakter.
4)
Kegiatan
keseharian di rumah
Keluarga atau
rumah merupakan patner penting pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.
Sekolah sebaiknya mengajak orang tua
untuk bersama-sama memantau aktivitas siswa dirumah dengan cara
menyediakan kartu monitoring yang kemudian dilaporkan ke sekolah sebulan dua
kali atau sebulan sekali tergantung kesepakatan pihak sekolah dengan orang tua.
Untuk
mendapatkan hasil pendidikan karakter yang baik, maka sekolah perlu mengadakan
kerja sama yang erat dan harmonis antara sekolah dan keluarga atau orang tua.
Dengan kerja sama itu, orang tua akan mendapatkan :
a. Pengetahuan dan
pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak-anaknya
b. Mengetahui berbagai
kesulitan yang sering dihadapi anak-anaknya di sekolah
c. Mengetahui tingkah laku
anaknya selama di sekolah, seperti apakah anaknya rajin, malas, suka membolos,
suka mengantuk, nakal dan sebagainya.
Sedangkan bagi guru,
dengan kerja sama tersebut akan mendapatkan:
a. Informasi-infornasi dari
orang tua tentang kehidupan dan sifat-sifat anaknya. Informasi-informasi
tersebut sangat berguna bagi guru dalam memberikan pendidikan kepada anak
didiknya.
b. Bantuan-bantuan dari
orang tua dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi anak didiknya di sekolah.[31]
Daftar Bacaan :
Abdullah, Mas Udik, Meledakkan IESQ Dengan Langkah Takwa dan Tawakal, Jakarta : Zikrul,
2005
Agustian, Ary
Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun
Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Jakarta :Arga Tilanta, 2003 Jilid 2
Ahmad, Zainuddin, Ringkasan Sahih Bukhari, Saudi Arabia :
Dar Al-Kitab Wa Al-Sunna, 2010
al-‘asqolaany, Imam Ibnu
Hajar, Syarah Bulughul Maram, Saudi
Arabia : Darul Furqon,1394 H.
Albarobis, Muhyidin, Mendidik
Generasi Bangsa, Yogyakarta: Pedagogia, 2012
Al-Hashimi, Muhammad Ali,
Kepribadian Wanita Muslimah, Saudi
Arabia : International Islamic
Publishing hause,2006
Al-Khaubary, Usman Bin
Hasan Bin Ahmad Asy-syakir, Terjemah
Lengkap Durratun Nashihin, Surabaya : Pustaka Adil,
____________
Al-Malibary, Al-Imam
Zaenuddin, Bimbingan Mu’min, Surabaya:
Pustaka Adil,____
Al-Mubarakfuri, Syaikh
Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul
Yang Agung Muhammad SAW dari Kelahiran
Hingga Detik-detik Terakhir, Riyadh : Darussalam, 2008
Anwar, Dessy, Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Karya Abditama, 2001
Aqib, Zainal, Pendidikan
Karakter Membangun Prilaku Positif bangsa, Bandung: Yrama Widya, 2011
At-Tirmidzi, Terjemah Hadits Mengenai Pribadi dan Budi
Pekerti Rasulullah SAW, Bandung : Diponegoro,
1998
Boang, Aisyah, Mozaik
Pemikiran Islam: Bunga serampai Pemikiran Pendidikan Indonesia, Jakarta: Ditjen Dikti, 2011
Dahlan, K.H.Q Shaleh dan
H.A.A, Asbabun Nuzul, Bandung :
Diponegoro, 2007
Daryanto, Kamus Bahasa
Indonesia Lengkap, Surabaya : Apollo,
1997
Fitri, Agus Zaenul, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai & Etika di Sekolah, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012
Hatta, Ahmad, Tafsir Qur’an
Perkata, Jakarta: Maghfirah, 2009
Hawa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Jakarta “ Robbani, 2010
Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Semarang : Asy-syifa’,
2003
Khalid, Muh, Karakteristik Prihidup Enam Puluh Sahabat
Rasulullah, Bandung : Diponegoro,
2006
Muslich, Masnur Pendidikan
karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional,
Jakarta: Bumi Aksara, 2011
Nata, Abuddin, Kapita Selekta Pendidikan Isalm, Jakarta:
Rajawali Pers, 2012
Nawai, Imam, Terjemah Riyadhus Shalihin, jakarta :
Pustaka Amani, 1999
Rothomy, Moh Abdai, Bimbingan Mukmin, Bandung : Diponegoro,
1975
Saebani, Ahmad dan Hamid, Abdul, Ilmu
Akhlak, Bandung: Pustaka Setia, 2010
Sahlan, Asmaun dan Prastyo, Angga Teguh, Desain Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter, Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012
Sarijaya, H.E Syibli, Tafsir Ayat-ayat Ahkam, Jakarta :
Rajawali Pers, 2008
Sholikhin, KH. Muhammad, Ternyata Masuk Syurga itu Mudah,__ :Cakrawala,2010
Suharto, Toto, Filsafat
Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011
Suyadi, Menerapkan Pendidikan
Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Mentari, 2012
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persoda, 2009
Syarbini, Amirulloh, Buku Pintar
Pendidikan Karakter, Jakarta: As@-prima, 2012
Tridhonanto, Al & Agency, Beranda, Membangun Karakter Sejak Dini, Jakarta: Media, 2012
Usman, K.H.M Ali dkk, Hadist Qudsi, Bandung : Diponegoro, 1975
Wiyani, Novan Ardy, Manajemen Pendidikan Karakter,Yogyakarta: Pedagogia,2012
Yonny, Acep, Cara
Cerdas Membangkitkan Semangat Belajar Siswa, Yogyakarta: Citra Aji Parama, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar