Kamis, 17 November 2016

Yayasan Pendidikan Islam Ar-Ridha Kec. Tanjung Pura Kab. Langkat Menjadikan Siswa Berkarakter

 Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan karakter mendapat perhatian yang amat besar dari Al-Qur’an dan Hadis, karena merupakan misi dan tujuan utama Al-Qur’an dan Hadis itu sendiri. Seluruh aspek ajaran Islam : akidah, ibadah, tasawuf, sejarah, ilmu pengetahuan, dan lainnya, pada akhirnya agar manusia memiliki akhlak yang mulia, semangkin dekat dan bertakwa kepada Allah SWT.
Pentingnya pendidikan dalam mendidik anak menjadi pesan kuat dari Al-Qur’an. Sebab pendidikan adalah sarana penting dalam pembentukan akhlak dan kunci keberhasilan seseorang. Sehingga Allah juga menegaskan bahwa Rasulullah merupakan panutan utama manusia. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
Artinya : Sungguh, telah ada suri teladan yang baik pada (diri) Rasulullah bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharaf (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”[1]
Ayat diatas menegaskan bahwa dengan meneladani Rasulullah berarti ia telah belajar dari kehidupan manusia yang sangat mulia disisi Allah. Karena dalam Konsepsi Islami “Muhammad Rasulullah adalah al-mu’allim al-awwal (pendidik pertama dan utama), yang telah dididik oleh Allah Rabb al-‘Alamin [2].   Pendidik teladan dan percontohan ada dalam pribadi Rasulullah yang telah mencapai tingkatan pengetahuan yang tinggi, akhlak yang luhur dan menggunakan alat dan metode yang tepat.  Dalam proses belajar tentu ada sebuah perubahan yang jelas pada diri seseorang. “Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.”[3]
Hampir semua unsur yang berkaitan dengan kependidikan terdapat di dalam Al-Qur’an, Rasulullah SAW yang menerima dan bertugas untuk menyampaikan dan mengajarkannya. Dalam suksesnya pendidikan, Kitab suci Al-Qur’an menguraikan banyak hal, antara lain, pengalaman para nabi, rasul, dan mereka yang memperoleh hikmah dari Allah SWT. salah seorang yang memperoleh hikmah itu adalah Luqman a.s yang telah sukses membentuk karakter anaknya melalui pendidikan, sehingga Allah memberi hikmah kepada Luqman, Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 12 : 
Artinya : “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[4]
Pendidikan pada hakikatnya adalah peniruan dan pembiasaan, sehingga sebagai sosok ayah Luqman senantiasa memberikan tauladan dan nasehat yang baik kepada anaknya, Allah jelaskan kembali didalam Al-Qur’an untuk dapat di ambil iktibar dan pelajaran untuk senantiasa bersyukur, tidak mempersekutukan Allah, berbuat baik pada kedua Ibu dan Bapak, tidak sombong, sederhana, tidak meninggikan suara dan senantiasa beribadah dengan tuntunan yang benar, dengan demikian mencoba untuk menjadikan siswa sebagai sosok Luqman. Personifikasi Luqman yang begitu melegenda dan menjadi nama salah satu surah dalam Al-Qur’an. “Lukman sosok yang melambangkan kearifan, sebagai pola kebijaksanaan atau hikmah  dan pola kematangan ruhani” [5].

Pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dipelopori oleh tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang tertuang dalam tiga kalimat yang berbunyi :
Ing ngarsa sung tuladha, didepan memberikan teladan. Ketika berada di depan dapat memberikan teladan, contoh dan panutan
Ing madya mbangun karsa, ditengah membangun kehendak. Ketika berada di tengah peserta didik hendaknya guru bisa menjadi penyatu tujuan dan cita-cita peserta didiknya.
Tut wuri handayani, dibelakang memberikan dorongan. Guru yang memiliki maka “digugu dan ditiru” (dipercaya dan docontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya.[6]


