YAYASAN AR-RIDHA DAPAT DI KUNJUNGI DI https://goo.gl/maps/rshnWekMgYBANS5K8
Senin, 30 September 2019
Minggu, 29 September 2019
KEWIRAUSAHAAN
![]() |
STAI-JM TANJUNG PURA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
|
|||
|
KEWIRAUSAHAAN
|
||||
|
T. A 2019-2020
|
Semester VII
|
Tgl. 23 Sep 2019
|
Kode.
|
|
MATAKULIAH :
KEWIRAUSAHAAN
SEMESTER :
VII / GANJIL
PROGRAM STUDI :
PAI
DOSEN PENGAMPU :
H. MUAMAR AL
QADRI, M.Pd
Kewirausahaan merupakan salah satu program Kementerian Pendidikan Nasional yang
pada intinya adalah pengembangan metodologi pendidikan yang bertujuan untuk
membangun manusia yang berjiwa kreatif, inovatif, sportif dan wirausaha. Untuk membangun semangat
kewirausahaan dan memperbanyak wirausahawan, Pemerintah telah mengeluarkan
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan
dan Membudayakan Kewirausahaan. Instruksi ini mengamanatkan kepada seluruh
masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan.
Menurut
para ahli kewirausahaan, ada banyak nilai-nilai kewirausahaan yang dianggap
paling pokok dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik sebanyak 10 (
Sepuluh ) nilai yang seharusnya dimiliki oleh peserta didik dan warga sekolah
yang lain . (Rohmat, 2016: 72-73). Implementasi dari nilai-nilai pokok
kewirausahaan tersebut tidak secara langsung dilaksanakan sekaligus oleh satuan
pendidikan, namun dilakukan secara bertahap. Tahap pertama implementasi
nilai-nilai kewirausahaan diambil 6 (enam) nilai pokok, yaitu: 1. mandiri, 2.
kreatif, 3.
berani
mengambil resiko, 4.
berorientasi
pada tindakan, 5.
kepemimpinan,
dan, 6. kerja
keras. Hal ini bukan berarti membatasi penanaman nilai-nilai (internalisasi)
kewirausahaan tersebut kepada semua sekolah secara seragam, namun setiap
jenjang satuan pendidikan dapat menginternalisasikan nilai-nilai kewirausahaan
yang lain secara mandiri sesuai dengan keperluan sekolah.
Barnawi&Mohammad
Arifin (2012: 58) menjelaskan, sejak usia dini hendaknya peserta didik mulai
diajarkan kreativitas dan kemandirian dengan cara memberi kesempatan pada anak
untuk mengekspresikan imajinasinya melalui berbagai macam kegiatan dari yang
sederhana menuju kompleks, mudah ke sulit, mengelola diri sehingga mampu
menghidupi dirinya sendiri. Jika demikian maka anak akan dapat berfikir untuk
memberikan manfaat bagi orang lain, merasa dirinya berharga bagi orang lain dan
lingkungannya. Hal ini sejalan dengan upaya untuk membentuk generasi yang
berkarakter.
Kewirausahaan dipandang dari
berbagai konteks keilmuan dan perkembangan zaman. Istilah kewirausahaan
(entrepreneur) pertama kali dikenalkan pada tahun 1755 oleh Richard Cantillon
yang berasal dari Perancis. Menurutnya kewirausahaan adalah seorang yang
menanggung risiko (Suryana, 2013:5). Istilah wirausaha merupakan sebutan dari
pedagang yang membeli barang kemudian menjualnya dengan harga yang tidak pasti.
Seiring perkembangan istilah kewirausahaan berkembang menjadi lebih luas.
Kewirausahaan bukan hanya dipandang sebagai pedangang saja. Schumpeter
(Suryana, 2013:5) mengartikan kewirausahaan adalah seorang yang memiliki
keberanian dalam mengambil risiko dan memperkenalkan produk-produk inovatif
serta teknologi baru dalam perekonomian.
Di Indonesia kewirausahaan
sering diistilahkan dengan wiraswasta. Secara etimologi wiraswasta berasal dari
bahasa sansekerta yang terdiri dari tiga kata wira, swa, dan sta. Wira artinya
manusia unggul, teladan, berbudi luhur, berjiwa besar, berani, memiliki
keagungan watak. Swa berarti sendiri dan sta berarti berdiri (Buchari Alma,
2011:17). Secara etimologi wiraswasta sebagai seorang yang berani dengan
menggunakan potensi yang dimilikinya untuk memecahkan masalah hidupnya sendiri.