a.    Pengertian Pendidikan Karakter
Secara etimologis, “kata karakter berarti tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain (Poerwadarminta, 1996:521).”[7]
“Dalam bahasa Arab, karakter diartikan Khuluq, sajiyyah, thab’u’ (budi pekerti, tabiat atau watak). Kadang juga diartikan syakhsiyyah yang artinya lebih dekat dengan personality (kepribadian).”[8]
Sedangkan secara terminologis, menurut Philips “karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran sikap dan perilaku yang di tampilkan.”[9]
Dari konsep karakter ini muncul istilah pendidikan karakter (character education). Menurut Ratna Megawangi “Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan   dengan bijak dan memperaktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.”[10] Defenisi yang lain dikemukakan oleh Fakry Gaffar “pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang, sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu.”[11]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah bukan jenis mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan  Moral Pancasila atau lainnya, tetapi merupakan proses internalisasi atau penanaman nilai-nilai positif kepada peserta didik agar mereka memiliki karakter yang baik (good character) sesuai dengan nilai-nilai yang dirujuk, baik dari agama, budaya, maupun falsafah bangsa.
Pengertian pendidikan karakter yang demikian itu jika dihubungkan dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah tampak memiliki berbagai kesamaan. Didalam Al-Qur’an kata-kata karakter dalam arti sifat, tabi’at dan sikap batin sebagaimana tersebut diatas mirip dengan pengertian akhlaq yang jamaknya khuluq. Di dalam Al-Qur’an misalnya terdapat ayat yang artinya : Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS Al-Qalam ayat 4 ).
Ketika menjelaskan tentang karakter, Al-Qur’an memperkenalkan sejumlah karakter yang buruk yang apabila orang memperaktekkannya akan berakibat kerugian dan kesengsaraan, dan karakter yang baik yang apabila orang memperaktekkannya akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an misalnya memperkenalkan karakter fir’aun yang sombong, melanggar larangan tuhan, melampaui batas, berbuat zolim, durhaka, dictator dan otoriter, dan mengaku dirinya sebagai Tuhan, dan memperkenalkan pula karakter Nabi Muhammad SAW kasih sayang terhadap sesama, senantiasa ruku, sujud dan senantiasa mengharapkan keridhaan Allah.
Pendidikan karakter menurut Al-Qur’an lebih ditekankan pada membiasakan orang agar memperaktekkan dan mengamalkan nilai-nilai yang baik dan menjauhi nilai-nilai yang buruk dan ditujukan agar manusia mengetahui tentang cara hidup, atau bagaimana seharusnya hidup, karakter (akhlak) menjawab pertayaan manusia tentang manakah hidup yang baik bagi manusia, dan bagaimanakah seharusnya berbuat, agar hidup memiliki nilai, kesucian dan kemuliaan. [12]

Oleh karena itu pendidikan karakter menurut Al-Qur’an ditujukan untuk mengeluarkan dan membebaskan manusia dari kehidupan yang gelap (tersesat) kepada kehidupan yang terang (lurus) Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 43:
Artinya : “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” [13]
Ayat diatas menegaskan bahwasanya Allah memberikan rahmatnya kepada seluruh kaum Mukmin dan senantiasa memberikan petunjuk kejalan yang lurus yaitu kepada orang-orang yang beriman. Allah juga berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah ayat 2 yang menunjukkan manusia dari kehidupan yang keliru kepda kehidupan yang benar : 
Artinya : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [14]
Karena manusia dilahirkan tidak memiliki pengetahuan, maka ia disuruh belajar. Diantaranya bertanya kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan agar tidak terjadi perselisihan dan permusuhan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 103 :
Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. [15]
Oleh karena itu tujuan pendidikan karakter yang demikian telah berhasil dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Abdul Hasan Ali Al-Hasani al-Nadwiy berkata :
Muhammad bin Abdullah diutus Allah sebagi Nabi dan Rasul tepat dalam keadaan dunia laksana satu bangunan yang sedang digoncang hebat sekali oleh gempa, sehingga semua isinya berantakan tidak berada ditempat semestinya. Ada sebagian dari tiang-tiang dan perkakasnya yang rusak dan hancur, ada yang miring dan bengkok, ada yang bergeser dari tempatnya semula pindah ke tempat yang lain yang tidak pantas, dan ada juga yang tumpang tindih saling bertumpuk.[16]

Selanjutnya  Al-Qur’an memperkenalkan tentang karakter orang-orang yang baik dengan menggunakan istilah seperti al-mukmin, yaitu orang yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, dan apabila dibaca ayat-ayat Allah kepadanya semangkin bertambah keimanannya dan kemudian bertawakal kepada Allah SWT. (QS Al-Anfal, 8:3), al-muttaqin,  yaitu orang yang memiliki keimanan yang kokoh, memiliki kepedulian sosial, membangun hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama manusia, senantiasa menepati janji, bersikap tabah dan sabar dalam menghadapi penderitaan (QS Al-Baqarah, 2:177), senantiasa berinfak di jalan Allah baik dalam keadaan lapang (berharta) maupun sempit (tidak berharta), menahan amarah, dan memaafkan manusia. (QS Ali Imran, 3:134). al-mukhlisin, al-shabirin, al-mutawakkilin, dan lain sebaginya. Selain itu, Al-Qur’an juga mengenalkan tentang sejumlah karakter yang buruk yang selanjutnya disebut sebagai penyakit hati, yaitu pesimisme, dusta, munafik, ghibah, mencari-cari kesalahan orang, dengki, sombong, zolim, permusuhan dan kebencian, marah, khianat, kikir, serakah, berbantah dan boros.
Dengan demikian, menurut Al-Qur’an karakter adalah “sifat yang melekat, yang sudah dibiasakan, dipraktekkan, dikerjakan, ditradisikan, diinternalisasikan dan ditransformasikan kedalam diri seseorang” [17]. Al-Qur’an bukan meminta manusia menjadi amanu, tapi mukminun, bukan ittaqa, tapi muttaqin, bukan aslama tapi muslimun, bukan akhlasha, tapi mukhlisun. Mukminun, muttaqin, muslimun dan mukhlisin menggambarkan bahwa berbagai predikat tersebut telah mendarah daging dan menjadikan karakternya. Sedangkan jika amanu, ittaqa, asalam dan akhlasha baru sampai pada proses, belum menunjukkan hasil. Untuk mencapai keadaan yang demikian itu cukup berat dan banyak kendalanya, serta merupakan sebuah proses perjuangan yang panjang. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam diri manusia menurut Al-Qur’an dan Hadis adalah sebuah perjuangan atau jihad yang paling berat, yakni jihad al-nafs, perang mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu, bujukan setan dan karakter yang buruk.
Berkenaan dengan karakter yang buruk Rasulullah SAW bersabda yang di riwayatkan dari Abu Hurairah :
Artinya :
“Ciri-ciri orang munafik ada tiga : jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia pungkiri dan jika diberi amanat ia khianat.” (HR. Bukhari) [18]
Hadits tersebut diatas menjelaskan karakter yang bukuk, jika ketiga hal tersebut ada pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW Bersabda yang artinya, “Perbuatan yang paling banyak memasukkan manusia ke surga adalah bertakwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik, sedangkan yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka ialah mulut dan kemaluan. (HR. Tirmidzi).” [19]

b.   Kedudukan Pendidikan Karakter

Tingginya kedudukan pendidikan karakter menurut Al-Qur’an dapat pula dilihat dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an tersebut yang berkaitan dengan akhlak. Menurut hasil penelitian Omar Muhammad al-Toumy alo-Syaibani, bahwa didalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 1.504 (seribu lima ratus empat ayat) yang berhubungan dengan akhlak, baik dari segi teori maupun dari segi praktis. Dengan kata lain, bahwa seperempat ayat Al-Qur’an berkenaan dengan akhlak. Jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan akhlak tersebut sungguhpun kata-kata akhlak disebutkan tidak sebanyak itu jumlahnya, namun subtansinya berkaitan dengan akhlak. Selain Al-Qur’an Hadist juga banyak menjelaskan tentang keutamaan dan pentingnya akhlak sebagai mana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

Artinya :
“Perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam syurga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang terpuji.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim) [20]
Hadits tersebut menjelaskan begitu pentingnya akhlak yang  baik sehingga Rasulullah SAW sering mengucapkan do’a, Diriwayatkan dari Quthbah bin Malik r.a Rasulullah  SAW bersabda :