Menurut Hisrich Peters (Yuyus
Suryana dan Kartib Bayu, 2011:24) kewirausahaan diartikan sebagai berikut:
“Entreprenuership is the process of creating someting different with value by
devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial,
psychic, and social risk, and reciving the resaulting rewards of monetary and
personal satisfaction and independence” Kewirausahaan adalah proses menciptakan
sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan
risiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.
Peggy A. Lambing dan Charles R.
Kuehl (Hendro, 2011:30) menyatakan kewirausahaan adalah suatu usaha yang
kreatif yang membangun suatu value dari yang belum ada menjadi ada dan bisa dinikmati
oleh banyak orang. Pernyataan yang berbeda disampaikan oleh Thomas W. Zimmerer
(Eman Suherman, 2010:7) kewirausahaan adalah “applying creativity and
innovation to solve the problem and to exploit opportunities that people face
evryday”. Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan inovasi untuk
memecahkan masalah dan memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari.
Berdasarkan pendapat para pakar inti dari kewirausahaan lebih pada kemampuan
kreativitas seseorang dalam menghadapi permasalahan dengan memanfaatkan peluang
yang ada.
Menurut Muhammad Saroni
(2012:45) pendidikan kewirausahaan adalah “suatu program pendidikan yang
menggarap aspek kewirausahaan sebagai bagian penting dalam pembekalan
kompetensi anak didik”. Kasmir (2006:21)
lebih menekankan bahwa pendidikan kewirausahaan harus mampu mengubah pola pikir
para peserta didik. Melalui pendidikan kewirausahaan juga mampu mendorong
mahasiswa atau pelajar untuk berwirausaha mandiri. Sedangkan menurut Eman
Suherman (2010:22) “pendidikan kewirausahaan merupakan semacam pendidikan yang
mengajarkan agar orang mampu menciptakan usaha sendiri”.
Dapat disimpulkan pendidikan
kewirausahaan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk
mengembangkan kemampuan seseorang, mengubah pola pikir, untuk menciptakan
sesuatu dengan kreativitas dan inovasi untuk mengatasi masalah dengan berbagai
risiko dan peluang untuk berhasil. Sehingga melalui pendidikan kewirausahaan
peserta didik akan dibentuk karakter kewirausahaan.
Menurut Wasty Soemanto (1996:90)
ada 3 prinsip pendidikan kewirausahaan, diantaranya sebagai berikut: 1. Pendidikan
kewirausahaan dapat berlangsung seumur hidup, dimana saja, dan kapan saja,
sehingga peranan subjek manusia untuk belajar dan mendidik diri sendiri secara
wajar merupakan kewajiban kodrati manusia. 2. Lingkungan
pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan dimana saja, disekolah, dikeluarga,
dan di masyarakat. 3. Penanggung
jawab pendidikan kewirausahaan adalah sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Program pendidikan kewirausahaan
sejatinya sangat fleksibel karena dapat dilakukan dimana saja, oleh siapa saja,
dan kapan saja. Sehingga seluruh komponen memiliki peranan dan tanggung jawab
yang sama untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan.
Endang Mulyani, dkk (2011:4-5)
pendidikan kewirausahaan dapat diajarkan melalui penanaman nilai-nilai
kewirausahaan yang akan membentuk karakter dan perilaku untuk berwirausaha agar
para peserta didik kelak dapat mandiri dalam bekerja atau mandiri usaha.
Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan ditandai dengan proses pendidikan yang
menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup
(life skill ) pada peserta didiknya melalui kurikulum terintegrasi yang
dikembangkan di sekolah.
Menurut Eman Suherman (2010:66)
pendidikan kewirausahaan dapat pula
diajarkan melalui tema pembelajaran. Nilai-nilai yang terkandung dalam materi
tersebut yang berkaitan dengan nilai kewirausahaan di kaitkan dengan nilai-nilai
kewirausahaan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam mengaitkan nilai
tersebut perlu pula mempertimbangkan kondisi masyarakat yang ada, misalnya
kondisi masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai petani, industri,
perdagangan, atau nelayan. Dengan demikian, pembelajaran yang berwawasan
pendidikan kewirausahaan tidak dangkal pada tingkat kognitif, saja tetapi
menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta
didik sehari-hari di masyarakat.