Artinya :
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, tingkah laku, hawa nafsu dan penyakit.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim) [21]
Do’a di atas adalah sebagai bukti yang tak terbantahkan, bahwa Rasulullah memiliki perhatian yang serius terhadap keindahan akhlak, dan keinginan beliau yang kuat agar kaum muslimin menghiasi diri mereka dengannya, meskipun Rasulullah telah mencapai ketinggian akhlak. Maka dari itu akhlak yang baik adalah “kalimat yang sempurna, termasuk didalamnya setiap akhlak mulia yang menjadi perhiasan manusia dan mensucikan jiwa dengannya seperti sifat malu, santun, lembut, pemaaf, toleransi, cerah ceria, jujur, amanah, memberi nasihat, istiqomah dan ketulusan hati dan lain sebagainya dari akhlak yang terpuji.” [22]
c.    Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter adalah untuk menyempurnakan kemulian budi pekerti manusia, Rasulullah Saw bersabda :

Artinya: ”Sesungguhnya tidak lain aku diutus melainkan untuk menyempurnakan kemulian budi pekerti.(HR Al-Bukhari dan Muslim)”[23]
Hadis tersebut diatas menegaskan bahwa tujuan utama Pendidikan karakter ialah untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, toleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan dari Abu Dzar bin Junadah dan Abdurrahman Muadz bin Jabal ra : 
Artinya :
“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR Tirmiddzi)” [24]
Sedangkan dalam aturan yang lebih operasional, khususnya di tinggat satuan pendidikan, pendidikan karakter memiliki beberapa tujuan sebagai berikut :
1.  mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2.  mengembangkan kebiasaan dan prilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3.  menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4.  mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan ; dan
5.  mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.[25]

Untuk mewujudkan hal tersebut diatas pendidikan karakter memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam prilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah. Maka dari itu tujuan pendidikan karakter disekolah/madrasah terbagi menjadi dua bagian :
1)   Bagi peserta didik yaitu “mendorong tercapainya keberhasilan belajar peserta didik, serta bertujuan untuk mendewasakan peserta didik agar memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai moral yang paripurna, serta seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual” [26].
2)   Bagi guru/pendidik yaitu agar dapat memberi serta menjadikan dirinya suri teladan bagi semua lingkungan sekolah, terutama kepada siswa/peserta didik, sehingga guru memiliki profesionalisme serta tanggung jawab penuh untuk membangun peradaban bangsa melalui lembaga pendidikan.

Tujuan lain dalam pendidikan karakter adalah  untuk menumbuhkan  semangat belajar peserta didik. Adapun faktor untuk menumbuhkan semangat belajar tersebut ialah :
Memberikan respons yang positif, Memberikan cerita-cerita yang inspiratif, Membuat Slogan “Pemacu Semangat”, Menampilkan gambar-gambar yang berkesan, Memberikan penghargaan, Menginformasikan rencana pembelajaran, Memberikan waktu rihat di tengah pembelajaran, menciptakan suasana pembelajaran yang baru, Menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan, mengajarkan cara memecahkan masalah dengan bijak, Membuat kejutan yang menyenangkan, Membuat buku komunikasi (catatan perkembanagn anak didik).[27]

          Dengan cara tersebut diatas mudah-mudahan pembelajaran menjadi “PAIKEM GEMROT” pembelajaran, aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira dan berbobot, sehingga pendidikan karakter yang diinginkan dapat terlaksana sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadist.
d.   Nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pendidikan Karakter
Seperti dikembangkan sebelumnya bahwa inti pendidikan karakter bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Namun lebih dari itu, pendidikan karakter adalah proses menanamkan (internalisasi) nilai-nilai positif kepada peserta didik melalui berbagai metode dan strategi yang tepat.
Dalam rangka memperkuat pendidikan karakter, pemerintah sebenarnya telah mengidentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, budaya dan falsafah bangsa, yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.[28]

Sedangkan jika dilihat dari nilai budaya terdapat sejumlah nilai yang dapat dijadikan karakter yaitu “ketakwaan, kearifan, keadilan, kesetaraan, harga diri, percaya diri, harmoni, kemandirian, kepedulian,kerukunan, ketabahan, kreativitas, kompetitif, kerja keras, keuletan, kehormatan, kedisiplinan dan keteladanan”.[29]
Untuk menanamkan nilai diatas tentunya masih disesuaikan dengan pertumbuhan psikologis anak dengan berpihak pada keadaannya. Guru dapat memberikan dengan cara bermain sambil belajar. Atau memberikan teladan seperti berlaku sopan dengan demikian anak menjadi perhatian dan meniru perilaku guru. Bisa juga melalui pendekatan tematik, disesuaikan atas situasi dan kondisi anak, tidak sembarangan  sehingga tepat sasaran dan memberdayakan lingkungan sekitarnya yang membawa anak merasa dihargai, nyaman, aman, bebas berkreasi, bebas menuangkan ide-idenya.
Jika ingin mulai membangun karakter anak, maka besar harapannya bahwa anak berkarakter baik. “Karakter yang terbentuk secara baik merupakan hasil dari hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan (hubungan social dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa” [30].
Maka dari itu yang merasakan manfaatnya bukan saja individunya saja, tetapi juga masyarakat dan Negara. Oleh karena itu, didalam membangun karakter anak dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, non formal maupun informal, semuanya saling melengkapi di dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak.
e.    Strategi Pendidikan Karakter
Strategi pendidikan karakter menurut Al-Qur’an dan hadis menggunkan seluruh peluang dan kemungkinan yang sejalan dengan fitrah manusia, yaitu memudahkan antara teori (kognitif), penghayatan (afektif), dan pengamalan (psikomotorik), menggunakan pilar rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Menurut buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional, bahwa strategi pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah/madrasah dapat dilakukan dengan 4 (empat) cara, yaitu :
1)   Mengintegrasikan ke setiap mata pelajaran
Mengintegrasikan kesetiap mata pelajaran bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai pendidikan karakter disetiap mata pelajaran, sehingga menyadari akan pentingnya nilai-nilai tersebut dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas.
2)   Pengembangan budaya sekolah
Pengembanagna budaya sekolah dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu dalam bentuk:
a.    Kegiatan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan siswa secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contohnya: tilawah atau tahfidz Al-Qur’an sebelum jam pelajaran,  sholat dhuha, sholat dhuhur berjamaah, operasi semut, makan siang bersama, upacara hari senin, dan lain-lain.
b.    Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara sepontan tanpa direncanakan terlebih dahulu, atau disebut juga kegiatan incidental. Contohnya: pengumpulan sumbangan ketika terjadi bencana.
c.    Keteladanan, yaitu prilaku atau sikap  guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan contoh melalui tindakan baik, sehingga menjadi panutan bagi siswa.
d.   Pengkondisian, yaitu upaya sekolah untuk menata lingkungan fisik maupun non fisik demi terciptanya suasana yang mendukung terlaksananya pendidikan karakter.
3)   Melalui kegiatan ekstra kurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler, merupakan kegiata-kegiatan diluar jam pelajaran dalam rangka menyalurkan minat, bakat, dan hobi siswa, juga untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.
4)   Kegiatan keseharian di rumah
Keluarga atau rumah merupakan patner penting pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Sekolah sebaiknya mengajak orang tua  untuk bersama-sama memantau aktivitas siswa dirumah dengan cara menyediakan kartu monitoring yang kemudian dilaporkan ke sekolah sebulan dua kali atau sebulan sekali tergantung kesepakatan pihak sekolah dengan orang tua.
Untuk mendapatkan hasil pendidikan karakter yang baik, maka sekolah perlu mengadakan kerja sama yang erat dan harmonis antara sekolah dan keluarga atau orang tua. Dengan kerja sama itu, orang tua akan mendapatkan :
a.    Pengetahuan dan pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak-anaknya
b.    Mengetahui berbagai kesulitan yang sering dihadapi anak-anaknya di sekolah
c.    Mengetahui tingkah laku anaknya selama di sekolah, seperti apakah anaknya rajin, malas, suka membolos, suka mengantuk, nakal dan sebagainya.
Sedangkan bagi guru, dengan kerja sama tersebut akan mendapatkan:
a.    Informasi-infornasi dari orang tua tentang kehidupan dan sifat-sifat anaknya. Informasi-informasi tersebut sangat berguna bagi guru dalam memberikan pendidikan kepada anak didiknya.
b.    Bantuan-bantuan dari orang tua dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi anak didiknya di sekolah.[31]