Nilai-nilai
yang dikembangkan dalam pendidikan kewirausahaan adalah nilai-nilai dari ciri-ciri
seorang wirausaha. Menurut Rohmat, (2015:59-128) dalam pendidikan kewirausahaan
ada 10 nilai yang dapat dikembangkan pada peserta didik sesuai dengan tingkat
perkembangannya antara lain sebagai berikut.
1. Komitmen Kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat
oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain
2. Percaya
Diri Sikap dan prilaku yang tidak mudah terpengaruh pada
orang lain dan
tidak ragu-ragu dalam menyelesaikan tugas-tugas
3. Kerjasama Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya mampu menjalin hubungan dengan orang lain dalam melaksanakan tindakan,
dan pekerjaan
4. Teliti Perilaku cermat dan saksama dalam menjalankan sesuatu agar tidak terjadi kesalahan.
5. Kreatif Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan
cara atau hasil berbeda dari produk atau jasa yang telah ada
6. Tantangan Kemampuan seseorang untuk menyukai
pekerjaan yang menantang, berani dan
mampu mengambil risiko kerja
7. Perhitungan Kemampuan menggunakan fakta/realita
sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan
maupun tindakan/ perbuatannya.
8. Komunikati Tindakan yang memperlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain
9. Daya
Saing Kemempuan untuk tumbuh berkembang
baik dengan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan
dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan
10. berubah Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
dapat bergerak ke arah lebih baik
Implementasi 10 nilai
kewirausahaan akan sulit apabila akan dilaksanakan secara keseluruhan, namun
dilaksanakan secara bertahap. Dari berbagai nilai tersebut ada beberapa nilai
yang sangat penting dalam pendidikan kewirausahaan. Menurut Geoffrey G. Merideth
(Eman Suherman, 2010:10) mengemukakan ada 6 ciri-ciri dan watak wirausahaan
yang digamabarkan sebagai berikut:
1.
Percaya
diri Keyakinan, ketidak tergantungan dan optimis;
2.
Berorientasi
pada tugas dan hasil Kebutuhan untuk berprestasi
3.
Kemempuan
untuk mengambil risiko yang wajar dan suka tantangan;
4. Kepemimpinan
Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saransaran
dan kritik;
5.
Keorisinilan
Inovatif dan kreatif serta fleksibel;
6.
Berorientasi
ke masa depan Pandangan kedepan, prespektif
Hendro (Yuyus Suryana dan Kartib
Bayu, 2011:56) menyatakan bahwa setiap wirausaha yang berhasil memiliki empat
unsur penting yang harus dimiliki yaitu:
1.
Memiliki
ketrampilan dalam mengelola usaha
2.
Memiliki
keberanian berkaitan dengan emosional dan mental
3.
Memiliki
keteguhan hati berkaitan dengan dorongan/motivasi untuk berhasil
4. Memiliki
kreativitas untuk menemukan inspirasi sebagai cikal bakal ide untuk menemukan
peluang.
Dapat disimpulkan ada 5 nilai-nilai
pokok dalam pendidikan kewirausahaan, antara lain sebagai berikut;
1.
Keberanian
mengambil risiko
2.
Kreatif
dalam menghadapi masalah dan peluang
3.
Memiliki
jiwa kepemimpinan
4.
Berorientasi
pada tugas dan hasil
5.
Memiliki
motivasi dan dorongan kuat untuk berhasil
6.
Tujuan
Pendidikan Kewirausahaan
Pendidikan kewirausahaan
merupakan proses kreativitas dan inovasi dalam mengatasi masalah, hambatan
dengan berbagai risiko dan peluang untuk berhasil (Eman Suherman, 2010:20).
Sehingga proses pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk mengembangkan
kreatifitas dan inovasi peserta didik. Melalui pendidikan kewirausahaan peserta
didik diupayakan menghasilkan karya-karya kreatif dan inovatif. Kreatifitas
adalah proses berfikir untuk menghasilkan ide-ide, pemikiran, dan gagasan-gagasan
untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Sedangkan inovasi adalah
kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan masalah dan
menemukan peluang (doing new things).
Seseorang dapat menciptakan kreativitas melalui proses berfikir kreatif. Hendro
(2011:105) mengemukakan manfaat berfikir kreatif, diantaranya;
1.
Menemukan
gagasan, ide, peluang, dan inspirasi baru
2.