Daftar Bacaan :
Abdullah, Mas Udik, Meledakkan IESQ Dengan Langkah Takwa dan Tawakal, Jakarta : Zikrul, 2005
Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Jakarta :Arga Tilanta, 2003 Jilid 2
Ahmad, Zainuddin, Ringkasan Sahih Bukhari, Saudi Arabia : Dar Al-Kitab Wa Al-Sunna, 2010
al-‘asqolaany, Imam Ibnu Hajar, Syarah Bulughul Maram, Saudi Arabia : Darul Furqon,1394 H.
Albarobis, Muhyidin, Mendidik Generasi Bangsa, Yogyakarta: Pedagogia, 2012
Al-Hashimi, Muhammad Ali, Kepribadian Wanita Muslimah, Saudi Arabia : International Islamic Publishing hause,2006
Al-Khaubary, Usman Bin Hasan Bin Ahmad Asy-syakir, Terjemah Lengkap Durratun Nashihin, Surabaya : Pustaka Adil, ____________
Al-Malibary, Al-Imam Zaenuddin, Bimbingan Mu’min, Surabaya: Pustaka Adil,____
Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung    Muhammad SAW dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, Riyadh : Darussalam, 2008
Anwar, Dessy, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Karya Abditama, 2001
Aqib, Zainal, Pendidikan Karakter Membangun Prilaku Positif bangsa, Bandung: Yrama Widya, 2011
At-Tirmidzi, Terjemah Hadits Mengenai Pribadi dan Budi Pekerti Rasulullah SAW, Bandung : Diponegoro, 1998
Boang, Aisyah, Mozaik Pemikiran Islam: Bunga serampai Pemikiran Pendidikan   Indonesia, Jakarta: Ditjen Dikti, 2011
Dahlan, K.H.Q Shaleh dan H.A.A, Asbabun Nuzul, Bandung : Diponegoro, 2007
Daryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya : Apollo, 1997
Fitri, Agus Zaenul, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai & Etika di Sekolah, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012
Hatta, Ahmad, Tafsir Qur’an Perkata, Jakarta: Maghfirah, 2009
Hawa, Sa’id, Mensucikan  Jiwa, Jakarta “ Robbani, 2010
Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Semarang : Asy-syifa’, 2003
Khalid, Muh, Karakteristik Prihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, Bandung : Diponegoro, 2006
Muslich, Masnur Pendidikan karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011
Nata, Abuddin,  Kapita Selekta Pendidikan Isalm, Jakarta: Rajawali Pers, 2012
Nawai, Imam, Terjemah Riyadhus Shalihin, jakarta : Pustaka Amani, 1999
Rothomy, Moh Abdai, Bimbingan Mukmin, Bandung : Diponegoro, 1975
Saebani, Ahmad dan Hamid, Abdul, Ilmu Akhlak, Bandung: Pustaka Setia, 2010
Sahlan, Asmaun dan Prastyo, Angga Teguh, Desain Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012
Sarijaya, H.E Syibli, Tafsir Ayat-ayat Ahkam, Jakarta : Rajawali Pers, 2008
Sholikhin, KH. Muhammad, Ternyata Masuk Syurga itu Mudah,__ :Cakrawala,2010
Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011
Suyadi, Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Mentari, 2012
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persoda, 2009
Syarbini, Amirulloh, Buku Pintar Pendidikan Karakter, Jakarta: As@-prima, 2012
Tridhonanto, Al & Agency, Beranda, Membangun Karakter  Sejak Dini, Jakarta:   Media, 2012
Usman, K.H.M Ali dkk, Hadist Qudsi, Bandung : Diponegoro, 1975
Wiyani, Novan Ardy, Manajemen Pendidikan Karakter,Yogyakarta: Pedagogia,2012
Yonny, Acep, Cara Cerdas Membangkitkan Semangat Belajar Siswa, Yogyakarta: Citra Aji Parama, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAULID NABI MUHAMMAD (SIT AR-RIDHA)