Mengubah
masalah atau kesulitan menjadi sebuah peluang untuk berhasil.
3.
Menemukan
solusi yang inovatif
4.
Menemukan
suatu kejadian yang belum pernah dialami
5.
Menemukan
teknologi baru
6. Mengubah
keterbatasan yang ada sebelumnya menjadi sebuah kekuatan atau keunggulan.
Kreativitas
berperan penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan.
Melalui berfikir kreatif dapat membantu menyelesaikan masalah guna menemukan
solusinya. Karena dalam berfikir kreatif setiap permasalahan dianggap sebagai
peluang, bukan penghambat untuk berhasil dalam berwirausaha.
Inovasi
merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kreativitas. Inovasi merupakan
proses kreatif yang membuat objek-objek dan substansi baru yang berguna bagi
manusia. Menurut James Brian Quinn (Hendro, 2011:122-123) mengemukakan faktor-faktor
pendukung tercapainya keberhasilan penerapan kemampuan inovatif antara sebagai
berikut: a) Harus disesuaikan dengan kebutuhan, b) Mampu meningkatkan nilai tambah, c) Mampu melakukan efisiensi dan efektivitas
dari proses inovasi, d) Harus sejalan visi dan misi, e) Inovasi yang berkelanjutan
Berinovasi
dalam berbagai aspek kehidupan merupakan kunci sukses. Inovasi merupakan
langkah untuk mencapai kesuksesan dan menciptakan
sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Melalui inovasi tersebut dapat
memperbaiki suatu hal atau produk yang sudah ada menjadi baik dan memiliki
efisiensi yang lebih baik.
Menurut
Herbert Simon dalam (Wina Sanjaya. 2010:65) mengartikan desain sebagai proses
pemecahan masalah. Tujuannya untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan
masalah dengan memanfaatkan informasi yang tersedia. Sedangkan menurut
Nausstatter dan Nordkvelle (Miftahul Huda, 2013:5) pembelajaran adalah
merefleksikan pengetahuan konseptual yang digunakan secara luas dan memiliki
banyak makna yang berbeda-beda.
Eman
Suherman (2010:19) berpendapat bahwa “intisari dari pembelajaran merupakan
interaksi antara pendidik dan peserta didik yang telah terencana dan
terorganisasikan dalam suatu kurikulum yang dilengkapi oleh desain operasional
pembelajaran untuk bahan ajar seperti GBPP, SAP, modul, serta sarana prasarana,
dan fasilitas belajar yang dibutuhkan atau disediakan oleh lembaga yang
menyelenggarakan kegiatan tersebut”.
Dari
berbagai pendapat para ahli, desain pembelajaran dapat diartikan sebagai proses
perencanaan yang sistematis untuk memecahkan masalah melalui sumber informasi
dengan memanfaatkan sarana, fasilitas yang tersedia dalam proses pembelajaran.
Ciputra (Barnawi dan Mohammad Arifin,
2012: 69-71) mengenalkan sikuls pendidikan kewirausahaan menjadi lima frase.
Pertama fase exploring, pada tahapan ini peserta didik mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya melalui kegiatan penelitian atau pengamatan terhadap peluang
disekitarnya. Pada tahapan kedua yaitu planning. Tahapan ini peserta didik
mencurahkan ide dan gagaran peserta didik dengan membuat perencanaan dan sistem
kerja dengan memperhatikan hasil eksplorasi. Frase yang ketiga adalah
producing, yaitu peserta didik berinovasi dengan membuat penemuan baru,
pengembangan, membuat sesuatu dengan segala resiko. Fase yang ke empat communicating
atau marketing yaitu peserta didik melakukan sosialisasi untuk menarik minat
pelanggan atas produk yang dibuat. Sekolah dapat mengadakan pameran, bazar
kewirausahaan, dan sebagainya. Frase yang terakhir reflecting yaitu peserta
didik mengevaluasi dari kegiatan awal sampai hasil yang diperoleh.
Desain
pembelajaran kewirausahaan dapat diterapkan didalam satuan pendidikan formal dari SD/MI hingga
Perguruan Tinggi. Dalam implementasinya tentunya setiap jenjang pendidikan
tidak bisa disamakan. Selain disebabkan tingkat perkembangan peserta didik perbedaan
lingkungan maupun bidang kajian juga diperhatikan. Kemp (Eman Suherman,
2010:63) menjelaskan bahwa peserta didik mencakup karakteristik akademik,
pribadi dan sosial. Karakteristik lain yang diperhatikan pula antara lain
pekerjaan, motivasi belajar, dan kebiasaan belajar.
Implementasi
pembelajaran kewirausahaan perlu disesuaikan dengan tingkat berfikir
siswa, situasi, kondisi agar tercipta atmosfer kewirausahaan di lingkungan
sekolah yang sesuai. Desain pembelajaran memiliki pengaruh besar terkait proses
pembelajaran. Melalui desain pembelajaran yang baik akan menciptakan kegiatan
pembelajaran yang kondusif dan bermakna sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berbagai masalah yang sering muncul dalam pembelajaran juga dapat diantisipasi
serta dapat memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada melalui perencanaan
sebelumnya.
Eman
Suherman (2010:9) menjelaskan kewirausahaan adalah “kemampuan kreatif dan
inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang
untuk sukses”. Jadi strategi pembelajaran kewirausahaan adalah perencanaan yang
berisi rangkaian kegiatan yang bertujuan mengembangkan kemampuan kreatif dan
inovatif yang menjadi dasar untuk mencari peluang agar tercipta tujuan
pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pola
pembelajaran kewirausahaan terdiri dari teori, praktik, dan implementasi. Teori
diajarkan untuk mempelajari pengetahuan terkait kewirausahaan untuk menyentuh
kongnitif peserta didik agar memiliki paradigma wirausaha. Praktik merupakan
kegiatan berdasarkan teori yang telah dipelajari, melalui kegiatan praktik
peserta didik dapat mengalami dan
merasakan manfaat ilmu yang dipraktikkan. Implementasi berarti pelaksanaan
kegiatan dalam rangka memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh melalui
pembelajaran yang diperoleh.
Suherman
mengemukakan ada 11 teknik yang dapat digunakan dalam melaksanakan program
pendidikan kewirausahaan;
a) Teknik ceramah bervariasi
b) Teknik penggunaan alat bantu pandang
(visual aids)
c) Tehnik ceritera pemula diskusi
(discussion starter story)
d) Tehnik permainan (games)
e) Teknik studi kasus
f) Teknik bermain peran (role play)
g) Teknik kerja kelompok
h) Teknik simulasi
i) Teknik demonstrasi
j) Teknik praktik lapangan
k) Teknik kunjungan lapangan (field –visit
technique)
Berbagai
macam teknik tersebut yang paling umum digunakan teknik ceramah bervariasi dan
teknik penggunaan alat bantu pandang. Selain praktis dan simpel dengan
menggunakan teknik ini dapat digunakan meskipun sarana dan prasarana pendukung
pembelajaran terbatas.
DAFTAR BACAAN :
Rohmat. (2016). Manajemen Kepemimpinan Kewirausahaan. Yogyakarta: Cipta Media Aksara
Rohmat. (2016). Membangun Bangsa Berwawasan Kewirausahaan. Yogyakarta: Gerbang Media Aksara
Rohmat. (2015). Nilai-Nilai Moral Kewirausahaan Membangun Bangsa Berkarakter. Yogyakarta: Gerbang Media Aksara
Suryana. (2011). Kewirausahaan, Jakarta : Salemba Empat
Suryana, Yuyus dan Kartib Bayu. ( 2011), Kewirausahaan : Pendekatan Karakteristik Wirausahawan Sukses. Jakarta : Kencana
Suherman, Eman. (2010). Desain Pembelajaran Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta
Mulyani, Endang, dkk. (2010). Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kurikulum
Hendro. (2011). Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa Untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis. Jakarta: Erlangga
Kasmir. (2006). Kewirausahaan. Jakarta: Rajawali
Jufri, Muhammad dan Hillman Wirawan. (2014). Internalisasi Jiwa Kewirausahaan Pada Anak. Jakarta: Kencana Perenda Media Group
Muhammad. (2012). Mendidik & Melatih Entrepreneur Muda. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Secara berjenjang, sebutan untuk garis keturunan berdasarkan keturunan laki-laki adalah seperti berikut ini. (1) Nini (2) Datu (3) Moyang (...
-
KATA PENGANTAR Puji syukur khadirat Allah SWT yang melimpahkan kenik matan. Dialah dzat yang memberi kehidupan setiap makhluknya ...





